
Song Eun membawa dua kaleng minuman soda di tangan dan bergegas menuju taman depan perpustakaan. Tae Sang sudah menunggunya di sana.
Sebenarnya taman depan perpustakaan adalah tempat favorit Song Eun dan Sarah menghabiskan waktu istirahat mereka. Namun, Sarah berbaik hati memberinya kesempatan untuk mengajak Tae Sang ke sana. Sarah bahkan bersedia mengatasi Hong Ki agar tidak sampai mengganggu acara kecil Song Eun. Jadi, Song Eun tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
Sarah belum sepenuhnya setuju dengan perasaan Song Eun pada Tae Sang. Tentu saja tak semudah itu. Namun, sebagai sahabat ia mencoba untuk mengerti. Selama Song Eun merasa senang, dia tak akan keberatan.
Langkah Song Eun terhenti sebelum ia mencapai taman. Senyum yang sedari tadi menghiasi bibirnya memudar seketika saat ia menangkap pemandangan yang tak ia harapkan.
Tae Sang dan Ye Na. Tengah duduk berdampingan di salah satu bangku di taman depan perpustakaan. Song Eun tak tahu persis apa yang tengah mereka bicarakan. Ia hanya bisa berusaha menepis rasa tak suka yang mendadak muncul saat Tae Sang mengelus rambut Ye Na.
Song Eun menguatkan genggamannya pada minuman soda yang ia bawa. Sebersit kesal mengisi hatinya dengan cepat. Berusaha mendobrak keluar pertahanan emosi yang selama ini selalu berhasil ia tahan.
"Seharusnya aku tahu," gumam Song Eun. Meski ia pernah mendapatkan perlakuan yang sama dari Tae Sang, maknanya tentu saja berbeda. Dengan Ye Na, Tae Sang memakai hatinya. Tentu saja, karena gadis itulah yang memiliki hati Tae Sang. Sementara Song Eun hanya gadis baik hati yang ingin Tae Sang lindungi sebagai bentuk balas budi.
Song Eun segera berbalik. Tepat saat Tae Sang menyadari kehadirannya. Sembari berusaha mengenyahkan perasaan konyol tentang dirinya dan Tae Sang, Song Eun mempercepat langkahnya menuju kelas.
"Song Eun?" Sebelum mencapai kelasnya, Song Eun berpapasan dengan Sarah. Tak perlu bertanya banyak hal, Sarah bisa melihat ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu dari raut wajahnya. "Kamu kenapa?"
"Maukah kamu menemaniku kembali ke kelas, Sarah?"
Tak perlu berpikir, Sarah segera menyetujuinya. Dia memang khawatir pada Ye Na, tetapi jika harus memilih, Sarah sudah tentu akan lebih mendahulukan Song Eun.
Kedua gadis itu lalu berjalan beriringan. Menuju kelas dengan pemikiran masing-masing. Tak menyadari sosok Tae Sang yang mengamati keduanya dari kejauhan dengan dahi berkerut.
Pemuda itu merasa ada sesuatu yang aneh dengan Song Eun, tetapi tak tahu apa. Tadinya Tae Sang bermaksud menghampiri Song Eun dan mengajaknya pergi ke suatu tempat. Namun, sepertinya gadis itu akan menolak mentah-mentah rencana Tae Sang untuk membolos. Karenanya, ia memilih untuk berbalik dan melakukannya sendirian.
***
"Sedang apa kamu di sini?"
Min Hyuk yang baru saja selesai berdoa menoleh dan mendapati Tae Sang berdiri di sampingnya. Di tangan pemuda itu terdapat seikat bunga krisan putih, sama seperti yang baru saja Min Hyuk letakkan di atas makam di depannya.
"Hanya berkunjung, sama sepertimu," jawab Min Hyuk lalu mundur dua langkah. Memberi Tae Sang kesempatan untuk melakukan hal yang sama dengannya.
Meski tampak tak suka dengan jawaban lawan bicaranya, Tae Sang memilih untuk tak peduli. Ia lalu berjongkok di depan makam bertuliskan nama Kim Hye Ran di nisannya. Meletakkan bunga yang ia bawa di atas sana kemudian memanjatkan doa sembari terpejam.
