
Sarah masih berusaha menyamakan langkah dengan Min Hyuk yang berjalan cepat. Ia menebak jika pemuda itu berniat baik ingin mengantarnya pulang, meski dengan cara yang aneh.
Jujur saja, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka berdua selalu melihat dengan tatapan aneh. Tentu saja, karena alih-alih menggandeng tangan Sarah dan berjalan berdampingan, Min Hyuk justru terkesan menyeret Sarah karena hanya menarik tas gadis itu. Pemandangan yang cukup aneh, bukan? Lebih aneh lagi karena Sarah tidak memberontak. Karena entah mengapa bersama Min Hyuk membuatnya merasa lebih aman.
Langkah Min Hyuk terhenti ketika mereka berdua berada di seberang rumah Sarah. Ia segera melepaskan tangannya dari tas Sarah. Menatap Sarah sekilas lalu beralih pada rumah di hadapannya. Raut wajah pemuda itu saat melakukannya seolah berarti sebuah perintah agar Sarah segera masuk ke rumah.
Namun, Sarah tak memerdulikan hal itu. Ia memandang Min Hyuk dengan kepala berisi pertanyaan yang sedari tadi mendesak untuk keluar.
"Kenapa kamu menolongku?" tanya Sarah.
"Ada yang melarang?" tanya Min Hyuk balik dengan nada datar.
Sarah menarik napas dalam-dalam. Mulai jengkel dengan sikap dingin Min Hyuk.
"Aku yang melarangmu."
"Kamu diam saja tadi."
Menyebalkan. Satu kata yang sangat tepat untuk Min Hyuk. Pemuda itu sendiri yang meminta Sarah menjauhinya, tetapi justru dia sendiri berlaku sebaliknya.
"Ini tidak adil. Kita punya kesepakatan yang harus ditepati. Dan, kamu baru saja melanggarnya," keluh Sarah. "Aku sudah menjauh seperti yang kamu minta, harusnya kamu pun begitu."
"Aku tidak mendekatimu."
"Kamu jelas-jelas mengikutiku sejak dari sekolah. Sebenarnya apa maumu? Apa maksudmu dengan semua ini?" cecar Sarah yang teringat betapa ia khawatir saat Min Hyuk berkelahi tadi. Ia berusaha keras menahan perasaannya untuk itu, tetapi Min Hyuk sepertinya menganggap semuanya tidak penting. Pemuda itu hanya peduli dengan apa yang ia inginkan.
"Tidak ada. Kita bukan siapa siapa. Aku menolong hanya karena ingin melakukannya."
Jawaban bernada datar tersebut membuat sudut mata Sarah mulai berembun. Ia merasa dipermainkan oleh Min Hyuk. Jika mereka bukan siapa siapa, pemuda itu tak perlu menolongnya. Karena hal-hal semacam itu hanya akan membuat Sarah semakin sulit melupakannya.
Kamu egois
Mulut Sarah ingin sekali mengatakannya. Namun, ia memilih diam. Tahu jika yang harus dilakukannya adalah segera pulang. Berada bersama Min Hyuk lebih lama lagi hanya akan menambah rasa sedihnya. Sarah tidak ingin menjadi cengeng dan menangis di depan pemuda itu. Tidak akan.
"Gomawo, Min Hyuk-ssi." Setelah berkutat dengan pikirannya tentang bagaimana ia harus merespon sikap Min Hyuk, Sarah memutuskan untuk tetap pada keputusan awal. Tidak peduli. Seolah tak pernah terjadi apa pun di antara mereka berdua. Seperti mereka hanya dua orang asing yang kebetulan bertemu dan saling melupakan keesokan harinya.
"Pulanglah!" balas Min Hyuk. Sama sekali tak berpaling pada Sarah. Matanya menatap lurus ke depan. Ke bangunan yang menjadi tempat Sarah tinggal.
Sarah lalu berlari kecil menyeberangi jalan menuju rumahnya. Begitu sampai, ia bergegas membuka pintu pagar dan menutupnya tanpa menoleh ke belakang. Ke arah Min Hyuk yang menyadari kemarahan sekaligus kekecewaan gadis itu.
Ada kelegaan tersendiri bagi Min Hyuk melihat Sarah tiba di rumahnya dengan selamat. Setidaknya fakta itu bisa membuat beban pikirannya berkurang. Ia jadi tak perlu mengkhawatirkan gadis itu malam ini.
Kecuali satu hal. Perasaannya.
Sarah sudah pasti semakin membenci Min Hyuk setelah ini.
Di tengah udara kota Daegu yang cenderung panas, Min Hyuk justru merasakan dingin. Di bawah langit malam, ia merapatkan jaket kulit hitam miliknya. Berbalik dan melangkah meninggalkan tempat tersebut. Namun, ada yang masih mengganjal di hatinya. Sesuatu yang masih berusaha ia cari jawabannya.
Kita bukan siapa siapa. Seharusnya, aku memang tak perlu mengkhawatirkanmu, kan, Sarah?
