
Arya benar-benar kaget saat Kamala menyebut nama itu. Lelaki itu tiba-tiba berbalik.
"Darimana kau tahu?!" erang Arya.
"Anda menyebutnya sekali." jawab Kamala yang kemudian bangkit dan melangkah mendekati Arya yang masih mematung didepan pintu.
"Siapa Schnucky? Apakah itu.... nama perempuan itu?" tanya Kamala dengan lembut.
Arya masih diam dan Kamala juga tak memaksa. Wanita itu hanya diam menatap Arya sambil melipat tangannya didada. Arya akhirnya menghela napas dan menunduk. Lama ia berdiri dalam posisi itu.
"Pak Arya..." tegur Kamala.
Arya kemudian menengadahkan wajahnya, menatap Kamala dengan tatapan yang memicing.
"Kau benar-benar ingin tahu?" tanya lelaki itu.
"Itu bagian dari tugas saya." jawab Kamala. "Bagaimana saya bisa menjawab permasalahan anda? Bagaimana saya bisa memberikan solusi alternatif yang terbaik diantara yang baik jika anda sendiri mengunci ruang itu untuk saya?" ungkapnya.
Arya kembali menghela napas dan menatap langit-langit ruangan. Kelihatannya ia memang menyimpan beban yang sangat berat dan mampu membungkamkan mulut seorang Arya.
Kamala menyentuh lengan lelaki itu lalu dengan isyarat mempersilahkan Arya kembali ke kursi panjang itu. Arya menghela napas sejenak.
"Bisakah lusa, kita melakukan pertemuan kembali?" pinta Arya.
Kamala menatap lama lelaki itu. Akhirnya ia mengangguk dan Arya akhirnya bisa membuka pintu itu dan melangkah keluar.
Kamala hanya berdiri didepan pintu yang menganga, tak mengejar juga tak melangkah kembali ke tempatnya. Wanita itu hanya berdiri dan menyembunyikan kedua tangannya dipinggul.
...*****...
Malam itu, Arya memilih tidak makan malam. Ia langsung mengurung diri dikamar. Ibunya beberapa kali meminta Bik Nay, asisten rumah tangga itu mendatangi kamar Arya dan mengetuknya.
Arya memang sempat keluar melongokkan kepalanya saja dan memberitahu Bik Nay bahwa ia tidak merasa lapar. Asisten rumah tangga itu mengangguk santun dan berbalik meninggalkan tempat itu.
Arya menutup pintu dan melangkah lagi menuju ranjang lalu duduk disisi dipan. Ia duduk menyandarkan kedua sikunya ke kedua lututnya. Tatapannya terarah ke lantai.
Kenangan itu terlintas lagi.
Schnucky...
Itu nama yang disematkannya kepada seorang gadis. Kelak menjadi sebuah penyesalan besar baginya dan berefek pada kehidupannya hingga saat ini.
Perlakuannya kepada gadis itu yang membuatnya mengalami perubahan besar dalam langkah hidupnya. Disisi lain, ia bersyukur untuk itu namun disisi lain, rasa bersalahnya tak akan terhapus begitu saja.
Ketiadaan gadis itu membuatnya kesulitan membuat pengakuan bahwa ia benar-benar menyesali tindakannya yang kemungkinan besar telah merusak masa depan gadis itu.
Schnucky.... itu bukan namanya yang sebenarnya.
Entah kenapa ia menyematkan nama itu kepada gadis tersebut. Mungkin didorong oleh sensasi ketika merasai tubuhnya dalam sebuah tindakan sia-sia hanya untuk membuktikan sesuatu yang ternyata dikemudian hari disesalinya begitu rupa.
Arya menengadahkan wajahnya dan menegakkan tubuhnya kemudian merebahkan punggungnya pada hamparan kasur empuk. Tatapannya kembali menatap langit-langit ruangan.
"Schnucky... dimanakah kamu sekarang?" gumam Arya mendesah.
