
Song Eun memandang Sarah dengan tatapan tidak percaya. Ia butuh penjelasan kenapa hari Minggu mereka kali ini berbeda. Sesuai rencana, mereka akan memasak bersama. Akan tetapi, Song Eun tidak tahu jika ada Ye Na dalam rencana tersebut.
Jadi, sekarang mereka bertiga saling bertatap muka. Penampilan Ye Na yang lebih tepat untuk pergi belanja daripada memasak sudah membuat Song Eun jengah. Namun, ia hanya bisa berlagak tidak peduli karena Sarah menyambut kedatangan mereka berdua dengan gembira.
"Aku sudah menyiapkan bahan-bahannya. Kita langsung ke dapur saja," ajak Sarah bersemangat.
Dengan sedikit canggung, Ye Na mengikuti langkah Sarah dan Song Eun menuju dapur. Lalu wajah cantiknya hanya bisa menatap nanar pada deretan peralatan serta bahan membuat kue yang sudah tersedia di sana.
"Kamu pernah membuat kue sebelumnya, Ye Na?" tanya Sarah. Meski penampilannya tidak mencerminkan gadis yang suka berkutat di dapur, mungkin saja Ye Na pengecualian.
"Aku bahkan tidak pernah berada di dapur lebih dari lima menit," jawab Ye Na polos.
Song Eun menahan tawa mendengar jawaban Ye Na. Sudah bisa ia duga. Justru aneh jika primadona sekolah yang selalu tampak modis itu mengaku suka memasak.
"Tidak masalah. Aku juga masih belajar, kok. Song Eun yang sudah mahir," tunjuk Sarah pada Song Eun yang segera meraih celemek bergambar buah berry yang terlipat rapi di atas meja, lalu diberikannya pada Sarah dan Ye Na.
"Boleh. Kita akan memasak apa hari ini?"
"Blackberry cheesecake. Aku dan Song Eun sudah menentukannya kemarin."
Ye Na mengangguk sembari tersenyum. Selama ini ia hanya tahu cara berdandan. Memasak kedengarannya sesuatu yang menarik untuk dicoba.
Tanpa banyak bicara Song Eun segera menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sementara Sarah menyiapkan peralatannya. Ye Na sendiri hanya bisa memperhatikan mereka karena tak tahu harus mengerjakan apa.
"Tolong kamu cuci bersih blackberrynya, ya," pinta Sarah yang menyadari kebingungan Ye Na.
Ye Na menurut dan segera melakukan intruksi Sarah. Ketiga gadis itu bekerjasama dengan baik dalam memasak. Meski Song Eun dan Ye Na tidak terlihat akrab, keduanya berhasil membantu Sarah menyelesaikan kuenya.
"Omong-omong, kenapa kamu membuat kue ini, Sarah? Menurutku ini agak sulit untuk pemula seperti kita." Sambil mengocok adonan yang sudah Sarah campur, Ye Na memutuskan untuk bertanya.
Sarah menyunggingkan seutas senyum. Selalu tampak bahagia ketika menyangkut blackberry.
"Aku menyukai buah berry. Itu saja," jawab Sarah singkat. Ia tak ingin berbagi lebih banyak alasan yang sebenarnya. Kalau blackberry mengingatkannya pada Min Hyuk. Apalagi Ye Na sangat haus akan informasi itu.
"Itu bukan hal yang harus kamu tahu, kan?" Song Eun bertanya dengan nada tidak suka. Dari awal ia sudah tidak suka dengan kehadiran Ye Na. Selain niat terselubungnya untuk membuat Hong Ki jauh dari Sarah, Ye Na memiliki hal lain yang membuat Song Eun enggan melihat gadis itu.
Ye Na sadar betul semua sikap tidak bersahabat Song Eun padanya. Kalau saja gadis berkacamata itu bukan teman baik Sarah, ia juga akan bersikap sama padanya.
"Kenapa sepertinya kamu merasa terganggu dengan pertanyaanku, Song Eun?"
"Karena aku tahu ada hal lain yang kamu mau," jawab Song Eun. Pikirnya tak ada alasan untuk pura-pura tidak tahu. Justru ia ingin tahu bagaimana cara Ye Na menyangkal tuduhannya.
