
Sarah menutup buku pelajarannya dengan kesal. Seharian ini moodnya sedang tidak baik. Tepatnya tidak kunjung membaik sejak kejadian tadi siang di sekolah.
Dihempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Sembari memejamkan mata, Sarah mengingat kembali semuanya. Tidak semua. Hanya tentang ucapan Min Hyuk.
"Sarah, kamu sudah tidur?" Suara ibunya terdengar di depan pintu kamar.
"Belum, Eomma. Masuk saja."
Setelah itu pintu terbuka dan muncullah sosok Sandra yang sedang menggendong Seung Jo. Bayi laki-laki tampan itu bergelung manja dalam dekapan sang ibu.
"Boleh Eomma minta tolong? Jagakan Seung Jo sebentar."
"Tentu, Eomma. Tidak masalah," jawab Sarah. Ia mengulurkan kedua tangannya pada Seung Jo. Bayi itu tersenyum, membuat pipi gembulnya tampak semakin menggemaskan. Lalu, dengan mudahnya ia berpindah ke dalam gendongan nunnanya.
Sandra pun bergegas keluar setelah Seung Jo mulai asyik bercanda dengan Sarah.
Tak lama kemudian, terdengar bel pintu rumah Sarah berbunyi. Ia bergegas bangkit sembari menggendong Seung Jo dan berjalan menuju pintu depan.
"Biar aku saja, Eomma," cegah Sarah sewaktu berpapasan dengan ibunya yang tergopoh-gopoh keluar dari dapur." Itu pasti appa," gumamnya riang.
Keluarga Sarah tidak terbiasa menerima tamu pada malam hari. Karena itu, jika bukan kerabat jauh pastilah ayahnya yang baru pulang.
"Hong Ki-ssi?"
Di luar dugaan, sosok yang tengah berdiri di hadapannya begitu Sarah membuka pintu adalah Hong Ki. Pemuda itu tersenyum ramah sembari menjinjing sekantong buah jeruk di tangan kanannya.
"Apa aku boleh masuk?" tanya Hong Ki karena Sarah masih menunjukkan ekspresi terkejut. Tak mempersilakannya masuk.
"Ah, tentu saja boleh. Silakan!" Sarah menggeser tubuhnya, memberi jalan untuk Hong Ki.
Hong Ki lalu duduk di sebuah sofa beludru berwarna karamel. Mengamati sekeliling dan akhirnya terpaku pada Seung Jo.
"Dongsaeng?"
Sarah mengangguk. Hong Ki tersenyum pada Seung Jo, lalu mengulurkan tangan. Bermaksud menggendongnya.
Namun, bayi itu justru menyembunyikan wajahnya di dekapan Sarah.
"Dia agak pemalu. Terlebih pada orang asing," jelas Sarah.
"Tidak apa-apa. Oh, ya, ini untukmu." Hong Ki beralih pada kantong yang ia bawa, lalu menyerahkannya pada Sarah.
"Gomawo, Hong Ki-ssi. Harusnya kamu tidak perlu repot," jawab Sarah seraya menerimanya.
"Siapa yang datang Sarah? Apakah appa?" Sandra muncul dari dapur. Masih memakai celemek. Tubuhnya pun beraroma masakan. " Oh, temannya Sarah?" tanya beliau, sedikit terkejut mengetahui siapa tamunya.
"Annyeonghaseyo. Saya Lee Hong Ki, teman sekelas Sarah. Mianhaeyo, karena bertamu malam-malam begini," ujar Hong Ki sembari membungkukkan badan.
Sandra tersenyum ramah, lalu melirik putrinya. Seolah bisa menangkap sebab dari mood Sarah yang seharian ini buruk.
"Tidak apa-apa. Saya justru senang jika ada teman Sarah yang datang ke sini."
Setelah basa basi sejenak, Sandra lalu pamit untuk kembali ke dapur. Di ruang tamu hanya tersisa Sarah, Hong Ki dan Seung Jo.
"Ada apa, Hong Ki-ssi? Aku terkejut karena kamu tidak mengabariku jika ingin datang."
Hong Ki terdiam. Tak langsung menjawab. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah.
"Aku baru tahu dari Song Eun. Mianhae, Sarah. Lagi-lagi aku lalai dalam menjagamu."
Sarah ikut terdiam. Pasti maksudnya kejadian dengan Tae Sang dan Min Hyuk tadi siang. Hari ini Hong Ki memang tidak berada di kelas. Ia bersama beberapa siswa lain mewakili sekolah mengikuti Olimpiade Sains tahunan. Itulah mengapa ia baru tahu mengenai kejadian tadi.
