
Akhir-akhir ini Min Hyuk merasa ada yang aneh dengan dirinya. Liburan musim panas harusnya menyenangkan untuk dijalani, tapi tidak baginya. Saat remaja lain menghabiskan liburan mereka dengan jalan-jalan atau bekerja, Min Hyuk justru hanya mengurung dirinya di rumah seharian. Menyibukkan diri dengan membaca tumpukan buku peninggalan orangtuanya. Akan tetapi, bukan itu bagian anehnya.
Kue-kue manis.
Makanan berbahan dasar gula yang terkadang masih dibubuhi atau dilapisi hal manis lainnya itulah yang telah membuat hidup Min Hyuk berubah.
Sebenarnya tidak sehebat itu. Hanya saja, kebiasaannya makan makanan pedas tiba-tiba tersingkir begitu saja. Setiap kali ia membayangkan makanan, maka kue-kue itulah yang muncul di pikirannya.
Bukankah itu aneh?
Contohnya hari ini. Setelah menyelesaikan satu buku untuk dibaca, perutnya tiba-tiba berbunyi. Ia lapar. Namun, bukannya memeriksa isi kulkas yang tak pernah kosong oleh makanan-walaupun tak benar-benar penuh juga, Min Hyuk justru meraih dompet dan jaket di gantungan dekat lemari. Bersiap untuk pergi.
"Annyeong, Hyung!" Sebuah sapaan menyambut Min Hyuk yang baru saja menutup pintu apartemennya.
Lee Jeong Jin, pemuda sebaya Min Hyuk yang tinggal di depannya. Mereka seumuran, tapi Jeong Jin selalu memanggil Min Hyuk dengan sebutan hyung.
"Annyeong," jawab Min Hyuk. Ia melihat tangan Jeong Jin membawa dua buah kardus yang cukup besar. Ada tulisan di sudut kiri atas salah satu kardus. Nama sebuah toko kue yang sama dengan tujuan Min Hyuk.
"Mau pergi?"
"Ne. Kamu juga?" tanya Min Hyuk balik.
Jeong Jin mengangguk.
"Ya, ada pesanan yang harus aku antar sekarang. Biasanya hanya pagi hari, tapi mendadak mereka meminta tambahan. Sepertinya toko kue itu sedang laris manis, Hyung."
Jeong Jin berbeda dengan pemuda kebanyakan yang pernah Min Hyuk kenal. Ia pekerja keras yang tak banyak bicara. Mereka pun hanya sesekali saja tanpa sengaja bertemu. Namun, Jeong Jin adalah pemuda yang ramah. Bahkan pada Min Hyuk yang kerap bersikap dingin.
"Aku juga ingin pergi ke toko kue di dekat halte. Apakah tempat itu yang akan kamu datangi?"
"Benar, Hyung. Kebetulan sekali. Kita bisa ke sana bersama-sama." Jeong Jin berseru penuh semangat.
"Oh, tentu. Kalau begitu biar aku bantu."
Tanpa menunggu jawaban, Min Hyuk mengambil alih salah satu kardus dari tangan Jeong Jin. Kedua pemuda itu lalu berjalan beriringan menuju tempat yang mereka tuju.
***
Ini sama sekali di luar rencana Sarah. Tadinya ia berencana langsung pulang setelah membeli buku. Dan, langit sangat cerah sedari pagi. Ia tidak menduga jika hujan tiba-tiba turun begitu bus yang tadi ia naiki melaju pergi.
Ada dua masalah sekarang. Pertama, Sarah masih berada di halte. Dan, kedua, ia tidak membawa payung. Jadilah ia sukses terjebak di sana. Belum lagi halte tengah sepi dan hari sudah mulai gelap.
"Butuh teman?"
Sarah menoleh mencari sumber suara tersebut. Lalu kedua matanya membulat. Tak menyangka akan bertemu di sana.
"Hong Ki ssi, kenapa kamu ada di sini?" Pertanyaan yang teramat wajar untuk mewakili rasa terkejut Sarah.
Hong Ki tersenyum tipis. Ia segera melipat payung berwarna biru cerah yang ia pakai, kemudian ikut duduk di samping Sarah, berteduh di halte.
"Menemanimu," jawab Hong Ki seraya mengibaskan tetes air hujan yang membasahi lengannya.
"Kamu mengikutiku?" tanya Sarah spontan. Namun, ia buru-buru meralat sebelum Hong Ki merasa tersinggung. "Maksudku, aku...,"
"Mianhae, sejak di toko buku tadi kamu terlihat serius. Aku tidak berani mengganggu," jawab Hong Ki yang mengartikan satu hal.
Sarah terdiam. Hong Ki ternyata mengikutinya sejak dari toko buku. Dan, ia sama sekali tidak menyadarinya. Entah kenapa fakta itu membuat kecanggungan Sarah ketika menghadapi Hong Ki semakin bertambah.
"Kamu harusnya menegurku. Atau biarkan saja aku pulang sendiri, tidak perlu menemaniku," cetus Sarah. Tak tahu harus menjawab apa selain yang baru saja terucap dari bibirnya.