Masih dengan tubuh yang berhiaskan tepung, Ye Na menatap Song Eun. Keberadaan gadis itu sangat mengganggu. Lagipula siapa Song Eun? Hingga berani menyulut api permusuhan dengannya.
"Oh, ya? Memangnya apa yang aku mau?"
"Lee Hong Ki."
Ye Na tertawa. Sudah pasti niatnya bisa mudah tercium, tapi bukan berarti ia sebodoh itu. Song Eun tak tahu, jika Ye Na sudah memperhitungkan banyak hal sebelum memutuskan semuanya.
"Aku hanya ingin membantu Sarah mendekati Black."
"Ya, supaya kamu bisa mendapatkan Hong Ki," debat Song Eun. Ia mulai tak tahan untuk tidak membungkam bibir berlapis lipstik milik Ye Na.
"Kalau memang iya, apa masalahnya denganmu?" Ye Na bertanya dengan santai. Nada suaranya begitu tenang.
"Sudahlah. Kita, kan, tidak berkumpul untuk membicarakan hal itu," pinta Sarah, berusaha mengakhiri perdebatan kecil yang bisa membesar sewaktu-waktu itu.
Namun, usaha Sarah tak membuahkan hasil. Baik Song Eun maupun Ye Na lebih suka melanjutkannya.
"Tentu saja masalah jika kamu mau memanfaatkan temanku, nona Kim Ye Na." Sengaja Song Eun menggunakan nada sarkastik saat menyebut nama Ye Na. Menunjukkan betapa jauh perbedaan mereka untuk bisa menjadi teman baik.
"Aku menyukai Hong Ki oppa dan Sarah menyukai Black. Jika aku membantu mendekatkan mereka, bagian mana yang bisa disebut memanfaatkan?"
Song Eun bungkam. Ye Na jelas sudah menyiapkan semua ucapannya, sehingga ia bisa berkelit ketika orang lain mempertanyakannya.
"Saat kamu mendorong Sarah mendekati bahaya hanya agar kamu punya kesempatan pada Hong Ki." Akan tetapi Song Eun tak sebodoh itu untuk mengikuti saja maunya Ye Na. "Black berbahaya untuk Sarah. Itulah kenapa aku tidak setuju dengan niatmu mendekatkan mereka."
"Bukan karena kamu menyukai Black?" serang Ye Na dengan telak.
Sarah dan Song Eun sama-sama terdiam. Tidak menduga kalimat itu yang akan keluar dari bibir Ye Na.
"Jadi, seperti ini strategimu? Dengan menguji kepercayaan kami sebagai teman?" Song Eun meletakkan telur-telur yang ia pegang dengan geraman marah. Kalau saja ia bisa, telur-telur itu pasti sudah melayang tepat ke arah wajah Ye Na yang sekarang tampak seperti Medusa.
"Aku, kan, hanya bertanya," dalih Ye Na, tidak peduli dengan tatapan mata Sarah yang tampak sedih.
"Dan pertanyaanmu itu sangat salah," tukas Song Eun cepat. Ia benci melihat senyum licik gadis di hadapannya itu. Namun, ia masih waras untuk menyadari jika ada Sarah bersama mereka.
Sarah, teman baiknya yang harus ia jaga perasaannya. Yang sudah berbaik hati mengundang mereka bersama.
Song Eun tidak ingin si siluman rubah Kim Ye Na membuat Sarah bersedih karena ocehan ngawurnya itu.
"Oh, kalau begitu maafkan aku." Ye Na mengucapkannya tanpa rasa bersalah sama sekali. Membuat emosi Song Eun kembali mendidih, tetapi berusaha keras untuk ia tahan.
Sarah sudah susah payah menyiapkan semua bahan yang ada untuk mereka. Jangan sampai tepung dan telur yang ada gagal berubah menjadi kue karena berpindah tempat ke wajah Ye Na.
"Aku hanya ingin kue ini cepat selesai. Tapi jika ini bisa membuatmu diam, jawabanku adalah tidak. Aku tidak menyukai Black."
Tak peduli lagi dengan reaksi Ye Na, tangan Song Eun beralih pada bahan lain. Meski begitu, ia bisa merasakan wajah sendu Sarah yang tak kunjung berubah ceria sejak pertanyaan sialan dari Ye Na terlontar tadi.
