Something Called Love

Something Called Love
Jatuh Cinta?



Cahaya mentari pagi menembus kaca jendela apartemen Min Hyuk. Membuat pemuda itu terbangun dari tidur dan menyadari ada yang salah dengan pagi ini.


Dengan mata setengah terpejam, Min Hyuk memandangi sekelilingnya. Lalu menyentuh selimut yang membungkus tubuhnya di atas sofa.


"Tidurmu pulas sekali. Aku tidak tega membangunkan," ujar In Sung yang muncul dari dapur dengan membawa segelas teh panas dan semangkok bubur. "Sepertinya kamu juga demam."


Min Hyuk menyibak selimutnya lalu bangkit berdiri, hendak menyongsong sang paman. Namun, ia menyadari satu hal. Ia masih memakai pakaian yang sama dengan tadi malam. Kemeja berwarna navy blue yang harusnya basah terkena air hujan kemarin. Akan tetapi, baju itu masih melekat di badannya. Kondisinya pun sudah kering. Itu berarti Min Hyuk tidur begitu saja dengan pakaian yang basah. Pantas saja badannya terasa tidak nyaman. Jangan-jangan ia kena flu.


"Sam-chon pulang jam berapa kemarin? Aku pasti ketiduran." Min Hyuk mendekat dan mencium aroma yang enak dari bubur di tangan In Sung.


"Jam dua."


In Sung membiarkan Min Hyuk mengambil alih mangkok dan gelas di tangannya. Keponakannya itu pasti lapar hingga begitu mudahnya terpancing dengan semangkok bubur yang hampir tanpa rasa tersebut.


Langkah In Sung berbalik menuju dapur, meninggalkan Min Hyuk menikmati sarapannya sendirian di atas sofa butut berwarna cokelat muda yang tadi menjadi tempatnya tidur.


"Wah, coba lihat apa ini! Apa gadis itu memberimu kue lagi?" Seruan In Sung terdengar sangat nyaring. Pertanda bahwa suasana hatinya mendadak bagus.


Min Hyuk yang masih menelan buburnya tak menjawab. Ia masih menerka benda apa yang pamannya maksud.


"Tapi, kenapa kotaknya berbeda? Remuk pula," tanya In Sung penasaran. Tak lama terdengar suara kunyahan dari mulutnya. "Rasanya juga berbeda."


Otak Min Hyuk segera tersadar. Benda yang pamannya maksud pasti kotak kue yang kemarin ia beli bersama Jeong Jin.


Bergegas Min Hyuk beranjak menghampiri In Sung di dapur. Pamannya itu ternyata sudah menghabiskan sebuah cup cake.


"Jangan dimakan! Kue itu habis kehujanan," larang Min Hyuk, yang sudah terlambat untuk dilakukan.


"Mwo? Bagaimana bisa?" In Sung memuntahkan kue yang sudah disantapnya sembari mengomel. Merasa keponakan satu-satunya itu benar-benar keterlaluan. "Kamu berniat meracuniku, hah?"


"Aku lupa membuangnya."


Jawaban singkat serta tanpa rasa menyesal itu membuat In Sung tak habis pikir.


"Sudahlah, lagipula rasanya juga tidak begitu enak. Tumben kue buatan gadis itu jadi seperti ini? Apa karena kehujanam?"


In Sung segera membuang kotak tersebut beserta isinya yang masih tersisa. Tak ingin benda itu sampai memakan korban lagi. Setelah itu, ia meminum tehnya dan menandaskannya dalam sekali tenggak.


"Bukan. Aku membelinya di toko kue dekat halte. Dia sudah berhenti melakukannya."


"Kenapa?"


"Aku yang menyuruhnya."


In Sung memandangi wajah keponakannya yang tampak berbeda. Ada sebersit kecewa yang tersirat di wajah Min Hyuk saat mengatakan tentang Sarah. Sesuatu yang tidak disadarinya tetapi dapat terlihat jelas oleh sang paman.


"Kamu merindukannya?" tebak In Sung.


