
Daegu Arboretum
Sarah membaca berulang kali nama tersebut. Tertulis jelas di papan tulis kelas sebagai tujuan studi Biologi untuk kelas tiga.
"Kamu ikut, kan?" tanya Song Eun yang sengaja menoleh ke belakang untuk bisa berbicara pada Sarah. "Akan sangat menyenangkan kalau kamu juga ikut. Aku jadi punya teman," lanjutnya penuh harap.
Tempat itu terdengar tidak buruk saat tuan Park menjelaskannya sebelum bel istirahat berbunyi tadi. Tidak ada alasan Sarah tidak ikut serta, kecuali ia benar-benar tidak bisa.
"Kan, ada Hong Ki. Studi ini untuk seluruh siswa kelas tiga, kan? Berarti akan ada Ye Na juga. Mereka juga temanmu, Song Eun-ah."
Andai saja Sarah tahu, jika mereka bukan benar-benar temannya. Mereka mendekat karena ada Sarah bersamanya.
"Kita sama-sama tahu siapa yang Hong Ki pedulikan. Kamu!" tunjuk Song Eun. "Dan Ye Na, dia juga tak punya teman, tapi jelas aku bukan pilihan untuknya," desah Song Eun pasrah.
Sembari tertawa kecil, Sarah mencubit pipi Song Eun gemas. Tentu saja Sarah ikut. Ia tidak akan membiarkan teman baiknya itu kesepian.
"Tenang saja. Aku ikut, kok."
Song Eun tersenyum lega. Diliriknya bangku Hong Ki yang sudah kosong. Penghuninya telah melesat pergi begitu bel istirahat berbunyi. Sehingga ia dan Sarah bisa leluasa membicarakan tentangnya.
"Omong-omong, ada sesuatu yang menarik kemarin? Yang perlu aku tahu?" Antusias Song Eun bertambah ketika ia mengingat sikap Hong Ki akhir-akhir ini. Menarik rasanya mengetahui tentang Hong Ki si pemuda antisosial yang akhirnya jatuh cinta.
Sarah mengulum senyum. Tampak tak tahan untuk tak bercerita. Namun masih ragu-ragu pula membuka mulut. Dilihat dari raut wajahnya, Song Eun yakin itu adalah hal yang menyenangkan.
"Aku melihat Min Hyuk," seru Sarah akhirnya. Bahagia tercetak jelas di wajah bulat gadis itu. "Ternyata dia sekelas dengan Ye Na."
Satu tarikan napas yang cukup panjang terdengar dari Song Eun. Ia lupa, bahwa bukan Hong Ki yang sudah mengambil hati Sarah, tapi Min Hyuk.
"Aku juga tahu. Lalu, apa istimewanya?" tanya Song Eun balik, tampak kurang antusias.
"Entahlah. Hanya saja itu membuatku senang."
Song Eun ingin sekali mengambil cermin dan menunjukkan pada Sarah betapa aneh wajahnya karena terlalu sering tersenyum. Namun, ia tahu itu bukan ide yang bagus. Gadis yang sedang jatuh cinta biasanya lebih sensitif dan mudah terbawa perasaan. Ia tidak mau memancing emosinya dengan mengatakan hal-hal yang buruk.
"Aku rasa kamu jatuh cinta padanya," tukas Song Eun.
Mata Sarah membulat. Entah karena terkejut dengan pernyataan Song Eun atau karena itu adalah kenyataan yang tak ia harapkan diketahui orang lain.
"Mwo? Jangan bercanda. Aku hanya mengaguminya," kilah Sarah, lalu buru-buru memalingkan wajah dari Song Eun. Tiba-tiba saja ia ingin tersenyum, tetapi malu untuk melakukannya.
"Dia bahkan bukan murid yang populer di sini. Dalam artian yang baik tentunya. Tapi, selamat! Itu berarti kamu adalah fans pertama seorang Black," cibir Song Eun yang menganggap kata-kata Sarah adalah kebohongan.
Serta merta tawa Sarah berderai. Membayangkan jika Min Hyuk memiliki banyak penggemar yang memujanya. Pasti sangat lucu saat tatapan dingin yang kerap Sarah dapat itu juga membuat orang lain membeku di tempat.
Namun, sedetik kemudian Sarah terdiam.
Kenapa bayangan tentang semua itu tiba-tiba membuat Sarah tidak rela? Ia lebih suka Min Hyuk yang sekarang. Yang dingin dan agak kasar. Dengan begitu hanya akan ada satu penggemar dalam hidupnya. Sarah.