***
Apa yang sering terjadi pada anak-anak miskin yang berada di lingkungan orang kaya? Di drama, mereka akan ditindas habis-habisan. Kebanyakan justru menjadi frustasi, depresi dan akhirnya bunuh diri. Miris, bukan?
Song Eun sudah sering mendengar cerita semacam itu. Karenanya, ia ingin menjadi orang yang berbeda. Orang miskin yang tahu diri, yang sebisa mungkin tak mencari masalah dengan golongan kaya. Namun, seperti yang sering terjadi, melakukan tak semudah mengucapkannya.
Hanyang Senior High School tidak seburuk itu sebenarnya. Tidak ada kasus bullying di sana. Setahu Song Eun seperti itu. Mungkin karena selama ini ia selalu berusaha tidak mencari masalah dengan teman-temannya. Akan tetapi, ia cukup cemas mengingat pertengkaran antara dirinya dan Ye Na di rumah Sarah kemarin.
Ye Na tidak semenakutkan ketua geng cewek cantik seperti dalam drama. Kenyataannya, gadis itu bahkan tak punya teman, apalagi sekutu. Namun, tetap saja. Ayah Ye Na yang merupakan salah satu donatur sekolah menjadi kekhawatiran sendiri untuk Song Eun.
"Wah, tidak menyangka kita bisa bertemu di sini, Gadis Baik Hati," sapaan dengan nada meremehkan itu menghentikan langkah Song Eun yang baru kembali dari perpustakaan. Mendadak, buku-buku di tangan Song terasa lebih berat dua kali lipat
"Kim Ye Na, aku juga tidak menyangka bisa bertemu denganmu di sini," balas Song Eun, berusaha tak acuh. Ia menggeser langkahnya, bermaksud pergi. Namun, Ye Na dengan cepat menghadangnya.
Song Eun menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia akan datang terlambat ke kelas demi meladeni Ye Na.
"Apa? Bukankah sudah kubilang aku tidak menyukai Black? Aku tidak peduli kamu percaya atau tidak. Jadi, minggirlah. Aku harus segera ke kelas," perintah Song Eun.
Ye Na seketika melotot marah mendengar ucapan Song Eun. Tidak terima.
"Kamu lupa siapa dirimu? Sampai berani menyuruhku?"
Yang dimaksud Ye Na adalah perbedaan status sosial dan kekayaan. Hal yang jelas tidak bisa dibandingkan dari diri Song Eun dan Ye Na. Terlalu jauh.
"Aku tahu."
"Benarkah? Tapi kenapa kamu berani ikut campur urusanku? Sebenarnya aku juga tidak peduli siapa yang kamu sukai. Untuk apa juga aku acuh dengan kisah cinta gadis miskin sepertimu? Yang bahkan harus mengemis bantuan untuk bisa sekolah."
Baiklah, kata-kata Ye Na mulai keterlaluan.
"Aku tahu."
"Kalau begitu jangan ikut campur urusanku. Bersikap baik tak akan membantumu untuk bisa terus sekolah di sini. Ingat, aku bisa menendangmu keluar kapan saja dari sini."
"Aku tahu." Kembali Song Eun mengucapkan kata-kata yang sama. Seolah tak ada kata lain yang pantas ditujukan sebagai respon atas semua ucapan buruk Ye Na.
"Bagus. Satu lagi, jangan juga dekat-dekat dengan Hong Ki oppa. Kamu sama sekali tidak selevel dengannya. Baumu itu sangat menyengat. Bau orang miskin. Aku tidak mau oppaku sampai tertular baumu."
Puas mengatakan semua kebenciannya pada Song Eun, Ye Na lalu beranjak pergi. Menyisakan Song Eun yang terdiam sembari menghembuskan napas panjang.
Perlakuan buruk Ye Na menyadarkan Song Eun siapa dirinya. Ia ingin sekali tidak peduli, dan tetap menjalani hidupnya seperti biasa.
Namun, tak dapat pungkiri. Ada sedih yang meronta dalam hati Song Eun.
Mata gadis itu berkaca-kaca. Bersiap mengembun. Akan tetapi, Song Eun menguatkan hati.
Sudah lama ia tak menangis. Dan, ia tak ingin hal itu terjadi sekarang.
***
Sudah sepuluh menit Song Eun duduk di salah satu bangku panjang di depan perpustakaan. Bernaungkan pohon ginkgo yang meneduhkan. Membuatnya merasa lebih baik. Namun tak cukup untuk membendung air mata yang sedari tadi mengalir.
