
Hari Minggu ini menjadi hari yang bersejarah untuk dapur rumah Sarah. Gadis itu telah mengubah dapur kesayangan sang ibu seperti kapal pecah. Kalau saja tidak ada Song Eun, mungkin hasilnya akan lebih parah.
Sesuai janjinya, Song Eun datang ke rumah Sarah untuk membantunya memasak. Makanan yang mereka buat adalah blackberry pie. Selain karena Sarah sangat suka buah berry, kue manis mereka rasa cocok untuk sebuah ucapan terima kasih.
Pada akhirnya kue itu memang berhasil dibuat. Tentunya dengan mengorbankan dapur ibu Sarah yang sekarang berlumur tepung. Namun sebenarnya tangan gadis itu sudah terampil dengan masakan. Meski sempat memporakporandakan dapur, hasilnya ternyata tak terduga. Sangat lezat untuk ukuran seorang pemula.
"Wah, ternyata putri Eomma sudah pandai memasak, ya?" puji Sandra, ibu Sarah, setelah mencicipi kue buatan Sarah dan Song Eun. "Tapi, Eomma rasa itu karena kamu punya guru yang hebat," lanjut beliau seraya tersenyum pada Song Eun.
"Tentu saja, Eomma. Song Eun pandai sekali memasak. Dia juga ingin melanjutkan kuliahnya di jurusan kuliner," terang Sarah yang ikut mencomot kue yang sama dengan sang ibu.
"Benarkah? Eomma yakin Song Eun pasti berhasil. Masakannya sungguh enak," puji ibu Sarah sekali lagi. Beliau sendiri tak bisa banyak membantu karena harus menjaga Seung Jo yang baru saja tidur.
Song Eun hanya membalas semua pujian itu dengan senyum simpul. Ia sudah sering mendapatkannya. Tetapi mengingat impian untuk melanjutkan kuliahnya membuat Song Eun sedih. Hasil masakannya belum sebanding dengan usahanya untuk meraih mimpi itu.
"Sayang sekali hari ini Appa sedang pergi dengan teman kantornya. Appa, kan, suka sekali buah berry. Sama sepertiku," celetuk Sarah.
"Jadi, itu alasannya kamu belajar masak? Wah, Appa pasti senang sekali mengetahuinya. Apalagi kue buatan kamu ini juga enak," kata Sandra setelah beralih mencicipi kue hasil karya sang putri.
Sarah sontak salah tingkah mendengar pujian sang ibu. Song Eun hanya bisa menahan senyum melihat gelagat temannya itu. Entah apa reaksi sang ibu jika tahu bahwa alasan Sarah bukanlah sang ayah, melainkan seorang pemuda yang sudah merubah putrinya menjadi setengah gila.
Mungkin beliau akan marah dan mengomeli Sarah sepanjang hari. Atau melarangnya pergi keluar selama seminggu. Atau justru beliau akan tersenyum bahagia karena putri tunggalnya akhirnya mengenal cinta.
Song Eun terdiam. Bahkan meski diomeli sepanjang waktu, Sarah beruntung karena masih memiliki orangtua. Sementara Song Eun hanya bisa mengingat mereka dalam kenangan.
Memikirkan hal itu membuat Song Eun sedih. Tiba-tiba saja, ia merindukan kedua orang tuanya.
***
"Tidak dikunci," pekik Sarah senang, hampir tanpa suara, ketika berhasil membuka pintu menuju atap gedung sekolah tempat ia terakhir kali melihat Min Hyuk, seminggu yang lalu. Perlahan didorongnya pintu besi itu, takut sampai mengganggu Min Hyuk.
Sarah berdecak kagum ketika telah tiba di atap sekolah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat pemandangan seluruh sekolah serta bukit yang mengelilingi kota. Angin yang berhembus pelan juga terasa sejuk. Angin musim semi yang hangat.
Sembari mengedarkan pandangan, Sarah memegang dengan erat kotak berwarna ungu di tangannya. Kotak berisi blackberry pie yang kemarin berhasil ia buat setelah belasan kali percobaan.
Mata Sarah akhirnya menangkap sosok seorang pemuda yang tengah bersandar pada salah satu pot besar di dekat pagar pembatas. Kaki Sarah bergerak mendekat dan mendapati jika pemuda itu tengah memejamkan mata.
