Something Called Love

Something Called Love
Berteman



Kim Ye Na menatap wajahnya di cermin dengan sebal. Seharian ini ia hanya berdiam di kamar, mencoba berbagai gaya riasan yang baru. Namun tak ada yang memuaskan hatinya. Yang ada, ia justru marah setiap kali melihat wajahnya yang tetap cantik dengan riasan apa pun.


"Kenapa kamu tidak pernah menggubrisku, Oppa?" gumam Ye Na lemah. Bayangan wajahnya yang terpoles make up natural dengan rambut tergerai sungguh tampak sempurna. Namun sepertinya tak pernah cukup sempurna untuk bisa meraih hati Hong Ki.


Ye Na menghembuskan napas dengan kasar saat bayangan wajahnya di cermin tiba-tiba berganti dengan wajah Sarah. Gadis itu tersenyum sembari memamerkan pita kain berwarna ungu gelap yang seringkali ia pakai.


Sarah.


Gadis itu tidak cantik, walaupun tidak bisa dibilang jelek juga. Akan tetapi, dialah gadis pertama yang berhasil menarik perhatian Hong Ki. Sedangkan Ye Na yang kecantikannya bak model justru selalu ditolak mentah-mentah.


Sungguh tidak adil. Ye Na rasanya ingin menyerah saja. Ingin berhenti menjadi gadis yang terlalu berharap akan cinta pemuda macam Hong Ki. Ia tidak mengerti, kenapa juga sulit baginya melupakan pemuda cuek tersebut. Ye Na bisa dengan mudah mendapatkan pemuda lain, tapi entah kenapa ia justru sulit move on dari Hong Ki.


Lee Hong Ki, pemuda sok cool dan agak arogan. Ia bukan siswa tertampan, tidak jago olahraga dan sedikit anti sosial. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana akhirnya Ye Na bisa jatuh cinta pada pemuda itu tanpa embel-embel apa pun. Karena sejatinya Ye Na juga tidak peduli jika orang tua Hong Ki adalah pemilik sekolah atau bukan.


Bosan memandangi wajahnya di cermin, Ye Na meraih ponselnya yang ada di atas nakas. Ia mencari kontak Hong Ki dan tersenyum sewaktu menemukan sederet angka bertuliskan My Prince.


Setiap malam Ye Na mengirim pesan singkat pada Hong Ki. Sekadar ucapan selamat malam yang bahkan tak pernah mendapatkan balasan.


Lelah? Tentu saja. Namun apa yang bisa Ye Na lakukan?


Tidak ada.


Dengan lincah, jemari Ye Na mengetik sederet kalimat yang tiap malam ia tujukan untuk Hong Ki. Setelah mengirimnya, Ye Na merebahkan diri di atas kasur. Matanya menatap langit-langit kamar, memikirkan satu hal yang tiba-tiba saja terlintas di otaknya.


Seutas senyum terlukis di bibir Ye Na. Setidaknya, ia masih memiliki harapan.


***


Sarah baru saja turun dari tangga menuju atap ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Ye Na.


"Annyeong! Kamu teman sekelas Hong Ki oppa, bukan?" sapa Ye Na. Sarah yang tidak menyangka akan disapa lebih dulu hanya bisa mengangguk mengiyakan. "Aku Kim Ye Na," lanjutnya seraya mengulurkan tangan.


Sarah menerima uluran tangan Ye Na dan balas menyebutkan nama.


"Hong Sa Ra. Panggil saja Sarah."


"Sarah, senang berkenalan denganmu," ujar Ye Na sembari tersenyum ramah. Berbeda dengan saat mereka pertama kali bertemu. Saat itu Ye Na tampak tidak senang saat melihat Sarah. Sebenarnya bukan hanya saat itu, tapi hampir setiap kali saat mereka bertemu.


Mungkin Ye Na cemburu, mengira Sarah dan Hong Ki memiliki hubungan khusus. Bukankah Song Eun bilang jika Ye Na menyukai Hong Ki? Jadi wajar saja gadis itu cemburu. Sarah justru heran pada Hong Ki yang bisa mengabaikan gadis secantik Ye Na.


"Kamu mau kembali ke kelas? Tidak ingin mampir ke kelasku dan bertemu Hong Ki?" tanya Sarah yang sedetik kemudian menyadari jika ucapannya terlalu blak-blakan.


Ye Na tampak tidak percaya dengan tawaran Sarah. Meski sebenarnya ingin, ia harus menolak tawaran itu. Namun sebelum sempat menjawab, Hong Ki dan Song Eun muncul menghampiri mereka berdua.


"Sarah, darimana saja kamu? Aku lapar. Ayo kita ke kantin!" ajak Song Eun yang belum menyadari keberadaan Ye Na. Sementara Hong Ki sudah bisa melihatnya semenjak tadi dan langsung memasang wajah curiga.


"Sedang apa kamu bersama Sarah?"


