Something Called Love

Something Called Love
Kotak Ungu



Nam In Sung menghempaskan tubuhnya di ranjang sempit milik sang keponakan. Ia begitu lelah dan seolah tak sanggup lagi untuk berdiri. Terlebih suasana ruangan tersebut sangat mendukung rasa kantuknya. Penerangan yang samar dan suasana yang senyap.


"Sam-chon, setidaknya bersihkan diri dulu," tegur sang keponakan, Nam Min Hyuk, yang ternyata belum tidur. Pemuda itu tengah membaca sebuah buku di sudut ruangan, dengan penerangan lampu belajar yang agak temaram.


In Sung tertawa kecil. Min Hyuk memang tak banyak bicara. Apa yang dikatakannya hanya hal-hal yang menurutnya penting. Keponakannya itu sangat irit kata-kata.


Setelah melepas jaketnya, In Sung lalu berjalan menuju dapur. Melirik sebentar jam dinding yang menunjukkan pukul dua belas malam, In Sung mengernyitkan dahi. Keponakannya itu ternyata tak hanya irit bicara, tapi juga aneh karena masih membaca di jam segini.


"Eh, apa ini?" Pandangan In Sung tertuju pada sebuah kotak berwarna ungu yang ada di samping teko plastik. Warnanya khas perempuan. Tidak mungkin itu milik Min Hyuk. "Wah, kelihatannya enak." Tanpa bertanya, In Sung bermaksud mencomot sepotong kue di dalam kotak tersebut.


"Jangan!" Beruntung Min Hyuk melihatnya, sehingga ia bisa segera bangkit dan menyerbu ke arah pamannya. Sedetik saja terlambat, kue itu pasti sudah berpindah tempat ke perut sang paman.


"Hei, keponakan macam apa kamu ini? Tidak sopan sekali pada orang tua," keluh In Sung yang gagal menikmati kue cantik berwarna ungu tersebut. Kue tersebut tampak lezat, sehingga ia hanya bisa bersungut kesal saat harus menelan ludahnya kembali.


Min Hyuk tidak menjawab dan justru sibuk mengembalikan kue tersebut ke tempatnya semula. Dari caranya memperlakukan sepotong kue ungu tersebut, In Sung jadi curiga darimana asalnya.


"Aku sudah membelikan bibimbap dari kedai nyonya Oh untuk sam-chon. Jadi, jangan menyentuh kue ini," pesan Min Hyuk sebelum akhirnya kembali ke tempatnya tadi membaca.


In Sung mendengus kesal mendapat pesan sok tua dari Min Hyuk. Akan tetapi wajahnya berubah sumringah begitu menyadari satu hal.


"Dari pacarmu, ya? Kapan akan kamu kenalkan pada pamanmu ini?" goda In Sung. Membayangkan jika keponakannya yang dingin itu akhirnya memiliki orang lain selain dirinya, sungguh membuat In Sung lega.


"Bukan. Aku akan mengembalikannya besok, karena itu jangan memakannya," jawab Min Hyuk tanpa menoleh sedikit pun dari buku yang sedang ia baca.


"Ah, kenapa harus malu-malu? Katakan saja. Apa dia cantik? Di mana dia tinggal? Apa perlu aku langsung melamarnya untukmu?"


Min Hyuk hanya menoleh sejenak untuk sekadar memberikan tatapan datar pada pamannya. Namun akhirnya ia menjawab ocehan In Sung.


"Yang aku tahu aku harus mengembalikan kotak itu besok."


In Sung hanya bisa memberengut dengan ekspresi datar Min Hyuk yang sama sekali tidak terpengaruh dengan niat serius pamannya.


"Aish, anak ini," gumam In Sung jengkel. Tak tahan dengan sikap dingin dan datar keponakannya itu.


***


"Eomma perhatikan akhir-akhir ini kamu selalu bangun pagi-pagi dan membuat kue untuk dibawa ke sekolah, Sarah," tegur Sandra saat mendapati putri tunggalnya tengah berkutat di dapur sedari pagi.


Sarah yang sedang menghias sebuah cup cake dengan krim berwarna ungu tersebut menoleh dan hanya memberi seulas senyum. Setelah selesai melapisi krim, ia memberi sentuhan akhir dengan meletakkan sebuah blackberry di atas masing-masing cup cake.