***
"Ini milik Sarah, kan? Bagaimana bisa ada padamu?" Song Eun bertanya pada Tae Sang yang menyodorkan sebuah ponsel dengan leather case berwarna ungu gelap dan berhiaskan dua stiker buah blackberry di bagian belakangnya.
Tae Sang tak segera menyahut. Ia justru merebahkan diri di lantai ruang tamu Song Eun, memandang langit-langit dengan tatapan kosong.
"Ini memang milik Sarah. Wallpapernya bahkan masih sama seperti yang terakhir kulihat. Blackberry pie yang pernah ia berikan pada Black," lanjut Song Eun setelah menyalakan ponsel tersebut. "Katakan padaku yang sebenarnya."
Tae Sang menoleh dengan malas. Tak peduli dengan raut khawatir di wajah Song Eun.
"Kamu lupa cara memanggilku?"
Song Eun hanya bisa menghela napas menghadapi tingkah Tae Sang yang terkadang kekanakan seperti saat ini.
"Tolong katakan padaku, Oppa? Bagaimana bisa ponsel Sarah ada padamu." Song Eun mengulang pertanyaannya.
Akan tetapi, Tae Sang justru mengabaikan pertanyaan Song Eun. Membuat gadis itu hanya bisa berusaha menambah level kesabarannya.
"Di kamar. Baru saja minum obat."
"Aku lapar. Ada makanan?"
Seketika tatapan Song Eun menajam. Ia merasa Tae Sang sengaja mengulur jawaban dan mempermainkannya.
"Berhenti main-main. Aku serius."
"Aku juga serius. Setelah menghajar tiga orang preman, perutku lapar." Tae Sang mengangkat tiga jari tengahnya demi meyakinkan Song Eun akan ucapannya.
"Kamu berkelahi lagi? Lalu, apa hubungannya dengan Sarah? Jangan bilang kamu berkelahi dengan Black?" tebak Song Eun beruntun. Terbayang olehnya dugaan-dugaan tersebut, membuat rasa khawatir semakin menguasai.
Tae Sang hanya tertawa kecil. Pertanyaan Song Eun mengingatkannya pada seseorang yang selalu mengkhawatirkannya di masa lalu. Seseorang yang sangat ia rindukan.
"Janji akan memberiku makanan jika aku mau cerita?"
Song Eun mengangguk dengan cepat. Ia masih memiliki sepiring kimbap di dapur. Tak masalah sekalipun Tae Sang menghabiskannya nanti. Yang terpenting sekarang adalah cerita Tae Sang.
"Dia diganggu tiga preman dan aku menolongnya."
Sebelah alis mata Song Eun terangkat. Sebuah kalimat dari mulut Tae Sang barusan sama sekali tak memuaskan rasa penasarannya.
"Ada Black juga di sana. Temanmu itu pulang bersamanya dan melupakan ponselnya."
"Kamu pikir aku akan percaya?"
"Kenapa tidak? Itu kenyataannya. Mereka memang pergi bersama. Black menarik tas Sarah dan gadis itu mengikutinya."
"Bagian yang tidak kupercaya adalah kamu menolong Sarah."
"Aku juga pernah menolong kalian sebelumnya. Jadi, itu mungkin saja, kan?"
Akan lebih masuk akal jika Tae Sang yang mengganggu Sarah lalu Black menolongnya. Dibandingkan memercayai Tae Sang yang sedang kelaparan, lebih baik ia bertanya langsung pada Sarah besok.
"Jadi, bagaimana? Mana makananku?" tagih Tae Sang sembari menepuk perutnya.
"Baiklah. Tapi janji setelah makan kamu harus pulang."
Jemari Tae Sang membentuk isyarat 'ok' di udara. Song Eun pun bangkit dan bergegas menuju dapur. Ia kembali dengan sepiring kimbap yang seketika membuat perut Tae Sang semakin menendang tak karuan.
"Wah, terlihat sangat enak," ujar Tae Sang seraya meraih sumpit di dekat piring dan bermaksud mengambil sepotong. Namun, Song Eun segera menarik kembali piringnya sebelum Tae Sang berhasil mendapatkan satu.
"Berjanjilah satu hal lagi padaku," pinta Song Eun. Tae Sang yang kelaparan segera menggangguk mengiyakan, tak perduli dengan isi permintaannya. "Jangan pernah mengganggu Sarah lagi."
"Selama Black tak menyukainya."
"Mereka bukan siapa-siapa." Song Eun tak ingin kalah. "Hong Ki yang menyukai Sarah. Tidak mungkin Black. Dia hanya bisa bersikap buruk pada Sarah."
Tae Sang tersenyum simpul. Pikirannya lebih terfokus pada kimbap yang dibawa Song Eun.
"Tae Sang Oppa!" tegur Song Eun yang merasa Tae Sang kembali mengabaikannya.
"Baiklah. Jika benar begitu, aku janji tidak akan mengganggunya lagi. Sekarang, berikan makanannya!" pinta Tae Sang tak sabar.
"Jangan lupa segera pulang setelah menghabiskannya," pesan Song Eun yang akhirnya memberikan piringnya pada Tae Sang.
"Iya, iya."
***