
Jam dinding di rumah Min Hyuk berdetak dengan teratur. Jarum panjangnya menunjuk ke angka dua belas. Pamannya, In Sung, juga sudah pulang dan kini sedang berbaring di atas kasur dengan mata terpejam.
Tangan Min Hyuk tengah memegang sebuah buku, benda yang tiap malam selalu menemaninya. Buku yang berisi tentang seluk beluk beberapa makanan sehat itu sudah selesai ia baca. Namun, kini pandangan Min Hyuk tertuju pada dua kotak berwarna ungu di hadapannya.
Kotak kue pemberian Sarah.
Pamannya sudah menghabiskan separuh kue dalam kotak tersebut, menyisakan dua buah cup cake untuk Min Hyuk makan. In Sung sengaja melakukannya demi sang keponakan yang ia khawatirkan akan tidur dengan gelisah, karena tak sempat mencicipi kue buatan sang gadis pujaan.
In Sung memang masih mengira jika Sarah adalah pacar Min Hyuk. Asumsinya tak salah, karena Min Hyuk sendiri tak mengerti alasan Sarah begitu perhatian padanya.
Tapi, bukankah Sarah pernah mengatakannya? Kue itu adalah ucapan terima kasih karena Min Hyuk pernah menolong gadis itu.
Bukankah itu lucu sekali? Bahkan teman-temannya tidak ada yang mau repot-repot meminta maaf saat mereka berbuat salah pada Min Hyuk. Akan tetapi gadis itu justru melakukannya secara berlebihan. Perhatiannya begitu manis sekaligus mengganggu. Buktinya, sekarang Min Hyuk tak bisa tidur karena memikirkan semua hal tentangnya.
Tentang penampilan Sarah yang berbeda dari yang lain. Tentang kue buatannya yang begitu enak. Dan, tentang sepasang mata coklat dengan tatapan hangat yang ia miliki.
Ah, ini benar-benar salah!
Min Hyuk mendengus kesal. Bukankah dia sudah memutuskan? Gadis itu harus menjauh darinya. Sejauh mungkin. Dan, Min Hyuk akan melakukan hal yang sama.
Lalu, kenapa segala hal tentang gadis itu masih melekat di kepalanya?
Bergegas Min Hyuk meletakkan buku di tangannya di atas meja, lalu mematikan lampu. Ia merebahkan tubuh di samping sang paman, kemudian menutupinya dengan selimut. Memaksa kedua matanya untuk terpejam. Berharap dengan begitu bayangan Sarah akan segera menghilang dari pikirannya.
***
Sarah membasuh wajah dan kedua tangannya di wastafel yang berada di depan kamar mandi perempuan. Sesekali ia memijat tangannya yang memerah akibat bermain bola voli tadi.
Kelasnya baru saja menyelesaikan pelajaran olahraga yang hari ini diisi dengan belajar teknik serve dan smash bola voli. Hal yang tidak Sarah suka, karena ia lemah dalam olahraga. Namun, bukan ide yang baik untuk menghindar dari pelajaran itu kecuali Sarah ingin berhadapan dengan tuan Jung, guru olahraganya yang super galak, sepulang sekolah. Jadilah ia memaksakan diri untuk ikut.
"Ini untukmu!" Seseorang menyodorkan sebotol air mineral pada Sarah. Ia menutup kran air lalu menoleh dan mendapati sosok Hong Ki sudah berada di sebelahnya.
"Gomawo," jawab Sarah seraya menerimanya.
Tak menunggu lama, Sarah segera meminum air mineral tersebut hingga tandas. Selain tangannya yang sakit, tenggorokannya juga sudah kehausan sedari tadi.
Hong Ki tersenyum melihat tingkah Sarah, lalu mengulurkan sebuah handuk kecil untuk gadis itu menyeka wajahnya yang basah.
"Apa tanganmu baik-baik saja?" tanyanya ingin tahu. Tatapannya terpaku pada tangan Sarah yang tengah sibuk mengeringkan wajah dengan handuk darinya. "Apa kita perlu mengobatinya?"
Sarah buru-buru menyembunyikan kedua tangannya, lalu tersenyum canggung.
"Tidak perlu. Aku baik-baik saja," sangkalnya.
Tahu jika gadis itu berbohong, Hong Ki segera meraih tangan Sarah, terlalu cepat hingga tak dapat gadis itu cegah.
"Kamu tidak mau aku selalu khawatir, kan? Jadi, turuti saja apa kataku. Ayo!"
Hong Ki menarik pelan tangan Sarah, membimbing gadis itu untuk mengikuti langkahnya menuju klinik.
Dengan perasaan canggung sekaligus bingung, Sarah terpaksa mengekor langkah Hong Ki. Ia berharap Song Eun ada di sana dan membantunya mengatasi suasana. Sayangnya, hari ini gadis itu ijin tidak masuk.
Perjalanan Sarah dan Hong Ki terhenti sejenak saat melewati kelas Ye Na.
Di sana sedang berlangsung pelajaran Bahasa Inggris. Itu karena jendela kelas yang rendah menampakkan sosok Mrs. Anne yang sedang menerangkan sesuatu.
Sarah sama sekali tidak berniat untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi di kelas Ye Na. Ia hanya berusaha mengalihkan perhatian dari Hong Ki yang menggenggam erat tangannya sepanjang jalan. Namun mata Sarah berbinar ketika menemukan sosok Min Hyuk di dalam kelas Ye Na.
Sarah tidak pernah tahu di mana kelas Min Hyuk dan juga tak berniat untuk mencari. Namun bukan salahnya jika kembali menemukan pemuda itu. Mungkin ini keberuntungan tak terduga.