Tampaknya, Min Hyuk, pemuda itu, tertidur sangat pulas hingga tak menyadari kehadiran Sarah. Juga senyuman Sarah saat melihat wajahnya yang begitu damai saat tertidur.
Dengan gerakan pelan dan hati-hati, Sarah meletakkan kotak ungu yang tadi dibawanya di sebelah Min Hyuk. Tidak ingin sampai ia terbangun.
"Gomawo, My Guardian Angel," ucap Sarah lirih sebelum akhirnya meninggalkan tempat itu dengan perasaan gembira.
***
Tae Sang berdiri bersandar pada dinding yang menghadap tangga menuju atap sekolah. Tadi ia melihat seseorang naik ke sana sembari membawa sesuatu. Ia ingin memastikan satu hal dan memutuskan untuk menunggu orang itu kembali.
Tak sampai lima menit kemudian, muncullah sosok Sarah dari atas. Langkahnya cepat dan riang. Senyum juga selalu menghiasi bibirnya. Hal itu justru memperbesar rasa penasaran Tae Sang tentang apa yang terjadi di atas sana. Karena ia tahu, di sanalah tempat baru Min Hyuk untuk menyendiri.
Sudut bibir Tae Sang membentuk seringaian licik penuh rasa puas. Tanpa perlu bertanya, ia rasa ia tahu apa yang terjadi di atas atap sana. Meski begitu, Tae Sang tetap melangkahkan kaki menaiki anak tangga, menuju tempat yang baru saja ditinggalkan Sarah.
Tidak perlu terburu-buru, batin Tae Sang. Ia akan menikmati perjalanan singkatnya menuju atap. Memuaskan mata dengan pemandangan sekolah dari ketinggian. Juga mendengarkan lantunan beragam suara yang tumpang tindih menyerbu telinganya.
Tae Sang rasa itu cara yang paling tepat untuk menghadapi musuhnya yang tidak sadar jika sudah masuk ke dalam perangkap. Bukankah begitu menyenangkan melihat lawanmu masih berlagak padahal kekalahannya tinggal menunggu waktu?
***
Min Hyuk terbangun ketika selintas angin sepoi-sepoi perlahan menyapu wajahnya. Membuka mata, langit sudah menyajikan pemandangan langit biru berhias semburat awan putih yang menawan.
Ia menggeliat. Rasanya beberapa hari ini begitu damai. Tidur nyenyak dan tanpa gangguan Tae Sang. Min Hyuk yakin hidupnya tak pernah setenang ini.
Gerakan Min Hyuk terhenti ketika badannya mengarah ke samping kiri. Dahinya mengernyit mendapati sebuah kotak berwarna ungu yang tergeletak di samping pot besar tempatnya bersandar. Seingat Min Hyuk, tidak ada benda itu sewaktu ia datang tadi.
Kotak berwarna ungu itu berukuran sedang. Tak ada hal khusus yang bisa membuat Min Hyuk menebak apa isi benda itu. Tak suka berpikir lama, ia meraih kotak tersebut dan membukanya.
Beberapa blackberry pie dengan saus madu di atasnya. Perut Min Hyuk serasa menendang-nendang melihat makanan tersebut. Aroma dan penampilannya sangat menggugah selera. Terlebih lagi dia memang belum makan siang.
Min Hyuk mencari-cari nama pengirim pada kotak tersebut, tapi hasilnya nihil. Ia pun berhenti memikirkan siapa pengirimnya dan membiarkan perutnya yang menang. Lagipula, sudah jelas kotak itu ditaruh di samping Min Hyuk. Pasti kue itu memang untuknya. Masa bodoh darimana atau dari siapa kue itu berasal.
Tak perlu lama-lama, pai itu sudah berpindah ke mulut Min Hyuk. Lalu, matanya membulat.
Enak
Min Hyuk tidak bisa menyangkal jika dari gigitan pertama saja kue itu sudah memanjakan lidahnya. Rasa renyah dari kulit pai serta rasa manis dari madu yang melapisinya sungguh-sungguh tidak tertandingi. Terlebih rasa khas dari buah blackberry yang menjadi topping.
Demi apa pun. Min Hyuk benar-benar harus berterima kasih pada si pembuat sekaligus pemberi kue ini. Ia yang selama hidup hanya bisa merasakan tteokbokki pedas sebagai camilan, kini bisa menikmati makanan manis seenak ini. Makanan termewah yang pernah ia cicipi adalah bulgogi sang nenek. Itu pun sudah lima tahun yang lalu.
