Something Called Love

Something Called Love
Berbaikan



Ada satu hal yang tidak pernah Min Hyuk sadari, tetapi segera mengusik pikirannya begitu ia tahu.


Tentang Sarah.


Tentu saja, apa pun mengenai gadis itu sekarang terasa sangat mengganggu untuk Min Hyuk. Kemunculannya, kue-kue buatannya, pemuda yang menyukainya. Seolah semua hal tentang Sarah memang diciptakan untuk mengacaukan otak Min Hyuk. Seperti raut sedih yang tengah tergambar di wajah gadis itu sekarang.


Sarah tampaknya sedang perang dingin dengan kedua teman dekatnya. Song Eun dan Hong Ki. Itu karena semenjak pagi mereka tidak tampak bersama.


Jangan tanya bagaimana Min Hyuk bisa tahu. Sudah pasti ia mengamati banyak hal dari atap tempatnya berada sekarang. Termasuk Sarah yang sedang berjalan sendirian menuju perpustakaan.


Diam-diam Min Hyuk memperhatikan gadis itu. Mencari tahu apa yang membuat Sarah bisa menarik perhatian pamannya, Nam In Sung.


Gadis itu tidak secantik Ye Na. Meski harus Min Hyuk akui jika Ye Na bukanlah perempuan cantik menurut versinya. Sarah juga bukan gadis yang menonjol di bidang tertentu. Berbeda dengan Song Eun yang kerap meraih nilai tinggi di sekolah.


Lalu, apa yang membuat gadis itu tampak begitu menarik?


Tunggu dulu! Bukan aku yang menganggapnya begitu.


Min Hyuk mendengus kesal. Ia harus berhenti mengamati Sarah jika tidak ingin pikiran gila sang paman menular padanya.


Ia harusnya tak peduli tentang Sarah. Apa pun itu.


Namun, dalih rasa tak peduli itu benar-benar payah. Nyatanya, Min Hyuk bergeming di tempat hingga Sarah keluar dari perpustakaan. Dan, bibirnya secara otomatis tersenyum ketika melihat Sarah muncul bersama Song Eun dengan wajah ceria.


Min Hyuk merasa lega Sarah tak lagi bersedih. Harusnya ada alasan yang jelas untuk itu, bukan?


***


Sarah melongok ke dalam perpustakaan. Mencari-cari sosok Song Eun yang sedari bel istirahat berbunyi sudah melesat pergi. Ia berharap menemukan gadis itu di antara sekat-sekat yang memisahkan deretan bangku berisi anak-anak maniak buku. Tengah membaca sesuatu dengan serius.


"Annyeonghaseyo," sapa Sarah ramah pada pustakawan yang memandanginya heran. Tak mau mendapat pertanyaan lebih lanjut mengenai sikapnya, Sarah memilih untuk segera masuk dan menuju salah satu rak. Berpura-pura mencari buku bacaan.


Jujur, Sarah tidak begitu suka membaca. Ia datang hanya untuk mencari keberadaan Song Eun. Dia berencana segera pergi jika gadis berkacamata itu tak ada di sana. Namun, kemungkinan Song Eun ada di sana sangat besar sebab selain bangku taman di bawah pohon ginkgo, tempat yang sering ia kunjungi adalah perpustakaan. Song Eun bukanlah tipe gadis yang suka pergi ke tempat-tempat aneh seperti Sarah. Dia tidak akan datang ke atap sekolah hanya demi menemui seseorang yang bahkan tidak menyukai kehadirannya. Ya, itu hanya satu contoh yang membedakan mereka.


Mata Sarah berbinar saat menemukan orang yang ia cari tengah duduk di salah satu bangku. Berada di deretan paling ujung, dekat dengan rak buku terjauh dari pintu masuk. Dengan bergegas Sarah melangkah. Lalu mengambil tempat duduk di sebelah Song Eun tanpa bersuara.


Song Eun menoleh ketika merasakan bangku di sampingnya bergerak. Lalu tampak terkejut mendapati Sarah yang ada di sana. Ia bisa saja pura-pura sedang membaca atau memang meneruskan bacaannya tanpa menghiraukan Sarah. Namun, itu sama sekali bukan dirinya, bahkan saat ia sedang marah sekali pun.


