
Liburan musim panas telah berakhir. Tempat-tempat liburan, bersantai dan semua kesenangan lain harus terganti kembali dengan kegiatan rutin yang menjemukan. Terutama untuk para siswa sekolah.
Namun, tak ada kata bosan dalam kamus Song Eun. Ia selalu bersemangat untuk belajar. Karena baginya itu adalah hal yang menyenangkan. Sayangnya, kali ini semua keindahan setelah liburan musim panas tak lagi sama untuknya.
Tentu saja Song Eun masih memiliki sahabat baiknya, Sarah. Ia hanya harus menerima satu kenyataan baru dalam hidupnya sekarang, bahwa ada orang lain yang akan beredar di dekatnya selain Sarah dan Hong Ki.
"Annyeong!"
Sapaan pertama di pagi hari yang Song Eun terima beserta sebuah rangkulan di pundak. Dan, ia tak perlu menebak atau terkejut karena sudah mulai terbiasa dengan perlakuan tersebut.
"Berhentilah melakukan hal itu," pinta Song Eun tanpa sedikit pun menoleh pada Tae Sang yang masih belum menyingkirkan lengannya dari bahu Song Eun.
"Apa?"
"Merangkulku seolah kita akrab," jawab Song Eun seraya mengunci pintu rumahnya.
Selama liburan musim panas Tae Sang memang hampir setiap hari datang ke rumah Song Eun. Menjemput dan mengantarnya pulang kerja. Terkadang ia juga mampir untuk mengobrol dengan nenek Song Eun. Akan tetapi, sekarang mereka sudah kembali bersekolah. Song Eun tidak terbiasa berangkat bersama orang lain. Terutama jika orang lain itu adalah Tae Sang.
"Memangnya kita tidak?"
Tae Sang balik bertanya tanpa berniat menuruti permintaan Song Eun. Membuat gadis itu terpaksa melakukannya sendiri, menurunkan lengan kokoh Tae Sang dari bahunya.
"Tidak."
Segera setelah menjawab singkat, Song Eun berjalan mendahului langkah Tae Sang. Terkadang ia menyesali fakta bahwa Tae Sang tinggal di lingkungan yang sama dengannya. Karena dengan begitu ia tak punya banyak celah untuk menghindar.
Udara pagi yang berhembus hangat cukup membantu untuk Song Eun. Memberinya semangat positif yang ia yakini tak akan terpengaruh dengan kehadiran Tae Sang.
Musim panas. Hangat. Indah.
Seharusnya seperti itu. Dan seharusnya tetap seperti itu.
Sembari membenarkan kacamatanya yang agak turun saat ia bergerak cepat, Song Eun menikmati pemandangan yang sudah ia rindukan. Yakni jalanan yang ramai dengan remaja berseragam dan berebut naik bus.
Ia benar-benar merindukannya.
"Yah! Apa yang kamu lakukan?" seru Song Eun kaget sewaktu Tae Sang tiba-tiba merebut kacamatanya. "Kembalikan!"
Terdengar tawa Tae Sang. Tawa puas dan terkesan tidak peduli.
"Kim Tae Sang!" Seruan Song Eun semakin lantang saat tindakan Tae Sang bertambah aneh. Pemuda itu menarik ikat rambut Song Eun sehingga rambutnya jadi tergerai. Perjalanan mereka benar-benar terganggu dengan semua ulah Tae Sang.
"Apa? Aku hanya membantumu. Kamu ingat pemuda yang sering kamu lihat di halte bus? Dia menyukaimu. Kamu harus tampak lebih cantik agar dia menyesal karena hanya mendiamkanmu."
Penjelasan Tae Sang membuat Song Eun terdiam. Ia tidak percaya kalau baru saja pemuda tersebut berbicara cukup panjang. Juga fakta yang baru saja dikatakannya.
"Ini tidak lucu. Kembalikan kacamata dan ikat rambutku sekarang juga," perintah Song Eun.
"Tidak."
"Aku akan mengadukanmu pada halmeoni," ancam Song Eun yang mulai gelisah karena menyadari jika busnya sebentar lagi tiba.
"Adukan saja. Aku, kan, membantumu. Halmeoni tidak akan marah."
Song Eun menghembuskan napas dengan kesal. Benci dengan situasi yang dihadapinya.
"Aku bukan siapa-siapamu. Berhentilah melakukan apa pun untukku," pinta Song Eun akhirnya. Merubah wajah sumringah Tae Sang berubah serius.
Pemuda itu berjalan mendekat pada Song Eun, lalu membisikkan sesuatu ke telinga gadis itu.
Detak jantung Song Eun seketika menggila. Ada semburat hangat di pipinya. Tak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan. Semua itu karena ucapan Tae Sang barusan.
