Something Called Love

Something Called Love
Mencoba Melupakan



Sarah menutup buku pelajaran Sejarah miliknya sembari bernapas penuh kelegaan. Jam istirahat menjadi penyelamat baginya dari teror nyonya Choi, sang guru Sejarah yang menandainya sejak insiden pahlawan nasional dulu.


"Kita ke kantin?" tawar Song Eun yang bertopang dagu, menunggu Sarah membereskan barang-barangnya.


Sarah menggeleng. Ia sudah membawa bekal dan berencana untuk memakan itu saja.


"Tumben? Kamu mencoba resep baru, ya?" tanya Song Eun saat Sarah mengeluarkan sebuah kotak makan dari tasnya. Namun, kedua alis Song Eun hampir bertaut sewaktu melihat isi dari kotak yang dibawa oleh Sarah. "Blackberry lagi? Setahuku dari pagi tadi kamu sudah memakannya."


Sarah tampak tak peduli. Dengan santainya ia mengambil beberapa blackberry dan memasukkan buah tersebut ke dalam mulutnya. Ia memang belum bercerita alasannya membawa benda tersebut sebagai menu sarapan sekaligus makan siangnya hari ini.


"Aku akan memakan semua ini sampai aku bosan dengan rasanya," jawab Sarah setelah menelan kunyahan terakhir di mulutnya.


"Kenapa? Kamu bisa sakit perut kalau terus memakan buah ini, Sarah." Song Eun mencoba mengingatkan.


"Biar saja. Aku hanya ingin berhenti menyukai buah ini."


Song Eun hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Kalau Hong Ki menyaksikannya, ia pasti lebih khawatir darinya. Sayangnya, pemuda peraih gelar juara umum itu hari ini tidak masuk. Ada acara keluarga yang harus ia hadiri.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Jangan menyimpannya sendiri lalu melakukan hal konyol seperti ini."


Sarah memicingkan mata ketika mendapati salah satu buah yang sudah masuk ke dalam mulutnya ternyata berasa asam. Namun, ia buru-buru menelannya dan menjawab pertanyaan Song Eun.


"Blackberry selalu mengingatkanku pada Min Hyuk. Padahal aku ingin melupakannya," terang Sarah. "Dia yang memintaku menjauhinya, tapi dia sendiri yang selalu beredar di sekitarku. Dia selalu mengatakan kami bukan siapa-siapa, tapi dia kerap menolongku. Sebenarnya apa maunya? Dia pikir melupakan seseorang itu semudah membalik telapak tangan."


Song Eun hanya mendengarkan semua keluhan panjang lebar yang keluar dari bibir Sarah. Tak tahu harus menanggapi dengan cara apa. Dia sendiri tak ahli soal percintaan.


"Kamu sendiri, bagaimana dengan Tae Sang?" Topik pembicaraan dengan cepat beralih pada kisah Song Eun. Namun, gadis itu hanya bisa memberikan seutas senyum yang lebih mirip dengan desahan kecewa.


Sarah ikut mendesah kecewa. Ternyata nasib perasaan Song Eun tak lebih baik darinya. Dia lalu tersadar jika Song Eun tak membawa bekal dan belum makan. Disodorkannya kotak berisi blackberry miliknya ke hadapan Song Eun.


"Makanlah. Mungkin bisa membantu."


Song Eun tersenyum kecil. Merasa cara Sarah untuk melupakan Min Hyuk sungguh lucu.


"Sudahlah. Lupakan tentangku. Ceritamu lebih menarik." Song Eun ikut mencomot buah blackberry milik Sarah dan menikmatinya bersama-sama. "Ehm, omong-omong kemana jepit rambutmu? Kamu membuangnya juga karena masih bertema blackberry?" canda Song Eun yang baru menyadari jika hari ini rambut panjang Sarah dikepang dengan asal-asalan tanpa satu pun aksesori yang menghiasi.


"Mauku begitu. Tapi sepertinya jepit itu hilang. Kemarin pagi aku masih memakainya tapi siang sudah tidak ada."


"Setidaknya itu jadi mengurangi tugasmu."


"Kamu benar, Song Eun."


Song Eun memicingkan mata ketika mengunyah salah satu buah yang baru saja ia ambil. Namun, ia kemudian tertawa. Rasa asam blackberry ternyata cukup ampuh untuk meningkatkan rasa humornya.


"Sarah, aku rasa nasehatku masih sama. Jangan memakan buah ini terlalu banyak."


Sarah tak acuh dan tetap melanjutkan acara cemilan buah favoritnya. Kembali Song Eun hanya bisa geleng-geleng kepala. Tak habis pikir dengan cara Sarah untuk melupakan masalah.


"Baiklah. Jangan bilang aku tidak memperingatkanmu," pungkas Song Eun pasrah.


***