
"Sarah!"
Song Eun berseru senang mendapati teman baiknya itu datang berkunjung ke kedai ramyeon. Mereka memang belum bertemu sama sekali sejak liburan dimulai.
Masih dengan memakai celemek dan juga tubuh beraroma masakan, Song Eun menghampiri Sarah yang datang bersama keluarganya. Tuan Jeong Min, nyonya Sandra dan juga Seung Jo. Kebetulan saat itu sedang giliran Song Eun beristirahat.
Sarah melambaikan tangan. Wajahnya tak kalah berseri-seri. Ia sangat rindu pada Song Eun. Dan, ia juga ingin sekali bercerita banyak hal.
"Annyeonghaseyo!" Dengan ramah Song Eun membungkukkan badan dan menyapa kedua orangtua Sarah.
"Annyeonghaseyo, Song Eun. Lama tak bertemu," balas Sandra.
Tuan Jeong Min membalas salam Song Eun dengan sebuah senyuman. Beliau sepertinya tidak terlalu suka banyak bicara.
"Song Eun, kami ingin makan masakanmu. Yang paling enak, ya," pinta Sarah. "Tapi, kamu sedang beristirahat, kan? Lebih baik temani kami saja dulu."
Gelagat Sarah sangat mudah ditebak. Selain rindu, gadis itu benar-benar tidak bisa menyembunyikan raut wajahnya yang tampak tidak sabar untuk bercerita. Song Eun jadi yakin ada cukup banyak hal yang terjadi selama mereka tidak bertemu.
"Tentu, dengan senang hati. Tapi, sepertinya tidak akan lama."
Song Eun mengambil kursi di samping Sarah lalu duduk di sana. Menatap wajah sahabatnya itu dengan pandangan siap menerima segala keluh kesah.
"Jadi, apa yang aku lewatkan?"
Sarah terkejut untuk sesaat, tetapi segera tersenyum setelahnya. Ia hampir lupa kalau Song Eun selalu bisa membaca pikirannya.
Tak segera ada jawaban. Sarah melirik sejenak kedua orangtuanya yang sedang bercanda dengan Seung Jo. Lalu ia memperpendek jaraknya dengan Song Eun.
"Hong Ki benar-benar mmenakutkan," ujar Sarah dengan suara berbisik.
Song Eun mengangkat sebelah alisnya. Tidak mengerti maksud dari pernyataan Sarah barusan.
"Dia hampir selalu ada ke mana pun aku pergi."
Song Eun terkikik geli. Mulai memahami ucapan Sarah.
"Jadi, kamu sudah jatuh cinta padanya hingga terbayang wajahnya di mana pun?"
Sarah memberengut. Tebakan Song Eun salah besar.
Kedua mata Song Eun membuka lebar. Antara percaya dan tidak. Lalu sedetik kemudian ia memaki Hong Ki dalam hati. Pemuda itu terlalu banyak berkutat dengan buku dan rumus sains hingga sama sekali tidak peka dengan perasaan perempuan. Kalau dia terlalu agresif, yang ada Sarah justru ketakutan seperti sekarang.
"Lalu?" Song Eun menatap jail ke arah Sarah yang mengerucutkan bibir mendengar reaksinya. Sengaja bersikap seolah keluhan Sarah tak menarik baginya.
"Lalu harusnya kamu membuatkan kami makanan," jawab Sarah sembari membuang muka. Pura-pura marah.
Song Eun kembali terkikik geli. Ia lalu bangkit dan berpamitan pada kedua orangtua Sarah untuk kembali ke dapur.
Diam-diam Sarah mengagumi sahabatnya itu. Dari penampilannya, Song Eun terlihat seperti gadis culun yang lemah. Namun, siapa sangka jika ia adalah gadis yang tangguh. Tak hanya pandai di sekolah, tapi juga berbakat di luar sekolah. Sejujurnya Sarah merasa iri. Berharap dirinya bisa sekeren Song Eun.
"Nona Berry, jangan marah lagi, ya. Aku akan membuatkan makanan enak untukmu," goda Song Eun sebelum melangkah pergi meninggalkan meja Sarah dan keluarganya.
Meski sudah tak terlalu mempermasalahkan pembicaraan mereka tadi, Sarah masih bersikap tak acuh. Toh, Song Eun juga pasti tahu jika ia tak benar-benar marah.
Sarah tersenyum kecil seperginya Song Eun. Melihat sahabatnya itu dalam balutan baju koki dan sibuk bekerja membuat Sarah semakin bangga pada Song Eun.
"Pesanannya sudah siap?"
Mata Sarah menangkap sosok tak asing yang baru saja masuk ke kedai dengan tatapan tak percaya. Seorang pemuda seusianya, mengenakan jaket merah dan topi dengan tulisan nama kedai. Berbicara dengan suara nyaring hingga hampir seisi kedai bisa mendengar seruannya.
Itu Tae Sang.
Ya, Kim Tae Sang yang selalu mengganggu Sarah. Yang secara tak langsung kerap membuatnya harus berinteraksi dengan Min Hyuk. Yang sempat membuat Sarah ketakutan setengah mati dengan ulahnya.
Sarah sama sekali tidak berkedip. Napasnya tertahan, seolah itu bisa membantunya agar tak terlihat oleh Tae Sang. Namun, pemandangan yang dilihatnya kemudian justru membuat napasnya berhembus tak beraturan.
Tae Sang mungkin bekerja di kedai tersebut. Dan, itu bukan masalah. Siapa saja bisa bekerja di sana.
Masalahnya adalah pemuda itu mendekati Song Eun yang hendak menuju dapur. Merangkul pundak Song Eun seolah mereka teman akrab, lalu pergi dengan tersenyum setelah mendapat teguran dari rekannya yang lain.
Sarah membeku di tempat. Tak tahan membiarkan pertanyaan yang sama berulang di otaknya.
Song Eun dan Tae Sang. Apa hubungan mereka sebenarnya?
***