
Tae Sang mengintip ke luar jendela kamarnya. Langit masih gelap. Diliriknya jam dinding yang masih menunjuk angka lima. Tidak biasanya ia terbangun pada jam segini. Lebih baik ia tidur lagi saja.
Ia sudah bersiap memakai kembali selimutnya ketika muncul seseorang di depan pagar. Terbiasa waspada, Tae Sang urung bergelung selimut dan bergegas keluar.
"Berhenti!" perintah Tae Sang begitu berhasil tiba di depan rumahnya. Ia membukanya dengan kasar dan mendapati sosok tadi sudah hendak pergi.
Sosok itu pun berhenti. Buru-buru Tae Sang mendekat dan meraih bahunya.
"Siapa kamu?"
Sosok itu ternyata seorang pemuda sebaya Tae Sang. Tidak ada yang aneh dengan penampilannya kecuali sebuah name tag yang terpasang di saku kemejanya.
Lee Jeong Jin
"Saya petugas pengantar susu," jawab pemuda tersebut dengan tubuh gemetar. Ia juga terus menunduk, tak berani menatap Tae Sang.
Tae Sang melirik pintu rumahnya. Ada sebotol susu di sana, seperti yang ia temui setiap pagi. Jadi, pemuda ini yang meletakkannya.
"Tapi aku tidak pernah membelinya padamu."
"Maaf, Hyung. Aku juga tidak tahu. Aku hanya bertugas mengantar. Tapi susu itu memang dibeli atas nama orang lain."
Tae Sang memicingkan sebelah matanya. Ia ingin mendengar kelanjutan informasi yang menarik itu.
"Siapa?"
"Atas nama Han Song Ja."
Tae Sang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sama sekali tidak punya ide tentang siapa pemilik nama itu.
"Boleh aku pergi sekarang, Hyung?" tanya Lee Jeong Jin yang masih ketakutan.
Tae Sang mengamati wajah pemuda itu dengan seksama. Mereka jelas-jelas baru bertemu hari ini. Tidak saling mengenal. Namun entah kenapa Tae Sang merasa pemuda bernama Lee Jeong Jin itu seperti mengenalnya. Terlebih caranya memanggil Tae Sang dengan sebutan hyung. Seolah mereka benar-benar kakak beradik. Kakak yang galak dan adik yang penakut.
Tae Sang bisa saja menahan dan menginterogasinya. Mencari tahu lebih banyak tentang orang yang bernama Han Song Ja. Namun, ia rasa tidak sekarang. Toh, besok pemuda itu juga pasti akan mengantarnya lagi.
"Pergilah!" putus Tae Sang akhirnya.
Lee Jeong Jin bergerak cepat. Setengah berlari menuju pagar. Bergegas pergi sebelum Tae Sang berubah pikiran.
Tae Sang menarik napas dalam. Ia bukan orang jahat. Namun sikap Lee Jeong Jin tadi menunjukkan betapa ia sangat menakutkan bagi orang lain.
Ah, apa pedulinya? Kalaupun ada yang ia pedulikan sekarang, itu adalah orang yang bernama Han Song Ja tadi.
Mungkin hanya sebotol susu bagi orang lain. Namun bagi Tae Sang, itu adalah sebuah perhatian. Hal yang selalu ia inginkan selama ini, tetapi tak kunjung datang. Sebotol susu yang bahkan tak pernah ditawarkan orangtuanya. Dan, siapa pun Han Song Ja, ia harus berterima kasih pada beliau.
***
Ye Na berdiri bersandar pada dinding koridor di depan kelas Tae Sang. Kalut. Bimbang.
Ia ragu akan keputusannya. Mendatangi Tae Sang dan meminta bantuannya bukanlah pilihan yang bagus. Berada dalam lingkungan yang sama dengan pemuda berandal itu saja sudah bagai mimpi buruk. Namun Ye Na tahu pasti kelemahan orang-orang semacam Tae Sang.
"Tae Sang ssi!" Suara Ye Na bergetar ketika memanggil pemuda itu. Belum sepenuhnya yakin. Ia bahkan tanpa sadar mundur selangkah saat Tae Sang menatapnya.
Sama sekali tidak menjawab, Tae Sang hanya diam. Menunggu Ye Na mendekat. Harapan yang selalu terbit ketika melihat gadis berambut panjang itu.
"Bisakah kita bicara?"
Tae Sang semakin lama menatapnya. Heran. Bingung. Untuk pertama kalinya seorang Ye Na menghampiri, dan mengajaknya bicara. Namun ia mengabaikan semua hal itu. Karena hal terpentingnya adalah, untuk apa gadis itu mendatanginya?
"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?"
Ye Na menggigit bibir bawahnya. Keraguan sama sekali tak beranjak. Namun sisi lain dirinya terus mendesak agar segera melanjutkan niat. Maka, ia menarik napas dalam lalu memantapkan hati untuk kembali bicara.
