
Saengil chukkae, keponakanku. Sudah terima hadiahmu? Semoga kamu menyukainya. Walaupun sam-chon yakin kamu pasti lebih menyukai gadis yang mengantarnya.
Min Hyuk meletakkan ponselnya di atas nakas setelah membaca pesan dari sang paman. Tidak berniat untuk membalas.
Jam dinding menunjuk angka sebelas. Masih terlalu awal untuk Min Hyuk berangkat tidur. Lagipula ia sudah terbiasa tidur larut, menunggu pamannya pulang. Meski sekarang sang paman berada di luar kota, ia tak lantas bisa segera terlelap. Terlebih setelah membaca pesan barusan.
Pamannya benar-benar mengenal Sarah. Min Hyuk tak tahu bagaimana caranya. Ia hanya merasa ucapannya pada gadis itu sudah keterlaluan. Terlebih setelah pengakuan yang gadis itu lakukan.
Sarah menyukai Min Hyuk. Haruskah Min Hyuk bergembira? Atau justru bersedih?
Kilasan tentang seorang gadis lain di masa lalu menyeruak di otak Min Hyuk. Hye Ran, gadis itu, sangat berbeda dengan Sarah. Semuanya, bahkan cara mereka menyampaikan rasa sukanya pada Min Hyuk. Akan tetapi ada satu kesamaan yang pasti.
Min Hyuk hanya membawa masalah untuk mereka. Ia tak bisa mencegah apa yang sudah menimpa Hye Ran. Dan, ia tidak ingin menanggung beban yang sama jika sampai membawa Sarah ke dalam hidupnya. Maka satu-satunya cara adalah membuat Sarah menjauh darinya. Sejauh mungkin.
Lelah dengan pemikiran tersebut, Min Hyuk bangkit lalu meraih kotak pemberian sang paman. Ia bisa menebak jika isinya adalah benda yang menurut pamannya diinginkan oleh Min Hyuk.
Dibukanya kotak tersebut. Dugaannya benar. Ada sepasang sepatu sport berwarna abu-abu beraksen merah di dalamnya. Namun ada benda lain yang mengusik rasa ingin tahu Min Hyuk. Selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi. Jelas bukan tulisan tangan seorang Nam In Sung.
Dengan penasaran, ia membaca isi kertas yang ditempelkan di salah satu sisi kotak tersebut.
Kadangkala kita mengeluh ketika mendung datang dan menggantikan langit yang cerah
Tanpa tahu bahwa kehadirannya membawa hal yang tak kalah indah.
Kamu, seperti itu.
Tampak gelap dan sulit diraih.
Tampak pantas untuk dibenci.
Tampak layak untuk dijauhi.
Tapi tahukah kamu?
Sebelum pagi tiba dan membawa terang, gelap lebih dulu datang.
Sebelum tanaman tumbuh subur, mendung menggiring hujan menyapa tanah yang gersang.
Seperti mereka,
Kamu pun berhak disukai
Kamu pun layak dihargai
Dan dicintai
Karenanya,
Aku mensyukuri hari ini
Hari saat kamu dilahirkan
Kamu,
Seseorang yang datang bersama dinginnya dini hari, tetapi memberiku hangat mentari pagi
Seseorang yang hadir bersama pekatnya awan, tetapi menyajikan hal-hal indah yang kelak jadi kenangan
Saengil chukkae, Min Hyuk ssi
Seperti ada yang menggelitik hati Min Hyuk setelah membaca surat tersebut. Meski tak tertulis nama pengirimnya, ia yakin jika pelakunya adalah Sarah. Tak ada orang lain yang bisa membuat hatinya sehangat ini.
Dulu, gadis itu melakukannya lewat tatapan mata. Dan sekarang, lewat kata-kata yang tak bisa Min Hyuk lupakan begitu saja.
Entah mengapa, Min Hyuk merasa tidak rela. Dan rasa itu jauh lebih besar dibandingkan rasa bersalahnya pada Hye Ran yang bertahun-tahun tak kunjung hilang.
