
Dengan langkah lebar, Sarah berjalan menuju gudang yang terletak di ujung koridor gedung utama. Benaknya dipenuhi tanda tanya.
Untuk apa Song Eun memintanya datang ke sana? Dan, sejak kapan temannya itu mau datang ke tempat-tempat sepi yang jarang terjamah?
Sembari terus berjalan, Sarah berusaha menjawab kebingungannya. Tadi ada seorang siswi yang mendatangi Sarah dan memberitahu jika Song Eun memintanya ke gudang. Sarah bahkan tidak tahu kenapa Song Eun tiba-tiba menghilang saat jam istirahat tiba.
Hal pertama yang terpikirkan oleh Sarah adalah Song Eun membutuhkan bantuan. Karena itu ia segera ke sana dan baru menyadari keanehan saat sudah hampir sampai.
Sarah terdiam di depan sebuah ruangan berpintu kayu bercat coklat tua. Ia mendekat dan mendapati sebuah gembok cukup besar yang mulai berkarat di dekat gagang pintu itu. Namun gembok itu tidak terkait. Pintunya sudah terbuka.
"Astaga, Song Eun! Untuk apa kamu ke sini?" gumam Sarah seraya mendorong pintu itu perlahan, lalu melangkah masuk.
Tumpukan benda-benda yang sudah tak terpakai dan berdebu menyambut Sarah di dalam sana. Meski hanya cahaya dari jendela kecil di atas ruangan yang memberi penerangan, ia masih cukup awas untuk melihat sekitar.
Sarah melangkah semakin ke dalam dan memanggil nama Song Eun. Namun, bukannya ada jawaban, pintu tempat ia masuk tadi tiba-tiba tertutup. Sarah panik dan segera berlari ke arah pintu, tapi kakinya justru menabrak sesuatu. Membuatnya terjatuh tanpa bisa dicegah.
Sembari mengaduh kesakitan dan memegangi lutut, Sarah berusaha melihat benda apa yang sudah membuatnya terjatuh.
Sepasang kaki.
Yang terlintas pertama kali di pikiran Sarah adalah Song Eun. Akan tetapi, kaki itu memakai celana panjang, yang berarti adalah milik seorang laki-laki. Mungkin salah satu siswa. Wajahnya tidak terlihat dengan jelas karena berada di sisi gudang yang gelap.
Pikiran buruk dengan cepat merayapi benak Sarah. Kenapa siswa itu ada di dalam gudang yang selama ini terkunci? Apa jangan-jangan dia korban bullying? Siswa depresi yang mencoba bunuh diri? Atau bahkan yang terparah, dia adalah korban pembunuhan.
Sarah bergidik ngeri membayangkan semua dugaan di kepalanya. Tak sadar ia bergerak mundur dengan cepat. Akan tetapi, panik membuatnya tanpa sengaja menyenggol kaki itu sekali lagi.
Sepasang kaki itu tiba-tiba bergerak. Sarah menarik napas dengan tegang. Tangannya berusaha meraih gagang pintu yang kini hanya berjarak kurang dari setengah meter darinya. Ia harus segera pergi.
Namun, degupan jantung Sarah dengan cepat menggila ketika usahanya sia-sia.
Pintunya terkunci.
Tubuh Sarah mendadak lemas. Ia menundukkan kepala dengan takut. Tak berani melihat pemilik sepasang kaki yang kini bangkit dan mendekat padanya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya sebuah suara bariton yang terasa familiar di telinga Sarah.
Mengumpulkan semua keberaniannya, Sarah mendongak untuk melihat sosok yang lebih tinggi itu. Seketika napasnya tercekat. Antara terkejut dan takut, Sarah hanya bisa membisu.
Sosok itu semakin mendekat. Jaraknya dengan Sarah hanya beberapa senti saja, sehingga mereka berdua bisa melihat wajah masing-masing dengan jelas sekarang.
Pemuda di hadapan Sarah adalah pemuda yang sama yang pernah menolongnya di gang dulu. Ia masih mengingat dengan jelas tatapan dingin pemuda tersebut.
Nam Min Hyuk.
Black.
Mendadak terngiang semua ucapan Song Eun. Tentang Min Hyuk yang dingin dan kasar. Black si berandal sekolah.
