Something Called Love

Something Called Love
Ternyata Peduli



Kalau boleh memilih, Sarah lebih baik terlambat daripada berangkat pagi-pagi dan harus bertemu Min Hyuk. Sejak mengetahui bahwa mereka tinggal di daerah yang sama, Sarah harus bersiap jika sewaktu-waktu berjumpa dengan pemuda tersebut.


Seperti pagi ini misalnya. Sarah dan Min Hyuk berada dalam satu bus. Keduanya sama-sama berdiri karena tidak mendapat tempat duduk. Parahnya lagi, posisi mereka pun berada dalam jarak yang lumayan dekat.


Perjalanan baru saja dimulai beberapa menit, tapi leher Sarah rasanya sudah pegal karena sedari awal bertahan dalam satu posisi. Keberadaan Min Hyuk di samping kanannya membuat Sarah terus berpaling ke arah kiri. Sebenarnya ia bisa saja menegur pemuda itu untuk berpindah tempat, tetapi Sarah tak memiliki alasan yang tepat untuk melakukannya. Bus sudah penuh penumpang, mustahil untuk seenaknya berpindah tempat. Sarah juga tidak mungkin mengatakan jika ia tidak suka keberadaan Min Hyuk di sana. Alhasil, ia pasrah sembari menahan jengkel sekaligus sakit di lehernya.


Ini melelahkan, batin Sarah. Ia tak tahan terus begitu. Akan tetapi, dia juga enggan untuk berpaling sekali pun itu tak sengaja. Masih teringat sikap menyebalkan pemuda dingin itu tempo hari. Membuat Sarah benci jika harus melihat wajahnya.


Sarah berpegangan erat pada tiang yang ada di dekatnya. Namun, ia tetap tak bisa mempertahankan keseimbangan ketika bus berhenti dan menaikkan lebih banyak penumpang.


Tiba-tiba Sarah merasakan ranselnya terangkat. Ia terpaksa menoleh, mencari tahu tangan siapa yang tengah berulah.


Ternyata itu adalah ulah Min Hyuk. Seorang ahjumma kesulitan untuk bergerak karena terhimpit ransel Sarah. Ruang yang ada sudah sempit dan ransel Sarah semakin mempersulit pergerakan ahjumma itu. Tindakan Min Hyuk ternyata bukan untuk mengganggu, melainkan untuk menolong ahjumma tersebut.


Tanpa sadar Sarah tersenyum. Lagi, pemuda dingin itu menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan imagenya. Hal tersebut membuat Sarah yang tadinya berniat marah jadi urung. Tatapannya kembali seperti saat mereka pertama kali bertemu dulu. Penuh dengan rasa kagum.


Sarah bahkan masih tak berkedip saat Min Hyuk akhirnya menjauhkan tangannya dari ransel ungu gelap gadis itu. Ia lupa jika sejak awal perjalanan ia justru berharap pemuda itu jauh-jauh darinya. Namun, sikap Min Hyuk secara otomatis membuat Sarah melupakan kekesalannya dan beralih menatapnya kagum.


"Aku tidak mau berkelahi dengan si Anak Pintar karena pacarnya tak berhenti memandangiku," ujar Min Hyuk dengan nada suara datar. Ia juga tak berpaling untuk memastikan siapa yang sedang dia ajak bicara. Namun, Sarah yang berada cukup dekat dengannya tanpa sadar balik bertanya.


"Mwo?"


"Lee Hong Ki. Dia pacarmu, kan?" Kali ini Min Hyuk menoleh pada Sarah yang buru-buru mengalihkan pandangan. Akan tetapi, sedetik kemudian dia menyadari sesuatu.


"Anio," sangkal Sarah untuk keduanya. Pertama, bahwa dia bukan kekasih Hong Ki. Dan, kedua, karena ia bukannya terus memandangi Min Hyuk.


Sarah hanya....


Hanya....


Astaga!


Sarah merutuki dirinya sendiri dalam hati. Apa yang baru saja ia lakukan? Jelas-jelas ia memang tak berkedip melihat Min Hyuk. Padahal tadinya dia mati-matian untuk tak peduli pada pemuda dingin tersebut. Akan tetapi, mengakui hal itu sama saja dengan mempermalukan diri sendiri. Menyangkal pun tak ada gunanya sebab Sarah memang jelas-jelas memandang Min Hyuk tadi.


