Something Called Love

Something Called Love
Hanya Pengganti



"Apa kamu sudah kehilangan akal? Nekad membolos hanya untuk mendapatkan luka-luka ini?" omel Song Eun yang sedang duduk berhadapan dengan Tae Sang di teras rumahnya. Gadis itu tengah mengobati luka-luka di wajah Tae Sang.


"Ini sangat wajar untuk laki-laki. Bahkan membanggakan."


"Aish, aku sama sekali tidak bangga jika wajahku jadi buruk rupa begini," balas Song Eun sembari kembali membersihkan salah satu memar di pelipis kiri Tae Sang.


Tae Sang hanya tersenyum kecil. Seperti apa pun bentuknya, ia selalu menikmati setiap perhatian Song Eun. Gadis itu seperti rumah baginya. Tempat yang hangat, nyaman dan penuh kasih. Itulah kenapa ia langsung menuju ke rumah Song Eun sehabis berkelahi dengan Min Hyuk, alih-alih pulang ke rumahnya sendiri.


Ah, jangan lupakan pula wanita terbaik yang sudah membawa Tae Sang ke sini. Nyonya Han Song Ja, nenek Song Eun. Beliau juga tak kalah perhatiannya dengan sang cucu.


"Tae Sang, ini tehmu. Minum dulu."


Tae Sang tersenyum. Ia mengulurkan tangan untuk menerima teh dari nenek Song Eun.


"Gomawoyo, Halmeoni."


Song Eun menghentikan sejenak tugasnya membersihkan luka Tae Sang. Memberi jeda pemuda itu untuk meneguk tehnya.


Aroma teh seketika menyerbu indera penciuman Tae Sang saat ia mendekatkan cangkir tersebut ke mulutnya. Hampir serupa dengan teh buatan tuan Lee. Namun, cangkir teh dalam genggamannya kini memiliki satu kelebihan yang tak dapat ditemui di kedai mana pun.


Kehangatan dan kasih sayang keluarga.


Tae Sang mungkin tak mendapatkan hal itu dari keluarganya sendiri. Namun, di sini, di sebuah rumah sederhana yang hanya berpenghunikan dua orang perempuan tangguh, Tae Sang menerima semua itu lebih dari yang pernah ia bayangkan.


Han Song Ja tersenyum senang melihat Tae Sang begitu menikmati teh buatannya. Beliau lalu kembali masuk ke dapur, meninggalkan kedua cucunya meneruskan percakapan mereka.


Sembari menunggu Tae Sang menyelesaikan acara meminum tehnya, Song Eun kembali bertanya. Menuntaskan rasa penasaran yang sedari tadi mengusik.


"Kamu berkelahi dengan Min Hyuk lagi?"


Gerakan Tae Sang yang hendak kembali meneguk tehnya terhenti. Tanpa perlu mendengarnya, Song Eun tahu jika jawaban Tae Sang adalah iya.


"Sebenarnya apa masalah di antara kalian? Apa ada hubungannya dengan Sarah?" cecar Song Eun. "Kalian sering sekali berkelahi. Tapi tidak pernah ada yang tahu penyebabnya."


Mungkin memang sudah saatnya Tae Sang berbagi. Tak mungkin ia menyimpan kisah tak menyenangkan itu sendirian selamanya. Dulu, ia butuh seseorang yang benar-benar bisa dipercaya, tetapi belum juga ia temukan. Sekarang, bukankah ia sudah menemukan Song Eun? Tae Sang yakin gadis itu bisa tidak dipercaya.


"Namanya Hye Ran." Tae Sang memulai ceritanya setelah menarik napas dalam. Song Eun tak bersuara, tahu jika ini saatnya pemuda berandal yang menyimpan banyak tanya itu rela membagi kisahnya.


"Dia lebih muda setahun dariku. Gadis yang ceria dan penuh semangat. Aku sangat menyayanginya."


Jeda yang Tae Sang ambil dalam penuturannya membuat Song Eun semakin membisu. Terlebih setelah mendengar kalimat terakhir, bahwa Tae Sang sangat menyayangi gadis bernama Hye Ran tersebut. Gadis yang tak bisa Song Eun tebak perannya dalam perseteruan Min Hyuk dan Tae Sang.


Cinta segitigakah?


Sorot mata Tae Sang yang memancarkan kesedihan membuat Song Eun mengambil kesimpulan tersebut. Lagipula, bukankah itu dugaan paling mudah?


"Dia kekasihmu?" tanya Song Eun hati-hati. "Apa Min Hyuk merebutnya darimu?"


Tae Sang menatap Song Eun. Mencari sebuah kepercayaan dan ketulusan sekali lagi di mata gadis berkacamata tersebut.


"Kim Hye Ran. Dia adalah adikku," ucap Tae Sang kemudian. Ia lalu berpaling dari Song Eun. Matanya menerawang ke langit malam yang menaungi mereka berdua. Namun, tak lama setelahnya, sorot mata penuh kerinduan itu berubah menjadi amarah. Kedua tangannya mengepal kuat, membuat cangkir yang masih berisi separuh di tangan kirinya terdengar sedikit bergemeretak.


"Tapi, Min Hyuk memang merebutnya. Black sialan itu membuat Hye Ran pergi untuk selamanya."


Belum hilang rasa terkejut Song Eun atas status Hye Ran, sekarang ia harus tersentak untuk kedua kalinya mengetahui bahwa adik Tae Sang tersebut sudah meninggal.


