
Kim Ye Na tak dapat menahan diri begitu mendengar bel istirahat berbunyi. Dengan langkah tergesa ia pergi menuju kelas Sarah. Ia sudah bertekad untuk melakukan segala cara demi mendapatkan hati Lee Hong Ki. Cara terkekang dengan mengirim preman untuk mengganggu Sarah pun sudah ia jalankan, tetapi gadis itu malah membuatnya harus berurusan dengan Tae Sang. Tak ingin menyerah, ia memutuskan untuk memakai cara mudah, meminta langsung pada Hong Ki dan Sarah.
Tiba di sana, Ye Na mendapati Sarah sedang bercengkerama dengan Hong Ki. Keduanya sesekali tertawa bersama. Entah apa yang lucu bagi mereka, tetapi Ye Na merasa dirinyalah yang menjadi bahan tertawaan. Kebersamaan kedua orang itu nyata-nyata mengusik Ye Na.
Tak mengindahkan pandangan penuh tanda tanya dari teman-teman sekelas Sarah, Ye Na mengarahkan langkahnya menuju bangku gadis itu. Membuat percakapan Sarah serta Hong Ki terhenti dan teralihkan pada kedatangannya.
"Ye Na?" tanya Sarah heran sewaktu gadis itu menghampiri bangkunya.
"Jauhi Hong Ki Oppa, Sarah." Ye Na to the point. Percuma berbasa-basi, karena dia sudah lelah menahan diri melihat kedekatan mereka.
Sarah dan Hong Ki saling bertukar pandang. Gadis cantik yang berdiri di hadapan mereka itu tampaknya berniat mencari keributan. Kata-kata Ye Nya tentu saja berhasil menarik perhatian penghuni kelas yang lain. Sebagian dari mereka sengaja mendekat, sedangkan sisanya pura-pura tak acuh, tetapi sebenarnya memasang baik-baik telinga mereka. Kejadian luar biasa mungkin saja akan terjadi dan mereka tidak ingin melewatkannya.
"Ye Na, berhenti bersikap kekanakan. Kamu tidak berhak memerintah Sarah seperti itu," tegur Hong Ki.
"Aku berhak. Dia membuatmu berpaling dariku, Oppa. Dia merebutmu dariku." Nada suara Ye Na meninggi, disertai keparauan karena ia menahan tangis. Namun, tak ada yang tahu apakah tangisan itu hanya pelengkap drama yang sedang ia mainkan atau memang benar-benar ekspresi perasaannya yang sedih.
"Aku bukan milikmu, Ye Na," bantah Hong Ki. Ia tidak suka cara Ye Na mengakui dirinya seperti sebuah barang. "Dan, tidak ada yang merebutku darimu."
Melihat Sarah yang tidak memberikan pembelaan apa pun membuat Ye Na jengkel. Ia ganti tertawa sinis. Sikapnya membingungkan, terutama bagi yang menonton. Beberapa detik yang lalu Ye Na datang dengan marah, lalu berseru sembari menangis dan sekarang justru tertawa. Ye Na hanya tak bisa menahan perasaannya yang campur aduk. Gadis bertampang polos seperti Sarah benar-benar memuakkan baginya.
"Gadis ini tidak menyukaimu, Oppa. Dia hanya berkedok polos untuk mendapat perhatianmu. Di belakang kita semua, orang-orang seperti Tae Sang dan Black-lah yang ia inginkan." Berapi-api Ye Na menyuarakan isi hatinya, tetapi reaksi Hong Ki justru jauh dari yang ia harapkan. Jangankan memeercayai ucapannya, pemuda itu justru menunjukkan ekspresi benci yang sangat kentara.
"Ye Na, hentikan!" Hong Ki berusaha menahan emosi mendengar semua ocehan Ye Na. Nada suaranya bisa meninggi kapan saja jika Ye Na tidak segera menghentikan ulahnya.
