
Langit malam ini bertabur bintang. Hitam pekat, tetapi berhiaskan jutaan kerlip yang begitu indah.
Tae Sang melangkahkan kaki menyusuri jalanan menuju rumahnya. Pemandangan langit yang terhampar di atasnya mau tidak mau membuat pemuda itu mendongak. Ia memang bukan laki-laki yang romantis. Akan tetapi, ia mengakui jika permata alam yang tengah berkelip di atas sana sungguh layak untuk dikagumi.
Terkadang, Tae Sang begitu iri pada bintang-bintang. Mereka selalu muncul dalam kegelapan. Mereka tak peduli dengan sekitar, tetapi tak ada yang mencemoohnya. Justru, bintang kerap menjadi perumpamaan untuk hal-hal yang indah.
Ah, andai saja Tae Sang bisa menjadi mereka. Dalam kegelapan dan kesendirian, masih bisa memberi terang dan dipuja orang lain. Sebenarnya tak perlu sebesar itu. Ia akan sangat bahagia meski orang-orang hanya sekadar menganggapnya ada.
Sembari menghembuskan napas panjang, Tae Sang merapatkan jaket. Malam ini ternyata juga dingin, meski tak sampai membekukan hatinya. Namun, bukankah hati seorang Tae Sang memang telah beku sejak lama?
Jalanan sepi. Hanya tampak beberapa orang yang lewat sejenak. Namun, kedai teh kecil milik tuan Lee-pria tujuh puluh tahun yang masih sangat sehat-yang terletak di depan gang menuju rumahnya, masih buka.
Tae Sang merogoh saku jaket dan menemukan beberapa uang koin di dalam sana. Ia menghitung sejenak, lalu tersenyum simpul. Cukup untuk membeli secangkir teh hangat. Itu terdengar lebih baik untuk anak sekolah seusianya dibandingkan minum soju.
"Harabeoji, aku ingin secangkir teh hangat," ujar Tae Sang setelah sebelumnya mengambil tempat di sebuah bangku kayu kecil di depan kedai.
Tuan Lee tersenyum, lalu menyapa Tae Sang sebelum akhirnya masuk untuk membuatkannya secangkir teh hangat.
"Kudengar nyonya Han Song Ja sakit. Bagaimana kalau setelah ini kita menjenguknya?" Suara seorang wanita di bagian dalam kedai menarik perhatian Tae Sang. Ia melongok ke dalam dan melihat dua orang wanita paruh baya sedang minum teh.
Tae Sang hendak beranjak untuk menghampiri mereka ketika tuan Lee muncul dengan teh pesanannya.
"Harabeoji, apa Anda mengenal orang dengan nama Han Song Ja?" tanya Tae Sang pada tuan Lee. Beliau pasti mengenal orang-orang di daerah ini dengan baik. Bahkan beliau tahu tentang Tae Sang yang jarang sekali keluar rumah selain untuk pergi ke sekolah.
"Han Song Ja? Maksudmu nenek yang tinggal dengan cucu perempuannya itu? Yang rumahnya ada di balik tembok ini?" Tuan Lee menunjuk dinding cukup tinggi yang membentang di tepi komplek rumahnya.
"Mungkin. Aku juga belum pernah bertemu dengannya."
Tuan Lee menoleh ke arah dua wanita tadi sejenak, memerhatikan mereka sejenak, lalu meletakkan cangkir teh di hadapan Tae Sang. Uapnya mengepul cantik. Menggoda dahaga siapa pun di tengah udara malam yang dingin.
"Minumlah dulu tehmu, Anak Muda. Aku bisa meminta mereka berdua menunggumu supaya kalian bisa pergi ke rumah Han Song Ja sama-sama."
Hebat. Tuan Lee bahkan sudah merencanakan hal yang tepat untuk mengobati rasa penasaran Tae Sang. Ia jadi bersemangat.
"Tentu, Harabeoji."
Ini aneh. Tae Sang hanya akan menemui orang bernama Han Song Ja, yang ia yakini adalah orang yang sama dengan yang selalu membelikannya sebotol susu di pagi hari. Dugaannya bisa benar, bisa juga salah. Namun, ia seperti tak peduli.
Han Song Ja.
Tak sabar rasanya mengetahui siapa gerangan orang tersebut.
***
"Sayang, kamu tidak lelah? Ini sudah larut dan kamu masih membuat kue," tegur Sandra yang mendapati putri sulungnya masih berkutat di dapur.
Sarah menoleh dan tersenyum pada sang ibu. Ia paling suka mendengar panggilan 'sayang' yang ibunya katakan dalam bahasa Indonesia. Mereka memang masih sering memakai bahasa tersebut ketika hanya berdua.
"Aku sedang bosan, Eomma. Hanya ini yang menjadi keahlianku sekarang selain menjaga Seung Jo."
Sandra tersenyum lalu merangkul pundak putrinya.
