
Aku pasti seperti orang aneh sekarang. Tersenyum tanpa henti sembari mendekap kotak bekal dan mengikuti ke mana pun pemuda itu melangkah.
Aku tidak peduli. Terserah orang melihatku seperti apa. Bukankah mereka sama sekali tidak rugi apa pun meski aku mendapat gelar Guinness Book of World Record sebagai orang paling aneh sekali pun? Ini hidupku. Dan, pemuda itu pangeranku.
Hari ini bisa dibilang hari keberuntungan. Geng gadis make up sedang disibukkan dengan sesuatu yang kelihatannya teramat penting sampai tidak sempat memeriksa dandanan setiap orang. Si pemuda aneh juga tak muncul. Lalu, ketika aku berjalan lesu menuju kantin karena bekal hari ini hanya nasi dengan garam -aku sungguh ingin berteriak protes, tetapi tahu itu tak ada gunanya- tatapanku langsung disegarkan dengan pemandangan indah.
Pemuda dengan tatapan sedih itu. Ah, aku sudah mengganti julukannya. Pemuda tampan yang tempo hari menolak bantuanku. Dia sedang berdiri di antrean depan kasir untuk membayar sekotak susu cokelat dan sebungkus roti melon ketika aku menangkap kehadirannya. Aku tidak mungkin salah mengenalinya. Aku yakin itu.
Mulutku terbuka dan hendak memanggilnya. Namun, segera terhenti karena aku bingung harus menyebut dia siapa. Tidak mungkin kupanggil dia Pemuda Tampan. Meski aku tidak punya rasa malu dengan bekal makan siangku yang selalu menyedihkan, bertindak memalukan untuk hal itu jelas lain cerita.
Aku mematung. Terdiam sembari menunggu otakku mempercepat proses berpikirnya. Bagaimana pun caranya, aku harus bisa berinteraksi dengan pemuda tampan itu. Minimal aku tahu namanya. Lebih bagus lagi jika aku bisa berkenalan dan menjadi temannya.
Sebenarnya solusi untuk hal itu mudah. Aku tinggal mengecilkan lagi urat maluku lalu menghampiri pemuda itu. Bersikap sok kenal sok dekat dan mengajaknya ngobrol dengan topik acak, kemudian berkenalan. Kalaupun tidak berhasil, dia hanya akan mengabaikanku dan pergi. Paling buruk dia memandangku dengan risi dan menganggapnya cewek aneh.
Memang seharusnya semudah itu, tapi nyatanya kakiku seperti terbenam di tanah padahal lantai gedung sekolah semuanya dilapisi ubin. Aku malah asyik mematung sembari menikmati setiap gerak-gerik si pemuda tampan. Dan, tindakan bodoh itu terus berlanjut tanpa aku sadari. Sembari tetap mendekap kotak bekal, langkahku mengikuti setiap langkahnya. Meninggalkan kantin, melalui kelas-kelas junior, berh nti sejenak di tong sampah untuk membuang bungkus roti dan susunya yang sudah kosong, bahkan saat ia berbelok ke toilet pria. Dengan adanya jarak yang sengaja kujaga tetap ada dan tetap sama, tingkahku sekarang lebih mirip penguntit.
Pemuda itu berbalik dengan cepat dan segera menemukanku yang terlalu lambat untuk menghindar. Dengan tatapan tajam, dia berjalan ke arahku.
Aku tidak tahu apakah seharusnya aku lari atau tetap di sana sembari berpura-pura tidak mengenalnya. Berlagak kebetulan lewat di sana. Namun, aku justru balas memandangnya, lebih karena penasaran apa yang akan dilakukan pemuda itu.
Langkahnya lalu berhenti tepat selangkah dariku. Dengan jarak sejauh itu, anehnya jantungku berdentum-dentum seperti karnaval. Untung saja, hanya aku yang mendengarnya. Aku bisa malu setengah mati jika ada orang lain yang bisa mendengar hal yang sama.
"Siapa pun kau, berhenti mengikutiku."
Singkat, padat dan langsung pada intinya. Dia lalu berbalik pergi tanpa menunggu reaksiku. Dan, tidak seperti dugaanku, ruangan di depan kami itu memang tujuan akhirnya. Aku seharusnya menuruti kata-kata pemuda itu, tetapi yang terbayang di otakku justru ruang kelas yang baru saja dimasukinya adalah sumber informasi yang bagus.
***