"Aku sangat membencimu, Sarah. Hong Ki Oppa adalah milikku. Tidak akan kubiarkan kamu merebutnya." Ye Na mengatakan hal tersebut tidak hanya dengan raut muka penuh amarah. Ia mendekat ke arah Sarah yang segera berdiri untuk menenangkannya, lalu mendorong gadis itu hingga terhuyung. "Enyahlah, Pengganggu!"
"Kim Ye Na!" Hong Ki tak dapat lagi menahan diri. Baginya tindakan Ye Na sudah keterlaluan. Ia menarik tubuh Ye Na menjauh dari Sarah. Sorot matanya yang penuh amarah menatap gadis itu tajam, membalas perkataannya dengan nada tinggi. "Aku bukan milikmu dan tidak akan pernah jadi milikmu sampai kapan pun. Ingat itu baik-baik!"
"Oppa," lirihnya. Masih tak percaya pada semua perkataan Hong Ki. Berharap itu hanya mimpi buruk yang akan lenyap begitu ia terbangun. Namun, kata-kata pemuda itu menyadarkan Ye Na sekaligus membuat air matanya mengalir semakin deras. Kalimat yang mungkin tak akan ia lupa sama seperti kenangan pertemuan pertama mereka dulu.
"Dan, kamulah yang seharusnya pergi, Pengganggu!"
Semua orang tercekat. Tak menyangka jika Hong Ki sampai mengeluarkan kalimat semacam itu. Tak terkecuali Sarah. Ia menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Hong Ki yang begitu baik dan perhatian padanya berubah seratus delapan puluh derajat pada Ye Na.
Ye Na tak dapat lagi membendung tangisnya. Meski tak mengatakan apa pun, semua orang bisa melihat air mata yang mencerminkan kesedihannya.
Ada sesuatu yang baru saja Sarah ketahui tentang Hong Ki. Pemuda itu tak berperasaan. Ia jadi mempertanyakan semua kebaikannya pada Sarah selama ini. Sejahat apa pun Ye Nya, dan meski ia tidak menyukai gadis itu, Hong Ki tidak berhak mempermalukannya di depan umum seperti itu.
"Jangan pedulikan dia," hadang Hong Ki sewaktu kaki Sarah hendak menyusul Ye Na. "Biar dia berhenti bersikap kekanakan."
Sarah tak menggubris larangan Hong Ki. Ia justru merasa sangat kecewa. Tanpa sadar benaknya membayangkan sosok Min Hyuk yang pasti tak akan bersikap demikian. Pemuda itu hanya akan berpura-pura tidak peduli meski diam-diam justru memberi perhatian.
"Kamu sudah keterlaluan, Hong Ki-ssi," seru Sarah seraya menepis tangan Hong Ki. Kakinya tetap melangkah, menyusul Ye Na yang sudah berlari menjauh. Ia tidak tahu reaksi Ye Na padanya nanti. Kemungkinan besar gadis itu akan semakin marah padanya. Namun, ia tidak peduli.
Sarah tahu bagaimana rasanya. Rasa tidak diinginkan, tidak diharapkan oleh seseorang yang berarti untuknya. Bahkan, sedih yang melanda Sarah kala Min Hyuk menolaknya dulu masih begitu terasa. Padahal mereka baru kenal. Perasaan Sarah baru saja tumbuh. Pasti jauh lebih menyakitkan bagi Ye Na yang sudah menyukai Hong Ki bertahun-tahun.
Sudah sewajarnya Sarah marah pada Ye Na. Gadis itu selalu bersikap buruk padanya. Mulai dari berpura-pura menjadi temannya hingga berbuat jahat padanya. Sarah bisa saja membiarkan Ye Na dan menyumpahi gadis itu karena akhirnya mendapat balasan. Namun, tak dapat dipungkiri jika rasa kasihan lebih menguasai hatinya. Itulah kenapa ia mengejar Ye Na. Ingin menghibur gadis itu. Sebab ia pun yakin, tak akan ada yang melakukannya. Kim Ye Na selalu sendirian. Gadis itu sebenarnya kesepian.
Lalu, apakah sikap Sarah salah?
***