Lagi-lagi Hong Ki tersenyum. Kali ini lebih lebar. Menampilkan lesung di kedua pipinya yang semakin kentara. Dan, membuat pemuda itu semakin tampan.
Aigoo, Sarah! Apa yang kamu pikirkan?
Buru-buru Sarah mengenyahkan pikiran tersebut. Pada dasarnya Hong Ki memang tampan. Pemuda itu juga baik, bahkan terlalu baik hingga terkadang membuat Sarah takut.
"Sudah seharusnya aku menjaga orang yang aku sayangi."
Kalimat tersebut semakin membungkam Sarah. Secara tidak langsung, Hong Ki mengakui perasaannya pada Sarah untuk kesekian kali. Seolah jawabannya waktu itu tidak berarti apa pun.
"Gomawo, Hong Ki-ssi. Aku akan menelepon ibu agar datang menjemputku. Kamu bisa pulang sekarang." Meski terkesan mengusir, Sarah tidak peduli. Ia hanya ingin segera tiba di rumah. Dan, itu tidak akan terjadi jika Hong Ki masih menemaninya.
"Tidak perlu. Aku akan mengantarmu. Ayo!" ajak Hong Ki.
Sarah merutuki dirinya sendiri dalam hati. Apa yang baru saja ia katakan justru ide yang buruk. Terlebih karena ia tidak punya alasan yang tepat untuk menolak.
Hong Ki bangkit dari duduknya. Ia membuka kembali payung biru yang sudah terlipat tadi, lalu mengulurkan tangannya pada Sarah.
"Aku tidak ingin merepotkanmu. Sungguh." Sarah berusaha untuk menolak meski tak yakin akan berhasil.
Dengan lembut, Hong Ki meraih tangan Sarah. Memaksa gadis itu ikut bangkit dan merapat ke arahnya.
"Justru akan sangat merepotkanku jika membiarkanmu sendirian. Bagaimana jika terjadi sesuatu sebelum ibumu tiba di sini?" Hong Ki menggenggam jemari Sarah. Membuatnya terasa hangat di tengah hujan. "Aku benar-benar khawatir padamu, Sarah."
Cara itu selalu ampuh. Hong Ki selalu bisa membuat Sarah tak bisa menolak ataupun melawan saat ia menggenggam tangan gadis itu.
Aku tahu, batin Sarah. Ia bahkan tahu Hong Ki selalu khawatir padanya. Di satu sisi Sarah merasa senang ada yang begitu peduli padanya. Namun, di sisi lain ia justru merasa terbebani dengan kepedulian yang berlebih itu. Sayangnya, perasaan tersebut justru tak bisa ia bagikan pada orang lain. Tak terkecuali pada Song Eun.
Sarah akhirnya mengangguk. Membiarkan Hong Ki menuntunnya, bersama-sama melewati hujan di bawah naungan sebuah payung.
Itu adalah saat yang begitu romantis, bukan? Sarah bisa merasakan hangatnya tangan Hong Ki di tengah dinginnya udara saat hujan. Namun, hanya itu. Tak ada yang lain. Padahal jarak mereka berdua begitu dekat.
Tiba-tiba terlintas wajah itu. Wajah Nam Min Hyuk dengan tatapan dinginnya.
Ah, ini tidak benar.
Sarah harusnya tidak memikirkan Min Hyuk. Bukankah mereka sudah tak punya urusan? Lagipula apa yang diharapkannya?
Di tengah hujan deras dan dingin seperti ini, tidak akan ada yang namanya kehangatan dari Min Hyuk. Sarah lebih percaya jika pemuda itu akan membuat cuaca lebih suram dengan tatapan dinginnya.
***
Sarah memandangi seporsi samgyeotang yang ada di hadapannya. Rasa tidak nyaman semakin menguasai ketika Hong Ki justru membawanya ke sebuah rumah makan alih-alih segera mengantarnya pulang.
"Kamu tidak suka? Ini bagus dimakan dalam cuaca dingin seperti sekarang," ujar Hong Ki yang menyadari jika Sarah belum menyentuh makanannya sama sekali.
Gadis itu pasti tidak suka karena Hong Ki tiba-tiba mengajaknya mampir untuk makan. Mereka bahkan belum begitu jauh dari halte. Namun, jika bisa menciptakan berbagai alasan untuk membuat Sarah lebih lama bersamanya, sudah pasti Hong Ki akan melakukannya.
"Setelah ini kita langsung pulang, kan?"
"Tentu. Siapa tahu hujannya juga akan reda setelah kamu selesai makan."
Sarah masih tampak ragu. Namun, akhirnya ia mengambil sendok dan mulai menyantap makanannya.
Bibir Hong Ki menerbitkan seutas senyum melihat Sarah makan. Sementara ia sendiri tak menyantap apa pun, membiarkan makanannya utuh. Hong Ki lebih memilih memandangi lekat gadis di hadapannya itu.