Sarah menundukkan kepala. Menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. Rasanya ia ingin menghilang saja dari sana. Entah ditelan bumi atau mendadak tubuhnya berubah menjadi debu dan terbang terbawa angin pergi. Apa pun itu selama bisa menyelamatkannya dari rasa malu. Namun, kejadian selanjutnya memutuskan lamunan Sarah.


Hampir seisi bus berteriak panik sewaktu sang sopir mengerem dengan tiba-tiba. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menyalip hingga membuat laju bis terganggu. Beruntung sang sopir bisa mengatasinya sehingga tidak sampai terjadi hal buruk.


Semua orang akhirnya bisa bernapas lega meski sebagian tak tahan untuk tidak memaki pengendara mobil tak bertanggung jawab tadi. Namun, semua kehebohan itu tak sampai pada Sarah. Gadis itu tengah sibuk sendiri dengan detak jantungnya yang bertalu-talu.


Saat bus berhenti mendadak tadi, pegangan Sarah terlepas dari tiang dan tubuhnya terhuyung ke arah Min Hyuk. Hanya beberapa detik saja, karena ia bisa segera menjauh dan menguasai keadaan. Akan tetapi, ia tak bisa mengontrol debaran yang kini melanda hatinya.


"Jangan terbawa suasana. Kita bahkan bukan siapa-siapa," tukas Min Hyuk yang seketika mengubah debaran dalam hati Sarah menjadi emosi yang bersiap meluap.


"Aku tahu. Tidak perlu mengulangnya berkali-kali," sentak Sarah dengan nada suara meninggi. Ia mengabaikan bisik-bisik dan tatapan penuh tanya para penumpang lain.


Dua kali. Sudah dua kali Sarah kecolongan tentang perasaannya pada Min Hyuk. Tetapi, sekarang ia memahami satu hal tentang pemuda yang tak pernah tersenyum itu.


Dia sangat menyebalkan.


***


Pelajaran Matematika di kelas Min Hyuk baru saja selesai. Tuan Park juga baru saja meninggalkan ruangan. Menyisakan para muridnya yang berebut untuk menghirup udara kebebasan di jam istirahat. Min Hyuk berniat melakukan hal yang sama saat Ye Na tiba-tiba menghadang jalannya.


"Bisa kita bicara?" tanya gadis berambut panjang itu.


"Tidak ada yang ingin aku bicarakan denganmu," jawab Min Hyuk datar.


Ye Na sudah bersiap mengentakkan kakinya menghadapi pemuda dingin di hadapannya sekarang. Namun ia berusaha bersabar demi tujuannya.


"Aku ada. Tentang Sarah," tukas Ye Na cepat, mengabaikan penolakan dari lawan bicaranya.


Min Hyuk melihat ke sekeliling dan mendapati hanya tinggal mereka berdua di dalam kelas. Situasi yang tidak nyaman untuknya.


"Kamu salah orang." Min Hyuk tidak menggubris Ye Nya dan justru meraih tasnya, bersiap meninggalkan gadis itu sendirian.


Ye Na mencebik kesal. Dia harus memiliki kesabaran ekstra untuk menghadapi Black.


"Aku to the point saja. Tolong bantu aku. Tolong rebut dia dari Hong Ki."


Reaksi Min Hyuk menanggapi permintaan Ye Na sangat mudah ditebak. Tatapan datar, tanpa ekspresi.


"Jangan ganggu aku," pinta Min Hyuk kemudian. Ia mengabaikan Ye Na begitu saja dan tetap berjalan pergi meski gadis itu mengomel di belakangnya. Lagipula permintaannya begitu aneh. Untuk apa pula Min Hyuk repot-repot melibatkan diri pada masalah percintaan orang lain? Bukankah seharusnya ia menjauhi Sarah, bukan mendekatinya?


Para gadis. Entah apa yang mereka pikirkan mengenai perasaan. Terutama Kim Ye Na. Gadis itu terlalu memaksakan diri untuk orang yang bahkan tak menganggap keberadaannya. Gadis itu pasti kelewat bodoh sampai tidak menyadari kalau sedari awal cintanya bertepuk sebelah tangan. Kalau sedari awal ada orang lain yang lebih rela memperjuangkannya.


Min Hyuk melangkah melewati pintu kelasnya sembari menarik napas panjang. Entah mengapa ia jadi kembali teringat pada Hye Ran.


Dan Sarah.


***