Something Called Love

Something Called Love
Pengakuan



"Annyeonghaseyo!"


Sarah yang sedari tadi berjalan ke gerbang sekolah sembari melamun akhirnya tersadar berkat sapaan tersebut. Ia berhenti memandangi kedua sepatunya lalu mendongak.


Seorang pria berusia tiga puluh tahunan yang ternyata menyapanya. Sarah bisa menebak begitu karena pria tersebut tampak seumuran dengan pamannya yang tinggal di Indonesia. Adik dari ibunya.


"Annyeonghaseyo, Ahjussi. Ada apa, ya?" tanya Sarah heran karena merasa tidak mengenal beliau.


Pria itu tersebut tersenyum ramah meski penampilannya tidak mencerminkan hal yang sama. Jas dan celana hitam yang beliau pakai terlihat aneh berada di lingkungan sekolah. Belum lagi kacamata hitamnya. Beliau jadi tampak seperti bodyguard yang ada di film-film.


"Kamu sekolah di sini, kan? Kamu mengenal Min Hyuk? Nam Min Hyuk?"


Tak serta merta menjawab, Sarah justru berpikir. Ada urusan apa pria ini dengan Min Hyuk? Apa jangan-jangan Min Hyuk adalah putra dari keluarga kaya yang menyamar dan pria itu salah satu pengawalnya? Atau justru sebaliknya, pria itu bermaksud menculik Min Hyuk.


"Mianhaeyo, tapi ahjussi ini siapa?"


Pria itu kembali tersenyum ramah. Menyadari kecurigaan Sarah yang beralasan.


"Saya ini pamannya Min Hyuk. Nam In Sung. Dia pasti tidak pernah cerita karena sangat irit bicara," jawab pria yang ternyata paman Min Hyuk tersebut.


Sarah merasa lega, walaupun belum bisa percaya sepenuhnya.


"Ahjussi benar. Dia sangat dingin," timpal Sarah tanpa sadar. Lalu hanya bisa nyengir sewaktu sadar ia keceplosan.


"Tidak apa-apa. Oh, ya, saya ke sini hanya ingin memberikan sesuatu, tapi tak bisa menyampaikannya langsung pada Min Hyuk. Bisakah saya menitipkannya padamu?" In Sung menunjukkan sebuah kotak berwarna coklat pada Sarah. Namun Sarah tak berani untuk mengulurkan tangan dan menerimanya.


"Apa ini, Ahjussi?"


"Hari ini Min Hyuk ulang tahun. Tapi pamannya yang tidak berguna ini tidak bisa sekadar membuatkan sup rumput laut dan bahkan harus pergi bekerja ke luar kota. Hanya ini yang bisa saya siapkan untuknya."


Sarah hanya bisa diam mendengar curahan hati In Sung. Tak tahu harus menanggapi apa. Telinganya lebih peka dengan kalimat 'Min Hyuk ulang tahun'.


"Saya ingin membantu, tapi mungkin Min Hyuk tidak akan suka. Mianhaeyo," kilah Sarah yang yakin alasannya akan jadi kenyataan jika ia menerima permintaan In Sung.


Sadar betul dengan sifat keponakannya, In Sung berpikir harus mencari cara lain.


Sembari menunggu jawaban In Sung, Sarah memainkan tali ranselnya dengan gugup, bermaksud minta ijin untuk segera pergi. Namun ia takut, terlebih saat In Sung tiba-tiba melayangkan tatapan meneliti padanya. Aneh.


"Jangan pikirkan sikap Min Hyuk. Dia memang begitu. Jadi, saya mohon kamu mau membantu, ya?"


Sarah melirik kotak di tangan In Sung. Jujur saja, ia tergoda untuk menerima permintaan itu. Menjadi salah satu orang yang bisa mengucapkan selamat ulang tahun pada Min Hyuk tentu hal yang istimewa. Namun, ingatan tentang tatapan Min Hyuk saat di Daegu Arboretum membuat Sarah ragu. Juga tentang kesepakatan yang mengharuskan Sarah berhenti mendekati Min Hyuk.


"Ah, saya harus segera pergi. Terima kasih atas bantuannya, ya?" Setelah melirik jam tangannya sejenak, In Sung segera meraih tangan Sarah dan meletakkan kotak itu di sana. Lalu bergegas pergi meski Sarah belum mengiyakannya.


"Tapi, ahjussi,..."


In Sung tidak menggubris usaha Sarah yang berusaha menolak. Ia terus berjalan pergi menuju sebuah mobil mewah berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari sana.


Namun, gerakan In Sung terhenti ketika sudah membuka pintu mobil dan bersiap masuk. Dengan senyum lebar, ia berpamitan pada Sarah.


"Omong-omong, Min Hyuk merindukan kue darimu, Gadis Penyuka Ungu," seru In Sung sebelum akhirnya benar-benar masuk ke mobil dan pergi.


Sarah hanya membeku di tempat. Bagaimana paman Min Hyuk bisa tahu jika dia pernah mengirimkan kue pada keponakannya? Sarah yakin jika Min Hyuk tidak akan repot-repot untuk bercerita tentangnya.


