
Sarah masih mematung di tempat. Tak dapat memercayai penglihatannya. Rasa terkejut bahkan mengalahkan perhatiannya pada ketiga preman yang kini terkapar di hadapannya. Lagak yang tadi seolah tak terkalahkan kini luluh lantak seiring tubuh tak berdaya mereka. Antara bersyukur dan masih bingung, ia hanya berharap orang yang baru saja datang itu lawan yang sebanding untuk preman-preman tersebut. Meski begitu, rasa takut masih tak beranjak darinya.
"Ka ... kamu? Bagaimana bisa ada di sini?" Dengan terbata Sarah bertanya. Tubuhnya masih gemetar dan berkeringat dingin. Lepas dari ketiga preman tadi tak lantas membuatnya merasa benar-benar aman. "Tae Sang?"
Sembari tersenyum miring, Tae Sang menarik kerah baju salah satu preman dan bersiap melayangkan sebuah tinju lagi.
"Apa yang mau kamu lakukan?" Sarah panik melihat tindakan Tae Sang. Jika pemuda itu berniat menghajar preman-preman tadi, itu berarti akan lebih banyak darah. Dan, Sarah tidak ingin menyaksikannya.
"Dengar baik-baik! Aku tahu kalian bukan dari daerah ini. Jadi, katakan siapa yang menyuruh kalian?" Tae Sang tidak menjawab kekhawatiran Sarah dan justru menanyai preman di hadapannya. Dengan keberaniannya itu, orang tidak akan menyangka jika Tae Sang sebenarnya masih murid sekolah menengah. Gayanya bahkan tindakannya tak kalah dari para preman tersebut.
"Bukan urusanmu," tantang preman tersebut yang sama sekali tak gentar meski lehernya dicengkeram oleh Tae Sang. Sorot matanya menantang Tae Sang. Tidak ada rasa takut meski kedua temannya baru saja tersungkur oleh pukulan Tae Sang. Ia percaya diri jika jumlahnya yang lebih banyak bisa mengalahkan Tae Sang yang hanya seorang diri.
"Tentu saja menjadi urusanku. Karena hanya aku yang boleh mengganggu dia," jawab Tae Sang, lalu menghadiahi wajah preman tersebut dengan sebuah tinju.
Sarah terkesiap. Ia tidak tahu seandal apa Tae Sang dalam berkelahi, sehingga ia juga tidak yakin apakah pemuda itu bisa melawan tiga orang sekaligus. Karena, dua preman lainnya sudah bangkit dan bersiap menyerangnya juga.
Tae Sang bisa berkelit tepat saat salah satu preman lain hendak memukulnya dari belakang. Bahkan, ia sama sekali tidak tampak kewalahan menghadapi dua orang sekaligus. Reputasinya sebagai pembuat onar sekaligus orang yang ditakuti di sekolah ternyata bukan isapan jempol.
Kesempatan baik untuk Sarah segera melarikan diri. Meski kakinya tak bisa berpijak dengan mantap karena masih didera rasa takut, ia harus membulatkan tekad untuk pergi. Sekarang atau tidak sama sekali.
"Mau ke mana? Kita belum selesai berkenalan, Cantik." Tangan laki-laki yang sama yang hendak menyentuhnya tadi kembali mencekal lengan Sarah. Selagi kedua temannya membuat Tae Sang sibuk berkelahi, laki-laki tersebut mengambil kesempatan untuk mendekati Sarah. Wajahnya membuat Sarah muak, tapi ia tidak tahu harus melawan dengan apa.
Belum sempat Sarah berontak, sebuah tinju kembali melayang ke wajah laki-laki tersebut. Membuatnya terhuyung ke belakang dan sukses membentur dinding. Namun, kali ini jelas bukan Tae Sang karena pemuda itu masih sibuk menghadapi dua preman lain.
"Min Hyuk?" Untuk kedua kalinya Sarah terkejut. Pertama, Tae Sang. Sekarang, Min Hyuk. Kedua pemuda itu hampir membuatnya jantungan dengan kemunculan dan tindakan mereka.