Tanpa sadar tatapannya terasa panas dan beberapa saat kemudian dua butir airmata yang mengambang jatuh menjebol dinding kelopak mata dan mengalir melintasi pipi bagian rahangnya.
Arya tak mengerti mengapa ingatan kepada gadis itu muncul lagi, sejak kematian sahabatnya. Rudi, entah mungkin juga didorong oleh rasa bersalahnya, kembali mengungkit masa lalu yang ingin benar dilupakannya.
Sejak itu ia dilanda teror mimpi yang mengerikan perihal si gadis yang datang menuntut pertanggungjawaban. Di ruangan itu, kenangan atas gadis itu terkenang lagi.
Schnucky... nama aslinya adalah Siti Muzdalifah Bakhtiar. Ia tak menyematkan marga dibelakang namanya, entah mungkin itu nama ayahnya.
Ketika Muzdalifah bersekolah di lembaga pendidikan itu, Arya sudah duduk dibangku kelas XII IPA-1. Gadis itu merupakan anak keluarga kurang mampu dan secara fisik ataupun perilaku, bukanlah seorang yang dapat menerbitkan gairah seorang laki-laki.
Sepanjang pengetahuannya secara tidak langsung, Arya mengetahui bahwa Muzdalifah adalah gadis pendiam, tidak terlalu cantik, tapi juga nggak dibilang jelek.
Semua siswa yang mengenyam pendidikan disekolah tersebut adalah anak-anak gedongan dan minimal golongan borjuis atau anak-anak dari golongan orang-orang terpandang, terkecuali Muzdalifah.
Muzdalifah masuk ke sekolah itu dengan program beasiswa dan mendapat dukungan secara moril dan materil oleh Pak Basyir T. Laiya, kepala sekolah di sekolah tersebut.
Menurut kabar, Pak Basyir adalah sahabat dari ibu gadis tersebut. Wafatnya sang ibu, membuat Pqk Basyir iba dan memutuskan menanggung segala biaya pendidikan Muzdalifah di sekolah itu.
Tiga bulan berlalu...
Entah dari mana datangnya isu tak sedap. Isu tentang Muzdalifah yang katanya merupakan sugar baby dari Pak Basyir. Hampir semua siswa disekolah itu menggunjingnya, hanya karena Pak Basyir terkesan terlampau baik terhadap Muzdalifah.
Isu itu wajar menjadi pergunjingan. Sebab segala kebutuhan Muzdalifah dipenuhi oleh Pak Basyir. Jumlahnya nggak main-main, sebab semua siswa tahu seberapa mahalnya biaya pendidikan disekolah itu. Alasan dari kedekatan Pak Basyir dengan ibu dari Muzdalifah terasa mulai tidak masuk akal.
Muzdalifah memang kurang berinteraksi dengan teman-teman sekelasnya terlebih siswa pada umumnya. Perilakunya justru semakin menambah curiga siswa-siswa seisi sekolah.
Hanya ada satu orang selain Pak Basyir yang selalu dipergauli Muzdalifah dengan baik. Adalah Ibu Kartini, pemilik kantin sekolah yang selalu dititipkan jajanan miliknya untuk dijual dikantin itu.
Kelihatannya Ibu Kartini tahu jika siswa seisi sekolah menggunjingkan Muzdalifah hingga ia tak pernah memberitahu siapapun tentang jajanan milik Muzdalifah yang digemari oleh mereka. Itu demi kepentingan bersama, menurutnya.
Tentu saja keakraban Muzdalifah dengan Ibu Kartini dianggap oleh para siswa sebagai kamuflase untuk menyamarkan hubungan mesra Muzdalifah dengan Pak Basyir.
Arya memejamkan mata dan airmata itu makin membanjir.
"Ahhh.... Schnucky... dimanakah kamu sekarang?" desah Arya dengan lirih.
Tanpa terasa, kenangan sepuluh tahun itu terlintas lagi.[]