Min Hyuk mendengkus kesal karena pertanyaannya tak digubris. Ia semakin mendekat, membuat Sarah beringsut takut. Namun, Min Hyuk tidak menyentuhnya dan justru segera beralih menuju pintu.
"Sial. Ini pasti ulah Tae Sang," gerutu Min Hyuk ketika tak berhasil membuka pintu.
"Mianhae, aku hanya mencari temanku. Aku tidak tahu ada kamu di sini," ujar Sarah dengan suara pelan. Ia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap wajah pemuda itu.
Min Hyuk kembali mendengkus. Diamatinya Sarah yang terdiam kaku. Ini pertemuan mereka yang ketiga dan ia harap juga yang terakhir.
"Apa kamu hobi berkata maaf? Aku bosan mendengarnya," sergah Min Hyuk, berusaha tidak peduli dengan ucapan maaf Sarah.
Bukannya tersinggung, Sarah justru merasa senang. Ucapan Min Hyuk menyiratkan jika pemuda itu masih mengingatnya. Entah mengapa hal itu menerbitkan sedikit bahagia di hati Sarah. Mungkin karena sebelumnya Min Hyuk meminta mereka untuk tidak saling kenal saja.
"Apa kamu punya kunci ruangan ini?" tanya Sarah akhirnya. Ia jelas tidak mau terjebak di tempat gelap begini dengan seorang pemuda yang baru ia kenal.
"Pintu ini digembok dari luar. Kalaupun aku punya kuncinya, menurutmu bagaimana kita bisa membukanya dari dalam? Dengan doa?" Min Hyuk balik bertanya dengan jengkel.
"Mian---"
"Berhenti meminta maaf," potong Min Hyuk cepat. Lebih lama lagi ia berada dengan gadis yang hobi meminta maaf itu, ia bisa mati bosan di sana.
Sarah pun diam. Ia lalu menyadari jika jaraknya dengan Min Hyuk begitu dekat. Perlahan ia bergerak menjauh.
Sarah bukannya takut dengan sikap buruk Min Hyuk. Kalau boleh jujur, ia selalu takut jika terlalu dekat dengan laki-laki, terutama yang memiliki aura mengintimidasi seperti pemuda di hadapannya sekarang.
Min Hyuk menyadari pergerakan Sarah dan menatapnya tajam, tepat saat gadis itu mendongak. Mereka bertatapan sejenak sebelum akhirnya saling membuang muka.
"Aku tidak akan berbuat apa pun padamu, jika jawaban itu bisa membuatmu tenang. Lebih baik pikirkan sebuah solusi," ujar Min Hyuk datar.
"Mungkin dengan didobrak," seru Sarah kemudian, terlalu cepat untuk sebuah solusi yang sedari tadi justru tak terpikirkan. "Pintunya," lanjut Sarah, memperjelas maksudnya.
Untungnya Min Hyuk merasa itu solusi terbaik saat ini. Setidaknya begitu.
"Minggir!" perintah Min Hyuk. Bahkan nada suaranya saja terdengar dingin. Sarah cepat-cepat menurutinya. Ia bergeser dan memberi tempat untuk Min Hyuk bersiap mendobrak.
Namun naas, kaki Sarah tersandung sesuatu sehingga ia kembali terjatuh. Kali ini, ia merasakan perih yang lebih dari sebelumnya. Ia meraba kakinya dan berseru panik mendapati warna merah di sana.
Kaki Sarah tergores pecahan kaca yang ternyata bertebaran di sudut tersebut. Lukanya cukup lebar, membuat Sarah berusaha keras menahan perih sekaligus rasa takut karena melihat darahnya yang mulai mengalir. Wajahnya memucat.
Tidak. Jangan sekarang.
Perlahan pandangan Sarah menggelap. Ia bahkan tidak mendengar suara pintu yang berhasil didobrak oleh Min Hyuk.
Ia pingsan.
***
Wajah Song Eun adalah yang pertama Sarah lihat ketika ia membuka mata. Setelah itu, ia menyadari jika ia berada di klinik.
"Sarah, akhirnya kamu sadar," seru Song Eun lega. "Aku khawatir sekali saat melihat Black membawamu dalam keadaan pingsan dengan kaki terluka tadi."