Senyum tak henti terukir dari bibir Sarah melihat Min Hyuk begitu serius memperhatikan mrs. Anne berbicara. Sikap diamnya justru membuat Sarah begitu betah menatap sosok dingin tersebut.
Keasyikan tersebut sayangnya tak bertahan lama. Beberapa detik kemudian, Min Hyuk menoleh ke arah Sarah yang masih tersenyum lebar. Pandangan mereka pun bertemu.
Aku lupa. Dia tidak suka melihatku
Kalimat itu terngiang di benak Sarah. Ia menyesal karena tak bisa mengendalikan perasaan senangnya. Dan lagi, ia sedang bersama Hong Ki sekarang, tapi justru melempar senyum pada orang lain yang tak peduli.
"Sarah? Kamu kenapa?"
Hong Ki menghentikan langkah karena menyadari Sarah yang tiba-tiba terdiam di tempat. Wajah gadis itu berubah murung, padahal tidak ada yang terjadi dalam perjalanan mereka menuju klinik.
"Aku tidak apa-apa." Sarah segera beralih menatap tangannya yang masih berada dalam genggaman Hong Ki. Baru menyadari jika itu terlalu aneh untuknya.
Menyadari arah pandang Sarah, Hong Ki justru semakin merapatkan jemari mereka. Tak peduli dengan isi pikiran Sarah. Sedari tadi gadis itu diam saja dengan perlakuannya. Bagi Hong Ki, itu berarti sebuah persetujuan.
"Aku akan melepasnya jika kita sudah tiba di klinik," ujar Hong Ki kemudian.
Sarah terkejut, tapi tak berkata apa-apa. Ia justru mempercepat langkah, membuat Hong Ki yang berganti mengikutinya. Tangan mereka pun masih bertautan.
"Kalau begitu kita harus segera ke sana," ajaknya yang lebih mirip dengan perintah. Hong Ki tersenyum geli. Namun tak mau membuang kesempatan.
***
Pikiran Ye Na yang sedari tadi tak fokus pada ucapan mrs. Anne semakin terpecah sewaktu matanya menangkap sosok dua orang berjalan melewati kelasnya.
Tak perlu diragukan lagi. Ye Na sangat hafal dengan sosok Hong Ki. Mana mungkin ia lupa dengan pangerannya. Bahkan hanya melihat pemuda itu sekilas saja bisa membuat hati Ye Na berbunga-bunga. Namun sosok gadis yang tangannya tengah digenggam Hong Ki sepanjang jalan itu membuatnya terusik.
Gadis itu Sarah. Ye Na bisa mengenalinya dari pita kain berwarna ungu gelap yang seringkali menghiasi rambut panjang milik gadis itu. Yang menjadi pertanyaan, sedang apa mereka berdua? Lewat di depan kelas Ye Na sembari berpegangan tangan sepanjang jalan.
Semua kosakata yang keluar dari mulut mrs. Anne seolah hanya numpang lewat di telinga Ye Na. Semua inderanya lebih tertarik dengan sepasang remaja yang tiba-tiba berhenti di depan salah satu jendela kelas.
Ah, tidak. Bukan sepasang. Hanya Sarah yang berhenti, seperti sengaja berada di sana untuk satu hal, yang Ye Na harap bukan dirinya.
Mata Sarah tampak berbinar. Pandangannya lurus ke satu arah di dalam kelas Ye Na. Gadis itu melakukannya selama beberapa detik sebelum seutas senyum lebar perlahan menghiasi wajahnya.
Penasaran, Ye Na mengikuti arah pandang Sarah. Lalu, ia terkejut. Tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Min Hyuk
Sarah melihat tepat ke deretan bangku paling belakang. Tempat pemuda berjuluk Black itu duduk sendirian. Sama sekali tidak peduli dengan sekitar, termasuk tatapan Sarah yang sulit diartikan.
Ye Na mengabaikan suara mrs. Anne yang masih menggema ke penjuru ruang kelas. Ia lebih tertarik dengan kelanjutan pemandangan langka yang baru saja ia temukan.
Beberapa detik kemudian, yang Ye Na rasa bahkan terlalu singkat untuk disebut detik, Min Hyuk akhirnya menoleh. Seolah tahu sedang diawasi, ia langsung mengarahkan tatapannya yang dingin itu pada Sarah.
Gadis itu terkesiap. Lalu dalam sekejap senyumnya memudar. Ia menoleh ke arah Hong Ki yang tampak mengajaknya bicara dengan raut wajah khawatir. Keduanya berbicara sejenak sebelum akhirnya pergi melanjutkan perjalanan mereka. Tangan kedua remaja itu masih saling bertautan.
Percikan api cemburu menyentuh hati Ye Na melihat kepergian Hong Ki dan Sarah. Jika pelajaran sedang tidak berlangsung, ia pasti sudah berlari mengejar mereka. Lalu memisahkan secara paksa kedua tangan yang saling menggenggam tadi.
Ah, memangnya ia bisa?
Ye Na takkan bisa. Ia hanya gadis yang tak punya teman dan takut untuk melakukan apa pun. Satu-satunya hal berani yang ia miliki sekarang adalah mendekati Hong Ki. Tak ada yang lain.
Tapi, tunggu dulu.
Ye Na kembali melayangkan tatapannya pada Min Hyuk yang tengah diam, seperti biasa. Ada secercah harapan menyeruak, mengisi hatinya dengan sepercik semangat.
Ia bisa melakukan hal lain tanpa harus berbuat kasar pada siapa pun. Seperti mencari tahu tentang arti dari tatapan Sarah pada Min Hyuk, misalnya. Dia mungkin bisa mendapatkan sebuah jawaban.
Atau, mungkin lebih dari itu.
***