"Tapi tidak selarut ini juga, kan? Memangnya apa yang sedang kamu buat?" Didorong rasa penasaran, Sandra menengok ke dalam loyang kue yang baru saja Sarah keluarkan dari oven.
Aroma kue yang baru matang seketika tercium oleh hidungnya. Begitu wangi sekaligus menggoda selera.
"Blackberry Pie," jawab Sarah seraya menyisihkan loyang tersebut di ujung meja yang agak jauh darinya. Membiarkan kue tersebut lebih dingin.
"Sepertinya enak. Boleh Eomma mencicipinya?"
"Tentu saja boleh." Sarah mengambil sebuah piring lain dari dalam lemari kecil dekat dengan kulkas. Ternyata sudah ada beberapa kue yang matang dan siap makan. "Silakan, Eomma," ujarnya mempersilakan.
Tangan Sandra mencomot sepotong pai dari piring tersebut, lalu memakannya. Reaksinya menunjukkan kepuasan. Berarti kue buatan Sarah rasanya tidak buruk.
"Blackberry. Apa temanmu Hong Ki menyukainya?"
Sarah tidak menyangka ibunya akan menanyakan hal tersebut. Namun, tidak ada kesulitan baginya untuk menjawab.
"Entahlah. Sepertinya tidak. Kenapa, Eomma?"
"Karena sepertinya pemuda itu menjadi inspirasimu dalam membuat kue. Semua kue buatanmu tak pernah lepas dari buah blackberry."
Entah itu tebakan atau tuduhan. Sarah hanya bisa terkejut karena ibunya menyadari hingga hal sekecil itu. Beliau hampir benar dengan kesimpulannya.
Ya, hampir.
"Aigoo! Ternyata Eomma sangat pandai. Itu bisa jadi ide yang bagus. Aku akan membuatkan Hong Ki kue saja. Terima kasih, Eomma," puji Sarah.
Dulu ia pernah memberikan kue buatannya pada Min Hyuk sebagai ucapan terima kasih. Tidak ada salahnya jika ia melakukan hal yang sama untuk Hong Ki. Ia hanya perlu menanyakan kue apa yang pemuda itu suka.
Buru-buru Sarah melepas pot holder di tangannya, lalu berjalan menuju meja makan. Ia mengambil ponselnya yang tadi ia tinggalkan di sana. Tak sabar untuk mengirimi Hong Ki pesan.
Sandra hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya. Namun, tak ada niat untuk mengusik Sarah. Sandra justru memilih melanjutkan pekerjaan putrinya yang belum selesai. Apa lagi jika bukan blackberry pienya tadi.
Sarah sendiri terlalu bersemangat hingga melupakan hasil karyanya di dapur yang belum sempat ia bereskan. Jari-jari tangannya sudah sibuk di atas keypad, mengetikkan sederet tulisan sebagai pesan untuk Hong Ki.
***
Hong Ki sedang berada di sebuah mini market tak jauh dari sekolah. Ia baru saja selesai dengan urusannya bersama guru Bahasa yang membujuknya untuk mengikuti perlombaan. Butuh waktu lama bagi Hong Ki meyakinkan beliau agar mencari orang lain saja. Itulah kenapa ia sampai harus pulang lebih larut.
Sebuah pesan baru saja masuk di ponselnya saat Hong Ki tengah memilih minuman di rak. Senyumnya mengembang begitu melihat nama pengirimnya.
Sarah : Hong Ki-ssi, apa kue kesukaanmu?
Tak perlu menunggu lama, Hong Ki segera mengetik dan mengirimkan pesan balasan.
Hong Ki : kamu mau membuatkannya untukku?
Sarah : Ne ^_^
Hong Ki tak dapat mempercayai penglihatannya. Hanya sebuah pesan singkat, bahkan terlalu singkat. Namun, bisa membuat otot-otot wajahnya bergerak ke atas. Tak dapat tercegah untuk tersenyum.
Sarah akan membuatkannya kue. Bukankah itu terdengar sangat manis? Hong Ki jadi tak sabar untuk mencicipi kue buatan sang gadis pujaan.
Hong Ki membalas pesan Sarah dengan cepat. Setelah itu ia mengambil sebotol jus mangga dari rak dan segera membawanya ke meja kasir. Ia baru saja menerima uang kembalian dari minuman yang ia beli ketika kemunculan seseorang mendadak membuatnya terdiam.
Black.
Pemuda dingin itu baru saja tiba dengan sebotol air mineral di tangan. Lalu meletakkannya di atas meja kasir.
Hong Ki tak dapat mencegah otaknya berkelana ke percakapannya dengan Tae Sang dan Ye Na tempo hari. Juga isi dari pesan yang yang baru diterimanya dari Sarah. Semua hal yang mengaitkan Min Hyuk dengan Sarah.
Tak ingin mematung di sana seperti orang aneh, Hong Ki memilih segera keluar. Meninggalkan Min Hyuk yang masih menunggu kasir menyelesaikan tugasnya. Ia memutuskan untuk menunggu. Berdiri di depan mini market.
