
Ye Na merapatkan jaket. Menarik hoodie miliknya semakin ke bawah agar wajahnya tak terlihat. Lalu bergegas mengikuti langkah kaki yang berjalan sekitar tiga meter di depannya.
Lee Hong Ki. Pemuda itulah yang sedang Ye Na ikuti. Mereka berdua tengah berada di supermarket. Berjalan berjauhan melewati lorong yang penuh dengan rak berisi berbagai makanan ringan.
Sudah setengah jam sejak Ye Na masuk dan membuntuti Hong Ki tanpa sengaja. Keranjang belanja pemuda tersebut sudah hampir penuh dengan berbagai barang. Namun, ia sama sekali tak menyadari keberadaan gadis berjaket merah jambu yang sedari tadi mengekor di belakangnya.
Hong Ki berhenti di depan salah satu rak berisi beraneka minuman. Ia memandangi sejenak deretan botol di hadapannya tersebut sebelum akhirnya mengambil dua botol jus mangga. Dengan cepat ia memasukkannya ke keranjang dan beralih menuju rak lain.
Langkah Ye Na bergerak cepat menuju rak yang baru saja Hong Ki tinggalkan. Sembari tersenyum bahagia ia meraih dua botol yang sama dengan pilihan Hong Ki sebelumnya.
Jus mangga. Kenangan hampir tiga tahun silam yang masih terpatri jelas di otak Ye Na. Salah satu alasannya tak bisa melupakan Hong Ki begitu saja.
Tiga tahun lalu, di tempat yang sama dengan tempatnya berpijak sekarang, kisah antara Ye Na dan Hong Ki dimulai.
Ye Na saat itu menginginkan jus mangga yang ternyata hanya tinggal tiga botol. Ia bermaksud mengambilnya ketika tangan lain lebih dulu meraih benda tersebut. Seorang gadis seumuran Ye Na dengan penampilan yang menurutnya akan berangkat audisi idol. Rambut berwarna merah terang, baju dan celana tabrak warna serta sepatu boots tinggi yang tampak agak kekecilan. Plus make up yang sama sekali tidak cocok.
"Mianhae, bolehkah aku meminta jus itu? Satu botol saja. Kamu bisa membeli dua sisanya," pinta Ye Na waktu itu dengan nada bicara yang sopan, mengingat ia bicara dengan gadis asing. Tidak benar-benar asing sebenarnya, karena Ye Na tahu gadis itu juga bersekolah di Hanyang Senior High School. Salah satu sunbae Ye Na.
Namun, gadis itu justru menatap Ye Na dengan pandangan mencemooh. Sama sekali tak berniat merespon dengan baik.
"Apa yang membuatmu berpikir aku mau melakukannya?"
Dengan menyebalkannya, gadis itu langsung membuka tutup botol jus tersebut dan meminumnya di sana.
"Karena sekarang aku hanya memiliki dua botol dan harus membeli semuanya untukku sendiri."
Ye Na jelas jengkel dan bersiap membalas ucapannya ketika muncul dua gadis lain di belakang gadis berambut merah tersebut. Penampilan mereka pun tak kalah heboh. Membuat Ye Na hanya bisa mengernyitkan dahi dengan bingung.
"Kamu Kim Ye Na, kan?" tanya salah satu dari mereka penuh selidik. Pandangan mereka meneliti tubuh Ye Na dari atas ke bawah. Seperti tengah memastikan sesuatu.
"Kamu punya banyak uang untuk mempercantik wajahmu, tapi memohon pada kami hanya untuk sebotol jus? Menggelikan sekali."
Ye Na mendengus kesal. Para gadis itu pikir Ye Na seperti mereka yang perlu ke bedah plastik hanya agar tampak cantik. Sayangnya tidak. Dan, ia juga tidak ingin berurusan lebih lama lagi dengan gadis-gadis tersebut. Apalagi hanya karena sebotol jus.
"Baiklah, kalian boleh ambil jusnya. Aku tidak menginginkannya lagi." Buru-buru Ye Na hendak pergi. Tak ingin terjebak di sana lebih lama lagi. Namun, ketiga gadis tersebut sengaja menghalangi jalannya. Menyudutkannya.
Aura ketiga gadis tersebut berubah menakutkan. Gelagat mereka sudah terbaca, ingin membully Ye Na.
Si Rambut Merah sudah mencekal lengan Ye Na yang tak berani melawan. Bagaimanapun juga Ye Na sendirian. Ia takut.
"Apa kalian suka jus apel?" Sebuah suara menghentikan si Rambut Merah yang bersiap menyeret Ye Na.
Sontak Ye Na dan ketiga gadis tersebut menoleh ke sumber suara. Di belakang mereka tampak seorang anak laki-laki kurus dengan tatapan datar tengah memegang dua botol jus apel. Ye Na mengenalinya. Siswa teladan putra kepala sekolah.
"Hong Ki?" Si Rambut Merah terkejut dan menyebut sebuah nama.
"Jawab saja. Jangan balik bertanya."
"Tentu saja kami suka," jawab si Rambut Merah dengan tergagap. Ye Na bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar, terlebih saat Hong Ki berjalan mendekat. Seolah pemuda itu memiliki aura menakutkan yang kental.
"Kalau begitu bawa ini dan pergilah." Tanpa basa basi Hong Ki menukarkan jus apel di tangannya dengan jus mangga di tangan si Rambut Merah.
Seolah ucapannya adalah titah raja, ketiga gadis tadi langsung menurut dan pergi. Tanpa perlawanan apa pun. Meninggalkan Ye Na yang masih terdiam kebingungan.
"Datanglah di awal minggu. Stoknya masih banyak saat itu, jadi kamu tidak perlu berebut." Hong Ki meletakkan dua botol jus mangga di tangan Ye Na lalu pergi. Sama seperti ketiga gadis tadi. Bedanya pemuda itu pergi tanpa menunjukkan ekspresi apa pun, tetapi meninggalkan jejak asing di hati gadis yang baru ditolongnya.
Saat itu, Ye Na tahu bahwa ia sudah menemukan pangerannya.
Ye Na tersenyum mengingat kejadian tersebut. Dipandanginya botol jus yang kini ada dalam genggamannya. Lalu beralih pada Hong Ki yang sudah berada di depan kasir, tak jauh dari tempatnya berada.
Kenangan. Ye Na bersyukur memilikinya, meski ia tak tahu apakah Hong Ki masih menyimpan ingatan itu atau tidak.
Kenangan. Terkadang hanya perlu menjadi bagian masa lalu yang sesekali diingat.
Namun, satu hal yang pasti.
Ye Na tak ingin menjadi sekadar kenangan untuk Hong Ki.
***