Something Called Love

Something Called Love
Perasaan



"Song Eun, pulanglah. Biar kami yang membereskan semuanya. Kasihan pacarmu sudah menunggu dari tadi," ucapan Na Ri, salah satu pelayan di kedai ramyeon membuat mata Song Eun terbelalak.


"Mwo? Sejak kapan aku punya pacar, Unnie?"


"Mana aku tahu. Kan, kalian yang pacaran," jawab Na Ri tak acuh lalu mendorong tubuh Song Eun keluar dari dapur. "Ayo cepat pulang sana. Dia pasti sudah lelah berdiri di sana sedari tadi."


Song Eun akhirnya menurut. Ia keluar dari dapur setelah berpamitan juga pada pegawai yang lain. Namun, reaksi mereka hampir sama dengan Na Ri. Mengungkit-ungkit tentang pacar yang tak pernah Song Eun miliki. Dan, mereka semua hanya tertawa tak peduli ketika ia menyangkal. Sepertinya, hari ini semua orang jadi aneh tanpa sebab.


"Sudah selesai?"


Song Eun hampir saja terjungkal ketika menuruni tangga di depan kedai. Bukan karena ia tidak hati-hati, tapi karena ia terkejut melihat siapa yang baru saja bertanya padanya.


"Kenapa ada di sini?" tanya Song Eun yang beruntung karena bisa segera berpegangan pada dinding di dekatnya. Ia selamat dari insiden jatuh yang pasti akan sangat memalukan.


"Aku juga kerja di sini. Kalau-kalau kamu lupa."


Tentu saja Song Eun tahu hal itu. Yang ingin ia tahu adalah alasan laki-laki di hadapannya sekarang belum beranjak pulang. Padahal, jam kerjanya sudah berakhir satu jam yang lalu.


Kedua mata Song Eun membulat sempurna. Jangan-jangan yang dimaksud Na Ri dan yang lain sebagai pacarnya adalah laki-laki yang kini tengah berdiri di depannya sekarang.


Kim Tae Sang.


"Apa kamu ada perlu denganku?" tanya Song Eun hati-hati. Ia tidak mau terbuai dengan prasangka yang sama sekali tak berdasar. Tindakan aneh Tae Sang hari ini pasti karena pemuda itu memiliki sesuatu yang penting untuk dikatakan.


"Ayo kita pulang!" ajak Tae Sang. Sengaja tidak menjawab rasa ingin tahu Song Eun.


"Jadi, tidak ada sesuatu yang penting?"


Tae Sang menghela napas. Lalu menarik tangan Song Eun agar segera mengikutinya. Dengan sedikit tertatih, Song Eun berusaha menjajari langkah pemuda itu.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh," pesan Tae Sang dalam perjalanan mereka menuju halte bus.


Song Eun memandang pemuda itu dengan tatapan tak mengerti.


"Aku tidak melakukan ini sebagai pacarmu. Jadi, jangan salah paham seperti yang lain."


Oh, jadi Tae Sang mendengar semua olok-olok Na Ri dan yang lainnya pada Song Eun tadi. Rasanya sangat memalukan. Song Eun ingin membenamkan saja tubuhnya ke tanah sekarang.


Tae Sang tidak menjawab. Pemuda itu tengah sibuk memandangi jalanan Daegu di malam hari. Tidak terbiasa berjalan bersama seorang gadis seperti sekarang membuatnya sedikit merasa canggung. Ia mengalihkan pandangan hanya untuk mengurangi kecanggungan di antara mereka.


"Memangnya tidak pernah ada laki-laki yang, ya, kamu tahu maksudku, kan?" Tae Sang tiba-tiba saja menanyakan hal yang sensitif. Sesuatu yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Song Eun tertawa kecil. Merasa lucu sekaligus miris. Apa akan sangat memalukan jika ia berkata jujur? Bahwa Tae Sang lah yang pertama melakukannya?


"Memangnya siapa yang mau melakukan hal semacam itu untuk gadis sepertiku? Kalaupun ada, aku bertaruh mereka sedang mabuk dan tak mengenaliku."


"Kamu bicara seolah kamu adalah gadis paling tidak menarik di bumi."


"Ya, memang begitu adanya," desah Song Eun.


Keduanya telah tiba di halte bus. Ada seorang pemuda yang tengah duduk di sana sendirian. Song Eun mengenalinya. Pemuda itu kerap terlihat di sana saat ia pulang dari kedai. Meski begitu mereka tak pernah sekadar saling bertegur sapa. Song Eun hanya tahu jika pemuda itu selalu naik bus setelah Song Eun naik.


Tae Sang membiarkan Song Eun duduk terlebih dulu di samping pemuda tadi. Ia juga melirik ke arah pemuda itu sekilas sebelum akhirnya tersenyum sinis.


Tiba-tiba Tae Sang duduk di samping Song Eun, lalu dengan santainya merangkul pundak gadis itu. Ia tak tahu jika tindakannya membuat Song Eun hampir tak bisa bergerak.


"Seringlah tersenyum. Itu akan membuatmu semakin cantik." Bahkan ucapan Tae Sang pun di luar dugaan.


Song Eun hanya bisa bengong. Menatap Tae Sang dengan sejuta tanda tanya di kepalanya.


"Hei, benar begitu, kan?" Tae Sang melontarkan pertanyaan pada pemuda yang ada bersama mereka berdua.


Pemuda tersebut sontak menoleh dan tanpa sengaja bertemu pandang dengan Song Eun. Hanya beberapa detik. Setelah itu ia cepat-cepat berpaling. Namun, ada sederet kalimat singkat yang diucapkannya sebagai jawaban untuk Tae Sang.


"Ne. Dia cantik."


Tae Sang tersenyum puas. Sementara Song Eun masih kebingungan dengan situasi yang dihadapinya. Ia juga baru menyadari jika lengan Tae Sang masih bertengger di pundaknya.


Bermaksud untuk melepaskan diri, Song Eun justru semakin terdiam ketika Tae Sang mencegah tindakannya dan membisikkan sesuatu.


"Tenanglah. Aku sedang menguji perasaan seseorang."


***