"Karena yang pertama hasilnya enak, aku jadi ketagihan untuk membuatnya lagi, Eomma," jawab Sarah beralasan.


"Benarkah? Bukan karena ada seseorang yang ketagihan dengan kue buatanmu, kan?" goda Sandra yang seketika membuat pipi Sarah merona. "Yang tercuri hatinya dengan kue buatanmu?"


"Eomma, jangan menggodaku," pinta Sarah sembari buru-buru membereskan hasil kerjanya. Ia memasukkan empat buah cup cake dengan topping ungu ke dalam sebuah kotak berwarna sama. Lalu segera melesat menuju kamarnya. Menjadikan mandi pagi sebagai alasan untuk melarikan diri.


Bibir Sandra mengulas senyum melihat tingkah putrinya. Lalu melirik dapur yang tak lagi berantakan seperti saat Sarah pertama kali belajar memasak bersama Song Eun. Beruntung selain cepat belajar, Sarah juga cepat tanggap. Buktinya, gadis itu membersihkan dapur sebelum sang ibu mengomel sepanjang pagi.


Derap langkah Sarah terdengar nyaring. Buru-buru ia menyambar handuk dan berlari masuk ke kamar mandi. Tak ingin terlambat.


Dua puluh menit kemudian, Sarah sudah siap di depan cermin. Tubuh segar, berseragam lengkap dan senyum yang ceria. Seceria langit biru pagi ini.


Ia menghadap cermin di samping jendela kamar. Tampak di sana wajah berseri-seri yang tengah merapikan rambut. Wajah Sarah, yang kali ini sengaja menggerai rambutnya setelah tiga kali merubah penampilan dengan ragu.


Awalnya Sarah menguncir dua rambutnya seperti biasa, tapi ia merasa hal itu agak kuno. Ia kemudian menguncir tinggi rambutnya, yang berakhir sama. Tampak membosankan.


Sarah menghabiskan lima menit hanya untuk memajukan bibir dengan sebal. Merasa tak tahu harus tampil bagaimana agar tampak lebih menarik, sebelum akhirnya memutuskan untuk membiarkan rambut panjangnya tergerai. Ia hanya menambahkan sebuah jepit rambut berbentuk pita berwarna ungu sebagai sentuhan akhir.


"Lumayan," gumam Sarah sembari mematut dirinya di depan cermin. Tak lama kemudian ia tersenyum geli, merasa aneh dengan keputusannya merubah penampilan. "Aku tidak menyangka benar-benar melakukannya karenamu," tukas Sarah sebelum akhirnya meraih ransel ungu yang tergeletak di atas ranjang, lalu berjalan ke luar kamar dengan penuh semangat.


***


Semilir angin musim semi menyapa tubuh Sarah yang terpaku di tengah atap sekolah. Matanya menyisir ke penjuru atap, mencari sosok yang selama ini berada di sana. Namun, pemuda yang biasanya tengah terlelap di bawah naungan tumbuhan dalam pot itu tak tampak sama sekali.


"Mencariku?" tanya sebuah suara yang Sarah kenal. Tanpa bisa dicegah, bibirnya menerbitkan sebuah senyum. Lalu, didapatinya Min Hyuk di depan pintu masuk, berjalan menghampiri Sarah. Tubuh tinggi kurus dengan aura yang membuatnya mendadak kesulitan untuk bernapas dengan normal.


"Aku juga menunggumu," ujar Min Hyuk datar, tapi cukup untuk membuat dada Sarah berdebar dan pipinya merona. Ia segera menunduk, takut Min Hyuk melihatnya. "Untuk mengembalikan ini!" Namun rasa senang Sarah lenyap bersamaan dengan Min Hyuk menyodorkan kotak pemberiannya kemarin.


"Kenapa? Kamu tidak menyukainya?" tanya Sarah, tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.


"Dan kenapa kamu memberikannya padaku?" Min Hyuk bertanya sembari melihat Sarah dengan tatapan dingin. Namun, selain kotak berwarna ungu di tangan gadis itu, Min Hyuk juga menyadari satu hal. Gadis itu tampak berbeda hari ini. Tampak lebih cantik.


"Ucapan terima kasih, karena kamu telah menolongku. Mungkin rasanya tidak seenak buatan toko karena aku baru belajar membuatnya. Tapi aku mohon terimalah." Sarah membungkukkan badan, berharap pemuda di depannya memahami niat baiknya.