"Tidak apa-apa. Ini bukan salahmu. Kamu dan Song Eun sudah menjagaku dengan sangat baik. Aku juga sudah berhati-hati. Mungkin ini aku hanya sedang sial," hibur Sarah. Bagaimanapun juga, Hong Ki adalah teman terbaiknya selain Song Eun. Tak mungkin ia membiarkan pemuda itu merasa bersalah.
"Ibumu tahu tentang itu?"
"Anio. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Terlebih jika appaku juga tahu."
Suasana lalu berubah hening. Kedua remaja itu tak tahu lagi harus berkata apa.
Sarah mengisi keheningan itu dengan menggoda Seung Jo yang menarik-narik jemarinya. Hong Ki terdiam mengamati mereka berdua. Mengagumi betapa gadis di hadapannya itu tampak seperti bidadari.
Detak jantung Hong Ki menggila ketika Sarah tertawa kecil bersama adiknya. Hanya karena itu, seorang Hong Ki mendadak menyadari satu hal. Saat itu, detik itu, ia ingin memilikinya. Memiliki Sarah.
"Sarah," panggil Hong Ki kemudian. Ia menarik napas dalam, lalu memberanikan diri menatap mata coklat Sarah. "Na neo joahe."
Terkejut. Reaksi pertama yang bisa Sarah berikan. Song Eun memang selalu bilang kalau Hong Ki menyukainya, tetapi mendengar langsung dari orang yang bersangkutan tentu saja berbeda.
"Hong Ki-ssi, aku ...,"
"Tae Sang tidak akan mengganggumu lagi jika kita berpacaran. Tujuannya adalah Black, bukan kamu."
Sarah kehilangan kata-kata. Sementara si kecil Seung Jo menatap kakaknya dengan bingung, laku beralih pada Hong Ki dengan tatapan yang sama.
"Tapi aku benar-benar menyukaimu. Sejak kita pertama kali bertemu. Sejak itu aku selalu memikirkanmu dan ingin selalu menjagamu. Tapi, aku tidak akan memaksa sebuah perasaan, Sarah. Kamu tidak harus menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kamu yakin untuk menerimaku." Kata-kata tersebut mengalir lancar dari bibir Hong Ki. Namun, sejatinya, hati pemuda itu benar-benar kacau. Tidak mudah menyatakan perasaan suka pada seorang gadis. Terlebih untuk pemuda macam Lee Hong Ki.
Sarah tersenyum canggung. Mendadak ia merasa serba salah dan tak tahu harus bagaimana.
"Gomawo, Hong Ki-ssi."
Tiba-tiba Hong Ki berdiri. Membalas senyum Sarah dengan canggung juga.
"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang. Aku lega jika kamu baik-baik saja," dusta Hong Ki, yang lebih lega karena berhasil menyatakan perasaannya.
"Tunggu sebentar," tahan Sarah, lalu bergegas menuju dapur. Memanggil ibunya. Memberi Hong Ki kesempatan untuk berpamitan.
Sembari melangkah masuk, Sarah berusaha keras mengontrol detak jantungnya. Berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Hong Ki baru saja menyatakan perasaannya pada Sarah. Dan, hanya satu pertanyaan yang terngiang di otak gadis itu.
Apakah ia bermimpi?
***
"Mwo? Kamu serius, Sarah?" Song Eun tidak bisa menahan suaranya ketika selesai mendengar cerita Sarah tentang pernyataan cinta Hong Ki semalam. Mereka berdua sedang berada di kantin. Sukses menjadi tontonan seisi kantin gara-gara suara Song Eun. "Lalu, apa jawabanmu?"
"Belum ada."
"Apa karena Black?" tanya Song Eun hati-hati. Volume suaranya menjadi sangat kecil. Hampir berbisik. Takut terdengar yang lain. "Kamu masih menyukainya, kan?"
"Tentu saja. Melupakan seseorang tidak semudah membalik telapak tangan, Song Eun," sahut Sarah cepat. Ia lalu menenggak habis air mineral dalam botol di hadapannya. Bicara tentang Min Hyuk selalu menguras emosi.
"Jadi?" Song Eun mencoba memastikan.
"Aku akan memberi Hong Ki kesempatan."
Itu sebuah kejutan. Song Eun pikir Sarah akan bersikukuh tentang perasaannya pada Min Hyuk. Ia tidak menyangka gadis itu akan menyerah secepat ini.
Sarah memandang heran temannya. Pertanyaan Song Eun terdengar aneh.
"Bukankah kamu sangat mendukung Hong Ki? Kamu juga yang mengatakan jika lebih baik aku menjauhi Min Hyuk. Dia membenciku."
