Something Called Love

Something Called Love
Kekhawatiran



Pagi yang tak jauh berbeda. Jam beker yang berbunyi nyaring tapi tak banyak membantu, segelas kopi yang terlalu pahit dan sepotong roti bakar yang lebih pantas disebut gosong. Dan untuk melengkapi semua itu, Tae Sang dengan yakin bisa menyebutkan bahwa ia selalu menikmatinya sendirian.


Hidup sebatang kara bukan sebuah kebanggaan. Jauh di dalam hati, ia merindukan keluarganya. Namun, tak ada yang tersisa dari sebutan itu-keluarga, selain rasa kehilangan.


Tae Sang sudah terbiasa dengan kesepian. Ia tak peduli, karena ada hal lain yang membuat hidupnya lebih berisi. Membalas dendam pada Min Hyuk.


Sejauh ini semua berjalan sesuai rencana. Sarah menjadi umpan yang tepat untuk memancing emosi Min Hyuk. Pemuda berjuluk Black itu tak sadar jika semua yang terjadi adalah ulah Tae Sang. Ia hanya perlu menunggu waktu di mana Min Hyuk benar-benar jatuh cinta pada Sarah. Namun, saat itu datang, Tae Sang akan membuatnya merasakan sakit yang sama seperti saat ia kehilangan Hye Ran.


Tae Sang mengambil sebotol susu yang diletakkan di depan pintu rumah saat ia melewatinya. Bukan hal yang aneh.


Ia tidak berlangganan susu. Hidupnya sudah cukup sulit tanpa harus berlagak kaya dengan memesan benda yang tak ia perlukan. Akan tetapi botol susu itu selalu ada di sana setiap Tae Sang membuka pintu di pagi hari.


Tae Sang tak merasa perlu mencari tahu siapa yang meletakkannya hampir setiap hari di depan sana. Ia akan meminum susu tersebut tanpa repot mencari tahu darimana asalnya.


Dibukanya tutup botol susu tersebut, lalu diteguknya sekali. Sembari membawa botol itu di tangan kanannya, Tae Sang melangkah menuju jalan raya.


Ah, omong-omong soal Sarah dan Min Hyuk, Tae Sang tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Dan, itu adalah hal yang menarik.


Membayangkan hal tersebut, sudut bibir Tae Sang sedikit terangkat. Satu kepuasan lagi untuk permainannya.


***


Suasana kantin sekolah sedang ramai sekali. Beruntung masih tersisa sebuah meja kosong dengan empat buah kursi di salah satu sudut kantin.


Song Eun dan Sarah tak melewatkan kesempatan untuk segera menuju ke sana. Keduanya bernapas lega begitu kursi tersebut berhasil mereka duduki.


"Ah, akhirnya. Aku sudah pesimis kalau kita akan mendapat tempat," ujar Song Eun lega. "Oh, ya. Biar aku yang pesankan. Kamu mau yang seperti biasa, kan?"


Sarah mengangguk mengerti dan membiarkan Song Eun beranjak menuju meja kasir. Ia duduk bertopang dagu, mengedarkan pandang ke sekeliling. Hasilnya, ia tak menemukan hal yang lebih menarik.


"Annyeong, Sarah!" sapa Ye Na ceria. Mengejutkan Sarah dari lamunan. Gadis itu langsung mengambil tempat di hadapan Sarah tanpa peduli jika sapaannya belum berbalas. "Sendirian?"


Sarah menjawab dengan mengarahkan dagunya pada Song Eun yang sedang antri memesan makanan.


Ye Na melihat arah yang dimaksud Sarah dan tersenyum lega. Masih ada cukup waktu baginya bicara sebelum Song Eun kembali.


"Kamu tidak makan?" tanya Sarah yang menyadari jika Ye Na tidak memesan apa pun.


Ye Na menggeleng. Ia bisa makan nanti, karena kesempatan bicara dengan Sarah berdua saja seperti sekarang sulit didapat. Song Eun dan Hong Ki semakin ketat menemani Sarah. Kali ini, kebetulan saja Hong Ki tidak ikut dan Song Eun sedang sibuk mengantre.


"Sarah, ini soal Black. Apakah aku salah jika bilang kamu dan dia sebenarnya ada sesuatu?" tebak Ye Na, to the point.


Sarah terkejut. Jelas terbaca dari gerak tubuhnya. Namun segera menyunggingkan seutas senyum yang tampak terpaksa.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"


"Ada cukup banyak alasan. Pertama, dia menolongmu saat terluka di gudang. Kedua, cara dia menatapmu. Itu sama sekali bukan Black. Kecuali ada yang berubah," terang Ye Na panjang lebar. Ia sangat yakin jika Hong Ki dan Sarah tidak pacaran. Dan, Black adalah kunci untuk membuktikannya.