Mianhae, Sarah.
Min Hyuk terdiam. Ia tahu betul apa yang harus dilakukan. Ia hanya butuh lebih banyak keberanian untuk mewujudkannya. Demi kebaikan Sarah.
***
Suara bel penanda waktu pulang mengubah suasana sepi di Hanyang Senior High School menjadi begitu ramai. Para siswa yang gembira saling berebut untuk menghirup udara kebebasan. Termasuk Sarah dan Song Eun yang berjalan beriringan keluar kelas.
"Kenapa? Wajahmu tampak murung," tanya Song Eun yang menyadari perubahan raut wajah Sarah sedari pagi.
Sarah tak menjawab. Malas mengingat penyebab moodnya turun beberapa hari ini.
"Sarah!" Kali ini suara Hong Ki yang terdengar. Tadi pemuda itu masih sibuk mengemasi buku-bukunya saat Sarah dan Song Eun keluar kelas.
Song Eun menoleh dan tersenyum lega melihat Hong Ki menyusul mereka. Berharap pemuda itu bisa membuat Sarah kembali ceria.
"Hong Ki, kebetulan sekali. Aku rasa Sarah membutuhkanmu." Sengaja Song Eun mendekatkan keduanya. Entah kenapa ia merasa cara itu yang terbaik.
"Mwo? Benarkah itu? Ada apa Sarah?" tanya Hong Ki antusias.
Sarah yang sama kagetnya hanya bisa menatap Hong Ki datar. Tak percaya jika ada pemuda yang begitu bersemangat saat menghadapinya. Jauh berbeda dengan Min Hyuk.
Ah, kenapa juga Sarah masih memikirkan pemuda menyebalkan itu. Sekarang, ia mengerti darimana julukan Black berasal. Bukan karena Min Hyuk seringkali memakai benda-benda berwarna hitam. Tetapi karena pemuda itu menyebarkan energi negatif.
Ibaratkan saja seseorang yang tadinya bersemangat, ceria dan optimis seperti langit yang biru cerah. Lalu semua itu akan berubah menjadi langit mendung yang gelap dan suram. Jadi, ya, Min Hyuk berbakat membawa kegelapan semacam itu dengan semua tindakan dan ucapannya. Sama seperti yang dilakukannya pada Sarah.
"Aku baik-baik saja, kok," jawab Sarah kemudian.
"Tapi kamu terlihat sebaliknya. Begini saja, ayo kita pergi jalan-jalan. Kamu suka tteokbokki? Aku tahu tempat yang menjualnya di sekitar sini," ajak Hong Ki bersemangat.
"Ehm, Sarah tidak suka pedas. Dia lebih suka makanan manis," ujar Song Eun memberitahu.
Sarah tidak berniat untuk ikut campur dengan percakapan kedua temannya itu. Ia benar-benar sedang tidak ingin melakukan apa pun selain segera pulang dan bercanda dengan Seung Jo. Hanya itu yang bisa membuatnya merasa lebih baik.
"Oh, begitu, ya? Baiklah, kita ke kedai es krim di depan sana saja. Aku akan mentraktir kalian."
Song Eun mengangguk mengiyakan lalu menarik Sarah untuk ikut serta. Sarah hanya bisa menurut. Ia bahkan malas untuk protes.
Sarah tak dapat menahan diri untuk tak menatap Min Hyuk. Rasanya begitu aneh ketika menyadari bahwa ia sudah membuat pengakuan pada pemuda itu. Bahwa Sarah menyukainya.
Lalu, Sarah menyadari jika Min Hyuk balas menatapnya. Namun, tak ada yang berubah. Sorot matanya tetap dingin. Datar.
Merindukan kue buatanku? Yang benar saja.
Sarah mengingat ucapan In Sung tempo hari. Yakin jika itu adahal hal yang mustahil. Ia lalu buru-buru memalingkan wajah. Tak ingin peduli pada sosok Min Hyuk. Bahkan hingga mereka berpapasan dan melanjutkan langkah masing-masing.
