Something Called Love

Something Called Love
Di Bawah Pohon Ginkgo



Angin sejuk yang berhembus selalu bisa menenangkan perasaan Min Hyuk. Itulah kenapa ia suka berada di atap. Menikmati kesendirian di sana ditemani sebotol air dingin bukanlah pilihan yang buruk. Seperti saat ini.


Namun, ada yang mengganjal di hati Min Hyuk sekarang, sehingga air dingin yang sudah mengaliri kerongkongannya itu tak begitu terasa. Masih ada sedikit rasa panas yang tertinggal. Bukan di tenggorokannya. Entahlah. Min Hyuk hanya merasa ada yang panas di dalam dirinya.


Ia meneguk kembali air minumnya. Lalu duduk bersandar pada pot besar di sampingnya. Tak lama, ia memutuskan untuk berdiri. Mendekat ke arah pagar pembatas dan melakukan hal yang biasa ia lakukan.


Mengamati orang-orang dari atas atap adalah kegiatan yang menarik untuk Min Hyuk. Ia bisa melihat seisi sekolah tanpa harus berinteraksi dengan mereka. Itu bagus, karena Min Hyuk tak begitu menyukainya. Dan, siapa tahu itu juga bisa mengalihkan pikirannya dari kejadian di kantin tadi.


Hal pertama yang menarik perhatian Min Hyuk adalah sosok Tae Sang yang tengah mengejar seorang gadis. Dan, itu bukan Ye Na, melainkan gadis berkacamata teman Sarah.


Min Hyuk mengernyitkan dahi. Ia tidak tahu jika Tae Sang sudah berubah arah. Rasanya tidak mungkin semudah itu.


Tae Sang mengajak gadis itu berbicara sejenak. Meski tak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, Min Hyuk bisa menangkap sedikit dari gerakan dan raut wajah mereka. Tae Sang seperti tengah menawarkan sesuatu yang ditolak oleh si gadis.


Bibir Min Hyuk mengukir sebuah senyum melihat adegan tersebut. Terlebih saat si gadis meninggalkan Tae Sang tetapi pemuda itu masih mengejarnya. Min Hyuk merasa gadis itu lebih cocok untuk Tae Sang.


Tunggu!


Semua itu terasa sangat janggal. Tae Sang sudah bertahun-tahun mengusiknya. Tak peduli apa pun. Sekarang dia memang tidak segencar dulu mengganggu Min Hyuk. Akan tetapi, Min Hyuk yakin jika itu pasti bukan karena si gadis tadi.


Jangan-jangan ini adalah rencana Tae Sang yang lain. Gadis berkacamata tadi adalah teman Sarah. Bisa saja Tae Sang sengaja memanfaatkannya.


Tanpa komando, pandangan Min Hyuk sudah terlepas dari sosok Tae Sang dan Song Eun. Ia beralih menyapu pemandangan seisi sekolah. Mencari keberadaan Sarah yang menjadi kekhawatirannya sekarang.


Pencariannya terhenti di taman depan perpustakaan. Di antara bangku-bangku panjang yang dinaungi pohon ginkgo, Min Hyuk menemukan Sarah duduk bersama Hong Ki.


"Aku khawatir berlebihan," gumamnya. Ia merasa bodoh karena mencemaskan gadis yang sudah bersama orang lain.


Min Hyuk berusaha keras untuk tak melihat pemandangan tersebut. Ia ingat jika bangku yang tengah mereka duduki itu adalah tempat pertama kali Min Hyuk bertemu Sarah di sekolah. Tempat di mana ia mengusir gadis itu, tapi kemudian mengalah pergi. Tempat yang membuatnya mengenali Sarah setelah pertemuan pertama mereka di gang.


Min Hyuk membuang napas dengan kasar. Tak menyangka jika ada cukup banyak informasi tentang gadis itu yang melekat di otaknya. Itu sama sekali tidak bagus.


Dari tempatnya berada, Min Hyuk melihat Sarah tersenyum canggung saat Hong Ki mengajaknya bicara. Gadis itu tampak menyerahkan kotaknya dengan ragu-ragu, berkebalikan dengan Hong Ki yang sangat bersemangat menerimanya.


Cup cake dengan topping berwarna ungu. Hanya itu yang bisa Min Hyuk lihat dari jarak sejauh itu. Sekilas mirip dengan kue yang pernah ia terima sebelumnya. Namun, ia yakin itu berbeda.