Song Eun terdiam. Ia tentu masih ingat semua ucapannya sendiri. Hanya saja, ada sesuatu yang sedikit mempengaruhi pemikirannya selama ini.
Sembari memainkan sedotan di gelas limunnya, Song Eun balas memandang Sarah. Mencari tahu reaksi temannya itu.
"Tapi, aku merasa Black tidak benar-benar membencimu. Dia justru peduli padamu." Hati-hati Song Eun mengutarakan maksudnya. Takut suasana hati Sarah akan kembali berubah.
"Jangan membuatku kembali berharap, Song Eun. Dia bahkan sudah membentakku."
Raut wajah Sarah berganti muram. Mengingat kembali perkataan Min Hyuk padanya kemarin. Sama seperti Song Eun, ia ingin percaya bahwa Min Hyuk sebenarnya peduli. Pemuda itu bisa memilih pergi dan tak acuh saat memergoki Tae Sang mengganggunya, tapi tak dilakukannya. Min Hyuk justru menghajar Tae Sang dan menolong Sarah.
Namun, sekali lagi, Sarah tidak ingin terlalu berharap. Rasanya menyakitkan. Bahkan saat ia dan Min Hyuk tak memiliki hubungan apa pun. Ia memilih untuk percaya jika tindakan Min Hyuk waktu itu hanya sebuah pertolongan pada perempuan.
"Dari caranya melihatmu, berbicara padamu, Black tampak sangat khawatir."
Sarah menghembuskan napas dengan keras. Ucapan Song Eun membuat hatinya berdesir. Aroma kue dan buah blackberry yang dulu sengaja ia buat untuk Min Hyuk seolah menguar di sekitar. Mengingatkan gadis itu pada nama yang diam-diam hatinya sematkan pada Min Hyuk.
"My Blackberry."
Tanpa sadar nama itu benar-benar terucap oleh Sarah.
"Apa?" Song Eun menatapnya heran. "Kamu baru saja mengatakan blackberry?"
Sarah terkesiap. Buru-buru otaknya berkelana mencari jawaban yang tepat untuk Song Eun.
"Oh, maksudku, aku ingin membuat kue lagi, dengan blackberry."
Tatapan Song Eun penuh selidik. Yakin jika bukan itu yang sebenarnya Sarah maksud. Namun ia bukan tipe orang yang akan terus menuntut jawaban, terlebih pada teman baiknya. Sarah berhak menyembunyikan sesuatu dari siapa pun. Meski Song Eun tetap berharap suatu saat temannya itu akan berbagi dengannya.
"Aku tahu. Kita bisa membuatnya lagi kapan-kapan. Dan, sebaiknya jangan ajak Ye Na," pesan Song Eun akhirnya.
Sarah tersenyum kecil. Sejak perdebatan Song Eun dan Ye Na di rumahnya dulu, Ye Na tak lagi mendekatinya. Seperti sekarang, gadis cantik itu tak muncul dan ikut bergabung bersamanya dan Song Eun seperti biasa.
"Baiklah. Aku juga tidak yakin dia masih mau berteman denganku setelah ini," putus Sarah, menutup percakapannya dengan Song Eun. Karena tepat setelah itu, terdengar bunyi bel masuk kelas.
***
Menyukai seorang gadis adalah pengalaman pertama untuk Hong Ki. Ya, peraih juara umum di sekolah yang terlalu sibuk berkutat dengan rumus dan soal pelajaran, akhirnya jatuh cinta pada seseorang.
Tidak ada buku atau rumus yang menjelaskan tentang cinta. Itulah kenapa Hong Ki benar-benar merasa bodoh. Berusaha menjadi orang yang bisa diandalkan oleh Sarah. Melindungi dan membuat gadis itu selalu merasa nyaman. Namun, Hong Ki tidak pernah merasa puas. Selalu ada cela yang membuatnya merasa kurang sekaligus konyol.
"Aku tidak butuh uangmu." Sebuah suara terdengar ketika Hong Ki melewati tangga menuju atap. Namun, tidak terlihat ada orang di sekitar. Ia memilih tak acuh dan kembali melanjutkan langkah, tetapi kembali terhenti setelah mendengar kalimat selanjutnya dari suara tadi.
"Tanpa kamu minta pun, aku akan tetap mengganggu Sarah. Dia adalah umpan yang bagus untuk Min Hyuk. Simpan saja uangmu."
Itu suara Tae Sang. Siapa lagi yang menganggap berkelahi dengan Min Hyuk sebagai kesenangan jika bukan pemuda bengal itu? Akan tetapi, apa hubungannya Sarah dengan Min Hyuk? Dan siapa pula yang berniat membayar Tae Sang untuk melakukan itu?
