
"Kamu?"
Kata tersebut terucap bersamaan saat Tae Sang berhadapan dengan gadis yang baru saja membukakan pintu. Gadis yang tak ia sangka akan ditemuinya di sini.
"Apakah nyonya Song Ja sudah tidur? Kami ingin menjenguknya." Pertanyaan salah satu ahjumma berhasil meredakan sedikit ketegangan yang baru saja tercipta.
Gadis yang ditanya tersenyum dan mengangguk, lalu mengajak masuk. Mengantarkan mereka menuju sebuah kamar.
Tae Sang sengaja berjalan paling akhir. Mengamati si gadis dengan seksama. Saat kedua ahjumma sudah masuk ke kamar, ia akhirnya bertanya.
"Namamu Song Eun, kan?"
Gadis yang ditanya, Song Eun, hanya bisa diam. Ia mempersilakan Tae Sang untuk masuk dan melihat neneknya juga, tapi tak menjawab pertanyaannya.
"Siapa itu, Song Eun?"
Tae Sang tersenyum puas. Ia sudah mendapatkan jawaban. Seorang wanita yang tengah berbaring di atas kasur lantai dan memakai selimut tebal tengah memandangi Tae Sang dengan heran. Beliau pasti nyonya Han Song Ja.
"Teman sekolahku, Halmeoni," jawab Song Eun. Ia melirik sekilas pada Tae Sang, berusaha mencari tahu alasan pemuda itu ada di rumahnya.
"Eh, bukankah dia cucumu juga, Nyonya? Apa Anda lupa?" tanya salah satu ahjumma.
Tae Sang tersadar. Ia, kan, mengaku sebagai cucu beliau. Kalau sampai ia ketahuan berbohong, entah apa yang akan dilakukan dua ahjumma tadi padanya.
"Maaf, dia sebenarnya teman sekolahku. Tapi halmeoni sudah menganggapnya seperti cucu sendiri." Jawaban Song Eun benar-benar penyelamat. Tae Sang merasa lega sekaligus heran karena gadis itu justru melindunginya.
"Aku akan buatkan teh. Silakan kalian mengobrol." Song Eun lalu pamit pergi ke dapur. Ia tak berbicara apa-apa lagi pada Tae Sang. Bahkan terkesan tak menghiraukannya.
Rasa penasaran membawa langkah Tae Sang mengikuti Song Eun. Mulutnya sangat gatal ingin bertanya.
"Apakah nyonya Han Song Ja nenekmu?" tanya Tae Sang memulai interogasinya.
"Iya." Tangan Song Eun meraih sebuah panci berukuran sedang yang tergantung di dinding, mengisinya dengan air lalu meletakkannya di atas kompor.
"Apa itu artinya kamu tahu soal pengiriman susu ke rumahku setiap pagi?" tanya Tae Sang. Ia memilih bersandar pada pintu dapur. Memperhatikan Song Eun yang mulai menyalakan kompor untuk menjerang air.
Song Eun terdiam. Gerakannya mematung sejenak setelah mendengar ucapan Tae Sang. Bisa ditebak kalau ia terkejut. Namun, entah untuk bagian yang mana.
"Tentu. Kamu keberatan? Aku bisa menggantinya jika kamu mau."
Tae Sang tertawa kecil. Tidak pernah menyangka jika gadis di hadapannya akan memiliki keterkaitan dengannya. Gadis yang menjadi teman baik target incarannya.
"Kamu juga tahu alasan aku mendapatkannya?"
Song Eun menoleh dan menatap Tae Sang sejenak, lalu menggeleng pelan.
"Yang aku tahu, halmeoni sangat suka membantu orang lain. Aku rasa kamu sedang beruntung. Sayang, keberuntunganmu hanya sebotol susu."
"Sebotol susu yang berharga. Nenekmu memberikannya dengan cinta," ujar Tae Sang. Tak ada nada bercanda di suaranya. Itu berarti dia tengah serius. Dan, Song Eun merasa takut tanpa sebab karenanya.