"Jadi, gadis itu akhirnya berhasil?" Nada suara mengejek yang tak asing membuat acara makan Min Hyuk terganggu. Tak perlu mencari tahu siapa, karena Min Hyuk sudah hapal dengan pemilik suara itu.
Tae Sang
Musuh setia Min Hyuk itu berdiri di depan pintu. Senyum simetrisnya sungguh menyebalkan. Begitupun kata-katanya yang tidak jelas barusan.
Min Hyuk memasukkan potongan pai terakhir ke dalam mulut lalu mengangkat sebelah alisnya sebagai reaksi. Tae Sang sudah pasti tidak menginginkan kue yang ia makan. Pemuda itu hanya sedang mencari gara-gara, seperti biasa.
"Aku kira kamu akan melempar kue itu dan membuat Sarah menangis sedih. Ternyata aku salah," terang Tae Sang yang sadar jika Min Hyuk masih kebingungan dengan maksud perkataannya. "Omong-omong, namanya benar Sarah, kan?" lanjutnya.
Min Hyuk terdiam. Ia tahu siapa Sarah. Gadis yang ia tolong sewaktu pingsan di gudang.
Jadi, kue yang membuatnya ketagihan dalam sekali makan tersebut dari gadis itu? Lalu, kapan dia meletakkannya? Min Hyuk bahkan tak mendengar ada orang datang tadi.
Sial!
Min Hyuk tahu gadis itu berniat baik, tapi dia sudah membiarkan dirinya dalam masalah besar sekarang.
Tae Sang hanya tersenyum mengejek. Dia senang sekaligus benci mengetahui gadis bernama Sarah itu berhasil masuk dalam perangkapnya untuk melawan Min Hyuk. Namun, ia berusaha tak peduli. Yang terpenting adalah ia bisa membalas dendam.
"Dia turun dari sini dengan wajah bahagia dan senyum tiada henti. Aku tidak menyangka kalau kamu begitu mudah berubah arah."
Min Hyuk menatap Tae Sang tajam. Ia tahu ke mana pembicaraan ini mengarah.
Setelah menutup kotak kue dari Sarah, Min Hyuk melangkah mantap melewati Tae Sang menuju pintu. Ia sedang tidak ingin berdebat dengan pemuda keras kepala itu. Namun langkahnya tetap terhenti sewaktu sebuah pertanyaan kembali Tae Sang lontarkan dengan penuh amarah.
"Aku tidak percaya. Tak perlu waktu lama bagimu untuk menemukan pengganti. Semudah itukah kamu melupakannya?"
Tubuh Min Hyuk berbalik, lalu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada putus asa.
"Bukankah sudah kujelaskan berulang kali? Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan."
"Aku tidak percaya dan tidak akan pernah percaya. Kamu tahu betul itu, Black."
Wajah Tae Sang tampak dingin. Tubuhnya seolah diselimuti aura dendam yang begitu pekat. Min Hyuk kerap menghadapinya seperti ini. Ia lelah, tentu saja. Namun semua tetap berotasi seperti biasa. Mereka berdua akan berakhir dalam perkelahian. Entah siapa yang menang dan kalah, esoknya akan terjadi hal yang sama. Terus seperti itu hingga Min Hyuk merasa itu adalah rutinitas mereka.
Sayangnya, hari ini dugaan Min Hyuk tak tepat. Tae Sang tak melayangkan pukulan atau pun tendangan, melainkan sebuah ucapan yang mendadak membuat Min Hyuk terbungkus kekhawatiran hingga sedemikian rupa.
"Mulai saat ini, jaga baik-baik gadismu itu, atau aku akan membuatnya berakhir lebih buruk dari Hye Ran," ancam Tae Sang, lalu melangkah melewati Min Hyuk yang kini justru terdiam.
Min Hyuk bukan orang yang gentar dengan tantangan. Akan tetapi, ancaman itu sangat menganggunya. Karena bukan hanya dia yang Tae Sang tuju, melainkan gadis itu juga.
Sarah
Min Hyuk mengusap wajahnya dengan kasar. Sekarang ia benar-benar menyesal karena sudah memakan blackberry pie yang lezat tadi.
***
Kemunculan Hong Ki di pintu kelas membuat Song Eun yg sedang membaca segera menyimpan bukunya. Dia menyongsong pemuda itu dengan wajah penasaran.