Tak lama kemudian, muncul sosok Min Hyuk dari dalam. Pemuda itu berjalan tanpa memperhatikan Hong Ki yang sengaja menunggunya.
"Tunggu!" panggil Hong Ki seraya berusaha menjajari langkah Min Hyuk. "Ada yang ingin kutanyakan padamu."
Seketika Min Hyuk menghentikan langkah, lalu beralih memandang Hong Ki dengan tatapan datar. Namun, Hong Ki tahu jika itu berarti sebuah kesediaan. Atau semacam ekspresi yang mewakili kata 'apa?'
"Apa hubunganmu dengan Sarah?"
Pertanyaan terkonyol yang Hong Ki rasa pernah ia tujukan pada sesama laki-laki. Atau lebih tepatnya kekanak-kanakan. Tindakan yang sebagian besar terpengaruhi oleh rasa cemburu.
"Tidak ada."
Singkat, tapi cukup untuk terus membuat Hong Ki penasaran.
"Kalau begitu, harusnya Tae Sang tak perlu mengusiknya demi kamu."
Min Hyuk menghela napas. Tampak tak suka dengan pernyataan terakhir yang ia dapatkan.
"Kamu berbicara pada orang yang salah."
Min Hyuk tahu apa yang akan ia dapatkan jika meladeni rasa ingin tahu Hong Ki. 'Pacar' Sarah itu pasti akan cemburu jika tahu apa saja yang terjadi antara dirinya dan Sarah. Memang bukan hal yang intim, tapi tetap saja mengundang iri. Terutama untuk seorang Hong Ki yang jelas-jelas menaruh hati pada gadis penyuka warna ungu itu.
"Aku hanya ingin mendengar langsung darimu," desak Hong Ki yang masih tak puas.
Min Hyuk tak segera bersuara. Ia meneguk terlebih dulu minumannya hingga tak tersisa. Lalu dengan tatapan dingin yang menjadi ciri khasnya, ia menatap Hong Ki.
"Sebenarnya apa yang kamu ingin tanyakan?"
"Hubungan kalian."
Sebuah senyum sinis terbentuk di bibir Min Hyuk.
"Tidak ada." Ia meremas botol minumannya yang telah kosong, lalu melemparnya ke tong sampah. Tepat sasaran. "Kamu membuang waktumu hanya untuk mencari jawaban yang sudah sangat jelas, Teman."
Tak lagi peduli dengan Hong Ki, Min Hyuk melangkah pergi. Ia tidak habis pikir. Sarah sudah menjauh darinya, tetapi masih saja ada yang membuat Min Hyuk harus berurusan dengan gadis itu.
***
Rumah Han Song Ja ternyata sangat dekat dari kedai teh Tuan Lee. Hanya saja, Tae Sang dan dua ahjumma yang mengajaknya harus berjalan memutari dinding yang mengitari komplek pemukiman tempatnya tinggal. Membuat perjalanan singkat mereka terkesan jauh. Terlebih jalan menuju ke sana menanjak. Cukup melelahkan.
Tae Sang harus berterima kasih pada tuan Lee karena sudah membantunya menemukan rumah Han Song Ja. Walaupun harus ia akui jika teman perjalanannya terlalu banyak bicara.
Dua ahjumma tadi sangat penasaran siapa Tae Sang dan apa hubungannya dengan Han Song Ja. Lebih tepatnya nyonya Han Song Ja. Karena dari pertanyaan mereka yang hampir tak ada habisnya, Tae Sang jadi tahu siapa orang yang ingin ia temui. Seorang wanita paruh baya yang hanya tinggal bersama cucu perempuannya.
"Nyonya Song Ja, kami datang." Salah satu ahjumma mengetuk pintu kayu rumah tersebut. Namun tak segera ada sahutan dari dalam rumah.
Ahjumma satunya lagi masih berdiri di samping Tae Sang. Menatapnya curiga, heran dan juga bingung.
"Kamu yakin nyonya Song Ja adalah nenekmu? Kalian sama sekali tidak mirip."
Tae Sang memang berbohong dengan mengaku sebagai cucu Han Song Ja. Toh, ia yakin tidak akan ada yang mengenalinya sebagai salah satu warga di daerah ini juga.
"Sebenarnya, aku cucu dari saudaranya," jawab Tae Sang asal.
Ahjumma itu tersenyum.
"Ya, kamu memang tampan. Cucu perempuannya juga cantik dan baik."
Tae Sang tak begitu peduli dengan pujian tersebut. Telinganya lebih peka dengan suara seseorang yang akhirnya menyahut dari dalam rumah.
Terdengar derap langkah mendekat. Lalu pintu depan bergeser, menampakkan sosok seseorang yang membuat Tae Sang terkejut.
"Kamu?"
***
● soju : minuman keras sejenis arak (biasanya terbuat dari fermentasi beras)
● harabeoji : kakek
● ahjumma : tante, bibi, wanita yang sudah menikah
● aigoo : astaga
● eomma : ibu
***