"Aku ingin meminta bantuanmu."
***
Sarah berlari kecil saat menuju pintu keluar perpustakaan. Di tangannya tergapit sebuah buku dengan seratus halaman. Hasil karyanya selama berjam-jam.
Penghujung pelajaran di kelas Sarah hari ini adalah mimpi buruk. Nyonya Choi, wanita limapuluh tahun yang juga guru Sejarah adalah mimpi buruk itu. Gara-gara Sarah tak bisa menjawab salah satu nama pahlawan nasional Korea di zaman dinasti Joseon, beliau dengan santainya memberi Sarah hukuman yang membuat jari tangannya keriting.
Bayangkan saja. Menulis kalimat 'saya berjanji akan menjadi warga negara yang baik dengan belajar sejarah lebih giat lagi' sebanyak seratus halaman. Hukuman yang sukses membuat Sarah jera untuk mengabaikan nama para pahlawan nasional.
Sebenarnya ia bisa saja berdalih, jika sejak kecil ia tinggal di Indonesia. Baru lima tahun yang lalu ia menetap di Korea. Akan tetapi mengingat cerita Song Eun, ia memilih diam. Nyonya Choi tidak suka dibantah. Sarah juga tidak ingin mendapat tambahan hukuman. Katakan saja itu sudah nasib buruknya. Atau salahnya sendiri tak serajin Song Eun atau sepintar Hong Ki.
Setelah menyerahkan tugasnya pada petugas perpustakaan sesuai perintah nyonya Choi, ia bergegas keluar.
Sekolah sudah sepi. Hanya ada beberapa siswa saja yang masih tampak berkeliaran. Sarah mengambil ponselnya dari dalam tas dan menemukan sebuah pesan dari Song Eun.
Aku ada di kantin
Pasti gadis itu kelaparan. Sarah tersenyum kecil setelah membacanya.
Langkah Sarah bergerak menuju kantin. Tanpa sadar melewati tangga yang mengarah ke atap. Membuatnya terhenti seketika.
Min Hyuk
Sarah akui, tidak mudah melupakan Min Hyuk. Ia harus berusaha keras menahan diri untuk tidak menemuinya. Ada sejuta alasan yang bisa ia buat untuk bisa menghampiri pemuda itu. Namun anehnya, sulit mencari satu saja alasan kuat untuk Sarah menjauh darinya.
Semoga dia sudah membaca suratku waktu itu.
Sarah teringat pesan yang ia tulis dan ia berikan bersama hadiah dari paman Min Hyuk. Kata-kata yang ia harap bisa menjadi hadiah sederhana untuk ulang tahun Min Hyuk. Kemungkinan besar pemuda itu membuangnya. Namun apa salahnya sedikit berharap?
Menarik napas dalam, Sarah bertekad untuk pergi. Berada di sana lebih lama lagi akan membuatnya goyah. Ia sudah memutuskan. Menjauh dari Min Hyuk.
Baru saja tubuhnya berbalik, gerakan Sarah terhenti kembali. Tae Sang muncul dan menghadang langkahnya. Tepat di hadapannya.
"Mau ke mana? Menemui pangeranmu yang pengecut itu?" ejek Tae Sang dengan seringai di bibirnya.
Kehadiran pemuda itu sama sekali bukan pertanda baik. Sarah harus pergi secepat mungkin sebelum terjerat masalah.
"Biarkan aku lewat," pinta Sarah. Tubuhnya mulai berkeringat dingin. Aura Tae Sang selalu menakutkan untuknya.
Sudah jelas Tae Sang tidak akan menuruti permintaan Sarah. Namun gadis itu tersentak sekaligus takut saat Tae Sang menjawab dengan menarik tangannya kasar.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" Sarah berusaha berontak. Namun tenaganya kalah kuat. Tae Sang terus saja menariknya menaiki tangga menuju atap.
"Diamlah!" bentak Tae Sang yang jengah dengan usaha Sarah untuk melepaskan diri. Ia hanya berharap semuanya cepat selesai.
Tae Sang lalu berhenti di salah satu anak tangga yang cukup luas. Melepaskan tangan Sarah dari cekalannya. Beralih mendorong tubuh gadis itu ke dinding.
"Berteriaklah!" perintahnya.
Sarah bergeming. Ia tahu, Tae Sang ingin memancing Min Hyuk. Dan, ia tidak mau. Sarah tidak akan membuat Min Hyuk dalam bahaya. Tidak akan pernah.
"Aku bilang berteriaklah!" Kali ini suara Tae Sang meninggi. Geram melihat sikap diam Sarah. "Lakukan sekarang atau kamu akan menyesalinya."