"Kamu berlebihan," sanggah Song Eun. Ia beralih menyiapkan tiga cangkir untuk menyeduh teh. Berusaha tampak sibuk agar tak terlalu terlihat canggung bersama Tae Sang.
"Kamu takut padaku?" tanya Tae Sang. Tampaknya ia menangkap dengan jelas ketidaknyamanan Song Eun di dekatnya.
"Eh?"
"Justru aneh jika tidak. Mengingat aku sangat sering mengganggu temanmu."
Song Eun diam. Ia tahu jika yang dimaksud adalah Sarah. Namun, ia tidak ingin menanggapinya.
Air dalam panci akhirnya mendidih. Song Eun jadi bisa mengalihkan diri dari Tae Sang. Ia menyeduh tiga cangkir teh, lalu membawanya menuju kamar sang nenek. Akan tetapi, ia kesulitan membuka pintu geser saat akan keluar dari dapur.
"Kamu boleh meminta bantuan jika membutuhkannya." Tae Sang segera mengambil alih nampan di tangan Song Eun. Benda itulah yang membuatnya kesulitan.
Song terkejut. Tak menyangka jika Tae Sang bisa bertindak seperti itu. Ia memandang pemuda itu dengan ragu. Ingin sekali mengucapkan terima kasih, tetapi bimbang lebih menguasai dirinya.
"Cheonmaneyo," ujar Tae Sang, seolah bisa mengetahui maksud Song Eun.
Terkejut untuk kedua kalinya, Song Eun hanya bisa mematung. Dan, ketika ia telah sadar, Tae Sang sudah meninggalkannya menuju kamar sang nenek.
***
Rasanya aneh. Sarah membawa kotak yang sama, isi yang serupa tetapi ditujukan untuk orang yang berbeda.
Ia dan Song Eun sedang menuju kantin sekarang. Menunggu Hong Ki yang selalu saja terlambat keluar saat jam istirahat. Pemuda itu seolah selalu punya kesibukan yang tak ada habisnya.
"Menurutmu dia akan menyukainya?" tanya Sarah pada Song Eun. Entah kenapa ia sekarang justru ragu untuk memberikan benda di tangannya.
"Black saja mau menerimanya, kenapa Hong Ki tidak?" tanya Song Eun balik. Matanya menyusuri penjuru kantin ketika sudah tiba di sana. Mencari tempat duduk untuk mereka berdua.
Sarah mengangguk membenarkan ucapan Song Eun. Ia berharap itu benar.
Song Eun menarik Sarah menuju bangku kosong yang tersisa di salah satu sudut kantin. Sekalipun Sarah sudah membawa sekotak kue di tangannya, ia tahu pasti jika mereka tidak boleh melewatkan makan siang.
"Han Song Eun dan Hong Sa Ra." Sebuah suara yang tak asing menyambut kedua gadis itu. Mereka yang hendak duduk segera mengurungkan niat, lalu beralih menoleh ke sumber suara. "Paket yang sangat cocok. Gadis miskin dan temannya, si orang asing yang sok baik hati."
Song Eun mendengus kesal saat tahu jika Ye Na yang berbicara. Ia mengendus aroma perdebatan yang akan segera terjadi.
"Ye Na, kamu mau bergabung?" tanya Sarah. Entah ia benar-benar polos atau justru bodoh untuk mengetahui jika tujuan Ye Na sangat jelas. Mengganggu mereka berdua.
"Dengan kalian? Tidak, terima kasih. Aku tidak suka berhubungan dengan orang-orang seperti kalian. Lagipula, aku datang untuk hal lain."
Song Eun menatap Ye Na curiga. Berusaha menebak rencana apa yang akan gadis itu gunakan.
"Apa maksudmu, Ye Na?" tanya Sarah tidak mengerti.
Ye Na tak menggubris. Tatapannya terpaku pada kotak ungu di tangan Sarah. Tanpa basa basi ia langsung merebutnya.
"Ini untuk siapa? Black atau Hong Ki oppa?"