"Tapi, apa yang salah jika suatu saat aku benar-benar jatuh cinta padanya?" Pertanyaan tersebut terlintas begitu saja di otak Sarah. Namun justru menjadi yang paling ia inginkan mendapat jawaban.
"Aku hanya tidak ingin kamu sampai patah hati. Karena yang aku lihat, dia tidak tertarik dengan hal-hal semacam itu. Cinta. Popularitas."
"Kamu benar, Song Eun-ah. Dia benar-benar dingin dan sulit didekati." Sarah mengangguk mengiyakan.
"Itu kamu tahu."
"Ya, tapi aku hanya kagum padanya. Bukan jatuh cinta," elak Sarah sekali lagi.
"Lalu, apa yang mengagumkan dari dia?" tanya Song Eun penasaran. Namun, Sarah hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. "Kalau begitu, tunggu saja sampai kamu sadar itu adalah cinta," tukas Song Eun dengan wajah serius.
Kalimat tersebut membuat Sarah tersenyum geli. Dalam hati ia mengakui kebenaran ucapan Song Eun. Tidak peduli jika hal itu benar-benar terjadi.
Memangnya kenapa kalau ia jatuh cinta? Pada Min Hyuk?
***
Lima buah bus berderet rapi di parkiran sekolah. Kendaraan tersebut yang akan mengantar perjalanan semua murid kelas tiga melakukan studi wisata ke Daegu Arboratum.
Tampak puluhan remaja berkumpul di depan kelas masing-masing. Termasuk Sarah, Song Eun dan Hong Ki.
"Apa semua sudah siap? Tidak ada barang yang tertinggal, kan?" tanya Hong Ki pada Sarah yang baru saja selesai mengecek kembali isi tasnya.
"Tidak ada. Semua sudah siap," jawab Sarah.
Hong Ki mengangguk lalu mengajak Sarah dan Song Eun menuju bus nomor lima, bus kelas mereka. Untuk menghindari insiden berebut kursi nantinya, mereka harus naik lebih dulu sehingga bisa leluasa memilih tempat.
Ketiga remaja tersebut beruntung karena masih cukup banyak kursi kosong. Banyak yang belum datang.
"Kamu suka duduk dekat jendela?" tanya Hong Ki lagi.
Sarah mengangguk. Tak lama kemudian matanya berbinar. Ia menemukan tempat duduk yang cocok. Baris nomor tiga dari depan. Segera ditariknya Song Eun menuju kursi tersebut.
"Sarah, kenapa kamu malah menarikku, sih? Dasar gadis tidak peka," bisik Song Eun ketika mereka berdua telah menempati kursi tersebut.
"Apa? Bukankah kamu sendiri yang takut kutinggal sendirian?" Sarah bertanya balik dengan wajah polos. Tak menangkap maksud teguran Song Eun.
Song Eun menghembuskan napas dengan agak kesal. Lalu melirik Hong Ki yang menyusul mereka dengan raut kecewa. Tak perlu bertanya, Song Eun tahu pasti alasan dari ekspresi pemuda tersebut.
"Katakan padaku jika kamu butuh sesuatu, ya," pesan Hong Ki sebelum duduk di kursi di seberang Sarah dan Song Eun.
"Tentu, Hong Ki ssi. Gomawo," balas Sarah sembari tersenyum manis.
Song Eun yang berada di tengah mereka berdua bingung harus bereaksi seperti apa. Mungkin ia hanya perlu diam dan mendengarkan saja.
Sarah terlalu tidak peka, padahal Hong Ki sudah berusaha menunjukkan perhatiannya. Kalau begini, mana bisa ada perkembangan? Apalagi Sarah juga lebih tertarik pada Min Hyuk.
Lamunan Song Eun terputus saat ia menyadari bus telah penuh. Mesin mulai menyala, tinggal menunggu waktu untuk berangkat. Dari kaca jendela bus, tampak rombongan kelas lain satu persatu mulai meninggalkan tempat parkir.
Bus terakhir yang berangkat sebelum kelas Sarah adalah bus kelas Ye Na. Iseng Sarah memperhatikan para penumpang di dalamnya. Lalu matanya tertumbuk pada satu sosok yang tengah duduk di dekat salah satu jendela bus tersebut.
Min Hyuk
Bahkan hanya dengan melihat atau mendengar namanya, Sarah tidak pernah merasa bosan pada Min Hyuk. Kali ini, tatapan dingin pemuda itu menembus kaca jendela bus. Seolah mengarah pada suatu titik di kejauhan yang turut mengusik rasa ingin tahu Sarah.
Perhatian Sarah segera teralihkan pada Song Eun. Sedikit heran dengan pernyataannya. Ia pikir Song Eun tidak terlalu memperhatikan siapa pun, karena mengaku tidak ada yang benar-benar berteman dengannya.
