
Peringatan Song Eun ternyata menjadi kenyataan. Di tengah-tengah pelajaran tuan Park, Sarah merasakan perutnya melilit. Sakit. Sudah pasti dikarenakan buah blackberry yang ia makan dalam jumlah banyak tadi. Apalagi ia belum makan apa pun selain buah tersebut.
"Song Eun," panggil Sarah dengan suara berbisik.
Song Eun menoleh ke belakang, tempat bangku Sarah berada. Ia lalu mengernyitkan dahi melihat temannya itu tengah memegangi perutnya. Tak perlu bertanya, sudah tertebak apa yang terjadi pada Sarah.
"Apa kubilang tadi? Kamu masih saja bandel, sih."
Sarah tak menggubris. Ia lebih peduli dengan rasa sakit yang semakin mendera perutnya.
"Tolong antarkan aku ke klinik," pintanya.
"Baiklah. Ayo!" Song Eun bangkit dari duduknya dan beranjak menuju tuan Park yang sedang menulis sesuatu di papan tulis kelas. Ia berbicara sejenak dengan beliau lalu kembali untuk membantu Sarah berdiri dan berjalan keluar.
Petugas jaga di klinik segera membantu Sarah. Beliau memberikan obat, sepotong roti dan segelas air hangat padanya. Setelah itu, membiarkan Sarah beristirahat sejenak di ranjang klinik.
"Apa kamu sudah merasa lebih baik?" tanya Song Eun yang berdiri di samping ranjang tempat Sarah berbaring.
Sarah mengangguk meski sesekali wajahnya terlihat menahan sakit.
"Kembalilah ke kelas, Song Eun. Aku hanya butuh istirahat sebentar di sini. Setelah itu pasti akan membaik."
"Kamu yakin?"
"Iya. Lagipula tak enak jika kamu tidak juga kembali. Tuan Park pasti akan marah."
Song Eun mengangguk mengerti. Ia meninggalkan Sarah di klinik setelah sebelumnya berpamitan pada petugas jaga. Ia juga sempat berpapasan dengan seseorang saat keluar, tetapi tak begitu memperhatikannya.
Sepeninggal Song Eun, Sarah berusaha untuk memejamkan mata. Berharap rasa sakitnya akan berkurang setelah ia meminum obat dan tidur.
"Blackberry menyebalkan. Sama seperti orangnya," gerutu Sarah ketika ia tak kunjung terlelap. Namun, ia tak berniat untuk bangun dan memilih tetap berbaring. Memandangi langit-langit ruangan tersebut. Otaknya dipenuhi dengan hal yang sama sekali tak ia inginkan.
Blackberry dan Min Hyuk.
Nam Min Hyuk.
***
Samar-samar Min Hyuk mendengar penghuni ranjang di sebelahnya menggerutu. Meski ada tirai yang memisahkan, ia tahu betul siapa yang sedang berada di sana.
Ini sungguh aneh. Min Hyuk sebenarnya tak hobi membolos. Nilai-nilainya sudah cukup buruk untuk ditambah dengan predikat tukang bolos. Akan tetapi, sewaktu melihat Song Eun melewati kelas Min Hyuk sembari menggandeng Sarah, rasa penasaran itu muncul. Dan, jika itu belum cukup aneh, Min Hyuk akhirnya meninggalkan kelas dengan beralasan sakit.
Semua itu Min Hyuk lakukan saat melihat Sarah memegangi perutnya sembari sesekali meringis menahan sakit.
Katakan saja Min Hyuk mungkin peduli pada gadis itu.
Tidak.
Nam Min Hyuk memang peduli pada Hong Sa Ra.
Dia bisa menyangkalnya, tapi kenyataan jika sekarang ia berada di atas ranjang klinik, bersebelahan dengan Sarah padahal Min Hyuk sama sekali tak sakit sudah cukup membuktikannya.
"Aku benci padamu. Dasar menyebalkan." Kembali terdengar gerutuan Sarah dari balik tirai.
Min Hyuk terdiam. Ia yakin bahwa tujuan dari semua keluh kesah Sarah itu adalah dirinya. Berarti usahanya untuk membuat gadis itu menjauh telah berhasil. Jika begitu, yang perlu Min Hyuk khawatirkan hanya tinggal Tae Sang.
Suasana menjadi hening. Tak ada lagi suara gadis penyuka ungu yang sedari tadi menggerutu tak jelas itu. Dengan rasa penasaran, Min Hyuk menyibak tirai yang menghalangi mereka. Ia membukanya dengan sangat pelan. Takut ketahuan.
Sarah ternyata sudah tidur. Gadis itu tengah memejamkan mata, terlelap dengan wajah yang damai. Ia tidur dengan posisi menyamping yang celakanya menghadap ke arah Min Hyuk.
Detak jarum jam mengisi keheningan dalam ruangan tersebut. Tak ada suara berisik sehingga Sarah masih terpejam, menikmati alam mimpinya. Sama sekali tak terganggu.
Satu-satunya yang terusik adalah Min Hyuk. Meski suasana dalam ruangan tersebut begitu tenang, ia justru tak bisa mengendalikan debaran yang menguasai hatinya saat melihat Sarah terlelap. Posisi mereka yang berhadapan secara tidak langsung membuat Min Hyuk bisa menatap lekat wajah gadis itu. Wajah cantik yang akhir-akhir ini kerap mengusiknya. Tak mau pergi dari pikirannya. Namun, berada dalam situasi seperti sekarang justru membuat Min Hyuk berharap bisa memandangi wajah itu setiap waktu, lebih lama lagi.
Degupan yang tak pernah Min Hyuk rasakan, tiba-tiba saja terjadi. Begitu cepat. Suaranya bahkan sangat jelas terdengar olehnya sendiri.
Buru-buru ia menutup kembali tirai yang tadinya ia sibakkan. Dengan pertanyaan yang saling melintas di otaknya, Min Hyuk hanya bisa berbaring dengan gusar.
Apa yang baru saja terjadi padaku?
Aku, tidak mungkin jatuh cinta padanya, kan?
Itu mungkin saja terjadi. Karena, Min Hyuk mulai tak bisa melupakan Sarah. Ia mulai peduli dan ingin selalu melindungi gadis itu.
Namun, setelah pernah menghancurkan hati seorang gadis, apakah ia berhak jatuh cinta lagi?
***