Something Called Love

Something Called Love
Terpesona



Sarah tiba di kelas lebih pagi dari biasanya. Hari ini adalah tugasnya membersihkan ruang kelas. Namun, ada yang membuatnya bertanya-tanya ketika baru saja memasuki ruangan.


Di atas meja Sarah tergeletak sebuah kotak kecil berwarna putih. Ia mendekat dan mendapati jika benda tersebut juga menindih selembar kertas dengan tulisan tangan yang rapi.


Meski tak bisa menebak darimana kotak dan kertas tersebut berasal, Sarah mengambilnya. Lalu membaca tulisan yang tertera di sana.


Kedua mata coklat Sarah membelalak ketika membaca deretan kalimat pertama. Surat itu ternyata ditulis dalam bahasa indonesia. Sungguh sebuah kejutan yang menarik.


Sarah,


Aku hampir putus asa mencari cara untuk meminta maaf padamu. Dan, ini cara terakhir yang bisa aku pikirkan. Jadi, bisakah kita melupakan kesalahan terakhir yang aku lakukan? Kita adalah teman, bukan?


Aku harap saat aku datang nanti, kamu tengah memakan kue dariku ini, lalu melambaikan tangan dan tersenyum padaku sambil mengatakan 'hai'.


Hong Ki


Sarah melipat kertas yang ternyata dari Hong Ki tersebut. Ia merasa bersalah karena sudah mendiamkan pemuda itu beberapa hari. Bukan maksud Sarah untuk menghindar atau membencinya. Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya untuk berbaikan dengan pemuda itu. Karena bagaimanapun juga ada perasaan suka yang terlibat dalam hubungan mereka. Suka yang lebih dari sekedar teman.


Karena belum yakin harus bagaimana menanggapi permintaan Hong Ki tersebut, Sarah memutuskan untuk melakukan tugas membersihkan kelas lebih dulu.


Namun, hingga pekerjaannya selesai Sarah masih bingung dengan keputusannya. Sembari menunggu teman-temannya yang lain datang, ia duduk di bangkunya dan kembali membaca surat dari Hong Ki. Ia juga membuka kotak kecil yang datang bersama dengan surat tersebut.


Sebuah cup cake dengan topping berwarna lavender yang berbentuk kelopak mawar. Terdapat pula tulisan sorry di cup kue tersebut.


Sarah tersenyum. Cara Hong Ki meminta maaf sungguh manis. Tidak seharusnya ia mendiamkan pemuda itu lebih lama lagi. Masih dengan senyum di bibirnya, Sarah lalu mengambil cup cake tersebut dan mulai memakannya.


Seseorang tiba-tiba masuk saat Sarah menggigit kuenya. Ia menoleh ke arah pintu dan terdiam sejenak begitu tahu siapa yang datang.


Dengan senyum lebar, Sarah melambaikan tangan dan mengucapkan apa yang seharusnya ia katakan.


"Annyeong, Hong Ki Ssi!"


***


Kim Ye Na berjalan mondar mandir di depan kelasnya. Sesekali ia berhenti untuk melihat ponselnya, seperti tengah mengharapkan telepon dari seseorang. Namun, ia akan kembali melakukan hal yang sama ketika layar ponsel tak menunjukkan apa yang ia harapkan.


Min Hyuk baru saja keluar dari kelas dan hanya melirik gadis cantik itu sekilas saat melewatinya. Tidak ada hal menarik yang membuatnya harus menoleh atau bahkan menyapa Ye Na. Gadis aneh itu tak akan pernah merespon sekalipun yang menegurnya adalah teman sekelasnya yang lain. Lagipula Ye Na juga tidak akan peduli siapa yang baru saja lewat di depannya.


"Kenapa lama sekali?" Suara nyaring Ye Na terdengar jelas oleh Min Hyuk yang belum terlalu jauh melangkah. "Kalian sudah siap, kan? Dia baru saja pulang, sama sepertiku. Jadi, kalian tunggu saja di sana. Kabari aku segera setelah tugas kalian selesai."


Suasana sekolah memang mulai sepi. Sebagian besar siswa sudah pulang. Kalaupun ada yang masih tinggal, itu pun hanya beberapa. Dan, di kelas Min Hyuk hanya dia dan Ye Na yang masih tersisa. Itulah kenapa Ye Na tak merasa perlu menyembunyikan pembicaraannya yang mencurigakan barusan.