Terdorong oleh rasa penasaran, Hong Ki mengendap-endap mencari sumber suara tersebut.
Di sudut bawah tangga. Tae Sang sedang berbicara dengan seorang gadis berambut panjang. Gadis itu membelakangi Hong Ki.
Hong Ki tidak ingin asal tuduh, tetapi rasanya ia mengenal sosok gadis tersebut. Dan, dugaannya terbukti saat akhirnya gadis itu berbicara.
"Apa ini kurang banyak? Aku bahkan tetap membayarmu meski Sarah masih baik-baik saja dan kamu justru babak belur."
Itu suara Kim Ye Na. Tidak salah lagi.
Hong Ki tak menunggu untuk segera menghampiri Tae Sang dan Ye Na. Tangannya mengepal kuat. Menahan emosi yang mendadak muncul setelah melihat ulah Ye Na.
"Jadi, semua yang Sarah alami itu ulahmu?"
Tak ada basa basi. Hong Ki langsung menanyakannya pada Ye Na yang matanya membulat seketika. Tidak menyangka ia akan bertemu sang pujaan hati dalam kondisi yang sangat tidak membantu. Justru mengurangi poinnya lebih banyak lagi di mata Hong Ki.
"Oppa, aku bisa menjelaskannya." Buru-buru Ye Na mengucap pembelaan.
Tak ada respon positif dari Hong Ki. Pemuda itu melayangkan tatapan benci yang lebih besar pada Ye Na. Alasannya tidak menyukai seorang Ye Na menjadi lebih kompleks sekarang.
Berbeda dengan Ye Na, Tae Sang tetap terlihat santai. Seolah sengaja menikmati ketegangan yang tengah terjadi pada gadis pujaannya dan Hong Ki.
"Dia bahkan mau berteman denganmu, tapi kamu justru ingin mencelakainya," sesal Hong Ki. Ada nada marah terselip dalam suaranya.
Ye Na terdiam. Bahkan takdir juga tak berpihak padanya, sehingga Hong Ki memergokinya bersama Tae Sang sedang membahas tentang Sarah. Tentang ulah buruknya pada gadis itu.
"Oppa, aku melakukannya karena tidak ingin kehilanganmu."
"Apa maksudmu?"
"Oppa menyukai Sarah, kan? Tapi dia tidak merasakan hal yang sama. Dia menyukai orang lain."
Hening.
Tak ada suara yang keluar dari bibir Hong Ki. Otaknya terlalu terkejut dengan kenyataan yang diungkapkan Ye Na.
Sarah menyukai orang lain. Kenapa tidak pernah terbersit hal itu dalam benak Hong Ki? Bukankah itu mungkin saja terjadi.
"Dan kamu mau bilang orang lain itu adalah Black?" tebak Hong Ki yang meyakini ke mana arah pembicaraan Ye Na. Salah satu sudut bibirnya terangkat, merasa konyol jika sampai mempercayai omong kosong gadis itu. Pasti ini adalah salah satu rencananya untuk menjauhkan Sarah dari Hong Ki.
Ye Na terdiam. Menyadari jika Hong Ki tidak akan serta merta percaya padanya. Ia merasa kecewa bahkan sebelum sempat berusaha lebih keras.
"Tepat sekali, Tuan Muda Lee Hong Ki. Sarahmu yang manis itu menyukai Black. Dan aku punya banyak bukti yang bisa meyakinkanmu." Suara Tae Sang menyeruak di antara keheningan tersebut. Membuat Ye Na dan Hong Ki menoleh bersamaan ke arahnya.
"Omong kosong. Berapa banyak Ye Na membayarmu?" Hong Ki menggelengkan kepala tidak percaya. "Lebih baik selesaikan urusan kalian. Selama tidak menyangkut Sarah, aku tidak akan peduli," ujarnya seraya melangkah pergi meninggalkan kedua remaja tersebut. Ia hanya membuang waktu jika terus melayani ocehan ngawur mereka.
"Terserah kamu saja, Teman. Mungkin Black hanya beruntung karena bisa mencicipi kue-kue buatan Sarah, gadismu yang manis itu," tukas Tae Sang. Sengaja mengacaukan pikiran Hong Ki.
Langkah kaki masih terjaga. Jarak Hong Ki dari tangga semakin menjauh. Dari tempat Ye Na dan Tae Sang menatap kepergiannya, hati kecil Hong Ki terasa sakit. Iri sekaligus cemburu pada hal yang belum pasti kebenarannya.
Kenapa?
Hanya sebuah kue. Bukankah tidak seharusnya ia merasa cemburu?
***
● Appa : ayah
● Anio : tidak
● Naeno joahe : aku menyukaimu
● Dongsaeng : adik
***