
Aku tidak suka tempat ini. Sungguh. Gerombolan gadis pemerhati make up sudah cukup mengusik kehidupan tentangku, sekarang ditambah dengan pemuda aneh itu.
Pemuda yang lumayan tampan, tapi berekspresi datar itu memang tidak mendekatiku. Hanya saja, tatapan anehnya terasa selalu mengikuti. Dia jadi mirip penculik yang tengah mengamati calon korbannya.
Seperti hari ini, pemuda itu lagi-lagi mengamatiku diam-diam dari tempatnya duduk di kantin. Aku mengembuskan napas panjang. Lelah dengan ulahnya, tetapi tak berani menanyakan secara langsung apa sebenarnya tujuannya.
Kalau memang benar seperti dugaanku, seharusnya pemuda itu mencari tahu lebih dulu mengenaiku. Menculikku jelas tak akan mendapatkan keuntungan apa pun untuknya. Keluargaku tidak akan mampu memberi uang tebusan, karena untuk makan sehari-hari saja kami sudah bersusah payah. Kondisi itu juga membuat organ tubuhku tak layak untuk dijual. Aku juga tak cantik atau seksi untuk dijadikan obyek asmara.
Ah, tapi siapa yang tahu isi pikiran seorang penculik? Atau pembunuh?
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal dengan kasar. Bukankah sekolah ditujukan untuk belajar, meraih nilai bagus sehingga bisa diterima di universitas bergengsi dan punya peluang mendapat pekerjaan berprospek cemerlang. Namun, kenapa aku justru dikelilingi orang-orang aneh yang membuatku takut alih-alih fokus belajar?
"Kamu sakit? atau tidak nyaman?" Tiba-tiba saja pemuda aneh itu sudah berpindah tempat di hadapanku. Membuatku hampir terlonjak karena kaget. Tatapannya tidak lagi seaneh yang kukenali, mungkin karena dia sudah berhadapan langsung denganku sekarang.
"Aku jengkel," jawabku jujur. Ingin kulanjutkan kata-kataku dengan menyebutnya sebagai salah satu sumber kejengkelan itu. Namun, aku juga tidak tahu namanya. Kalau dipikir-pikir lagi, aku juga tidak ingin tahu namanya.
"Pada gadis-gadis make up?" tanyanya sok tahu. Sebenarnya hampir benar.
"Salah satunya," jawabku lagi. Aku sempat melirik nampan makanannya yang berisi menu enak. Telur gulung, mandu, jap chae. Fokusku terbagi karena perut tak bisa berkompromi jika menyangkut makanan.
Dia lalu tersenyum. Pemuda aneh yang selama ini aku kenali seketika berubah menjadi pemuda ramah. Aku berusaha keras untuk tak terpengaruh. Bisa saja dia seorang transformasi, kan?
Diambilnya dua potong telur gulung dan mandu dari piringnya, lalu ia letakkan di piringku.
"Aku tahu aku juga salah satu penyebabnya," ujarnya, "dan ini sebagai permintaan maafku."
Wah, ternyata dia sedang menyogokku dengan makanan enak. Taktik yang tepat karena perutku lemah terhadap hal-hal begini.
"Kenapa memangnya denganmu?" tanyaku balik. Pura-pura tak mengerti ucapannya.
Dia kembali tersenyum. Tampan, tapi aku lebih tertarik dengan pemilik tatapan sedih yang entah kapan bisa kutemui lagi.
"Kamu pasti terganggu dengan rasa penasaranku. Aku suka sekali memperhatikanmu."
"Ya, setidaknya kamu tidak mengawetkanku dalam kotak kaca dan memamerkannya di museum," responku sinis.
"Tentu saja tidak." Dia justru tertawa kecil. Aku mendengkus karena aku tidak sedang menghiburnya. "Aku justru ingin menjadi temanmu. Tak banyak yang unik sepertimu."
Benar-benar. Pemuda ini memuji atau mencemoohku, sih?
"Kalau begitu seharusnya kamu mendatangiku dan mengenalkan diri, bukannya mengawasiku diam-diam."
"Bukankah itu yang sedang kulakukan sekarang? Aku hanya agak bodoh karena baru menyadari cara itu sekarang," dalihnya.
Aku kembali mendengkus jengkel.
"Apa katamu saja lah."
Pemuda aneh itu menyebutkan namanya, tetapi aku tidak terlalu mendengarkan. Lebih nyaman memanggilnya pemuda aneh. Setelah itu dia pamit pergi. Meninggalkanku dengan mandu dan telur gulung yang menanti untuk disantap.
Seharusnya aku curiga. Makanan dari orang asing belum tentu nyaman. Namun, otak dan tubuhku sama sekali tak sejalan karena pada akhirnya aku mencomot makanan itu dan mengunyahnya dengan puas.
***