Buru-buru mengenyahkan pikiran tentang penampilan Sarah yang berbeda hari ini, Min Hyuk lalu terdiam. Ia ingat pernah menolong gadis itu sebelumnya. Dua kali, bahkan. Akan tetapi ia tidak yakin itu alasan yang tepat untuk memberinya perhatian manis. Lagipula Min Hyuk memang tidak terbiasa mendapatkannya, terlebih dari seorang gadis.


"Kalau begitu cukup. Aku menolongmu dua kali dan kamu sudah memberiku dua kotak. Kita anggap ini impas. Jangan lagi memberiku apa pun setelah ini," tukas Min Hyuk cepat.


"Be...benarkah?" tanya Sarah tidak percaya. Ia mendongak dan menatap Min Hyuk, mencoba mencari keseriusan di mata pemuda itu.


"Aku tidak jadi mengembalikan kotak ini. Aku akan menerimanya. Gomawo," tukas Min Hyuk seraya cepat-cepat memalingkan wajah, tak tahan dengan mata coklat Sarah yang terus menatapnya.


Sarah hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya ketika Min Hyuk mengucap kata terima kasih. Rasanya aneh, tetapi juga menyenangkan.


"Kalau begitu, mohon terima kotak ini juga. Aku mohon." Sarah menyodorkan kotak di tangannya dengan wajah berhias senyuman.


"Aku hanya dua kali menolongmu. Lalu, ini apa?"


"Ucapan terima kasih juga, karena kamu mau menerima ucapan terima kasih yang sebelumnya."


Min Hyuk menghembuskan napas dengan kasar, tak mengerti jalan pikiran gadis di hadapannya itu.


"Dengan satu syarat," pintanya kemudian. Sarah mengangguk, tak sabar mendengar syarat dari Min Hyuk. "Setelah ini, anggap kita tidak pernah bertemu atau mengenal satu sama lain. Dan, jauhi aku."


Permintaan itu lagi.


Entah mengapa Sarah merasa tak rela untuk menyanggupinya. Namun ia berusaha meyakinkan dirinya jika mungkin hanya sampai inilah dia bisa dekat dengan Min Hyuk. Maka dengan berat hati ia mengangguk.


"Mianhae, karena sudah mengganggumu. Aku harap kamu menyukai kuenya," ujar Sarah pelan seraya memberikan kotak di tangannya pada Min Hyuk. Raut wajahnya benar-benar berubah mendung setelah itu.


"Kuenya enak. Dan, pamanku sepertinya menyukai kue ini. Aku harap itu bisa membuatmu merasa lebih baik," hibur Min Hyuk yang merasa perlu melakukannya, meski ekspresi wajahnya masih tak terbaca.


Sarah sama sekali tak bereaksi. Ia melangkah menjauh dengan perasaan kecewa. Jika saja Min Hyuk tak meminta syarat tadi, pasti ucapan pemuda itu barusan sudah membuatnya bahagia. Sayang, Sarah sadar jika hal itu tak akan berpengaruh lagi. Mereka tidak akan berinteraksi dalam hal apa pun setelah ini.


Min Hyuk menghembuskan napas lega begitu pintu besi di depannya tertutup. Akhirnya, gadis itu tak akan lagi mendekat. Ia merasa jahat, tapi akan lebih jahat lagi jika ia membiarkannya menjadi bagian dari permainan Tae Sang yang ingin membalas dendam. Min Hyuk tak ingin melibatkan siapa pun.


Ah, sudahlah. Sekarang semuanya sudah selesai. Min Hyuk yakin gadis bernama Sarah itu tidak akan ingkar janji. Dan sekarang, ia bisa menikmati kembali tidur siangnya yang nyaman.


Diletakkannya dua buah kotak pemberian Sarah di samping pot bunga. Min Hyuk lalu bersiap untuk bersandar dan memejamkan mata ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang perempuan. Samar, tapi ia yakin arahnya dari balik pintu.


Sarah


Entah darimana asal kekhawatiran yang mendadak memenuhi dadanya. Namun, rasa itulah yang memaksa Min Hyuk bangun dan berlari menuju pintu.


***


● sam-chon : paman (masih memiliki hubungan keluarga. Saudara kandung ayah atau ibu)


● bibimbap : masakan korea berisi sayur-sayuran dan nasi


● eomma : ibu


● gomawo : terima kasih


● mianhae : maaf


***