
Song Eun berjalan menuju kelasnya dengan perasaan tidak nyaman. Baru pertama kali ia merasa datang ke sekolah menjadi hal yang memberatkan. Semua itu karena Tae Sang.
Pagi-pagi sekali pemuda itu sudah berada di depan rumah Song Eun. Tersenyum lebar sembari membawa sebotol susu di tangannya. Lalu, tanpa sungkan ia mengangguk begitu nenek Song Eun mengajaknya sarapan bersama. Dan, pada akhirnya mereka pun harus berangkat bersama.
"Hei, jangan cemberut begitu. Harusnya kamu berterima kasih pada oppa," ujar Tae Sang seraya berlari kecil menyusul Song Eun yang sedari tadi tak mau menyamakan langkah dengannya. Hal yang sudah ia lakukan sekian kali sejak dari rumah.
Song Eun benar-benar tak habis pikir. Panggilan oppa yang Tae Sang minta sungguh membuat telinganya geli. Selain tak terbiasa, ia juga heran. Butuh alasan kuat untuk membuatnya percaya pada ucapan pemuda berandal itu.
Wajar, bukan? Seorang pemuda bengal yang suka berkelahi, bahkan suka mengganggu sahabat Song Eun tiba-tiba saja bersikap baik padanya. Jika hanya karena sebotol susu yang setiap hari Tae Sang dapat di depan pintu rumahnya, itu benar-benar tak sebanding.
Ah, satu lagi hal yang bagi Song Eun benar-benar konyol. Sudah sejak kemarin Tae Sang menyita kacamatanya. Pemuda itu beralasan agar Song Eun terlihat lebih cantik dan bisa segera mendapat pacar.
Entahlah. Itu sebuah motivasi atau justru ejekan. Song Eun memilih untuk tidak memusingkannya.
"Aku datang ke sekolah untuk belajar. Bukan mencari pacar." Meski begitu, Song Eun tetap berusaha menanggapi setiap ucapan Tae Sang.
"Aku tidak peduli dengan tujuanmu. Yang penting adalah tujuanku," jawab Tae Sang cepat. "Lagipula, temanmu saja bisa mengambil hati dua pria sekaligus. Kenapa kamu tidak?"
Tae Sang mengatakan hal tersebut sembari berusaha merangkul Song Eun seperti yang biasa ia lakukan. Namun, Song Eun yang sudah melotot marah mendengar ucapannya bisa segera menghindar.
"Berhenti melakukannya!" seru Song Eun. Suaranya bahkan membuat beberapa orang di sekitar menoleh seketika padanya.
Tae Sang hanya tersenyum kecil. Tidak peduli. Ia justru beralih mengacak-acak rambut Song Eun. Membuat gadis itu semakin cemberut karena terlambat mengelak.
"Nih, kacamatamu. Tapi, pakai hanya saat kamu membutuhkannya." Tangan Tae Sang menyodorkan kacamata Song Eun ketika mereka sudah sampai di depan kelas gadis itu. Ia lalu kembali mengacak rambut Song Eun sebelum pergi berbelok menuju kelasnya sendiri. "Kita harus berpisah. Jangan rindukan oppa, ya?"
Sama seperti kemarin saat Tae Sang berkoar di depan semua teman sekelasnya, Song Eun kembali hanya bisa terdiam. Meski sudah berusaha keras mengedepankan logika dalam menghadapi semua sikap Tae Sang, nyatanya hati gadis itu masih berdesir lembut ketika mereka bersentuhan. Hal yang akan menyakiti dirinya sendiri jika Song Eun biarkan berkembang.
"Song Eun?" Suara seorang perempuan memutus lamunan Song Eun. Ia menoleh dan mendapati Sarah berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Bersedekap sembari memandangnya dengan tatapan penasaran. Lebih tepatnya tatapan meminta penjelasan.
Sepertinya gadis itu melihat apa yang terjadi antara Tae Sang dan Song Eun.
Tanpa sadar Song Eun menelan ludahnya. Ada banyak hal yang harus ia jelaskan pada sahabatnya itu.
***
"Jadi, ada apa sebenarnya?" Sarah bertanya setelah berhasil membawa Song Eun menuju taman depan perpustakaan. Sengaja memilih tempat lain selain ruang kelasnya. Berjaga-jaga kemungkinan ada yang mencuri dengar pembicaraan mereka berdua, sekaligus menghindari Hong Ki yang pasti sensitif dengan nama Tae Sang.
Song Eun tak serta merta menjawab. Ia menunduk, tak berani menatap wajah Sarah yang masih menunggu dirinya bersuara.
Meski Song Eun sudah memakai kacamatanya, tetapi rambutnya yang tergerai dan tindakan Tae Sang yang mengacak-acak rambutnya tadi menjadi alasan tersendiri untuk Sarah patut curiga.
"Anio. Tidak seperti itu, Sarah," sangkal Song Eun cepat. Ia tampak gelisah dalam duduknya. Membuat Sarah semakin penasaran.
"Lalu?"
"Aku juga tidak tahu kenapa. Dia tiba-tiba bersikap baik padaku dan halmeoni."
Sarah mengernyitkan keningnya. Ia yakin Song Eun tidak berbohong. Namun, kenyataan jika Tae Sang juga mengenal nenek Song Eun membuat Sarah semakin heran.
"Saat di kedai, aku melihat kalian. Meski heran, aku pikir itu hanya karena kalian teman kerja. Tapi, apa yang aku lihat tadi pagi butuh penjelasan lebih, Song Eun."
Song Eun menggigit bibir bawahnya. Dia ingin sekali membagi perasaannya yang sudah cukup lama terpendam. Namun, ia ragu, mengingat Sarah dan Tae Sang bukan kombinasi yang tepat untuk hubungan apa pun.
"Song Eun, jangan membuatku khawatir. Katakan saja sebenarnya. Aku takut dia hanya ingin memanfaatkanmu."
Bukan salah Sarah jika sampai berpikiran seperti itu. Bahkan, sejujurnya terlintas hal yang sama pula di benak Song Eun.
"Sebenarnya, dia bersikap begitu sejak tahu tentang sebotol susu yang didapatnya setiap pagi."
Sarah terdiam. Raut wajahnya penuh tanda tanya. Namun, ia menunggu Song Eun melanjutkan kalimatnya.
"Sejak tahu jika kami yang mengirim susu itu, dia jadi berubah. Sering membantuku dan juga halmeoni. Dia bahkan memintaku memanggilnya oppa."
"Bagaimana bisa begitu? Maksudku, untuk apa kamu mengiriminya susu?"
Giliran Song Eun yang terdiam. Selama ini tidak ada yang peduli tentang apa yang ia sembunyikan dalam hatinya. Ia berencana akan terus seperti itu jika saja Tae Sang tidak tiba-tiba mendekat dalam kehidupannya.
"Sarah, mianhae," ucap Song Eun dengan suara lirih. Ia sudah cukup merasa bersalah menyimpan rahasianya pada Sarah. Dan, akan merasa lebih bersalah jika menutupinya lebih lama lagi.
"Untuk apa?" tanya Sarah dengan nada khawatir. Ia takut telah terjadi sesuatu yang buruk pada Song Eun. Sesuatu yang bisa membuatnya menyesal.
Song Eun menarik napas dalam perlahan. Ia takut, tapi berusaha untuk menerima apa pun reaksi Sarah begitu mendengar pengakuannya. Sebab ia tidak bisa terus bersembunyi. Perasaannya tidak mungkin terus bertahan sendirian.
"Karena aku menyukai Tae Sang."
***