Something Called Love

Something Called Love
Pertemuan yang Direncanakan



"Semuanya dua puluh ribu won," ujar kasir mini market tempat Sarah berbelanja. Seorang gadis yang mulai mengenali Sarah sebagai salah satu pelanggan baru.


Sarah yang sedang menggendong Seung Jo agak kesulitan untuk mengambil dompetnya. Beruntung hanya ada Sarah di depan kasir. Ia pasti akan sangat tidak nyaman jika ada orang lain di belakangnya yang harus menunggu.


"Pakai saja uang ini dulu." Suara seorang pria terdengar bersamaan dengan dua lembar uang sepuluh ribu won diletakkan di atas meja kasir.


Sarah menoleh dan mendapati pria asing yang tersenyum ramah padanya. Ia merasa deja vu, tetapi belum bisa menebak.


Sarah tidak sempat menolak karena kasir sudah menerima uang tersebut. Ia jadi merasa tidak nyaman karena menerima begitu saja bantuan dari orang asing.


Setelah selesai membayar, Sarah keluar membawa sekantung belanjaan sembari masih menggendong Seung Jo. Pria tadi pun ikut keluar mengiringi langkah Sarah.


"Gomawoyo, Ahjussi," ucap Sarah begitu keduanya sudah berada di luar mini market. Ia membungkukkan badan dan segera menyerahkan uang yang akhirnya berhasil ia ambil dari dompetnya pada pria tersebut.


"Tidak perlu," tolak beliau.


"Tapi, saya sudah merepotkan Ahjussi. Mohon terimalah."


Pria tersebut tertawa kecil, yang ternyata ditiru oleh Seung Jo. Bayi laki-laki tersebut tampak tertarik dengan pria asing di hadapannya.


Sarah terkejut dengan reaksi Seung Jo, tetapi kemudian ikut tersenyum.


"Kamu tidak ingat padaku, Gadis Penyuka Ungu?" tanya pria itu akhirnya.


Sarah terdiam. Berusaha mencari ingatan tentang panggilan yang terasa familiar tersebut. Pakaiannya yang serba hitam memang seperti pernah ia lihat sebelumnya. Beberapa detik kemudian mulut Sarah sedikit terbuka. Menyadari siapa sebenarnya pria asing yang sudah membantunya itu.


"Anda pamannya Min Hyuk. Tuan Nam In...,"


"Nam In Sung," potong In Sung cepat, membantu Sarah mengingat namanya. "Senang akhirnya kamu ingat."


Sarah tersenyum canggung. Pertemuannya dengan paman Min Hyuk sama sekali bukan pertemuan yang ia harapkan.


"Gomawoyo, Ahjussi." Sarah mengulang ucapan terima kasihnya.


"Sudahlah. Omong-omong, kamu tidak sekolah?"


Hari masih siang dan In Sung tahu jika hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah libur musim panas. Karena itulah ia merasa aneh melihat Sarah justru berkeliaran tanpa memakai seragam.


"Ah, iya. Saya ijin tidak masuk. Eomma sakit dan sedang berobat. Jadi, tidak ada yang menjaga Seung Jo," jawab Sarah sembari melirik Seung Jo yang masih melihat In Sung dengan tatapan penasaran. Hal yang cukup aneh mengingat adiknya itu pemalu jika berhadapan dengan orang yang tidak dikenalnya.


"Ah, jadi nama bayi tampan ini Seung Jo? Adikmu?" tanya In Sung. Ia tersenyum ramah pada bayi laki-laki dalam gendongan Sarah yang kini balas tersenyum padanya.


Sarah mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi dulu, Ahjussi. Sekali lagi terima kasih banyak atas bantuannya," pamit Sarah yang merasa harus segera pulang.


"Tunggu dulu!" cegah In Sung. Ada sesuatu yang menarik perhatiannya. "Kamu tinggal di dekat sini?"


Kembali Sarah mengangguk. Namun, tak mengerti ke mana arah pertanyaan In Sung akan berlanjut.


"Bisakah kamu menunggu sebentar lagi?" pinta In Sung yang kemudian mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang. Namun, percakapan yang dilakukannya terlalu singkat hingga Sarah hanya bisa mendengar kata 'secepatnya' sebelum telepon ditutup.


Meski masih tak mengerti maksud dari permintaan In Sung, lagi-lagi Sarah hanya bisa mengangguk patuh.


Ia hanya berharap bahwa bukan hal buruk yang tengah menantinya.