"Aku tidak ma...,"
"Aku memaksa," potong Tae Sang cepat. " Jadi, panggil aku oppa, dan aku akan mengembalikan barang-barang ini." Tae Sang melambaikan ikat rambut dan kacamata Song Eun, sengaja mengolok-oloknya.
Kembali Song Eun menghela napas. Entah karena kesal atau justru karena perasaan lain yang kembali mencuat di hatinya. Namun, ia tahu ia tak bisa menolak perintah Tae Sang.
"Baiklah, Oppa."
Tae Sang tersenyum samar. Lalu mendorong tubuh Song Eun lebih dekat ke halte yang tinggal beberapa meter lagi. Tepat saat mereka tiba di sana, bus yang ditunggu akhirnya tiba.
***
"Annyeong, Song Eun!" sapa Dae Woo, ketua kelas di kelas Tae Sang. Ia adalah orang kesekian di pagi ini yang tiba-tiba menyapa Song Eun.
"Annyeong!"
Song Eun hanya bisa membalas dengan canggung, kemudian mempercepat langkahnya menuju kelas. Ia ingin segera menyembunyikan diri.
Itu semua karena ulah Tae Sang. Pemuda itu ingkar janji karena tidak mengembalikan kacamata dan ikat rambut Song Eun. Jadilah ia harus datang ke sekolah tanpa memakai kacamata dan rambut tergerai.
Sebagai bentuk protes, Song Eun memilih untuk diam. Tak peduli meski Tae Sang bicara banyak hal. Rasa malunya datang ke sekolah dengan penampilan yang berbeda lebih besar dibandingkan rasa takut pada Tae Sang.
Seisi kelas juga melayangkan tatapan penuh tanda tanya ketika Song Eun melangkah masuk. Membuatnya merasa seperti penjahat yang tertangkap dan menjadi tontonan massa. Menyebalkan.
Song Eun memilih tak acuh dan berjalan ke bangkunya tanpa bersuara apa pun. Mengabaikan celetukan jail yang kebanyakan berasal dari para siswa.
"Song Eun?" Shin Ae, gadis berkuncir kuda yang menempati bangku di depan Song Eun bertanya dengan heran. "Kamu terlihat berbeda. Tambah cantik."
Song Eun hanya bisa menghela napas saat Shin Ae mengacungkan ibu jarinya. Meski tahu jika maksudnya adalah pujian, suasana pagi ini membuat Song Eun tidak nyaman menerima hal tersebut.
Celetukan jahil para murid laki-laki dan cibiran para murid perempuan mendadak mendominasi kelas Song Eun. Ia tahu penyebabnya dan tidak ingin peduli. Sedari awal ia tidak suka menjadi pusat perhatian. Sampai sekarang pun masih sama.
"Berterimakasihlah padaku."
Shin Ae terlonjak kaget mendapati Tae Sang sudah ada di hadapannya. Refleks kakinya mundur selangkah, berusaha menjaga jarak dengan pemuda tersebut. Namun, tak hanya dia yang beringsut takut, melainkan hampir seisi kelas yang kini berubah sunyi seketika. Mungkin akan ada pengecualian jika Hong Ki sudah datang. Sayangnya, pemuda itu belum terlihat batang hidungya.
"Kembalikan, Pembohong," pinta Song Eun sembari menengadahkan tangan. Ia terlalu jengkel hingga tidak menyadari jika kini bukan hanya dirinya yang jadi pusat perhatian, tetapi Tae Sang juga.
Dengan tawa yang terkesan sinis, Tae Sang menunjukkan dua benda milik Song Eun yang tadi ia sita.
"Sesuai janji, aku kembalikan jika kamu ...,"
"Tolong kembalikan kacamataku, Oppa," pinta Song Eun dengan raut wajah enggan. Namun, lagi-lagi dia tidak menyadari jika ucapannya sukses membuat seisi kelas terperangah.
"Anak pintar," puji Tae Sang. Ia melakukan satu hal yang langka. Tersenyum. Bukan lagi senyuman sinis, tapi senyum bahagia yang benar-benar sulit dipercaya.
Segera setelah memberikan kacamata dan ikat rambut milik Song Eun, Tae Sang berbalik. Bersiap pergi. Namun, tatapan para penghuni kelas Song Eun memaksanya berhenti.
"Oh, ya, mungkin ada yang belum tahu. Siapa pun yang ingin mendekatimu, katakan untuk menghadapiku dulu." Tak menunggu reaksi Song Eun, segera setelah mengatakan itu Tae Sang kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kelas.
Song Eun terpaku di tempat. Menyadari jika yang tersisa di kelasnya kini hanya hening.
***