Sudah berakhir. Saat di mana Sarah mengakui perasaannya, saat itu pulalah dia harus menepati janji. Janji untuk melupakan jika mereka pernah bertemu, berbincang dan bahkan menyukai.
Mulai saat itu, yang harus dilakukan Sarah hanyalah satu. Berpaling dan menganggap jika ia tak pernah tahu seorang pemuda dingin bernama Min Hyuk.
***
Es krim ungu favorit Sarah hanya berdiam di tempatnya sedari tadi. Sang pemilik tak berniat untuk menyentuhnya. Padahal biasanya butuh setidaknya dua gelas es krim untuk memuaskan dahaga Sarah.
"Apa kamu sakit?" Tiba-tiba Sarah merasakan sebuah telapak tangan menyentuh keningnya. Milik Hong Ki.
"Aku tidak apa-apa," jawab Sarah yang hampir berjingkat karena terkejut. Tindakan Hong Ki benar-benar membuatnya kaget.
Song Eun yang tengah menyuapkan sesendok es krim coklat ke mulutnya hanya tersenyum kecil. Tampak senang dengan pemandangan di depannya.
"Dari tadi kamu hanya diam. Dan kamu juga belum memakan es krimmu sama sekali. Aku jadi khawatir," terang Hong Ki.
Sarah berusaha tersenyum agar tidak membuat Hong Ki semakin khawatir. Namun Song Eun sengaja menyalahartikan hal tersebut.
"Apa kubilang. Lihat, kan? Dia hanya tersenyum padamu." Song Eun mengacungkan sendok es krimnya ke arah Sarah. Sok dramatis.
"Aku justru senang jika aku bisa menjadi alasanmu untuk tersenyum, Sarah," timpal Hong Ki sembari balas tersenyum.
Senyum pemuda itu tampak manis dan hangat. Menunjukkan kepeduliannya yang besar pada Sarah. Membuatnya berandai-andai jika saja pemuda yang ia sukai adalah Hong Ki.
"Annyeong!" Sebuah sapaan membuyarkan suasana manis tersebut. Terlebih saat tahu siapa yang datang, wajah Hong Ki berubah mendung.
"Sedang apa kamu di sini?" tanyanya ketus pada Ye Na, sosok yang baru saja menyapa mereka bertiga.
Song Eun juga menghembuskan napas keras-keras melihat kemunculan Ye Na. Hanya Sarah yang tidak begitu mempersoalkannya.
"Makan es krim. Karena melihat kalian, aku memutuskan untuk bergabung. Tidak masalah, kan, Sarah?" tanya Ye Na seraya menarik kursi di samping Sarah lalu duduk di sana.
Hong Ki dan Song Eun hanya bisa mendengus sebal saat Sarah mengijinkannya. Ye Na memanfaatkan kebaikan Sarah dengan tepat. Karena jika Song Eun yang ia mintai persetujuan, jawabannya jelas tidak.
"Kamu sepertinya hampir selalu ada di tempat-tempat yang kami datangi," tuduh Song Eun curiga. Hal sama yang ingin Hong Ki ucapkan.
"Benarkah? Itu berarti kita ditakdirkan untuk bersama," jawab Ye Na sembari tertawa kecil. Padahal tidak ada yang lucu.
Mungkin ketidakberdayaan Song Eun dan Hong Ki untuk menolak kehadirannya. Kedua remaja tersebut hampir tak berkutik jika menyangkut Sarah. Ye Na sadar dan memanfaatkan hal tersebut dengan baik.
"Tentu saja. Kamu pasti bosan sendirian. Aku tidak pernah melihatmu bersama teman, selain kami," serang Song Eun. Ia tahu betul Ye Na terlalu sombong untuk mendapatkan seorang teman. Menjadi teman Song Eun dan Sarah jelas-jelas hanya sebuah kedok untuk mendapatkan Hong Ki.
"Ya, begitulah," jawab Ye Na tak peduli. Perhatiannya teralihkan pada Sarah yang masih tak bicara apa pun sedari tadi. "Omong-omong, Sarah, aku melihatmu turun dari atap kemarin pagi. Itu benar kamu, kan?"