Sarah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pikir kebersamaannya dengan Min Hyuk tadi hanya mimpi. Namun, saat melihat kakinya yang terbalut perban, ia yakin yang tadi itu nyata.
"Min Hyuk membawaku ke sini?"
Song Eun mengangguk. Memunculkan kembali sebersit bahagia yang sempat muncul saat Sarah bersama Min Hyuk tadi.
"Tapi, bagaimana bisa dia yang membawamu? Apa jangan-jangan dia yang melukaimu?"
"Bukan," sangkal Sarah cepat. "Aku terluka. Aku memang tidak bisa melihat darah. Makanya tadi aku pingsan. Dia sama sekali tidak berbuat jahat padaku."
"Benarkah? Itu aneh sekali. Apa mungkin dia...."
Ucapan Song Eun terhenti karena kedatangan Hong Ki. Pemuda itu tampak sangat khawatir. Namun ia tersenyum lega mendapati Sarah sudah sadar.
"Syukurlah kamu sudah siuman. Aku khawatir sekali padamu. Sebenarnya apa yang terjadi, Sarah?"
"Aku hanya terjatuh dan tanpa sengaja terluka. Tapi semua sudah baik-baik saja, kok."
"Di mana kamu terjatuh? Kenapa Black yang membawamu?"
Song Eun menatap Sarah penuh arti. Mengingatkan percakapan mereka tentang Hong Ki yang menyukai Sarah.
"Hanya kebetulan. Oh, ya. Di mana dia? Aku belum berterima kasih padanya."
Ucapan Sarah sukses membuat wajah Hong Ki tampak tidak senang. Song Eun yang melihatnya hanya berusaha menahan tawa. Ia yakin sekarang jika dugaannya sama sekali tidak salah. Kecemburuan di wajah Hong Ki adalah bukti nyata.
"Dengar, Sarah. Setelah ini kamu tidak boleh ke mana-mana sendirian. Aku akan menemanimu dan memastikan tidak terjadi hal buruk seperti ini lagi." Mengabaikan pertanyaan Sarah, Hong Ki membuat Song Eun semakin tidak bisa menahan tawa.
"Hong Ki-ya, ada aku. Kamu tidak perlu sampai segitunya," sahut Song Eun.
"Lalu dia akan terluka seperti ini? Kamu tidak bisa terus bersamanya, Song Eun-ah."
"Kamu juga, kan? Tidak ada yang bisa bersama Sarah setiap waktu. Lagipula dia juga butuh privasi. Kita tidak mungkin terus menempel padanya." Song Eun sengaja mengatakannya untuk memancing reaksi Hong Ki.
Tahu jika pernyataan Song Eun itu benar, Hong Ki hanya bisa diam. Song Eun tersenyum kecil melihat lawan bicaranya itu tak berkutik.
"Sudahlah. Kalian tidak perlu khawatir, lain kali aku akan lebih hati-hati," ujar Sarah sembari tersenyum manis. Dan itu cukup untuk membuat Hong Ki merasa lebih baik.
Tanpa ketiga remaja itu sadari, seseorang berdiri di luar klinik. Mendengarkan semua percakapan mereka.
Nam Min Hyuk, orang tersebut, akhirnya berjalan menjauh. Ia sudah memastikan gadis bernama Sarah itu baik-baik saja. Tugasnya sudah selesai. Itu membuatnya lega.
Bukan. Min Hyuk tidak mengkhawatirkan Sarah. Ia bahkan sadar jika sudah melakukan kesalahan. Ya, kembali menolong gadis itu adalah sebuah kesalahan. Namun, sedingin apa pun sikapnya, Min Hyuk tidak mungkin meninggalkan seorang gadis yang terluka sendirian.
Semoga saja tidak ada yang salah mengartikan tindakan Min Hyuk, karena ia tidak suka. Bahkan, ia tidak segan untuk bersikap kasar jika sampai gadis itu atau orang lain berpikiran lain tentangnya.
Min Hyuk terus melangkah, berharap tak berurusan lagi dengan gadis bernama Sarah tersebut. Tak disadarinya sepasang mata yang sejak tadi mengawasi. Sepasang mata milik Tae Sang yang kini tersenyum penuh kepuasan.
"Pergilah sejauh kamu bisa, Black. Tapi permainannya baru saja dimulai."
***