"Maksud kamu?"


"Yang berubah itu hatinya. Bisa jadi, dia menyukaimu. Dan, aku cukup jelas melihat kalau kamu juga menyukainya."


Sarah tertawa hambar. Tidak menyangka akan ada orang lain selain Song Eun yang menyadari perasaannya pada Min Hyuk.


"Sudahlah, Ye Na. Lupakan teorimu itu. Seburuk apa pun anggapan kalian tentang Min Hyuk, dia tetap manusia biasa. Pasti memiliki sisi baik," dalih Sarah. Ia mulai tidak sabar menunggu Song Eun yang tak kunjung kembali.


"Sarah, tak perlu malu. Kamu bisa cerita padaku. Bukankah kita teman?" Ye Na melirik ke arah Song Eun, memastikan gadis itu masih lama berada di antrean.


Mendengar kata teman, Sarah tersenyum tulus. Disentuhnya lengan Ye Na yang mulai gelisah karena melihat Song Eun sudah mendapatkan makanannya.


"Baiklah. Karena kita teman, kapan-kapan ikutlah bersamaku dan Song Eun. Kita bisa menghabiskan waktu bersama-sama."


Langkah Song Eun semakin dekat. Ye Na buru-buru beranjak dari tempatnya sebelum gadis berkacamata itu memergokinya.


"Tentu. Jika kamu butuh bantuan untuk mendekati Black, jangan sungkan juga untuk meminta bantuanku. Tapi, aku harus pergi sekarang. Mianhae."


Ye Na melesat pergi bersamaan dengan Song Eun tiba. Namun gadis itu bisa menangkap sekelebat bayangan Ye Na dan segera melihat Sarah dengan tatapan menyelidik.


"Itu Kim Ye Na, kan?" tanyanya pada Sarah yang memberi sebuah anggukan kepala. "Mau apa dia?"


"Menjadi teman yang baik."


Mata Song Eun memicing sebelah. Tidak mengerti maksud Sarah. Namun, seperti biasa ia akhirnya selalu punya alasan untuk menebak dengan benar.


"Bertanya tentang perasaanmu pada Black? Lalu menawarkan bantuan untuk mendekatinya?"


Sarah tergelak. Heran sekaligus kagum. Jangan-jangan Song Eun menyadap meja tempatnya duduk sehingga bisa tahu semua ucapan Ye Na.


"Kamu berbakat jadi detektif, Song Eun," canda Sarah.


"Terserahlah. Yang jelas, aku serius. Dia melakukannya karena Hong Ki."


"Demi siapa pun, aku tidak terlalu peduli. Aku hanya ingin berteman dengannya. Itu saja," terang Sarah di sela gelak tawanya.


"Oh, benarkah? Pasti Ye Na senang sekali berteman dengan kita," balas Song Eun sarkastik.


Sarah masih tertawa. Song Eun benar-benar teman yang full package. Lucu, perhatian dan garang di saat bersamaan. Sarah semakin menyukainya.


"Tentu. Karena itu, aku punya rencana untuk kita bertiga," tukas Sarah akhirnya. Tak peduli dengan reaksi terkejut Song Eun.


Kim Ye Na, si gadis cantik yang terlalu sombong untuk punya teman, akan menghabiskan waktu bersama dua gadis biasa macam Sarah dan Song Eun. Entah itu anugerah atau petaka.


"Kita berdua dan Kim Ye Na sama sekali tidak cocok. Bahkan meski hanya dalam sebuah kalimat." Song Eun geleng-geleng kepala. Tak percaya dengan ide Sarah. Ide gila tepatnya.


Sarah hanya tersenyum simpul. Bagaimanapun reaksi Song Eun, tak akan mengubah keputusannya. Karena ia punya rencana menyenangkan untuk dilakukan para gadis.


***


Hong Ki melangkah pelan melewati koridor sekolah menuju kelasnya. Ia bernapas lega karena berhasil keluar dari ruangan membosankan bernama kantor kepala sekolah.


Selama beberapa minggu ini, Hong Ki memang sering keluar masuk ruang guru. Membahas keikutsertaannya pada olimpiade sains tahunan di Daegu.


Jujur, Hong Ki bosan. Menjadi peserta olimpiade tiap tahun sama sekali tidak menyenangkan. Tidak ada yang menarik di sana selain sekumpulan soal-soal sains yang juga sudah berlumut di otaknya. Ia heran tidak ada yang berinisiatif mencari kandidat baru saja.