***


Min Hyuk tak habis pikir dengan pamannya. Beliau yang menyuruhnya untuk tak masuk sekolah dan beristirahat di rumah agar demamnya mereda. Namun, beliau juga yang tiba-tiba menelepon dan memintanya datang secepat mungkin ke mini market tempatnya biasa berbelanja.


Min Hyuk sudah sampai di mini market yang dimaksud sang paman. Beberapa meter di depannya tampak dua orang sedang berbicara. Satu dari dua orang tersebut adalah pamannya. Namun, satu orang lagi, lawan bicara In Sung, bukanlah orang yang ingin Min Hyuk temui.


Orang tersebut adalah Sarah. Gadis itu tengah menggendong seorang bayi laki-laki berpipi gembul yang tertawa senang dengan candaan In Sung. Di samping kaki Sarah, tergeletak sekantung belanjaan yang terlihat cukup berat.


Entah apa yang direncanakan pamannya untuk Min Hyuk.


"Nah, ini dia bala bantuan sudah datang," seru In Sung ketika mendapati keponakannya sudah tiba di tempat.


Min Hyuk tahu ia akan diolok-olok dengan lebih parah oleh sang paman jika tak mau datang. Karena itu ia tetap muncul, sekadar menunjukkan jika ia sama sekali tak terpengaruh dengan gadis bernama Sarah tersebut.


Sarah hanya bisa mematung melihat siapa yang dimaksud bala bantuan oleh In Sung. Dia tak menyangka jika Min Hyuk yang datang.


"Min Hyuk, tolong temani Sarah pulang. Sekalian membawakan belanjaannya."


"Anio."


Sarah dan Min Hyuk menolak secara bersamaan. Keduanya seketika terdiam menyadari hal tersebut. Membuat In Sung tersenyum kecil, tetapi penuh arti.


"Sam-chon, mana bisa tiba-tiba menyuruhku melakukannya?"


Min Hyuk berusaha protes meski tahu tak akan berhasil.


"Ah, aku mengerti. Tidak mungkin membiarkan kalian berdua saja. Itu berbahaya," canda In Sung yang membuat wajah kedua remaja di hadapannya memerah.


"Ahjussi, saya bisa pulang sendiri. Tidak perlu melakukan itu."


In Sung menggeleng pelan. Paham betul jika ia akan mendapat penolakan. Namun, ia tidak mungkin kalah dengan sepasang remaja yang baru mengenal cinta, kan?


"Tidak, Gadis Penyuka Ungu. Biarkan kami mengantarmu. Min Hyuk, bawakan barangnya," perintah In Sung.


Min Hyuk tak segera melaksanakan titah sang paman. Keengganan tampak nyata di wajahnya.


In Sung pura-pura pasrah. Sembari menghembuskan napas perlahan, ia mengambil alih kantong belanja Sarah lalu berjalan lebih dulu dengan langkah santai.


"Min Hyuk, kalau begitu kamu yang menggendong Seung Jo."


Min Hyuk tercengang. Sembari menyentuh tengkuknya, ia melirik ke arah Sarah. Gadis itu tengah terdiam, tampak sama bingungnya dengan dirinya. Namun, bayi dalam gendongannya justru tengah menatap Min Hyuk dengan mata berbinar. Bayi dengan mata coklat seperti milik Sarah. Dan, seperti sang kakak, bayi itu pun juga tampan.


"Berikan padaku." Min Hyuk memutuskan untuk membantu menggendong Seung Jo. Masa bodoh dengan semua pemikiran sang paman. Ia hanya tidak ingin lebih lama lagi terjebak dengan perasaan aneh karena bersama Sarah.


Kedua mata coklat Sarah membulat. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pun tak serta merta memberikan adiknya pada Min Hyuk.


"Dia, dia biasanya tidak mau digendong orang asing," ujarnya beralasan.


Namun, ucapan Sarah jadi seperti kebohongan ketika tangan mungil Seung Jo justru langsung menyambut Min Hyuk. Mengingkari fakta yang baru saja kakaknya utarakan.


Meski terkejut, Min Hyuk tak berkomentar apa-apa. Ia segera mengambil alih Seung Jo agar berpindah dalam gendongannya. Namun, senyum polos bayi tersebut ketika menatapnya mau tak mau membuat Min Hyuk ikut tersenyum.


Sarah bisa menangkap dengan jelas momen berharga tersebut. Black yang terkenal dingin baru saja tersenyum. Dan, harus ia akui jika ia menyukainya.


Sangat menyukainya.


Beberapa langkah di depan Sarah dan Min Hyuk, In Sung juga tersenyum. Ia yakin akan ada perubahan yang berarti setelah ini.


Sepertinya, mereka semua harus berterima kasih pada Seung Jo.


***