Namun, keasyikan Hong Ki harus terhenti saat Sarah menyadari satu hal.
"Kenapa kamu tidak ikut makan, Hong Ki ssi?"
Tangan Hong Ki bergerak. Mendekat ke arah tangan kiri Sarah yang tengah bebas. Tanpa berkata apa pun, digenggamnya erat tangan gadis itu. Mengalirkan kehangatan pada tangannya yang dingin.
Sarah yang terkejut dengan tindakan Hong Ki buru-buru menarik tangannya. Namun, Hong Ki dengan sigap kembali meraihnya.
"Sebentar saja. Hingga hujan reda, biarkan aku menggenggam tanganmu seperti ini," pinta Hong Ki.
Sarah tetap menarik tangannya dari genggaman Hong Ki. Berharap pemuda itu bisa mengerti maksudnya. Ia belum siap menjalin hubungan dengan siapa pun. Termasuk Hong Ki. Kalau saja boleh jujur, Sarah belum bisa melupakan Min Hyuk. Ia tidak mau memaksakan diri yang justru berujung menjadikan Hong Ki sebagai pelarian semata.
"Mianhae."
Hong Ki mengerti. Tindakan Sarah sudah menjelaskan jika gadis itu belum memberi tempat bagi Hong Ki di hatinya. Namun, bukan berarti tak mungkin. Akan ada nama Hong Ki di hati Sarah kelak. Pasti. Ia hanya harus bersabar menunggu.
Hujan di luar belum reda. Udaranya masih terasa dingin. Dan, Hong Ki ingin melewatkannya bersama Sarah, meski hanya dengan duduk berhadapan dalam diam.
***
"Hyung, sepertinya hujan tidak akan segera reda. Bagaimana kalau kita mampir untuk makan samgyeotang dan minum secangkir teh hangat?"
Jeong Jin menoleh pada Min Hyuk yang masih berdiri diam di depan toko kue. Mereka berdua sudah menyelesaikan urusan masing-masing semenjak satu jam yang lalu. Jeong Jin mengantar pesanan barang dan Min Hyuk membeli sekotak kue. Namun, hujan menghadang rencana kepulangan mereka.
Keduanya bisa saja menerobos hujan jika tidak sabar menunggu. Namun, Min Hyuk memilih untuk melindungi kue yang baru saja dibelinya. Ia tidak mau kue blackberry miliknya menjadi rasa air hujan.
"Terdengar sangat cocok di makan dingin-dingin begini. Di mana tempatnya?" tanya Min Hyuk.
Jeong Jin mengarahkan jari telunjuknya ke sebuah rumah makan yang berada di seberang toko kue. Tempatnya tidak begitu besar, tapi cukup ramai.
"Aku yang traktir, Hyung," ujar Jeong Jin.
Min Hyuk sama sekali tidak keberatan. Lagipula usul Jeong Jin memang sangat cocok dilakukan di tengah cuaca dingin seperti sekarang.
Min Hyuk hampir menganggukkan kepala untuk menyetujui ajakan Jeong Jin ketika matanya menangkap sesuatu yang menarik perhatian dari rumah makan tersebut.
Hong Ki dan Sarah.
Dua sejoli itu lagi. Mereka berdua duduk di tempat yang dekat dengan jendela sehingga bisa terlihat jelas dari luar. Bahkan sangat jelas sekalipun hujan yang turun sedikit memburamkan pandangan.
Min Hyuk mendengus. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Hong Ki begitu lekat menatap Sarah. Padahal gadis itu terlihat sangat tidak nyaman dengan tindakannya.
Bukan urusanku
Benak Min Hyuk terus bergumam. Pikirannya memberi perintah dengan jelas agar ia segera pergi dari sana agar tak perlu menjadi penonton drama percintaan yang tengah Hong Ki mainkan. Namun, tubuhnya masih bergeming.
"Hyung?"
Jeong Jin menegur Min Hyuk yang tak kunjung bersuara.
Mulut Min Hyuk bersiap mengeluarkan sepatah kata untuk Jeong Jin. Akan tetapi, lagi-lagi niat itu urung.
Hong Ki mengenggam tangan Sarah dengan erat. Tersenyum manis pada gadis itu dengan tatapan penuh cinta. Tanpa alasan yang jelas, Min Hyuk yang melihatnya mendadak merasa muak. Tanpa ia sadari pula, tangannya sudah meremas tepian kotak kuenya dengan kuat. Meninggalkan bekas remuk yang kentara di sana.
"Lain kali saja, Jeong Jin. Aku pulang duluan."
Min Hyuk tak memberi penjelasan apa pun. Ia berlari pergi menembus hujan. Tak peduli dengan basah yang kini menyelimuti tubuhnya. Karena hanya ada satu hal yang ia rasakan sekarang. Panas.
Seperti ada yang membara di dirinya. Sesuatu yang tak menyenangkan dan menyulut emosi. Mungkin, air hujan yang dingin akan bisa memadamkannya.
Mungkin.
***
● samgyeotang : sup ayam ginseng khas korea
***