Ah, Hong Ki hampir lupa. Tidak ada kandidat paling tepat selain siswa peraih juara umum sekaligus putra pemilik sekolah. Dan, orang itu adalah dirinya.


Yah, itu tidak terlalu penting lagi. Sekarang, Hong Ki sudah menghirup udara bebas dan bisa segera menemui Sarah. Gadis yang menjadi alasan lain ia enggan berpartisipasi lagi dalam olimpiade sains.


Kenapa juga ia harus berkutat dengan deretan rumus dan angka jika bisa bersama Sarah? Gadis manis yang sudah mencuri hatinya di pertemuan mereka. Bagaimanapun juga, Hong Ki adalah remaja laki-laki biasa. Akan tiba saatnya dia jatuh cinta, menyukai seorang gadis. Dan, sekaranglah saat itu.


Brakkk!


Sebuah suara hantaman keras terdengar ketika Hong Ki berbelok di ujung koridor gedung utama. Berasal dari gudang tempat Sarah pernah terluka dulu.


Hong Ki berhenti dan mendekat ke arah pintu gudang. Harusnya tidak ada siapa pun di sana. Akan tetapi suara yang tadi ia dengar begitu jelas.


Belum hilang rasa penasaran Hong Ki, terdengar suara yang sama untuk kedua kalinya. Namun, ia berfirasat buruk dan segera bergerak mundur. Menjauh dari pintu tersebut.


Pintu gudang tersebut lalu terbuka. Begitu cepat hingga Hong Ki tak sempat pergi dan terpaksa bertemu pandang dengan sosok yang baru keluar dari dalam sana.


Black


Hong Ki terkejut. Pemandangan di depannya bukan hal yang bagus untuk dilihat. Min Hyuk muncul dengan rambut acak-acakan dan luka di ujung bibirnya. Sudah pasti dia habis berkelahi. Dan sudah pasti pula siapa lawannya.


Sebelum Hong Ki sempat mengatakan apa pun sebagai reaksi, muncul sosok kedua dari tempat yang sama.


Tae Sang, dengan wajah yang tidak jauh beda dari Min Hyuk. Bahkan, pemuda itu jauh lebih buruk. Ada lebam di wajahnya.


"Kalian?" Akhirnya setelah terdiam cukup lama, Hong Ki mulai bersuara. "Kalian berkelahi di dalam sana?"


"Sejak kapan kamu peduli? Atau itu juga tugasmu sebagai anak pemilik sekolah, hah?" Tae Sang yang menjawab, dengan nada mengejek yang sangat kentara.


"Aku hanya bertanya. Tidak akan peduli jika memang iya," balas Hong Ki sedikit jengah. Sikap Tae Sang ternyata bukan sekadar rumor. Pemuda itu benar-benar tak bisa bersikap baik.


Terukir seutas senyum tak simetris di bibir Tae Sang. Dia melirik ke arah Min Hyuk yang tampaknya tidak ingin bicara apa pun. Lalu beralih pada Hong Ki.


"Baguslah. Gunakan saja perhatianmu itu untuk menjaga pacarmu, karena mungkin seseorang akan merebutnya."


Tangan Min Hyuk mengepal kuat mendengar ucapan Tae Sang. Namun, dia memutuskan pergi beberapa saat kemudian tanpa melakukan apa pun.


Tae Sang tersenyum puas. Sebelum pergi menyusul langkah Min Hyuk, ia kembali memperingatkan Hong Ki.


"Hei, ingat baik-baik ucapanku tadi. Itu serius," pesannya sebelum menghilang di pintu kelasnya, sama seperti Min Hyuk.


Sepeninggal kedua pemuda bengal tadi, Hong Ki termenung. Otaknya mendadak memutar memori saat istirahat kemarin. Tentang ucapan Ye Na. Tentang Sarah dan Black.


Yang beranggapan kalau Hong Ki dan Sarah berpacaran hanya Ye Na dan Tae Sang. Itu berarti yang dimaksudnya akan direbut adalah Sarah. Tetapi, siapa yang ingin merebutnya?


Apa Tae Sang? Atau Black?


Mendadak rasa khawatir memenuhi benak Hong Ki. Bagaimana jika dugaannya benar? Jika Sarah memang menjadi bagian dari perseteruan Tae Sang dan Min Hyuk.


Bukan. Hong Ki yakin bisa melindungi Sarah jika kedua pemuda itu berniat menyakitinya. Hong Ki mengkhawatirkan hal lain.


Bagaimana jika Sarah membiarkan perasaannya terarah pada salah satu dari dua pemuda itu?


***