"Mianhae." Tak menunggu lama, Sarah segera menyuarakan maksud kedatangannya. Tak peduli meski Song Eun masih terheran dengan ucapannya. "Karena sudah membuatmu tidak nyaman."


"Sarah?"


"Aku salah. Apa pun yang kamu rasakan pada Tae Sang, itu bukan hal yang bisa aku campuri begitu saja. Apalagi sampai menyalahkanmu karena tidak memberitahuku dari awal." Sarah menarik napas sebelum kembali melanjutkan kata-katanya. "Kamu berhak menyukai siapa pun, Song Eun. Aku hanya bingung harus bersikap bagaimana setelah pengakuanmu itu."


"Sarah."


Song Eun tertegun mendengar pengakuan panjang lebar Sarah yang bahkan tak memberinya kesempatan untuk balas bicara selain menyebut namanya. Ia sama sekali tak menyangka jika justru gadis itu yang meminta maaf. Ia bahkan berusaha menghindar karena tak yakin Sarah masih mau menjadi temannya. Namun, faktanya Sarah justru masih mengkhawatirkan dirinya. Sesuatu yang ia yakini sebagai alasan mengapa teman seperti Sarah patut untuk dipertahankan.


Song Eun menutup buku yang ia baca, lalu memandang sahabatnya itu dalam diam. Tindakannya membuat Sarah terlihat cemas jika itu bukanlah pertanda baik. Namun, tak lama kemudian Song Eun pun tersenyum.


"Gomawo, Sarah," ujarnya.


Sarah balas tersenyum. Perasaannya menjadi lebih lega sekarang. Jujur, ia sendiri tak betah berlama-lama mendiamkan Sarah. Kebersamaan mereka selama ini sudah menjadi hal yang selalu Song Eun rindukan sehingga absen beberapa hari saja membuat hidupnya di sekolah jadi terasa ada yang kurang.


"Sebentar, aku punya sesuatu untukmu." Song Eun menjentikan jarinya, lalu merogoh saku kemeja. Tampak sebatang permen loli yang kemudian ia serahkan pada Sarah. "Rasa buah berry."


Dengan penuh semangat Sarah membuka bungkus permen tersebut kemudian memasukkannya ke dalam mulut. Song Eun benar-benar tahu apa yang ia sukai.


"Omong-omong, apa kemarin kamu bertemu Hong Ki di halte?" tanya Sarah, dengan suara yang tidak begitu jelas karena sambil mengulum permen loli.


Song Eun menggeleng.


"Aku justru senang tidak bertemu dengannya saat sedang bersama Tae Sang. Tapi, ke mana dia? Bukankah dia selalu mengekorimu jika aku tidak ada?"


Sembari menghembuskan napas panjang, Sarah mengeluarkan permen loli dari mulutnya, lalu menjawab pertanyaan Song Eun.


"Sebenarnya aku sedang mengabaikannya. Sejak kemarin."


"Kenapa?"


Sarah bukan tipe gadis yang mudah untuk tidak mengacuhkan seseorang. Seringkali, ia kerepotan sendiri karena selalu merasa tidak enak jika sampai menolak sesuatu. Karena itu, pasti ada alasan penting hingga Sarah melakukannya pada Hong Ki.


"Dia...,"


Jawaban Sarah terpotong oleh suara batuk seseorang. Ia dan Song Eun menoleh ke asal suara dan mendapati sang pustakawan tengah menatap mereka dengan pandangan tidak suka.


"Dilarang makan dan membuat gaduh di perpustakaan."


Sarah dan Song Eun yang tertangkap basah hanya bisa nyengir. Mereka segera meminta maaf dan bergegas pergi sebelum diusir oleh sang pustakawan.


"Jadi, kenapa?" ulang Song Eun begitu mereka sudah berada di luar.


Sarah membalas dengan menggamit lengan sahabatnya itu. Lalu berjalan pelan menuju kelas mereka. Song Eun hanya bisa mengikuti tindakannya sembari menunggu jawaban.


"Senang rasanya bisa seperti ini lagi," gumam Sarah," akan aku ceritakan sambil jalan."


***