"Bukan urusanmu," jawab Song Eun yang tahu Sarah tidak akan berani menjawabnya.
"Tolong kembalikan, Ye Na," pinta Sarah.
"Untuk siapa kue ini? Katakan?" desak Ye Na. Namun, Sarah masih bergeming.
Tak kunjung mendapat jawaban, Ye Na mulai jengah. Ia mengambil sepotong kue yang ada dalam kotak dan bermaksud membuangnya. Namun, ia kalah cepat dengan tangan Song Eun yang dengan segera menepisnya.
"Itu untuk Hong Ki. Apa kamu puas sekarang? Kembalikan pada Sarah." Jawaban Song Eun membuat mata Ye Na menyorot marah. Ia bermaksud melempar kotak kue tersebut, tapi lagi-lagi Song Eun berhasil mencegahnya.
"Kenapa? Kamu tahu, kan, aku menyukainya? Kamu merebutnya dariku, Sarah. Dan itu bukan tindakan seorang teman," desis Ye Na, berusaha menahan emosi.
"Jangan berlebihan, Kim Ye Na. Kamu bahkan tidak tulus berteman dengan kami." Song Eun heran darimana ia mendapatkan keberanian untuk melawan Ye Na di hadapan banyak orang seperti sekarang.
"Aku tidak bicara denganmu, Gadis Miskin!" sentak Ye Na.
Sarah terkejut. Selain sikapnya yang tiba-tiba berubah, Ye Na ternyata juga berpikiran sempit dalam berteman. Pertengkaran kecilnya dengan Song Eun di rumah Sarah dulu ternyata masih meninggalkan dampak yang nyata. Ye Na jadi membenci Song Eun.
"Ye Na, cukup!" Sarah akhirnya ikut bicara dengan suara tegas. Dia tidak mau pertengkaran memalukan ini terus berlanjut. "Tolong jangan pernah mengungkit masalah kekayaan dalam berteman. Dan, jika masalahmu denganku, jangan melibatkan Song Eun," pintanya kemudian.
Ye Na tersenyum masam. Ia muak dengan pertemanan kedua gadis di hadapannya itu. Mengingatkannya akan satu kenyataan tidak menyenangkan, bahwa Ye Na tidak memiliki seorang pun teman.
"Iya. Urusanku denganmu, Sarah. Kamu tahu aku menyukai Hong Ki oppa. Jika kamu memang menganggapku teman, tolong jauhi dia." Nada suara Ye Na melembut. Berharap dengan begitu Sarah akan mudah terpengaruh.
"Justru karena kami menganggapmu teman, kami mengingatkanmu Ye Na. Hong Ki tidak pernah menyukaimu. Berhentilah mengejarnya seperti gadis tidak tahu malu," sahut Song Eun, mendahului Sarah yang juga berniat menjawab.
"Kamu!" Amarah Ye Na tak tertahan lagi. Ucapan Song Eun benar-benar membuat emosinya mendidih. Ia menyambar minuman salah satu siswa yang
ada di dekatnya, yang asyik menonton pertengkaran tersebut. Lalu dengan cepat ia menyiramkannya ke arah Song Eun.
Sarah dan Song Eun yang terkejut reflek menutup mata mereka.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Tak ada yang terjadi. Sarah maupun Song Eun tidak merasa basah, hal yang harusnya mereka rasakan jika disiram air.
"Jangan suka membuang makanan meski kamu banyak uang."
Sebuah suara dan teriakan terdengar bersamaan. Song Eun dan Sarah akhirnya membuka mata lalu terbelalak melihat Tae Sang berdiri di depan Ye Na, menghalangi gadis itu. Sementara teriakan tadi berasal dari gadis di dekat Ye Na. Tae Sang membelokkan gelas yang hendak Ye Na siramkan sehingga beralih mengenai gadis tersebut.
