Something Called Love

Something Called Love
Pertemuan Pertama



Aku pikir tidak akan bisa merasakan yang namanya jatuh cinta. Ternyata aku salah. Hari ini, detik ini aku merasakannya pada pandangan pertama.


"Jangan bersikap baik padaku," hardiknya sewaktu aku mendekat dan hendak menolongnya yang terluka. Orang-orang yang telah meninggalkan memar dan lebam di tubuhnya telah pergi entah ke mana.


"Aku hanya ingin menolong," ujarku tak peduli. Namun, dia serius dengan ucapannya. Tanganku dengan segera ia tepis. Lalu ia bangkit dan beranjak pergi.


Pertemuan pertama kami. Begitu saja. Tanpa perkenalan. Namun, aku jatuh cinta padanya. Bukan karena wajahnya, toh, ia tidak setampan para aktor drama. Aku jatuh cinta karena tatapan matanya yang memancarkan kesedihan.


Aneh? Setidaknya jatuh cinta pada pemuda yang namanya tak kuketahui sudah termasuk aneh.


***


Ini konyol. Namun, aku hanya bisa membatin dan mengeluarkan sumpah serapah dalam hati. Eh, tidak seburuk itu juga, sih. Aku hanya mengatakan orang-orang ini gila.


Memangnya kenapa kalau aku tidak memakai make up sama sekali? Bukankah di peraturan sekolah hanya tertulis ketentuan jam belajar, seragam dan peraturan-peraturan sejenis. Tidak ada yang menyebutkan jika siswi wajib memoles wajahnya dengan foundation, bedak, blush on atau apa pun itu namanya. Tapi, sekumpulan gadis cantik bertubuh aduhai di hadapanku ini dengan jelas mempertanyakan mengapa wajahku polos. Menemukanku di antara ratusan siswa lain seolah memberi mereka label penemu makhluk langka.


"Kaupikir kau cantik dengan dandanan seperti itu?" tanya salah seorang dari mereka. Gadis berhidung mancung dan berambut panjang. Namun, mendadak aku kembali bingung mengenali. Tampilan mereka semua hampir mirip dan seragam.


"Tidak," jawabku singkat. Tujuanku ke sekolah untuk belajar. Klise, tapi kenyataannya memang begitu.


"Nah, kamu sadar, tapi kenapa nggak peduli, sih?" tanya salah seorang lagi dari mereka.


"Karena nggak akan ada yang peduli juga," jawabku lagi.


"Iya juga, sih. Tapi kami jadi merasa aneh kalau melihatmu. Setidaknya pakailah bedak tipis. Bagaimana pun juga kamu baru di sini, perlu beradaptasi."


Aku dengan senang hati mendengarkan ceramah gratis itu. Lumayan untuk menghabiskan waktu istirahatku yang hanya kulewati dengan bekal makan siang nasi goreng kimchi. Bekal terbaik yang bisa kudapat hari ini.


"Tentu. Akan kupertimbangkan usul kalian. Terima kasih," ujarku.


"Bagus. Dia bisa memberimu kosmetik gratis kalau kamu tidak bisa membelinya." Si gadis berambut pendek menunjuk gadis di sebelahnya. Aku tidak tahu itu sindiran atau pemberitahuan. Masa bodoh. Menjadi anak baru saja sudah sulit bagiku, terlebih jika harus mencari masalah dengan mereka. Mengiakan semua kata mereka tampaknya cara terbaik untuk aman sementara waktu.


"Tentu. terima kasih," ulangku. "Dan, apa aku bisa melanjutkan makan siangku sekarang? Atau kalian ingin bergabung?"


Mereka serempak menggeleng. Mungkin kalau menu makan siangku adalah bibimbap dan bulgogi, mereka dengan senang hati akan bergabung. Penolakan mereka setidaknya membuatku tahu satu hal yang bisa mengusir mereka dariku.


"Sampai jumpa," pamit mereka segera.


Begitu gerombolan gadis itu pergi, aku segera mengembuskan napas panjang. Lega karena akhirnya bisa menikmati makanan sederhanaku sendirian. Namun, saat aku menoleh ke arah meja di sebelahku, yang aku sendiri tak tahu kenapa, aku mendapati seorang pemuda menatapku.


Jangan tanya tatapannya. Aneh.


***