Wajah Hong Ki berbinar melihatnya. Tanpa banyak pikir ia segera menyantap cup cake tersebut. Membuat Min Hyuk yang sedari tadi mengawasi ikut menelan ludah.


Tiba-tiba Min Hyuk merasa sangat menginginkan kue tersebut. Membayangkan rasa lezat yang dulu pernah menyentuh lidahnya lewat kue-kue itu. Tanpa bisa dicegah, batinnya terus menggaungkan kalimat yang sama.


Bukankah kue itu harusnya untukku?


***


Tiga orang siswi buru-buru keluar begitu Ye Na masuk ke dalam toilet. Terdengar pula bisik-bisik dan tawa meremehkan dari mereka ketika melewati Ye Na.


Masa bodoh. Ye Na tidak peduli. Ia masuk ke dalam salah satu bilik toilet dan duduk di sana. Tidak ada yang ia lakukan. Hanya termenung mengingat semua hal yang terjadi di kantin tadi.


Untuk kesekian kali Hong Ki mengabaikannya. Bahkan, Tae Sang pun membela kedua gadis menyebalkan tadi. Tidak ada yang membela atau berpihak padanya. Mereka hanya menonton Ye Na yang dipermalukan secara gratis di sana.


Ye Na benci semua itu.


Akan tetapi, apa pedulinya dengan rasa malu? Karena satu-satunya hal yang membuat Ye Na sedih adalah Hong Ki. Pemuda yang ia puja, tetapi justru selalu membuat hatinya terluka.


Tanpa sadar air mata Ye Na mengalir. Dia ingin berbagi cerita dengan seseorang, tetapi bahkan tak ada yang mau benar-benar berteman dengannya.


Ye Na merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Persetan dengan teman. Ia hanya ingin berbicara pada satu orang saat ini.


Sembari berusaha menghapus air matanya, Ye Na menekan tombol panggil pada kontak di urutan paling atas. Namun, yang ia dengar kemudian hanya nada tunggu yang tak kunjung berhenti.


Ia tak ingin menyerah. Dicobanya lagi untuk menghubungi nomor tersebut. Lagi-lagi ia disambut suara yang sama.


Tangis Ye Na pecah ketika usahanya yang ketiga masih tak membuahkan hasil. Ia sesenggukan di dalam bilik toilet. Sendirian.


"Eomma, aku rindu padamu," gumam Ye Na dalam isak tangisnya.


***


"Apakah enak?" tanya Sarah setelah Hong Ki memakan kue buatannya. Ia penasaran apakah Hong Ki akan menyukainya atau tidak.


"Madeopseoyo," jawab Hong Ki. Wajah Sarah berubah sendu mendengarnya. Ia rasa semangatnya saat membuatkan Min Hyuk dulu telah hilang, sehingga sekarang rasa kuenya jadi tidak enak. "Karena kamu tidak ikut memakannya," lanjut Hong Ki. Ia tersenyum lalu menyodorkan sepotong cup cake yang sama pada Sarah.


"Kamu membuatku takut," ujar Sarah seraya menerimanya. "Aku pikir aku meracunimu."


"Memang benar. Kamu sudah meracuniku, Sarah," balas Hong Ki cepat. "Semua tentangmu meracuni hati dan pikiranku, hampir sepanjang waktu," lanjutnya dengan nada mengeluh. Seolah itu adalah hal yang tidak menyenangkan untuknya.


Gerakan tangan Sarah terhenti. Kata-kata yang baru saja terlontar dari bibir Hong Ki terdengar aneh. Membuatnya semakin canggung berada di dekat pemuda itu. Lagipula rasanya sangat aneh ketika seorang Hong Ki merayu seorang gadis.


"Ke mana Song Eun?" Sarah sengaja mengalihkan pembicaraan. Satu-satunya hal yang terpikir olehnya untuk menghindari rayuan Hong Ki.


"Hong Ki-ssi." Sarah tak tahu harus menjawab apa.


"Apa kamu punya jawabannya sekarang? Apa kue ini berarti ya?"


Sarah menundukkan kepala. Tak berani menatap wajah Hong Ki yang tengah memandanginya lekat. Tadinya ia memang berniat memberikan kue tersebut sebagai jawaban. Ia akan berusaha menerima Hong Ki. Namun, kejadian di kantin membuat hatinya ragu.


"Mianhae. Aku senang dan nyaman menjadi temanmu, tapi aku belum memikirkan lebih dari itu." Sarah menjawab dengan hati-hati, takut melukai perasaan Hong Ki.