Kasak kusuk segera terdengar. Mirip dengan dengungan lebah, sulit dipahami. Para siswa yang tadinya asyik menonton memilih untuk menjauh. Sebagian besar dari mereka memilih untuk tidak berurusan dengan Tae Sang. Hanya beberapa saja yang masih tinggal. Itu pun hanya berani melirik diam-diam.
"Bukan urusanmu," hardik Ye Na. Ia semakin kesal karena tindakan Tae Sang yang membela musuhnya.
Tae Sang tersenyum sinis. Sejak awal semua itu menjadi urusannya.
Belum habis kemarahan Ye Na, sosok Hong Ki muncul dengan tergopoh-gopoh. Pemuda itu tak perlu mencari tahu lebih banyak apa yang sedang terjadi. Melihat siapa saja yang berada di sana, ia sudah bisa menyimpulkan sendiri.
"Kalian tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. Sarah dan Song Eun mengangguk mengiyakan.
Perhatian Ye Na seketika teralihkan. Antara bahagia dan kecewa melihat kedatangan Hong Ki. Song Eun memanfaatkan hal itu untuk merebut kembali kotak kue milik Sarah dan memberikannya pada Hong Ki.
"Bawalah dan ajak Sarah pergi dari sini," perintah Song Eun.
Hong Ki tak bertanya dan langsung membawa Sarah menjauh. Ia menggenggam tangan gadis itu erat. Semakin menguat saat dirasakannya Sarah berusaha untuk melepaskan diri.
Ye Na memandangi kepergian mereka berdua dengan tatapan sendu. Sekali lagi, hatinya terluka.
***
Keputusan Min Hyuk untuk turun dari atap dan membeli sebotol minuman di kantin benar-benar salah. Sekarang ia jadi harus menemui pemandangan yang tak ingin ia lihat.
Tae Sang baru saja membela Sarah dan temannya dari Ye Na. Itu sangat aneh. Akan lebih masuk akal jika Tae Sang justru membantu Ye Na mengganggu Sarah dan Song Eun.
Min Hyuk meneguk air mineral dari botol di tangannya secepat mungkin. Ia tidak ingin berada lebih lama lagi di kantin. Terutama karena ada Sarah di sana. Orang yang paling ingin ia hindari dibandingkan Tae Sang.
"Bawalah dan ajak Sarah pergi dari sini."
Kepala Min Hyuk seolah memiliki tombol otomatis yang membuatnya menoleh begitu mendengar nama Sarah disebut. Padahal ia justru ingin menghindari gadis itu.
Bukankah itu hal yang mudah? Ia hanya tinggal pergi jika gadis itu ada di sekitarnya. Sama seperti yang harus ia lakukan sekarang. Akan tetapi, kotak ungu yang Song Eun serahkan pada Hong Ki tadi menyita perhatiannya.
Kotak ungu. Kue ungu.
Bayangan tentang benda-benda itu seketika mengusik ingatan Min Hyuk. Seolah ada yang membisiki benaknya dengan berbagai pertanyaan konyol.
Tidakkah kamu rindu dengan kotak itu?
Dengan kuenya yang cantik dan juga lezat?
Tidakkah kamu menginginkannya lagi?
Min Hyuk berdecih sebal. Bahkan pikirannya tak bisa diajak kompromi. Ia bergegas melangkah meninggalkan kantin, bertepatan dengan Hong Ki yang menarik Sarah pergi dari sana.
Langkah Min Hyuk terhenti. Tatapannya terkunci pada tangan Sarah yang tengah digenggam oleh Hong Ki. Ia bahkan bisa melihat jika Sarah tampak keberatan dengan tindakan pemuda itu. Sayangnya Hong Ki tampak tidak peduli.
Bukan seperti itu caranya memperlakukan seorang gadis. Harusnya Hong Ki....
Ah!
Min Hyuk mendengus kesal. Ini pasti salah. Ia mengakui jika ia merindukan kue buatan Sarah. Hanya itu.
Lalu, kenapa ia merasa tidak suka melihat tangan Sarah dan Hong Ki saling bertautan?
Ini benar-benar masalah.
***