Sarah masih bergeming. Ia berusaha untuk berani. Menganggap Tae Sang tidak serius dengan kata-katanya. Sayangnya, dugaan Sarah meleset.
Tae Sang menggeram marah. Dia mencengkeram kedua bahu Sarah dengan kuat. Sorot matanya tajam dan menakutkan.
"Baiklah. Aku sudah memperingatkan. Dan, pilihanmu adalah pecundang itu." Tae Sang mendesak tubuh Sarah ke dinding. Lebih rapat. Bisa dirasakannya tubuh gadis itu gemetar. Namun, ia tak peduli.
Hanya ada satu orang gadis yang Tae Sang cinta. Kim Ye Na. Akan tetapi, demi dia Tae Sang rela melakukan apa pun. Termasuk membuat gadis di depannya sekarang menyesal telah mendengar nama Tae Sang.
Wajah Tae Sang sudah begitu dekat dengan wajah Sarah. Hanya tinggal beberapa senti saja ia bisa mencium gadis itu, saat tiba-tiba tubuhnya ditarik dengan kasar dari belakang. Belum sempat melihat pelakunya, wajah Tae Sang sudah dihadiahi sebuah pukulan.
Sudah jelas. Itu Min Hyuk. Tae Sang sangat hafal pukulannya. Fakta itu membuatnya tersenyum puas, meski kemudian pukulan lain datang bertubi-tubi. Tak memberinya kesempatan untuk menghindar atau pun melawan.
"Brengsek!" maki Min Hyuk. Dadanya naik turun, wajahnya merah padam. Ia benar-benar marah dengan kelakuan Tae Sang.
Babak belur, Tae Sang justru tertawa senang. Tak peduli meski semua tinju yang Min Hyuk layangkan membuatnya terkapar tak berdaya.
Segera setelah tubuh Tae Sang roboh, Min Hyuk mencekal lengan Sarah dan menariknya pergi. Gadis itu tampak masih shock.
"Apa yang sebenarnya kamu lakukan, hah?" Min Hyuk tak dapat lagi menahan emosinya. Ia berbicara pada Sarah dengan nada tinggi begitu mereka sudah berada di koridor. Namun gadis itu hanya diam mendengarkan sembari menatapnya takut.
"Sudah kubilang, jauhi aku. Lalu kenapa kamu masih datang ke atap? Lihat akibatnya sekarang!"
"Mianhae."
"Berhenti mengatakannya. Aku hanya butuh satu hal darimu. Jauhi aku. Benar-benar jauhi aku." Nada suara Min Hyuk masih tinggi, tetapi tersirat sebuah harapan kecil dalam ucapannya kali ini. "Dengar itu baik-baik. Cukup sudah. Setelah ini, aku tidak akan peduli dengan apa yang terjadi padamu. Karena kamu hanya membuat hidupku terganggu."
Itu adalah kalimat terpanjang yang pernah Sarah dengar dari Min Hyuk. Sekaligus pernyataan yang menyakitkan untuknya.
"Menjauhlah dariku, Pengganggu!"
Sarah menyukai Min Hyuk. Ia bahkan rela memendam perasaannya demi pemuda itu. Kalau saja Min Hyuk tahu jika Tae Sang yang berulah, Sarah yakin pemuda itu tidak akan menyebutnya pengganggu.
Tidak dapat dipungkiri, kalimat itu melukai hati Sarah. Selama ini dia berharap sesuatu yang baik untuk Min Hyuk. Akan tetapi, ternyata dia justru banyak melakukan hal sebaliknya. Ternyata Min Hyuk begitu membencinya.
Min Hyuk tak menunggu respon dari Sarah. Gadis itu menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan tangisnya yang mulai mengalir.
Batin Min Hyuk mendadak cemas. Ia tidak bisa menyaksikan air mata Sarah dan hanya diam. Lebih tidak bisa lagi untuk mendekat dan menghapusnya.
Dengan cepat Min Hyuk berbalik. Bergegas pergi meninggalkan Sarah sendirian. Memaksa dirinya untuk mengabaikan gadis itu.
Sarah terisak. Selain air mata, seperti ada benda tajam yang menggores hatinya. Namun, rasa itu tak sanggup terucap. Mengendap bersama keheningan yang kini menyelimutinya.
"Sarah!" Suara lembut Song Eun mengisi keheningan yang baru saja tercipta. Ia mendekat, meraih tubuh Sarah lalu memeluknya. Membiarkan gadis itu menumpahkan tangis.
"Mianhae. Aku harusnya datang lebih cepat," sesal Song Eun.
Tak ada jawaban. Sarah masih menghabiskan isak tangisnya. Menyisakan Song Eun yang menatap nanar kepergian Min Hyuk.
Black. Song Eun tahu sekarang siapa dia sebenarnya.
***
Hyung : panggilan laki-laki untuk kakak lelaki
***