Something Called Love

Something Called Love
Guardian Angel



Sudah hampir seminggu berlalu sejak kejadian Min Hyuk membawa Sarah yang terluka ke klinik. Sejak saat itu pula kehidupan Sarah di sekolah sedikit berubah.


Menurut Song Eun, banyak yang mengetahui kejadian tersebut. Mungkin itu alasan dari pandangan penuh tanda tanya yang kerap Sarah dapatkan akhir-akhir ini. Juga alasan hilangnya Min Hyuk dari peredaran Sarah. Pemuda itu pasti merasa hidupnya jadi terganggu semenjak menolongnya.


Itu menyedihkan. Sarah baru saja meyakini jika Min Hyuk sebenarnya orang yang baik. Sudah dua kali pemuda itu menolongnya. Namun dia justru terkesan tidak mau dianggap baik. Bahkan seolah ingin dibenci oleh semua orang.


Katakan saja Min Hyuk berhasil. Semua orang sudah terlanjur mencapnya buruk. Sayang, bagi Sarah justru sebaliknya. Ia semakin penasaran dengan pemuda itu.


"Sepertinya kakimu sudah membaik sekarang," tegur Song Eun yang baru saja menjajari langkah Sarah.


"Iya, lukanya sudah benar-benar kering."


"Kita harus berterima kasih pada Hong Ki karena sudah merawatmu dengan baik," goda Song Eun.


Sarah bereaksi dengan memajukan bibirnya beberapa senti, tidak suka dengan ledekan Song Eun. Untungnya objek obrolan mereka belum tiba di sekolah.


"Semua sikapnya membuatku canggung. Jangan menambahnya dengan gosip murahanmu itu," sergah Sarah.


Hal lain yang berubah setelah insiden di gudang sekolah itu adalah sikap Hong Ki. Pemuda itu jadi sangat perhatian pada Sarah. Dia menemani Sarah ke manapun saat di sekolah. Kecuali toilet perempuan tentunya. Dan hal itu justru membuat Sarah risih. Belum lagi tatapan ingin membunuh yang para gadis lontarkan setiap kali melihatnya bersama Hong Ki. Terutama Ye Na.


Entah kenapa, Sarah justru merasa akan lebih nyaman jika bersama Min Hyuk. Mungkin karena tidak akan ada yang peduli jika Sarah bersamanya.


Mungkin.


"Baiklah, aku tahu. Hidupmu jadi berbahaya sekarang. Banyak gadis yang mengincarmu," canda Song Eun sembari tertawa kecil.


"Aku serius, Song Eun." Sarah kembali mengerucutkan bibirnya. Merasa selalu kalah dengan candaan temannya itu. "Tapi, kenapa sejak saat itu aku tidak pernah melihat Min Hyuk? Aku belum berterima kasih padanya."


Song Eun berhenti tertawa dan memandang Sarah dengan tatapan serius.


"Jujur, kamu masih penasaran padanya?" tanya Song Eun penuh selidik.


Sarah mengangguk pelan.


"Aku yakin dia tidak seburuk yang orang bilang. Buktinya dia menolongku, dua kali." Sarah sengaja mengangkat jari tengah dan jari telunjuknya untuk menekankan angka dua yang ia sebutkan.


"Entahlah, Sarah. Aku sendiri tidak begitu mengenalnya. Semua yang aku dengar tentang Min Hyuk selalu dari orang lain. Mungkin dia memang tidak seburuk itu. Tapi aku tidak mau mengambil resiko membiarkan teman baikku ini terluka lagi."


Sarah tersenyum mendengar ucapan Song Eun, lalu merangkul lengan sahabatnya itu.


"Wah, aku tidak menyangka kamu sangat khawatir padaku. Aku jadi terharu. Tapi tenanglah, aku akan baik-baik saja. Janji."


"Ya, aku percaya. Sekarang, kan, kamu memiliki malaikat pelindung yang tampan," jawab Song Eun pura-pura cemburu.


"Tentu saja, tapi aku tidak akan meninggalkanmu, kok," hibur Sarah.


Song Eun balas tersenyum lalu mengarahkan dagunya ke depan. Menunjuk seorang pemuda yang bergegas menghampiri mereka.


"Itu dia sudah datang. Your Guardian Angel."


Sarah mengikuti arah pandang Song Eun dengan sebuah senyuman di bibir. Namun senyum itu seketika memudar saat dilihatnya sosok Hong Ki yang mendekat.


"Bukan dia, Song Eun," gumam Sarah kecewa.


Song Eun tak tahu, bukan Hong Ki yang ia harapkan. Bukan Hong Ki pula yang menjadi malaikat pelindungnya. Sarah menginginkan orang lain.


Ia menginginkan Nam Min Hyuk.


***


Min Hyuk menggeliat penuh kelegaan. Waktu tidurnya beberapa hari ini terasa sangat nyaman. Itu karena ia sudah menemukan tempat yang aman dari gangguan siapapun.


Atap gedung sekolah. Di sanalah Min Hyuk berada sekarang. Bersandar pada salah satu pot besar berisikan tanaman bunga yang jumlahnya ada belasan, yang sengaja diletakkan di sana untuk memperindah atap.


Sejak insiden di gudang sekolah tempo hari, Min Hyuk benar-benar merasa tidak nyaman. Kabar tentang dirinya yang menolong gadis bernama Sarah itu menyebar bak jamur di musim hujan. Ia mendadak jadi terkenal. Hal yang Min Hyuk benci.