Mata Song Eun dan Hong Ki seketika menatap Sarah dengan sorot penasaran. Menunggu penjelasan dari gadis itu.
Song Eun tahu siapa yang menjadi tujuan Sarah di sana, sedangkan Hong Ki mencurigai Tae Sang berbuat ulah lagi pada Sarah.
"Benar. Itu aku."
Sudut bibir Ye Na terangkat, membentuk senyum tipis yang tampak puas. Mengabaikan reaksi Son Eun dan Hong Ki, ia kembali melancarkan pertanyaan.
"Apa yang kamu lakukan di sana? Apakah kamu menemui Black?"
"Tidak." Sarah cepat-cepat menjawab. Tak ingin kedua temannya jadi penasaran dan bertanya lebih jauh. Karena ia sedang tidak ingin membicarakan tentang Min Hyuk dengan siapapun. Lagipula tak ada kewajiban untuk membahas pemuda yang tak tahu terima kasih itu.
"Benarkah? Tapi beberapa saat setelah kamu turun, aku melihatnya juga turun dari sana. Ia mencari dan mengejarmu."
Wah. Itu kabar yang menarik. Sarah tidak tahu jika Min Hyuk bisa melakukannya. Tetapi untuk apa?
"Jika katamu itu benar, aku tidak tahu kenapa dia mencariku." Hanya jawaban itu yang bisa Sarah lontarkan untuk menyelamatkan diri dari interogasi Song Eun dan Hong Ki. Namun tak sepenuhnya berhasil.
Hong Ki menatap Sarah lekat, lebih karena rasa khawatir.
"Ada apa antara kamu dan Black?"
Tenggorokan Sarah tercekat. Tak bisa segera menjawab. Ia sendiri tak tahu pasti apa nama yang tepat untuk hubungan mereka. Apakah ia harus katakan jika Min Hyuk adalah penolongnya, dan Sarah jatuh cinta padanya?
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya menyampaikan sebuah titipan," kilah Sarah, berharap ucapannya cukup meyakinkan. "Kebetulan tadi aku bertemu pamannya di depan sekolah. Beliau menitipkan sesuatu untuk Min Hyuk. Itu saja."
Hong Ki masih menatapnya lekat. Tidak sepenuhnya percaya.
"Tapi kalian sepertinya saling mengenal. Apa karena itu Tae Sang mengganggumu?" Rasa ingin tahu Ye Na terdengar berlebihan untuknya yang bahkan tidak terlibat masalah yang sama.
"Aku tidak tahu."
"Sarah, Tae Sang selalu mengusik apa saja yang berhubungan dengan Black. Kamu, adalah gadis pertama yang menjadi sasarannya. Dan aku, tidak menyukai hal itu," terang Hong Ki dengan mimik wajah serius.
Sarah menelan ludahnya. Entah mengapa ia merasa takut dengan tatapan Hong Ki. Ia bahkan harus memaksakan diri untuk tetap tampak tenang.
"Black tidak pernah menolong seseorang sebelumnya, Sarah. Mungkin karena itulah Tae Sang mengincarmu," terang Ye Na yang langsung mendapat tatapan tajam dari Song Eun.
Hong Ki tahu jika kedatangan Ye Na hanya untuk mengganggu waktunya bersama Sarah. Namun, ia punya cara yang lebih baik dari Song Eun untuk membungkam mulut gadis manja itu.
"Sarah, jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkan Tae Sang atau Black menyakitimu. Percaya padaku," tukas Hong Ki sebelum akhirnya meraih tangan Sarah dan menggenggamnya. Sengaja menunjukkan hal tersebut pada Ye Na yang hanya bisa menahan cemburu.
Song Eun tersenyum puas melihat wajah cantik Ye Na tertekuk sedemikian rupa. Biar gadis itu tahu rasa. Akan tetapi, tak ada yang tahu, bahwa Sarah tak menyukai semua itu.
***
● saengil chukkae : selamat ulang tahun
***