"Benarkah? Aku kira dia tidak seterkenal itu sampai kamu bisa tahu," balas Sarah.
Song Eun terdiam. Seperti tengah berpikir sebelum akhirnya menjawab.
"Jika kamu menjadi salah satu siswa yang langganan bermasalah, kamu tidak bisa menolak untuk jadi tenar."
Sarah mengangguk setuju dengan kata-kata Song Eun. Namun ia tak berkata apa-apa dan kembali mengalihkan perhatiannya pada sosok Min Hyuk. Lalu ia menyadari sesuatu.
Tatapan Min Hyuk tadi ditujukan untuk Tae Sang, yang kini mengambil tempat duduk di sebelahnya. Pemuda itu tersenyum mengejek pada Min Hyuk sebelum menduduki kursinya. Akan tetapi, tak ada balasan serupa dari Min Hyuk.
Itu sama sekali bukan urusan Sarah. Ia bahkan tak tahu pasti seperti apa hubungan kedua pemuda itu. Permusuhan atau persahabatan. Namun ia sangat yakin Min Hyuk tak benar-benar bersedia duduk berdampingan dengan Tae Sang.
Ah, sudahlah
Sarah harus berhenti mengurusi segala hal tentang Min Hyuk. Bukankah ia sudah berjanji.
Dengan terpaksa Sarah memalingkan wajah dari bus yang ditumpangi Min Hyuk. Membiarkan benda kotak berjalan itu lebih dulu meninggalkan bus kelas Sarah yang berangkat paling akhir.
***
"Teman-teman, waktunya jam bebas. Kalian boleh menikmati tempat ini sepuasnya, tapi harus sudah berkumpul kembali sebelum jam lima." Suara Dal Bong, ketua kelas sekaligus ketua rombongan kelas Sarah, menggema begitu acara studi Biologi mereka berakhir. Sama seperti kelas lain, pengumuman tersebut disambut antusias oleh seluruh anggota rombongan.
Sarah segera meregangkan otot tangannya. Sedari tadi ia terus menulis, mencatat penjelasan gurunya tentang tanaman dan ekosistem di taman. Jari jemarinya pasti sudah kaku kalau mereka tidak segera mengakhiri kegiatan tersebut. Terlebih lagi mereka semua belum sempat makan siang. Beruntung tempat ini begitu indah. Jadi, mereka tak sepenuhnya bosan.
"Aku lapar," ujar Sarah sembari memegangi perutnya. Mereka memang tak diijinkan membawa makanan dan minuman masuk. Jadi Sarah meninggalkan bekalnya di bus.
"Kamu mau es krim? Aku tahu tempatnya." Song Eun yang asli penduduk Daegu tentu lebih tahu banyak hal di sini.
"Boleh. Ayo!" ujar Sarah setuju. Keduanya lalu berjalan menuju arah yang Song Eun yakini adalah tempat penjual makanan. Mereka memisahkan diri dari rombongan, termasuk Hong Ki yang masih sibuk berdiskusi dengan guru Biologi mereka, nyonya Jang.
Hingga sepuluh menit mencari, mereka belum bisa menemukannya. Song Eun jadi ragu apakah ia mengambil jalan yang benar. Sementara Sarah segera duduk di salah satu bangku panjang di dekat mereka. Ia lapar dan tidak ingin tenaganya habis hanya untuk berkeliling tanpa hasil.
"Ah, aku ingat. Harusnya kita lewat jalan yang itu, Sarah," seru Song Eun senang begitu bisa mengingat kembali jalannya. Sayangnya Sarah sudah terlalu lelah untuk mengikutinya.
"Aku di sini saja, Song Eun-ah."
"Kamu yakin?"
Sarah memberi tanda ok dengan jemarinya, membuat Song Eun akhirnya pergi tanpa perlu khawatir.
Sepeninggal Song Eun, Sarah menghirup dalam-dalam udara musim semi di Daegu Arboratum. Warna hijau dari pepohonan di sana sangat memanjakan mata. Benar-benar tempat yang bagus. Belum lagi pergola yang menaungi jalanan dengan aneka tanaman indah hingga langka. Mempercantik taman tersebut.
Sarah mengedarkan pandang ke sekeliling. Mengagumi taman yang katanya dulu adalah penampungan sampah. Sulit dipercaya, bukan?
Oh. Sarah juga baru ingat. Ada beberapa macam taman bunga di Daegu Arboretum. Seperti taman kaktus, taman bunga liar, taman herbal dan sebagainya. Setidaknya ia harus menjelajah salah satu saja dari taman-taman tersebut.
