Something Called Love

Something Called Love
Kenangan Buruk



Siluet seorang gadis melintas di hadapan Min Hyuk ketika ia baru tiba di depan apartemennya. Gadis manis yang selalu menebar senyum setiap kali mereka bertemu. Namun, kali ini gadis itu tak mengacuhkan keberadaan Min Hyuk.


Hye Ran, gadis itu, berjalan bergegas meninggalkan apartemen. Wajahnya sendu, bahkan dua kali lebih sendu dari yang pernah Min Hyuk lihat sebelumnya. Tatapan matanya sama sekali tak terarah pada Min Hyuk. Gadis itu melewatinya begitu saja.


Aneh. Meski Min Hyuk tidak suka saat Hye Ran mendekatinya, sikap gadis itu kali ini benar-benar membuatnya penasaran. Maka, kaki Min Hyuk yang sudah menaiki beberapa anak tangga kembali melangkah turun. Memutuskan untuk mengejar.


"Hye Ran!"


Akan tetapi gadis itu tak menyahut. Padahal biasanya ia yang tak berhenti merecoki Min Hyuk dengan panggilan-panggilan aegyeo-nya.


"Hye Ran!" Kali ini Min Hyuk menyusul dan menghadang langkah gadis itu. Membuatnya bisa melihat wajah yang kini tengah berlinang air mata tersebut. "Kamu kenapa?"


Min Hyuk tak yakin apa yang telah ia lakukan. Ia baru saja tiba dan bahkan belum berbicara apa pun pada Hye Ran, tetapi gadis yang selalu ceria itu tiba-tiba saja menampakkan wajah yang tak biasa.


Sembari terisak, Hye Ran menatap wajah Min Hyuk. Cukup lama hingga membuat Min Hyuk berpikir gadis itu akan mengungkapkan sesuatu yang teramat penting. Namun, ia harus kembali bingung karena yang diucapkan Hye Ran kemudian hanyalah permintaan maaf.


"Mianhae, Oppa."


Segera setelah itu, Hye Ran berlari pergi. Min Hyuk berusaha mengejar, tetapi gadis itu sudah turun menaiki lift. Tanpa tahu alasannya, Min Hyuk berlari menuju tangga. Ia hanya merasa bahwa ia harus tetap bersama Hye Ran. Bahwa hanya itu yang terlintas di pikirannya sebelum terjadi sesuatu yang....


Kaki Min Hyuk baru saja menapak anak tangga terakhir di lantai dasar gedung apartemen ketika kemudian terdengar sebuah suara yang menyakitkan. Disusul keramaian dan kerumunan orang-orang yang memenuhi halaman depan gedung.


Min Hyuk tak tahu apa yang terjadi. Namun, kedua matanya tak dapat berbohong. Ia melihat tubuh Hye Ran terbaring tak berdaya di depan sebuah mobil mewah. Bersimbahkan darah.


Min Hyuk menerobos kerumunan dan mendapati Hye Ran masih sadar. Gadis itu berusaha tersenyum saat melihat Min Hyuk mendekat. Dengan suara yang tersisa, ia mengatakan sepotong kalimat yang tak akan pernah Min Hyuk lupa seumur hidupnya.


Min Hyuk terbangun dari tidurnya. Keringat membasahi tubuhnya yang berbalut selimut. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjuk angka dua.


Mimpi itu lagi. Tentang Hye Ran dan semua yang pernah gadis itu ucapkan padanya. Mimpi yang entah kenapa kembali datang. Mimpi yang hampir berhasil ia lupakan sebagai kenyataan.


Apa kamu marah karena aku mulai memikirkan gadis lain?


Min Hyuk bahkan sudah membuang benda-benda pemberian Hye Ran. Namun, setelah cukup lama tak muncul dalam pikirannya, tiba-tiba Hye Ran datang dalam mimpi. Bersamaan dengan saat ia mulai merenungkan ucapan sang paman. Tentang ia yang jatuh cinta pada Sarah.


Bulir keringat masih belum hilang dari tubuh Min Hyuk. Dingin. Membuatnya menggigil.


"Aku tidak membencimu, Hye Ran. Tapi kenapa kamu seolah tak rela aku menemukan bahagiaku sendiri?" gumam Min Hyuk. Ia meraih segelas air putih di atas meja dekat tempat tidurnya. Meneguknya dengan cepat.


Hye Ran tidak membencinya. Gadis itu sangat menyukai Min Hyuk. Satu-satunya kesalahan terbesar Hye Ran adalah membiarkan Min Hyuk menyakitinya.


Harusnya Min Hyuk sadar. Ia sudah menyia-nyiakan hidup seorang gadis. Tidak ada alasan apa pun untuk membiarkannya melakukan hal yang sama pada gadis lain.


Pada Sarah.


Min Hyuk tak tahu pasti apa nama perasaannya untuk gadis itu. Ia hanya tahu jika Sarah bukan Hye Ran. Dan, ia tidak akan berakhir seperti Hye Ran.


Tidak akan.


***