Beruntung akhirnya ia menemukan tempat ini. Sudah hampir seminggu ia berhasil menjauh dari orang-orang. Sebenarnya ia ingin membuat perhitungan dengan Tae Sang, yang ia yakini sebagai dalang dari datangnya Sarah ke gudang. Namun, itu bisa menunggu. Min Hyuk lebih membutuhkan ketenangan saat ini.


Min Hyuk menajamkan pendengaran. Sepertinya masih jam istirahat. Ia bisa mendengar riuh suara para siswa dari tempatnya berada. Gedung sekolah hanya berlantai tiga, sehingga hal tersebut sangat memungkinkan.


Oke, Min Hyuk tahu betul soal Tae Sang dan Ye Na, tapi ia tidak perlu membahasnya.


Alih-alih menemukan Tae Sang, mata Min Hyuk justru menangkap sosok Sarah yang sedang berjalan bersama kedua temannya menuju perpustakaan. Siapa lagi kalau bukan gadis berkacamata dan putra pemilik sekolah. Gadis itu tidak lagi berjalan dengan kaki agak pincang. Berarti lukanya sudah sembuh.


Sebenarnya setiap hari Min Hyuk melihat Sarah dari atap seperti sekarang. Bukan niatnya untuk peduli. Gadis itu saja yang selalu muncul di waktu yang sama setiap hari. Jadi jangan salahkan Min Hyuk jika ia bahkan tahu Sarah selalu tampak murung setelah insiden di gudang waktu itu.


Min Hyuk buru-buru mengenyahkan isi pikirannya. Dia jelas tidak mungkin peduli. Dan tidak boleh. Apalagi ia tahu kalau Tae Sang sudah melibatkan gadis bernama Sarah itu dalam perseteruan mereka.


Sial!


Gadis itu tiba-tiba melihat ke arah atap dan bertemu pandang dengan Min Hyuk selama beberapa detik. Terlalu terkejut, Min Hyuk tak sempat menghindar. Ia baru sadar untuk segera menjauh dari sana ketika gadis itu tersenyum padanya.


Min Hyuk kembali menyandarkan tubuh ke salah satu pot besar di belakangnya. Ia berdecih sebal. Sekarang, gadis itu tahu di mana Min Hyuk berada. Ia khawatir tempat persembunyiannya kini tak lagi aman.


Baiklah. Min Hyuk bisa mencari tempat lain lagi untuk menyendiri.


Akan tetapi, senyumnya...


Apa-apaan dengan senyuman gadis itu?


***


"Apa Hong Ki menyatakan cinta padamu? Kamu terlihat berseri-seri sejak kita kembali dari perpustakaan tadi," tanya Song Eun penasaran saat mereka berjalan bersama menuju halte sepulang sekolah. Gelagat Sarah memang terlihat aneh. Seminggu ini temannya itu selalu tampak murung tanpa Song Eun tahu alasannya.


Tidak berarti Song Eun tak peduli. Ia sudah mencoba bertanya dan jawaban Sarah selalu sama. 'Aku baik-baik saja'. Lalu sekarang, Sarah tak henti tersenyum seperti model iklan pasta gigi, dengan alasan yang juga tak Song Eun ketahui.


"Ah, Song Eun. Sudah kubilang, kan, jangan bergosip. Hong Ki tidak melakukan apa pun seperti yang kamu pikirkan," sangkal Sarah. Namun senyum di bibirnya itu belum menampakkan tanda-tanda akan memudar. Orang tentu akan beranggapan sama dengan Song Eun jika melihatnya.


"Lalu? Kamu tidak gila, kan? Karena kita semua tahu betul jika yang terluka adalah kakimu, bukan kepalamu."


Sarah biasanya akan marah jika Song Eun melontarkan canda berlebihan seperti barusan. Kali ini, ia justru tak peduli. Seolah tak pernah mendengar ucapan temannya itu.


"Song Eun, kamu, kan, suka memasak. Bisakah kamu membantuku?"


Dugaan Song Eun benar. Sarah tidak mendengarkannya sama sekali. Namun ia memilih mengabaikan hal itu.


"Bantuan apa?"


"Menurutmu makanan apa yang cocok untuk menyatakan terima kasih? Aku ingin membuatnya."


Song Eun menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tidak pernah memasak untuk tujuan tertentu. Jadi, ia agak kesulitan menjawab pertanyaan Sarah.


"Memangnya kamu ingin memberikannya pada siapa?"


Bukannya menjawab, Sarah malah tersenyum penuh arti. Gadis itu seolah menganggap Song Eun bisa membaca arti sebuah senyuman.


Memang tidak. Namun setidaknya Song Eun bisa mencoba menebak.


"Untuk malaikat pelindungmu?"


Sarah mengangguk pelan, masih dengan senyum malu-malu di bibirnya.


Song Eun memutar bola mata dengan jengah. Seharusnya ia sudah tahu dari awal. Nama Hong Ki tidak bisa disebut dengan gamblang. Ia harus menggantinya dengan panggilan yang lebih keren.


Malaikat pelindung


Guardian Angel


Terdengar sangat aneh saat Song Eun yang mengucapkannya. Tapi, siapa yang peduli?


"Baiklah, kita bisa cari resep yang cocok nanti. Hari Minggu ini aku akan membantumu," tukas Song Eun.


Sarah kembali mengangguk. Lagi-lagi dengan senyuman yang entah kapan akan terhenti. Song Eun hanya bisa geleng-geleng dengan kelakuan temannya itu.


Jatuh cinta memang bisa membuat gila.


***