Something Called Love

Something Called Love
Bodoh



"Sedang menikmati pemandangan?" Suara Tae Sang mengalihkan pandangan Min Hyuk dari Sarah dan Song Eun yang sudah memasuki kelas. Karena terlalu serius memperhatikan, ia sampai tak menyadari jika ada orang lain yang datang bergabung.


"Dan, kamu? Sedang menikmati kesempatan untuk menyerangku?" balas Min Hyuk yang segera berbalik menghadap Tae Sang.


Sudah cukup lama kedua pemuda itu tak bertatap muka langsung seperti sekarang. Interaksi terdekat mereka yang terakhir adalah saat Min Hyuk menghajar Tae Sang. Saat pemuda itu bermaksud mencium Sarah. Mengingat kembali hal itu membuat Min Hyuk meradang, tetapi dengan keras ia berusaha tak menunjukkannya.


"Aku selalu menyerangmu, Black," jawab Tae Sang sembari tersenyum sinis. Ia melangkah maju lalu ikut berdiri di samping Min Hyuk. Bersandar pada pagar pembatas yang tingginya hampir sama dengan tubuh mereka berdua. Dalam situasi seperti itu mereka lebih tampak seperti sepasang sahabat yang tengah menikmati waktu bersama dibandingkan dua musuh yang tengah saling memancing emosi.


"Mengamati gadismu?" tanya Tae Sang lagi, tanpa menoleh ke arah pandang Min Hyuk.


"Kita sama-sama tahu tidak ada gadisku di sini," balas Min Hyuk datar. Ia berbalik lalu melakukan hal yang sama dengan Tae Sang, bersandar pada pagar pembatas.


"Tentu saja. Hye Ran sudah pergi. Tapi, kamu sudah menemukan yang baru, bukan?" sindir Tae Sang.


Alasan yang menjadi dasar kebencian Tae Sang pada Min Hyuk tidak pernah berubah. Hanya tentang Hye Ran. Selama ini hal itu tidak menjadi masalah sama sekali. Mereka bisa berkelahi sesering mungkin untuk memuaskan dendam. Tak pernah ada dampaknya bagi Min Hyuk sekali pun ia babak belur.


Namun, kemunculan Sarah memperumit keadaan. Sekarang, gadis itu seakan-akan menjadi tanggung jawab Min Hyuk. Seolah setiap luka yang didapatnya karena Tae Sang adalah ulahnya juga.


Min Hyuk kira, masalah akan berakhir jika ia menjauhi Sarah. Akan tetapi, gadis itu justru menyukainya. Parahnya, semakin sering Min Hyuk menjauh, mereka justru semakin sering dipertemukan oleh semesta. Dia takut hal itu akan membuat sebuah perubahan yang berbahaya. Tidak hanya pada setiap tindakan yang mungkin diambil Tae Sang, tapi juga pada hatinya.


"Kamu sudah melibatkan banyak orang dalam masalah kita, Tae Sang. Terlalu banyak."


"Semakin banyak yang terluka karenamu bukankah semakin baik? Sangat menyenangkan melihat hidupmu digerogoti rasa bersalah." Tae Sang mengucapkan hal itu dengan tenang seolah yang dikatakannya bukanlah sebuah ungkapan kebencian. Padahal ia tahu betul setiap ucapannya berhasil memperdalam rasa bersalah dalam diri Min Hyuk. Sesuatu yang sangat ia sukai sekaligus nikmati.


Perasaan itu. Rasa bersalah yang membayangi hidup Min Hyuk. Dia belum bisa lepas sepenuhnya dari kenangan itu. Ingatan yang menghubungkan dirinya dengan Hye Ran dan Tae Sang. Yang menjadikan Min Hyuk selalu takut melukai orang-orang di sekitarnya. Mengubahnya dari pendiam menjadi sosok yang mengunci diri rapat-rapat dari orang lain.


Namun, Tae Sang sepertinya belum puas. Pemuda itu tidak pernah membiarkan Min Hyuk menyesali sikapnya sendirian. Luka pukulan seolah belum cukup untuk melampiaskan dendamnya. Dia merasa hati Min Hyuk pantas mendapatkan lebih banyak kebencian dan rasa sakit, terutama dari orang-orang yang disayanginya.