"Aku turut bersedih. Mianhae, karena tak tahu tentang itu."


Tak ada sahutan apa pun dari bibir Song Eun. Ia mencoba mengerti apa yang tengah Tae Sang rasakan. Adiknya adalah alasan yang kuat untuk dia membenci Min Hyuk. Dan, meski baru mendengarnya sekarang, Song Eun merasa semua cerita Tae Sang bukanlah kebohongan.


Lalu, Song Eun teringat Sarah.


"Apa kamu berpikir Min Hyuk menyukai Sarah? Karena itu kamu mengganggunya?"


Tae Sang hanya memandang Song Eun dengan ekspresi datar. Seolah meminta gadis itu mencari tahu sendiri jawabannya. Dan, seperti biasa, Song Eun selalu bisa menebak.


"Tidak. Jangan lakukan itu. Sarah adalah sahabatku. Black juga belum tentu menyukainya. Justru, dia selalu membuat Sarah sedih." Song Eun menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"Black menyukainya. Percayalah padaku."


"Sekalipun itu benar, aku mohon jangan libatkan Sarah," pinta Song Eun sekali lagi. Kedua tangannya yang tadi sibuk dengan obat-obatan untuk mengobati Tae Sang kini menangkup. Berharap pemuda itu akan memikirkan permintaannya.


Tidak. Song Eun tidak hanya berharap. Ia akan memastikan keinginannya terwujud.


"Aku hanya ingin membuat Black tahu rasanya sakit hati dan ditinggalkan. Perkelahian kami selama ini sama sekali tidak memuaskan siapa pun."


Song Eun tak tahu darimana ide itu berasal. Tiba-tiba ia meraih tangan kanan Tae Sang dan menggenggamnya erat. Begitu erat hingga si pemilik tangan berjingkat kaget.


"Oppa, sekali ini saja. Berjanjilah padaku. Tolong jangan libatkan Sarah. Aku mohon."


Tae Sang hanya bisa tertegun melihat tingkah Song Eun. Tak menyangka jika gadis itu sangat peduli pada sahabatnya. Dan, untuk pertama kalinya, Tae Sang begitu senang mendengar panggilan yang Song Eun tujukan padanya. Kali ini, gadis itu melakukannya tanpa paksaan.


Kehilangan adalah hal yang menyedihkan dalam hidup Tae Sang. Ia sudah kehilangan adik dan orangtuanya. Sekarang, ia tak ingin terjadi hal yang sama dengan Song Eun. Karena entah sejak kapan, ia merasa gadis itu adalah bagian dari dirinya juga.


Diraihnya tangan Song Eun, lalu Tae Sang menariknya ke dalam pelukan. Ketika gadis itu masih bertanya-tanya maksud dari tindakan Tae Sang, pemuda yang kini mendekapnya itu tersenyum.


"Aku janji. Demi adikku yang paling rajin ini."


Song Eun buru-buru melepaskan diri dari dekapan Tae Sang. Ia tidak ingin perasaannya berkembang tidak terkendali. Karena baru saja Tae Sang menegaskan satu hal. Bagi pemuda itu, Song Eun adalah seorang adik. Pengganti Hye Ran.


"Aku bukan adikmu." Song Eun mengambil jarak yang cukup jauh, berharap dengan begitu degup jantungnya akan lebih terkontrol. Namun, Tae Sang memandangnya dengan lekat. Meski tahu arti dari tatapan itu, Song Eun tidak bisa tidak berharap bahwa dugaannya salah.


"Kamu memanggilku oppa. Aku juga menemani dan menjagamu. Bukankah itu adalah hubungan antara kakak dan adik?"


Semakin jelas bagi Song Eun siapa dirinya di mata Tae Sang. Dan, ia harus menyadari jika perasaannya hanya akan berakhir sia-sia jika ia paksa untuk terus berlanjut.


Untuk menutupi rasa kecewanya, Song Eun memasang wajah cemberut. Namun, sekali lagi tindakan Tae Sang mengacaukan pertahanannya. Pemuda itu mengacak-acak rambut Song Eun dan menikmati setiap ekspresi yang muncul di gadis berkacamata tersebut.


Tak lama, Tae Sang menghentikan ulahnya dan melemparkan pandangan ke arah lain. Sembari membenahi rambutnya, Song Eun mengikuti arah pandang pemuda di sampingnya itu lalu menyadari apa yang tengah menjadi pusat perhatian Tae Sang.


"Rumahku terlihat jelas dari sini," ujar Tae Sang. "Pasti selama ini kamu selalu bisa melihatku."


Letak rumah Song Eun memang berada di belakang komplek rumah Tae Sang. Namun, kontur tanah yang lebih tinggi memungkinkan para penghuni di blok tempat Song Eun tinggal memiliki area pandang yang lebih luas. Termasuk kawasan di rumah Tae Sang yang letaknya lebih rendah.


"Jika tahu dari awal, apa kamu akan marah?"


"Justru aku akan marah jika kita pada akhirnya tidak pernah bertemu."


Song Eun terdiam. Namun, dalam hati ia tersenyum. Malam ini, langit sudah berbaik hati membiarkannya bersama pemuda yang ia sukai. Ia sangat bahagia meski bagi Tae Sang, Song Eun hanyalah pengganti sang adik.


***