"Apa kuenya enak?" tanya Song Eun begitu Hong Ki melewati bangkunya.
"Eh? Kue?" tanya Hong Ki balik, bingung dengan pertanyaan temannya itu.
Begitu bel istirahat berbunyi tadi, Hong Ki memang bergegas keluar kelas tanpa mengatakan apa pun. Segera setelah itu, Sarah menyusul keluar dengan sebuah kotak ungu di tangan.
Song Eun tahu isi kotak tersebut, blackberry pie buatan Sarah. Ia juga tahu kalau Sarah ingin memberikan kue tersebut pada Hong Ki. Karena itulah Song Eun tidak membuntuti keduanya seperti biasa. Menurutnya Sarah dan Hong Ki pasti menginginkan waktu hanya berdua saja, tanpa dirinya.
Namun, jawaban Hong Ki barusan membuat Song Eun sebal. Meski mereka baru berteman cukup dekat semenjak kedatangan Sarah, Hong Ki tidak perlu menyembunyikan apa pun darinya. Mereka bisa berbagi cerita apa saja, termasuk perasaan lebih yang dimiliki Sarah pada Hong Ki.
"Mana Sarah?" Memilih untuk menahan sebal, Song Eun akhirnya menanyakan keberadaan Sarah.
"Bukannya bersamamu?"
"Kamu yakin tidak bertemu dengannya?"
"Song Eun, istirahat tadi aku ke ruang guru. Aku di sana cukup lama dan langsung kembali ke sini begitu selesai," jawab Hong Ki. Mendadak raut wajahnya berubah cemas.
Song Eun tak jauh beda. Bayangan Sarah yang dibopong Min Hyuk dengan kaki terluka dulu kembali menyeruak. Bagaimana jika gadis itu mendapat masalah lagi?
Song Eun bangkit dari duduknya dengan perasaan takut. Seharusnya ia tadi tetap mengikuti Sarah. Kalau sampai terjadi sesuatu padanya, Song Eun jelas yang paling merasa bersalah.
Keduanya sudah bersiap keluar untuk mencari Sarah ketika gadis itu akhirnya muncul di pintu kelas. Raut wajah Sarah tampak begitu bahagia, yang berarti tak ada hal buruk menimpanya. Namun hal itu tak lantas membuat Song Eun dan Hong Ki lega.
"Sarah, darimana saja kamu? Kamu baik-baik saja, kan? Tidak terjadi sesuatu yang buruk, kan?" Hong Ki segera menyerbu gadis itu dengan pertanyaan.
Song Eun yang tak kalah khawatir juga memiliki pertanyaan yang sama untuk Sarah. Namun kata-kata Hong Ki menyadarkannya satu hal.
"Kalian benar-benar tidak bertemu tadi?"
Sarah menggeleng, sementara Hong Ki menatapnya dengan jengkel.
"Aku tidak akan secemas ini kalau itu benar terjadi, Song Eun," jawab Hong Ki dengan penekanan di setiap suku katanya. Seolah jika tidak begitu maka Song Eun tidak akan paham.
"Sudahlah. Aku baik-baik saja. Aku tadi hanya berjalan-jalan sebentar. Maaf sudah membuat kalian berdua khawatir," ujar Sarah menengahi.
"Lain kali, ke mana pun kamu ingin pergi, ajak aku atau Song Eun, ya?" pinta Hong Ki.
Sarah mengangguk mengiyakan, membuat Hong Ki sedikit lega. Baginya yang terpenting Sarah baik-baik saja. Ia lalu menuju bangkunya, bersiap untuk pelajaran selanjutnya. Sementara Song Eun masih menatap Sarah curiga.
"Kamu sudah memberikan kuenya?" tanya Song Eun dengan suara pelan, takut Hong Ki sampai mendengar.
Sarah mengangguk cepat sembari tersenyum. Ia benar-benar tampak bahagia. Berkebalikan dengan Song Eun yang penasaran.
Sepertinya bukan Hong Ki orang yang Sarah temui. Lalu siapa?
Guardian Angel
Song Eun tersentak dengan pemikirannya sendiri. Ia melihat Sarah dengan tatapan tidak percaya. Tidak mungkin 'dia', kan, orang yang disukai Sarah?
Benar-benar tidak mungkin.
***
● tteokbokki : makanan khas korea yang terbuat dari tepung beras dan biasanya berbumbu pedas.
● bulgogi : makanan khas korea berbahan dasar daging.
***