Pandangan Sarah lalu terhenti, tertuju pada sebuah rumah kaca yang tak jauh dari tempatnya berada. Samar, tampak deretan bunga dan tanaman kaktus beraneka jenis di dalam sana.
Tanpa pikir panjang, Sarah bergegas mendekat ke rumah kaca. Melupakan Song Eun yang pasti kelabakan jika menemukan bangku tempatnya duduk tadi sudah kosong.
Dengan langkah pelan yang ia sengaja, demi menikmati setiap jengkal keindahan taman, Sarah melewati jalan setapak yang menuju rumah kaca. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Tubuhnya mematung tatkala melihat sosok Min Hyuk berdiri di atas jembatan kecil yang melintasi sebuah kolam, tak jauh dari rumah kaca yang Sarah tuju.
Pertanyaan Song Eun tempo hari kembali menghantui benak Sarah. Tentang perasaan kagumnya pada Min Hyuk. Mungkin hari ini, Sarah bisa menentukan status hatinya dengan jelas.
Tubuh kurus Min Hyuk menjulang di tengah jembatan. Mengabaikan pengunjung lain yang lalu lalang di sekitarnya.
Pemuda itu terpaku sembari menatap deretan pepohonan yang mengitari kolam. Tangan kanannya memegang sebuah buku, sementara tangan lainnya dimasukkan ke saku celana. Sinar matahari sore yang menyusup di celah dedaunan memberikan efek dramatis bagi Min Hyuk. Membuat rambut hitamnya yang agak berantakan itu seperti bersinar. Bak pangeran dari negeri dongeng.
Sadar, Sarah!
Pikiran yang sudah kelewat batas itu benar-benar mengganggu Sarah. Ia berniat segera pergi ketika tanpa diduga, Min Hyuk menoleh ke arah Sarah yang belum beranjak dari sana. Lalu, tanpa bisa dicegah keduanya bertemu pandang.
Tidak seperti yang sudah lalu, kali ini Min Hyuk bergeming menatap mata Sarah. Masih dengan tatapannya yang dingin, ia seolah membiarkan Sarah menyelami mata hitamnya lebih lama.
Sungguh aneh.
Begitupun Sarah yang hanya bisa membeku di tempat. Namun, perlahan ia bisa mendengar debaran hatinya sendiri yang menggila hanya dengan menatap mata Min Hyuk dari jauh.
Seperti sebuah adegan dalam film, begitulah Sarah dan Min Hyuk sekarang. Saling menatap tanpa suara. Berlatarbelakang hijaunya pepohonan yang sesekali bergerak pelan oleh sapaan angin musim semi. Juga puluhan bunga iris yang menyembul di antara rerumputan.
Sarah ingin berlari pergi, mengakhiri situasi aneh yang tengah mengepungnya dan Min Hyuk. Namun tatapan pemuda itu seolah mengunci semuanya. Membuatnya hanya bisa mematung di tempat.
Sarah juga tak tahu bagaimana cara menghentikan detak jantungnya yang terasa tak normal. Ia hanya tahu bahwa di antara semua hal asing yang melandanya saat ini, ada bahagia yang tak mudah diungkapkan. Juga gelenyar asing yang sulit ia namai.
Jatuh cinta? Mungkinkah?
"Sarah!" Sebuah sentuhan di jemari Sarah menghentikan isi pikirannya. Ia berpaling dan mendapati tangan Hong Ki menggenggam tangannya. "Sudah kubilang, kan? Jangan pernah pergi sendirian," lanjutnya seraya tersenyum.
"Mianhae," ujar Sarah. Ia membiarkan genggaman tangan Hong Ki dan mengikuti begitu saja ke arah mana pemuda itu membawanya.
"Sudahlah. Yang penting aku sudah menemukanmu."
"Gomawo, Hong Ki ssi." Mendadak Sarah menjadi gugup. Takut tak bisa mengartikan dengan benar semua perhatian Hong Ki untuknya. Padahal Hong Ki lah yang sudah menyelamatkan jantungnya.
Ya, jantung Sarah sudah kembali berdetak dengan normal. Seharusnya ia merasa lega. Namun, saat ia menoleh ke tempat Min Hyuk tadi berada, pemuda itu sudah tak ada di sana. Mau tak mau, ada kecewa yang mengalir di benak Sarah.
Pandangan Sarah kemudian beralih pada tangan Hong Ki yang masih bertaut erat dengan miliknya.
Tak ada gelenyar asing seperti saat Min Hyuk menatap Sarah tadi meski tangannya dan Hong Ki bersentuhan. Dan jantungnya sama sekali tak berulah.
Aneh, bukan?
***
● Mwo : apa?
***