Min Hyuk tak menggubris keheranan Sarah. Ia mendekat pada preman yang berhasil dipukulnya tadi dan kembali melayangkan pukulan. Tak hanya sekali. Dan, ia tak kalah andal dari Tae Sang dalam membuat preman tersebut tak sadarkan diri. Bahkan, tindakan pemuda itu lebih menggila. Pukulannya bertubi-tubi, tak terkendali dan seolah tidak akan berhenti kalau saja tidak ada interupsi.
Terdengar suara tepuk tangan yang lambat kemudian. Disusul tawa mengejek yang sangat jelas asalnya. Dari musuh bebuyutan Min Hyuk yang sudah membuat dua lawannya kembali terkapar.
"Menyelamatkan tuan putrimu?" ledek Tae Sang pada Min Hyuk yang enggan bersuara. "Tenang saja. Hanya aku yang boleh mengganggunya."
Perlahan kaki Min Hyuk melangkah ke arah Sarah. Terus mendekat tanpa mengucapkan apa pun. Tae Sang memicingkan mata, penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh musuhnya itu.
"Ap ... apa yang kamu lakukan?" Sarah terpaksa mengikuti Min Hyuk saat pemuda itu tiba-tiba menarik tasnya. Seolah itu adalah isyarat jika ia harus mengekor langkahnya. Dan, anehnya, Sarah menurut begitu saja.
Tae Sang tertawa sinis melihat adegan tersebut. Dugaannya benar. Meski Min Hyuk berusaha menghindari Sarah, tetapi tindakannya barusan menunjukkan jika ia peduli. Dan, hal yang langka jika seorang Black peduli pada seorang gadis. Dulu, ia bahkan membuat Hye Ran menderita.
"Kamu membuatnya jadi lebih mudah, Black," gumam Tae Sang sembari memandangi punggung Sarah dan Min Hyuk yang mulai menjauh.
Dering ponsel mengalihkan perhatian Tae Sang. Berasal dari ponsel salah satu preman tadi. Tae Sang mengambil benda tersebut dan kembali tersenyum sinis saat melihat nama yang tertera di layar.
"Kenapa lama sekali? Aku menunggu kabar dari kalian." Suara yang tak asing memenuhi telinga Tae Sang ketika menerima panggilan tersebut. Suara yang ia harapkan tak terdengar untuk masalah seperti ini.
"Mereka gagal, karena itu tak memberi kabar padamu," jawab Tae Sang tanpa basa-basi. Ia bahkan tak berniat mengenalkan diri sebab ponsel yang dia pegang bukanlah miliknya.
Pemilik suara di seberang sana terdiam. Entah karena kecewa atau karena mengenali suara yang menjawabnya. Tae Sang menggunakan jeda tersebut untuk kembali berbicara.
"Sarah baik-baik saja. Kamu memilih orang yang salah untuk melakukan pekerjaan ini."
"Siapa kamu?"
Giliran Tae Sang yang kecewa. Ia berharap lawan bicaranya mengenalinya, tapi ia tak ingin terlalu larut dalam perasaan semacam itu lebih lama. Toh, hal semacam itu telah sering ia alami. Keberadaannya tak pernah disadari meski Tae Sang justru menjadikan gadis yang menjadi lawan bicaranya itu sebagai pusat dunianya.
"Gadis secantik dirimu sama sekali tak pantas melakukan ini, Kim Ye Na. Cukup aku saja." Segera setelah mengatakan hal tersebut, Tae Sang mengakhiri pembicaraan. Dilemparkannya ponsel itu ke samping tubuh si preman. Ia memungut ponsel milik Sarah yang terjatuh lalu melangkah pergi.
Tae Sang tahu siapa yang menyuruh para preman tadi. Sesuatu yang ia sayangkan sebab gadis secantik Ye Na tak seharusnya berurusan dengan pekerjaan kotor semacam ini, serta karena alasan dari tindakan tersebut. Tak perlu bertanya, pastilah karena Lee Hong Ki. Ia yakin jika Min Hyuk juga mengetahuinya. Itulah sebabnya mereka berdua datang, meski dengan tujuan yang berbeda.
***