Beberapa saat kemudian, Tae Sang membuka mata. Ia menatap nama Hye Ran di batu nisan dengan sorot mata sedih. Setahun kembali berhasil ia lalui tanpa gadis itu. Namun, setahun lagi juga ia membuang waktu karena belum berhasil membalas Min Hyuk.
"Oppa sangat merindukanmu, Hye Ran," lirihnya sembari menyentuh batu nisan di hadapannya.
Setelah puas melepas rindu,Tae Sang bangkit dan berjalan pergi. Namun, kesedihannya segera berubah menjadi amarah ketika dilihatnya Min Hyuk masih ada di sana. Seperti sengaja menunggu Tae Sang.
Tanpa isyarat apa pun, Tae Sang melayangkan sebuah tinju pada Min Hyuk yang oleng karena tidak siap. Pukulan Tae Sang berhasil meninggalkan luka di sudut bibirnya.
"Enyahlah dari sini!" bentak Tae Sang.
Min Hyuk bergeming. Ia mengusap darah pada luka di bibirnya, lalu menatap Tae Sang tajam. Masih tanpa kata-kata.
"Aku berhak berada di sini. Bagaimanapun juga aku pernah menjadi orang yang penting bagi Hye Ran," jawab Min Hyuk yang justru semakin menyulut emosi lawannya.
"Berani-beraninya kamu bicara begitu. Sialan!" Tae Sang kembali melayangkan pukulan, tetapi kali ini berhasil ditahan oleh Min Hyuk. "Hye Ran sudah banyak tersakiti olehmu. Kamu menunggunya mati untuk mau peduli padanya. Gadis itu, gadis pujaanmu, dia yang akan menanggung semua kesalahanmu."
Min Hyuk seketika meradang mendengar racauan Tae Sang yang sudah terkuasai amarah. Ia tahu siapa yang pemuda itu maksud. Sarah.
"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya," ancam Min Hyuk sembari menangkap tangan Tae Sang dan menguncinya. Dengan sekali sentakan, tubuh Tae Sang terdorong ke belakang beberapa meter. Ia bisa merasakan nyeri pada tangannya yang baru terlepas dari kuncian Min Hyuk.
"Dan, jangan lupa, Tae Sang! Aku lebih kuat darimu. Dulu maupun sekarang," lanjut Min Hyuk sembari tersenyum meremehkan.
Rahang Tae Sang mengeras. Tangannya mengepal kuat, bersiap melawan balik pemuda yang paling dibencinya itu. Ia tahu, Min Hyuk lebih unggul darinya dalam setiap perkelahian. Akan tetapi, itu sama sekali tak berarti jika ia gentar untuk menghadapinya.
"Jadi, kamu mengakuinya sekarang? Gadis itu berarti untukmu." Senyum licik Tae Sang menghiasi wajahnya. "Kita lihat saja, apa ia akan menganggapmu sama jika tahu tentang Hye Ran."
Min Hyuk maju selangkah. Memperpendek jarak antara dirinya dan Tae Sang. Ada dilema tersendiri dalam hatinya. Tentang rasa bersalahnya pada Hye Ran, juga perasaannya pada Sarah. Dan, membayangkan jika Sarah harus tersakiti karena dirinya menjadikan amarah Min Hyuk meluap. Lebih ditujukan pada dirinya sendiri.
Kenapa?
"Kim Tae Sang!"
Emosi Min Hyuk tak dapat lagi terbendung. Tangannya mengarah ke wajah Tae Sang, mengincar bibir yang kerap mencetak senyum sinis padanya.
Tae Sang dengan gesit menghindar. Batinnya tertawa puas karena sang musuh berhasil terpancing.
Di bawah langit sore, di antara gundukan tanah berisi tubuh-tubuh tanpa nyawa yang berbaring dalam damai, kedua pemuda itu beradu tinju. Berusaha saling menjatuhkan. Meluapkan amarah untuk orang yang berbeda, tetapi dengan alasan yang sama.
Cinta.
***