"Kami hanya berkenalan." Sarah mendahului Ye Na untuk menjawab. Tak peduli dengan reaksi Hong Ki maupun Song Eun. "Oh, ya, Ye Na-ya, ikutlah ke kantin bersama kami."


Hong Ki menatap Ye Na tajam. Berharap gadis itu mengerti jika kehadirannya tidak diharapkan. Namun Ye Na pura-pura tak melihat Hong Ki dan segera mengiyakan ajakan Sarah. Sementara Song Eun hanya memandangi ketiga orang tersebut dengan bingung.


Dengan terpaksa Hong Ki membiarkan Ye Na ikut bersamanya. Meski saat ini gadis itu tidak berulah, Hong Ki tetap merasa tidak suka. Namun ia mengesampingkan egonya kali ini. Demi Sarah.


Mereka berempat berjalan bersama menuju kantin, tetapi di tengah perjalanan Song Eun segera menarik Sarah mendekat. Ia tidak sabar menunggu hingga mereka tiba di kantin untuk bisa menjawab rasa penasarannya.


"Yakin. Dia kelihatannya baik."


Sarah terkadang terlalu polos untuk menyadari jika seseorang seringkali berniat buruk dengan menggunakan sikap yang baik. Hal yang sering menjadi kekhawatiran Song Eun.


"Memangnya kapan kalian bertemu?"


"Tadi, sehabis aku dari atap."


"Atap? Untuk apa kamu ke sana?" Song Eun benar-benar heran dengan tingkah Sarah akhir-akhir ini. Gadis itu seolah tidak peduli bahwa ada yang selalu khawatir padanya.


Bukannya menjawab, Sarah justru senyum-senyum sendiri. Di saat yang bersamaan, Song Eun ingat jika tadi temannya itu buru-buru keluar kelas sembari membawa sekotak kue.


"Menemui 'dia'?" tebak Song Eun, karena sejatinya ia sendiri tak yakin siapa Guardian Angel Sarah. Ia juga tidak tahan untuk bertanya lebih lanjut saat Sarah mengiyakan pertanyaannya. "Aku pikir ucapan terima kasihnya cukup sekali."


"Entahlah, Song Eun. Aku merasa senang bisa membuat kue untuknya setiap hari. Bukankah ini aneh?"


"Apa kamu menyukainya? Sebenarnya siapa, sih, dia?"


Rasa ingin tahu Song Eun urung terpuaskan saat Hong Ki menoleh ke arahnya, lalu menarik Sarah mendekat.


"Jangan berbisik-bisik saat kita bersama. Kamu tahu aku mudah curiga," ujar Hong Ki seraya menggenggam erat tangan Sarah yang hanya bisa menampilkan ekspresi bingung. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi genggaman Hong Ki justru menguat sehingga ia memilih diam.


Song Eun melirik Ye Na yang sedari tadi berjalan di samping Hong Ki. Penasaran dengan reaksi gadis itu. Namun, hanya ekspresi datar yang bisa Song Eun tangkap di wajahnya. Setelah itu sebuah senyuman yang tampak dipaksakan.


Bergantian Song Eun melirik Ye Na lalu Hong Ki dan Sarah. Otaknya disergap berbagai tanya yang mengganggu, yang dulu tak pernah perlu ia pusingkan. Akan tetapi ia tak bisa melakukannya sekarang, karena hal itu menyangkut Sarah.


Apa Ye Na punya maksud lain berteman dengan Sarah?


Dan siapa Guardian Angel Sarah yang sebenarnya?


***


Min Hyuk baru terbangun dari tidur siangnya yang nyenyak. Yang tak lagi terasa damai begitu ia kembali menemukan sebuah kotak ungu di samping kirinya.


Dia lagi


Entah apa maksud gadis itu dengan kembali mengirimi Min Hyuk kue. Bukannya enggan, karena Min Hyuk sendiri mengakui jika kuenya sangat enak. Tetapi dengan kemunculan Tae Sang dan ancamannya kemarin membuat gadis itu sama saja dengan bunuh diri jika masih berani mendekati Min Hyuk.


Dibukanya kotak tersebut, lalu tampak beberapa potong kue berwarna ungu berlapis krim dengan topping buah blackberry.


Min Hyuk mendesah, apa yang harus ia lakukan dengan kue yang tampak lezat itu sekarang? Apa ia harus mengembalikannya?


Sepertinya Min Hyuk harus mencari tempat lain untuk tidur agar gadis bernama Sarah itu tak lagi mengganggu. Namun, ia rasa tak perlu secepat itu. Mungkin ia bisa menunggu gadis itu besok dan berbicara langsung padanya agar berhenti memberi Min Hyuk apa pun. Sementara itu, ia akan membawa kue lezat dalam kotak itu pulang.


Kedengarannya itu lebih baik.


***


● oppa : panggilan dari perempuan untuk kakak laki-laki atau kekasih


***