Perasaan kecewa segera menjalari tubuh Hong Ki. Akan tetapi, ia sadar Sarah mungkin masih butuh waktu. Dan, ia akan menghargai keputusan gadis itu.


"Aku akan menunggu, Sarah."


Sarah terdiam. Gemerisik daun ginkgo yang saling bergesekan karena tertiup angin mengisi keheningan.


"Kenapa?" tanya Sarah akhirnya. Tak mengerti dengan kegigihan Hong Ki.


"Karena aku benar-benar menyukaimu."


Sarah benar-benar kehabisan kata-kata untuk menjawab Hong Ki. Ia mengalihkan pandang ke sekeliling, berusaha menghindari tatapan pemuda itu. Namun, pemandangan bangku-bangku panjang yang teduh oleh pohon ginkgo di sekitarnya tak banyak membantu. Justru membuat Sarah teringat pada pertemuan pertamanya dengan Min Hyuk di sekolah.


Ini terlalu sulit.


Benak Sarah menyuarakan keraguannya akan Hong Ki. Pemuda itu sangat baik padanya. Penuh perhatian pula. Namun, bukan mau Sarah untuk sulit menghilangkan nama Min Hyuk dan menggantinya dengan nama Hong Ki. Ia butuh waktu.


Pandangan Sarah lalu beralih ke atap gedung utama yang ternyata terlihat jelas dari tempatnya berada. Dan, suasana hatinya mendadak kacau ketika melihat siapa yang tengah berada di atas sana, mengawasi dirinya dan Hong Ki.


Min Hyuk.


***


"Song Eun! Tunggu aku!" pinta Tae Sang yang sedari tadi mengejar Song Eun.


Ia tahu, Song Eun pasti merasa sangat aneh karena Tae Sang tiba-tiba membelanya seperti tadi. Ia perlu menjelaskan agar gadis itu mengerti.


"Song Eun!" Dengan putus asa, Tae Sang mengambil cara terakhir yang terpikir olehnya. Diraihnya tangan Song Eun sebelum gadis itu sempat melangkahkan kakinya masuk ke kelas.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Song Eun panik saat tangan Tae Sang bersentuhan dengannya. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi sia-sia. Tenaga Tae Sang jauh lebih kuat.


"Dengarkan dulu!" perintah Tae Sang dengan nada tegas. Song Eun yang takut pun akhirnya menurut. "Tadi itu, tolong jangan salah paham."


Song Eun tidak mengerti maksud Tae Sang. Yang ia tahu hanyalah pemuda berandal yang selalu mengganggu temannya tiba-tiba saja membela mereka. Itu aneh sekaligus mencurigakan.


"Aku bahkan tidak tahu kenapa harus salah paham."


Tae Sang menghela napas. Sadar jika banyak pasang mata yang memperhatikannya, ia segera melepaskan tangannya dari Song Eun.


"Karena halmeoni sendiri yang memintaku menjagamu, maka aku bersedia."


"Lalu?"


Song Eun ingat hal itu. Tentang pesan neneknya pada Tae Sang. Dan, benar sekali jika ia jangan sampai salah paham. Ia hanya perlu menutupi rasa kecewanya untuk menghadapi hal tersebut.


"Kamu tidak berpikir aku...," Tae Sang memberi jeda sebelum melanjutkan kalimatnya, "menyukaimu, kan?"


Tentu saja tidak.


Song Eun tidak bodoh untuk bisa menganalogikan hal tersebut.


"Tidak akan ada yang tertarik dengan gadis sepertiku, bahkan kamu. Itu kenyataannya."


Ujung bibir Tae Sang terangkat. Puas dengan jawaban Song Eun.


"Baguslah." Dengan langkah tenang ia melangkah pergi. Berbeda dengan saat ia mengejar Song Eun. Ia hanya perlu memberikan tatapan tajam pada orang-orang yang sedari tadi terlihat sangat penasaran dengan dirinya dan Song Eun. Sedikit gertakan seperti biasa dan mereka langsung beringsut.


Kaki Tae Sang baru saja mengambil langkah kelima ketika tiba-tiba ia berhenti. Tersadar oleh sesuatu. Ia berbalik dan mengucapkan sebuah kalimat lagi pada Song Eun.


"Tapi aku serius. Katakan saja jika kamu butuh bantuan."


***


● modeopseoyo : rasanya tidak enak


● halmeoni : nenek


***