Raut wajah Min Hyuk seketika menegang. Terkejut bercampur marah.


"Jangan membahasnya."


In Sung hanya bisa tertawa kecil. Keponakannya ternyata sudah dewasa. Sudah tersentuh hal yang namanya cinta.


Min Hyuk mengernyitkan kening mendengar ucapan sang paman yang mulai ngelantur.


"Aku tidak ada hubungan apa pun dengannya. Dan, aku tidak merindukannya," sangkal Min Hyuk. Terlebih mengingat kebersamaan Sarah dan Hong Ki yang ia lihat di depan toko kue kemarin malam. Tidak ada alasan baginya untuk terkait lagi dengan Sarah.


"Kalau begitu kenapa membeli kue tadi? Kalau bukan karena rindu pada kue-kue buatan gadis itu."


"Hanya sedang ingin," jawab Min Hyuk yang sudah kembali menghadap mangkok buburnya.


"Sedang ingin mengingat gadis itu?" In Sung masih belum puas menggoda keponakannya.


Sebagai paman yang sudah bertahun-tahun hidup bersama Min Hyuk, In Sung tahu betul seperti apa sifat keponakannya itu. Dingin, irit bicara dan terkesan menghindari orang lain. Meski semua itu memang sifat dasar Min Hyuk sedari kecil, tetapi menjadi semakin parah semenjak dua tahun lalu. Sejak kejadian yang melibatkan seorang gadis bernama Hye Ran.


Min Hyuk semakin menarik diri. Seolah membatasi geraknya sendiri untuk berinteraksi dengan orang lain. Namun, kemunculan gadis bernama Sarah beserta kue-kue buatannya membawa secercah harapan. In Sung bisa melihat ada yang bergejolak di diri keponakannya itu. Sesuatu yang ia harap bisa membawa kembali emosi-emosi Min Hyuk yang selama ini selalu ia pendam.


Berpura-pura tak mendengar, Min Hyuk tetap melanjutkan acara sarapannya.


In Sung mendekat lalu ikut duduk di samping Min Hyuk. Mulutnya masih sangat gatal untuk terus menggoda sang keponakan.


"Apa kamu tiba-tiba sering teringat padanya?"


Min Hyuk tak acuh dan memilih untuk meneguk kembali teh hangat di hadapannya.


"Apa kamu merasa tidak suka melihatnya dekat dengan pria lain?"


Masih tak ada respon. Min Hyuk kembali fokus pada semangkuk bubur yang kini tinggal separuh.


"Apa berdekatan dengannya membuat hatimu berdebar? Atau setidaknya merasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan sebelumnya?"


In Sung belum menyerah. Meski sang keponakan hanya menanggapi dengan diam, ia akan terus mencecarnya.


"Apa kamu...,"


"Aku merasakan semua itu. Apa Sam-chon puas? Lagipula itu tidak berarti apa pun, bukan?"


Min Hyuk yang kehilangan kesabaran menghadapi pertanyaan-pertanyaan konyol sang paman akhirnya bersuara. Memunculkan kekehan dari mulut In Sung.


"Tentu saja itu berarti sesuatu. Aku juga merasakannya saat seusiamu." In Sung merasa senang sekaligus lega. Apa yang ia duga ternyata benar.


Min Hyuk yang mulai jengah akhirnya beranjak menuju dapur. Sekalian membawa mangkok dan gelasnya yang telah kosong untuk dicuci.


"Sudahlah, Sam-chon. Aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu tentang apa pun yang berhubungan dengan gadis itu."


Kekehan In Sung terhenti seketika. Ia memandang tajam pada Min Hyuk yang sudah berada di dapur. Dengan suara lantang, ia meneriaki keponakannya itu.


"Babo! Kamu harus peduli karena ini menyangkut hatimu. Karena kamu sudah jatuh cinta padanya."


Terdengar suara benda jatuh sebagai jawaban dari ucapan In Sung. Mangkok yang tadinya berada dalam genggaman Min Hyuk, tapi sekarang telah beralih di lantai menjadi kepingan-kepingan.


Sial!


***