Masih terpatri dengan jelas di kepalanya semua kata-kata hinaan Ye Na tadi. Song Eun sudah sering mendengarnya, tetapi belum cukup tangguh untuk terus pura-pura tegar. Bagaimana pun juga, apa yang dikatakan Ye Na adalah kenyataan. Dan, ia tidak ingin merusak harapan neneknya yang ingin dia lulus sekolah sengan baik.
Isak tangis Song Eun terdengar begitu pelan. Ia tak mau seseorang memergokinya. Akan tetapi, ia juga tak peduli jika akan kena marah tuan Park setibanya di kelas nanti. Yang ia butuhkan sekarang hanya waktu untuk sendiri. Sejenak saja.
"Yang lain menunggumu dan kamu malah bermalas-malasan di sini," tegur seseorang yang segera menggeser tumpukan buku di samping Song Eun untuk tempatnya duduk.
Song Eun buru-buru menghapus air matanya dan menoleh pada si empunya suara.
Lee Hong Ki.
Tuan Park pasti memintanya menyusul karena Song Eun terlalu lama kembali.
"Mianhae. Aku segera ke sana." Buru-buru Song Eun mengambil tumpukan bukunya dan bermaksud pergi. Namun Hong Ki yang sudah melihat bekas air mata di wajahnya segera sadar apa yang terjadi.
"Kamu habis menangis?" tanyanya. Song Eun pura-pura tidak mendengar sehingga membuat Hong Ki mencebik kesal. "Apa ini ulah Ye Na?"
Song Eun menatap Hong Ki tidak percaya. Pemuda itu bisa menebak dengan sangat tepat.
"Bagaimana kamu tahu?"
"Sarah cerita padaku apa yang terjadi antara kamu dan Ye Na kemarin. Aku langsung yakin jika gadis manja itu tidak akan menyerah begitu saja."
Alih-alih sedih, Song Eun justru tertawa kecil. Memunculkan kerutan di dahi Hong Ki.
"Sebenarnya aku kasihan pada Ye Na. Dia sangat menyukaimu, tapi kamu malah tidak pernah peduli."
"Siapa juga yang akan suka dengan gadis manja, egois dan mengganggu macam dia," decak Hong Ki. Ia benci membahas masalah itu.
"Ada," jawab Song Eun, yang mendadak teringat pada Tae Sang.
"Yang jelas bukan aku orangnya," tukas Hong Ki cepat. Ia kembali meraih buku-buku di tangan Song Eun dan bergegas bangkit. "Ayo! Tuan Park masih menunggu kita."
Song Eun mengangguk. Ia mengikuti langkah Hong Ki menuju kelas. Namun, tiba-tiba menyeruak sebuah pertanyaan di otaknya.
"Hong Ki, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hmm."
"Kenapa kamu mau berteman denganku? Apa karena Sarah?"
Langkah Hong Ki seketika berhenti, membuat Song Eun yang tidak siap jadi menabrak punggungnya.
"Awalnya iya. Tapi tidak lagi."
Song Eun memandang Hong Ki penasaran. Ingin tahu alasannya.
"Karena aku bukan Ye Na."
Song Eun tergelak. Jawaban Hong Ki lucu, singkat tapi juga mencakup semua alasan yang dibutuhkan.
Kim Ye Na, gadis kaya yang manja. Pilih-pilih dalam berteman, meski akhirnya justru tak memiliki satu pun. Itu jelas berkebalikan dengan Hong Ki. Pemuda kaya yang cerdas dan mandiri. Berteman dengan siapa pun. Jika Hong Ki menyeleksi teman-temannya, itu hanya karena ia ingin teman yang benar-benar tulus.
"Itu berarti kamu tidak masalah dengan bau orang miskin sepertiku?" tanya Song Eun. Kali ini berniat iseng.
Hong Ki melihat Song Eun dengan tatapan tidak suka. Ia tahu pasti darimana gadis itu mendapatkan kalimat tersebut.
"Tidak. Anggap saja aku sedang flu."
Song Eun kembali tergelak. Membuat Hong Ki bisa melontarkan gurauan adalah satu kemajuan. Dan, satu lagi. Ia tahu, Hong Ki tulus berteman dengannya.
***