Pandangan Sarah beralih pada kotak yang In Sung tinggalkan di tangannya. Lalu, ia menghembuskan napas perlahan. Bingung.


***


Tidak seperti biasa, Min Hyuk datang ke atap sekolah sebelum bel masuk kelas. Ia sedang ingin menyendiri pagi ini. Itulah kenapa yang dilakukannya sekarang bukan tidur, tapi berdiri di salah satu sudut atap dan memandangi langit.


Hari ini adalah ulang tahun Min Hyuk. Usianya sudah 18 tahun sekarang. Akan tetapi, sama seperti tahun-tahun sebelumnya, ia tak pernah merasa hari itu adalah hari yang istimewa.


Min Hyuk tidak menginginkan hadiah. Ia terlalu besar untuk menerima hal-hal semacam itu. Namun ia juga tak tahu apa yang ia harapkan.


Mungkin sebuah perhatian. Hal yang hilang dari hidupnya sejak lima tahun lalu. Sejak kepergian kedua orangtuanya dalam sebuah kecelakaan. Namun, Min Hyuk sama sekali tidak menyalahkan takdir yang merenggut ayah dan ibunya. Karena perhatian yang ia sesalkan bukanlah dari mereka, melainkan dari teman-teman yang dulunya ia anggap berharga.


Masa lalu.


Min Hyuk menghembuskan napas panjang. Ia lebih suka menguburnya dalam-dalam. Saat ini, hanya ada dia dan pamannya. Itu sudah lebih dari cukup.


Lamunan Min Hyuk terhenti ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Ia menoleh ke sumber suara dan melihat Sarah yang datang.


Ck, gadis itu. Mau apa dia datang lagi?


Posisi Min Hyuk saat ini memang tidak terlihat dari arah Sarah. Sehingga ia bisa mengamati gerak gerik gadis itu tanpa Sarah sadari.


Sarah membawa sebuah kotak berwarna coklat di tangannya. Lebih besar dari kotak kue yang pernah ia berikan pada Min Hyuk. Gadis itu melangkah hati-hati sembari celingukan sesekali, seolah tidak ingin ketahuan. Lalu, ketika sampai di depan pot besar tempat Min Hyuk biasa bersandar, Sarah meletakkan kotak tersebut.


Segera setelahnya, Sarah buru-buru berbalik pergi. Namun, dengan gerakan yang lebih cepat, Min Hyuk berhasil menghadangnya.


"Aku rasa kesepakatan kita waktu itu sudah sangat jelas," sindir Min Hyuk. Ia melayangkan tatapan tajam pada Sarah yang justru melihat ke arah lain. Sengaja menutupi keterkejutannya atas kemunculan Min Hyuk yang tiba-tiba.


"Jadi, bawa kembali benda itu bersamamu!" perintah Min Hyuk sembari menunjuk kotak coklat yang tadi dibawa Sarah.


Sarah akhirnya balas menatap Min Hyuk. Ekspresinya sulit diartikan. Namun, sepasang netra coklat milik gadis itu tetap memancarkan rasa hangat seperti yang terakhir Min Hyuk lihat. Rasa hangat yang pernah membuatnya tanpa sadar terbawa suasana.


Namun, mereka tidak sedang berada di Daegu Arboretum sekarang. Bukan pepohonan hijau dan bunga-bunga indah yang tengah mengelilingi mereka saat ini, melainkan gedung sekolah yang selalu mengingatkan Min Hyuk pada tujuan hidupnya. Tujuan yang jauh lebih penting. Jadi, tidak ada lagi alasan baginya untuk bisa kembali terlena oleh tatapan Sarah.


Tidak akan.


"Aku hanya ingin menjalankan kesepakatan kita. Jadi, tolong biarkan aku pergi," pinta Sarah.


"Tentu. Tapi bawa juga benda itu." Min Hyuk kembali menunjuk kotak tadi.


Sarah menggeleng. Arah pandangnya berubah. Gadis itu sengaja menghindari tatapan mata Min Hyuk.


"Aku bersedia mengantar kotak itu bukan berarti aku lupa dengan janjiku," jawab Sarah. Tubuhnya terasa gerah. Tidak nyaman berada bersama Min Hyuk lebih lama lagi. "Nam In Sung. Kotak itu dari beliau," lanjutnya seraya melirik sekilas Min Hyuk yang tampak terkejut dengan nama itu.


"Bagaimana bisa kalian...?" Min Hyuk menggantung kalimatnya. Ia tidak yakin harus mengatakan sesuatu yang kekanak-kanakan pada Sarah. "Kamu tidak sengaja mendekatinya juga, kan? Untuk mencari tahu tentangku?"


Terlambat.


Min Hyuk sudah mengucapkannya. Kalimat yang menunjukkan betapa ia percaya diri tentang niat Sarah. Kalimat yang ia sesali sedetik kemudian. Kalimat yang sama sekali bukan dirinya.


Seketika itu juga Sarah mengangkat wajah dan melayangkan tatapan tajam. Ucapan Min Hyuk sudah melukai harga dirinya.


"Aku tidak sepicik itu."