Min Hyuk tidak yakin, tetapi firasat buruk menggiring langkahnya untuk bergegas menuju kelas Sarah. Rasa khawatir mendadak muncul setelah ia tanpa sengaja mendengar percakapan Ye Na dengan seseorang di telepon tadi. Bahkan, tanpa sadar ia setengah berlari karena tak ingin terlambat. Entah terlambat untuk apa.


Dengan napas terengah-engah karena berlarian, Min Hyuk menebarkan pandangan ke sekitar. Dan, kelegaan segera memenuhi hatinya begitu menemukan Sarah berada di halte dekat sekolah. Gadis itu baru saja naik ke bus setelah berpamitan pada Hong Ki yang masih tinggal.


Masih dengan napas yang tersengal, Min Hyuk menambah kecepatan larinya dan memburu menuju bus yang sama dengan yang Sarah naiki.


Min Hyuk beruntung. Ia bisa naik tepat sebelum pintu bus tertutup. Bahkan, Hong Ki yang masih berada di halte tak menyadari jika ia baru saja melintas di hadapannya.


Perlahan, Min Hyuk melangkah masuk untuk mencari tempat duduk. Ia berusaha mengatur napas, berlagak tak habis berlarian meski peluh mulai menetes dari dahinya.


Tubuh Min Hyuk terdiam ketika melihat Sarah. Gadis itu duduk di deretan bangku belakang, dekat dengan jendela. Tak menyadari kehadirannya.


Hanya ada dua bangku kosong yang tersisa. Satu berada di seberang bangku Sarah. Satu lagi tepat di samping gadis itu. Jelas Min Hyuk memilih bangku pertama.


Sarah yang menyadari pergerakan di dekatnya pun menoleh. Raut wajahnya tampak terkejut melihat Min Hyuk, tetapi gadis itu lalu memilih untuk berpaling ke arah jendela, menikmati pemandangan di luar bus.


Min Hyuk tak mau ambil pusing dengan sikap Sarah. Toh, rumah mereka searah. Bahkan sebenarnya masih satu daerah. Dan, Sarah juga tak perlu tahu jika Min Hyuk mengkhawatirkannya hingga mengejar bus untuk memastikan gadis itu baik-baik saja.


Min Hyuk menghembuskan napas dalam lalu menyandarkan tubuhnya senyaman mungkin. Ia heran dengan dirinya sendiri. Kenapa ia harus khawatir pada gadis yang bahkan tak mau menoleh padanya sejenak?


Bodoh, bukankah itu maumu?


Suara hati Min Hyuk memaki. Sarah sudah menyanggupi permintaannya untuk menjauh, tetapi justru Min Hyuk yang mendekat.


Diam-diam Min Hyuk melihat ke arah Sarah. Gadis itu masih bergeming. Bertopang dagu sembari melihat jalanan kota Daegu yang temaram.


Entah berapa lama hal itu berlangsung. Min Hyuk hanya terus memandangi Sarah dari tempatnya berada. Terbuai oleh sosok yang seharusnya ia hindari.


Rambut panjang Sarah dikepang satu ke samping, dengan beberapa helai rambut yang mencuat dan tertiup angin dari kaca jendela lain yang terbuka. Pita ungu yang mengikat ujung rambutnya juga melambai terkena angin. Membingkai wajah sendunya yang menghipnotis. Begitu cantik.


Min Hyuk buru-buru berpaling ke arah lain, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Pikiran apa yang baru saja merasukinya? Bagaimana mungkin ia bertingkah aneh seperti itu?


Cepat-cepat Min Hyuk merogoh tas dan mengeluarkan handsfree dari dalam sana. Ia bukan tipe orang yang suka mendengarkan musik, apalagi dengan cara seperti itu. Namun, tak ada cara lain baginya untuk menghindar dari pesona Sarah.


Min Hyuk menyumpalkan benda itu ke telinganya, lalu memilih lagu dengan irama paling menghentak. Tak lupa pula menyalakan volumenya keras-keras.


Setidaknya hingar bingar musik di telinganya akan membantu Min Hyuk berpaling dari Sarah.


***