"Hye Ran tidak akan pernah menyukai tindakanmu." Min Hyuk berkomentar datar meski kepalanya berisi begitu banyak hal.


"Karena membalasmu?"


"Karena membalasku dengan menggunakan perempuan lain."


Senyum sinis kembali tercetak di bibir Tae Sang. Ia merasa umpannya telah termakan. Baginya, hanya orang bodoh yang tidak bisa melihat arah hubungan Min Hyuk dan Sarah. Semua hanya tentang waktu.


"Jadi, kamu khawatir pada gadis itu?"


"Aku lebih khawatir padamu."


"Suatu saat, kamu akan lebih menyesal saat melihat mereka tersakiti. Song Eun dan Ye Na."


Tatapan Tae Sang berubah tajam begitu Min Hyuk menyebut nama kedua gadis tersebut. Tangannya dengan cepat menuju ke leher Min Hyuk, mencengkeram kerah seragam pemuda itu.


"Mereka tidak ada hubungannya dengan masalah kita."


"Begitu juga Sarah," jawab Min Hyuk yang bisa merasakan cengkeraman Tae Sang di lehernya semakin kuat, "aku tidak peduli padanya."


Min Hyuk heran dengan reaksi Tae Sang. Tidak aneh jika hanya Ye Na yang tengah mereka bicarakan. Akan tetapi, Song Eun? Bukankah Tae Sang tak perlu semarah itu jika hanya berniat memanfaatkannya? Atau jangan-jangan pemuda itu serius pada Song Eun.


"Omong kosong," Tae Sang berdecih, "kita lihat saja nanti saat aku menyakitinya."


Di luar dugaan, Min Hyuk justru tersenyum tipis. Tak terpengaruh dengan ancaman Tae Sang. Meski sama sekali tak terlintas di kepalanya, tiba-tiba muncul keinginan untuk balas menggoda Tae Sang. Dan, umpannya ternyata lebih tepat sasaran.


"Bagaimana jika aku yang menyakiti Song Eun dan Ye Na? Sepertinya itu menarik. Kita bisa melihat siapa dari kedua gadis itu yang membuatmu tak berkutik. Atau mungkin, siapa dari mereka yang mau berkorban untukmu."


Tak disangka ucapan Min Hyuk berhasil membuat emosi Tae Sang kembali naik. Cengkeraman tangan kirinya di leher Min Hyuk menguat dan tangan kanannya mengepal. Ia bersiap melayangkan tinju.


"Pukul saja. Kamu tidak perlu melibatkan perasaan orang lain untuk hal itu," tantang Min Hyuk yang sama sekali tidak berniat menghindar atau melawan. Ia justru tersenyum tipis karena akhirnya menemukan satu kelemahan Tae Sang.


"Jangan coba-coba menyentuh mereka!" ancam Tae Sang yang mengurungkan niat untuk memukul Min Hyuk. Pikirannya mendadak kacau karena semua perkataan musuhnya tersebut.


Tae Sang lalu melepaskan cengkeramannya pada Min Hyuk dengan kasar. Tak peduli meski musuhnya itu terhuyung ke arah pagar. Ia bisa menghajar Min Hyuk dengan leluasa jika ia mau. Namun, mendadak semua hasratnya untuk beradu tinju menguap. Tergantikan oleh bimbang yang memenuhi hati.


Tanpa mengucapkan apa-apa, Tae Sang melangkah menjauh. Ia tidak lagi peduli jika Min Hyuk menganggapnya pengecut, penakut. Dua nama tadi telah sukses meruntuhkan niatnya hari ini.


"Jangan libatkan hati untuk hal ini, Kawan," pesan Min Hyuk seraya melihat punggung Tae Sang yang menjauh.


Tak ingin menanggapi, Tae Sang terus berjalan pergi. Namun, otaknya kini dipenuhi banyak pertanyaan dan penyesalan. Meski begitu, hanya ada satu kata yang berhasil menguasai pikirannya sekaligus menyimpulkan dengan pasti sebutan yang pantas untuknya.


Bodoh


Seharusnya Min Hyuk yang terbawa perasaan pada Sarah, sehingga akan lebih mudah untuk menyakitinya. Akan tetapi, kenapa justru Tae Sang yang sekarang didera ragu? Dan, parahnya, kenapa ia justru terlibat dengan dua gadis sekaligus tanpa ia sadari?


***