
Untuk kesekian kali Sarah memperlambat langkah. Berusaha menjaga jarak dengan pemuda yang kini berada beberapa meter di depannya. Membuat perjalanan pulang yang harusnya singkat itu menjadi lebih lama.
Sarah tahu jika Min Hyuk tinggal di daerah yang sama dengannya, hanya berjarak beberapa blok. Akan tetapi, ia tidak tahu jika mereka akan melewati gang yang sama. Karena selama ini ia tak pernah melihat atau bertemu Min Hyuk di sana.
Mungkin Min Hyuk selalu pulang lebih awal atau terlambat dari Sarah sehingga mereka tak pernah berjumpa meski melewati jalan yang sama setiap hari. Bukan hal yang aneh mengingat betapa pemuda itu sangat membenci Sarah.
Masa bodoh. Sarah tidak ingin peduli. Ia hanya ingin segera tiba di rumah. Namun, ia tidak akan pernah berani mempercepat langkah dan menyalip Min Hyuk. Ia masih ingat dengan janjinya untuk jauh-jauh dari pemuda itu.
Tak mau memancing kemarahannya.
Alhasil, jadilah Sarah melangkah seirama dengan Min Hyuk. Mengikuti gerakan pemuda tersebut. Namun, lama-lama ia merasa konyol dengan tindakannya dan memilih untuk memperlambat langkahnya kemudian berhenti.
"Aku akan biarkan dia pergi lebih dulu saja," gumam Sarah yang merasa mendapat ide segar. Ia akan membiarkan Min Hyuk berjalan lebih dulu. Jika jarak mereka sudah cukup jauh, ia jadi tak perlu terus-terusan menjaga jarak.
Sarah melihat ke sekeliling. Ia berhenti di depan sebuah rumah berdinding putih dengan pintu kayu yang catnya tampak kusam. Di teras rumah tersebut terdapat sebuah bangku kayu panjang. Suasana gang tampak lengang. Tidak ada seorang pun lewat selain dirinya dan Min Hyuk tadi. Sarah pun memutuskan untuk duduk di bangku kayu tersebut sejenak hingga dirasanya Min Hyuk sudah cukup jauh.
Sembari menatap langit yang tampak cerah malam itu, Sarah sedikit menyesali keputusannya menolak tawaran Hong Ki untuk mengantarnya pulang. Meski mereka baru saja berbaikan, bukan berarti rasa canggung yang kerap hadir di antara mereka sontak menghilang. Sarah masih merasakannya. Namun, kehadiran Min Hyuk membuat Sarah menyayangkan keputusannya.
"Wah, wah, ada gadis cantik di sini. Kita beruntung malam ini."
Sarah mendongak dan mendapati pemilik suara tersebut tengah menatapnya dengan tatapan menakutkan. Seorang laki-laki yang tampak seumuran dengan Sarah, tetapi penampilannya membuat Sarah beringsut. Begitupun kedua temannya yang berpenampilan serupa. Mereka tampaknya juga sedang mabuk.
"Wah, dia mau berkenalan rupanya. Biar aku tunjukkan cara berkenalan yang asyik." Laki-laki itu maju selangkah, mendekat ke arah Sarah yang tubuhnya semakin gemetaran. Degup jantungnya pun sangat cepat. Menekan angka satu pada layar ponselnya pun menjadi sangat sulit.
"Berikan tasmu!" Raut wajah laki-laki tadi berubah menakutkan. Tangan kanannya dengan cepat mencekal tangan Sarah, membuat ponsel gadis itu terjatuh. Salah satu dari dua orang teman laki-laki di depan Sarah cepat-cepat memungutnya.
"Dia menelepon ayahnya," lapor si pemungut ponsel Sarah saat melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Laki-laki di hadapan Sarah mengabaikan laporan temannya. Ia lebih memilih memerhatikan wajah Sarah yang mulai memucat, lalu tersenyum miring.
"Kamu cantik juga," gumam laki-laki tersebut. Tangan kirinya yang bebas bergerak menuju wajah Sarah. Sarah berpaling ketika laki-laki itu bermaksud membelai pipinya. Matanya terpejam rapat. "Jangan takut, aku ...,"
Ucapan laki-laki itu terhenti. Berganti menjadi suara pukulan. Sarah membuka mata dan spontan berteriak ketika tubuh laki-laki di hadapannya tiba-tiba tumbang. Tak jauh berbeda dengan dua temannya. Ketiganya tersungkur dengan wajah dihiasai lebam yang berasal hanya dari satu pukulan. Menunjukkan betapa hebat si pemilik tinju yang berhasil merobohkan mereka.
Masih dipenuhi rasa takut, Sarah berusaha menajamkan penglihatan untuk melihat sosok lain yang berdiri di antara ketiga preman tadi. Sosok yang sudah menyelamatkannya.
Di bawah langit malam dan cahaya lampu yang temaram dari rumah di sepanjang gang, Sarah akhirnya bisa melihat dengan jelas siapa pemuda yang baru saja menghajar para pengganggu tadi.
Namun, Sarah semakin tak bisa berkata-kata saat tahu siapa sosok tersebut.
***