Sejatinya, Min Hyuk tertohok dengan sepasang mata coklat yang kini memanas itu. Sadar betul bahwa kata-katanya sudah keterlaluan. Namun, ia tidak berniat untuk meminta maaf. Justru bagus jika Sarah benar-benar benci padanya lalu menjauh.


"Kita tidak pernah tahu, kan? Pamanku bahkan tidak mengenal satu pun guruku di sini, tapi bisa mengenalmu." Sengaja Min Hyuk mengobarkan percikan emosi dalam diri Sarah agar semakin membesar. Bisa ia lihat jemari gadis itu mengepal kuat, berusaha meredam amarahnya.


"Jika kamu membenciku, cukup katakan saja tidak. Aku akan menerimanya. Itu juga yang berusaha aku katakan saat pamanmu meninggalkan kotak itu padaku." Alih-alih mengungkapkan kemarahannya, Sarah justru menarik napas dalam dan membalas dengan kalimat sedatar mungkin. Tidak ingin mengikuti permainan Min Hyuk. "Dan, biarkan aku pergi sekarang," pintanya kemudian.


Min Hyuk bergeming, tapi juga tak lagi menghadang saat Sarah melangkah melewatinya. Namun, ia kembali berbicara sebelum Sarah sempat mencapai pintu.


"Kamu bisa menolaknya jika tidak mau, supaya kita tidak harus bertemu lagi."


Sarah urung pergi dan berbalik menghadap tubuh Min Hyuk yang membelakanginya.


"Aku tidak bisa. Karena sebagian diriku menginginkannya."


Sarah tahu Min Hyuk akan menuntut penjelasan untuk hal itu. Karenanya ia masih diam di tempat, menunggu Min Hyuk bicara. Namun, tak terdengar sepatah kata pun dari mulut pemuda itu. Entah ia memang tak peduli atau Sarah yang terlalu yakin Min Hyuk akan peduli.


Sarah kembali menghembuskan napas dengan perlahan. Ia tidak berencana untuk melakukan hal ini. Akan tetapi, jika ini adalah pertemuan terakhir mereka berdua, Sarah ingin sekali Min Hyuk mengingat pengakuannya.


"Karena aku menyukaimu."


Tak menunggu reaksi Min Hyuk, Sarah bergegas pergi. Lalu menghilang di balik pintu besi. Menyisakan tubuh Min Hyuk sendirian di sana dengan sebentuk perasaan asing.


***


Ye Na melipat kedua tangannya di dada, sementara tubuhnya bersandar pada dinding dekat tangga menuju atap. Sama seperti beberapa menit yang lalu.


Tadi sewaktu baru tiba di sekolah, Ye Na tanpa sengaja melihat Sarah sedang berbincang dengan seorang pria berpakaian hitam-hitam. Pria tersebut memberi Sarah sebuah kotak sebelum akhirnya pergi dengan menaiki sebuah mobil mewah.


Penasaran? Tentu saja. Itulah sebabnya Ye Na mengikuti Sarah. Ia terhenti di bawah tangga menuju atap, tempat di mana ia melihat Tae Sang mengganggu Sarah tempo hari. Namun, ia memilih menunggu daripada terus membuntuti Sarah menuju atap dan mendapat kemungkinan bertemu Tae Sang si berandal sekolah. Itu bukan ide yang bagus.


Tak lama kemudian, terdengar derap langkah kaki dari tangga atas. Suaranya semakin mendekat, memaksa Ye Na untuk segera menyembunyikan diri.


Tampak Sarah yang turun dengan langkah cepat, seolah berusaha menghindari sesuatu atau seseorang. Wajahnya tampak murung.


Ye Na segera keluar dari tempat persembunyiannya begitu Sarah telah menjauh. Namun, belum sempat ia menebak apa yang terjadi pada gadis itu, Ye Na dikejutkan dengan kemunculan Min Hyuk.


Pemuda itu turun dari tempat yang sama dengan Sarah. Langkahnya juga cepat, seperti tengah mengejar sesuatu. Ia tampak panik hingga tak menyadari keberadaan Ye Na. Sama seperti Sarah, Min Hyuk juga menghilang di antara siswa-siswa yang mulai ramai berdatangan.


Ye Na tampak berpikir. Tadinya ia kira Sarah menemui Tae Sang. Dugaan itu lebih masuk akal mengingat waktu itu mereka sempat bermasalah. Ia sama sekali tidak menduga jika justru Min Hyuk yang kemudian muncul.


Tiba-tiba Ye Na teringat saat Sarah dan Hong Ki melewati kelasnya tempo hari.


Bukan soal mereka yang bergandengan tangan. Ye Na jelas tidak ingin membayangkan hal itu lagi. Tetapi soal tatapan mata Sarah dan Min Hyuk waktu itu.


Ye Na terperanjat ketika kesimpulan itu mendadak muncul di otaknya. Kesimpulan paling logis dari bukti-bukti yang ada.


Jangan-jangan Min Hyuk dan Sarah...


***


● annyeonghaseyo : hai, halo (formal, lebih sopan)


● ahjussi : paman (tidak memiliki hubungan keluarga)


● Mianhaeyo : maaf (formal, lebih sopan)


***