
Pengganggu.
Sebutan itu terus terngiang di telinga Ye Na. Menorehkan perih yang tak kasat mata, tetapi terasa begitu nyata. Seperti menghimpit dadanya dengan sesak yang menyakitkan.
Sembari terus berlari tanpa arah yang jelas, Ye Na tak dapat mencegah otaknya terus menggema. Mempertanyakan satu hal yang sejak dulu selalu ia perjuangkan. Hati seorang Lee Hong Ki.
Apa kekurangan Ye Na? Bagaimana caranya membuat Hong Ki meyakini perasaan Ye Na?
Pertanyaan-pertanyaan bodoh yang sudah menjebak hati Ye Na selama bertahun-tahun. Sebodoh dirinya yang tertipu oleh cinta sepihak dari Hong Ki. Perasaan, rindu dan harapan yang Ye Na rawat sekian lama pupus begitu saja karena kehadiran Sarah. Gadis yang bahkan tak pernah berusaha menarik perhatian Hong Ki.
Air mata Ye Na terus mengalir. Sekali pun banyak yang bisa melihatnya berjalan melewati koridor sembari menangis, tak ada satu pun yang berniat menegur. Semua seolah tak peduli dengan keberadaannya. Ia benar-benar tak kasat mata di sana.
Ye Na berbelok menuju taman depan perpustakaan. Matanya menelusuri seisi taman untuk mencari bangku kosong. Ketika akhirnya melihat sebuah bangku tak berpenghuni di bawah salah satu pohon ginkgo, ia bergegas menuju ke sana.
Ye Na ingin menangis di sana. Melepaskan beban di hati yang seolah bertambah berat setiap kali ia melangkah. Masa bodoh dengan orang lain yang berada di sana. Mereka memiliki urusan masing-masing yang sama pentingnya. Ye Na terbiasa diabaikan. Kali ini pun ia berharap hal yang sama.
"Aku heran. Kenapa para gadis selalu menyukai laki-laki yang hanya bisa membuatnya menangis?"
Suara itu. Suara yang entah mengapa selalu hadir di saat yang tak Ye Na inginkan.
Ye Na melirik sekilas pada pemilik suara tersebut, tetapi lantas kembali berpaling. Tak berniat menanggapinya.
Tae Sang, sang pemilik suara, justru duduk di samping Ye Na. Menemani gadis itu di bawah langit musim panas yang terang. Yang sayangnya hari ini seolah hujan karena air mata Ye Na.
"Aku tidak pandai menghibur. Tapi percayalah, aku sangat memahami masalahmu."
Ye Na akhirnya menoleh. Menatap wajah pemuda di sampingnya itu, memastikan kebenaran dari kata-katanya. Dan, ia tidak tahu harus senang atau kecewa saat raut wajah Tae Sang tampak serius.
"Memangnya apa yang kamu tahu selain menjadi berandalan?" sindir Ye Na. Berharap dengan begitu Tae Sang akan tersinggung dan memilih pergi dari sana.
"Kamu penasaran denganku?"
Tanpa sadar percakapan yang tak jelas itu membuat tangis Ye Na mereda. Meski sisa air mata masih membekas di wajahnya.
Tae Sang tertawa kecil. Pemandangan yang langka bagi Ye Na. Tawa itu seolah mengaburkan semua kesan buruk yang selama ini melekat pada diri Tae Sang.
"Aku ingin sekali menghapus air matamu dan melihatmu tersenyum bahagia," tutur Tae Sang. Kata-katanya itu sontak membuat Ye Na terdiam. Berusaha menebak apa arti dari pernyataan tersebut. "Karena melihatmu menangis itu sangat menyebalkan."
Apa dia peduli padaku?
Benak Ye Na bertanya-tanya. Namun, ia sama sekali tak berani menyimpulkan.
"Apa yang sebenarnya ingin kamu katakan, Tae Sang-ssi?"
Tangan kanan Tae Sang terulur. Mengarah ke kepala Ye Na. Sedetik kemudian, pemuda itu mengelus rambut panjang Ye Na dan tersenyum manis. Satu lagi pemandangan yang ajaib.
"Jangan bersedih hanya karena pemuda dungu itu. Kamu pantas mendapatkan yang lebih baik. Yang benar-benar menyayangimu."
"Hong Ki Oppa tidak dungu," bela Ye Na. Tidak terima pangerannya dikatai bodoh.
"Hanya orang bodoh yang mengabaikanmu hingga seperti ini."
Ye Na kembali ingin memprotes Tae Sang, tetapi pemuda itu sudah bangkit dari duduknya dan beranjak pergi tanpa berkata apa pun lagi. Dan, sayangnya, Ye Na tak memiliki keberanian untuk mencegahnya.
Sejenak Ye Na termenung, memandangi deretan pohon ginkgo yang menghijau di sepanjang taman sisi depan perpustakaan. Terik matahari mulai terasa di kulitnya kala dahan yang seharusnya menjadi naungan tengah berbelok arah karena tertiup angin. Namun, hatinya justru menyukai kehangatan yang ada. Begitu nyaman.
Ye Na lalu menatap sosok Tae Sang yang baru saja berbelok menuju kelasnya. Ia tidak yakin, tetapi benarkah pemuda tadi adalah Tae Sang yang ia kenal selama ini? Karena ia sangat berbeda.
Tae Sang begitu hangat. Dan, entah kenapa kedua ujung bibir Ye Na terangkat ketika membayangkan kembali perlakuan pemuda itu padanya hari ini.
***