
"Lepaskan aku!" jerit Muzdalifah dengan perasaan marah yang bercampur takut. Iswan sendiri hanya tersenyum menikmati betapa ia menguasai hidup perempuan dihadapannya itu.
"Tidak." ujar Iswan dengan tegas. "Tidak, Schnecke. Aku tak akan melepaskanmu."
"Mengapa kau selalu menyebut namaku, Schnecke?! Aku punya nama!" sergah Muzdalifah sembari meronta meski diketahuinya bahwa segala perlawanan itu hanyalah kesia-siaan saja.
Iswan sendiri langsung yakin bahwa perempuan dihadapannya ini banyak menyimpan rahasia yang disembunyikan. Lelaki itu tertawa pelan.
"Merontalah sesukamu, Schnecke." ujar Iswan kemudian menjambak jilbab wanita itu. Muzdalifah sekali lagi menjerit kesakitan. Lelaki itu kemudian menarik Muzdalifah agar berdiri.
"Sakera tak akan membiarkanmu!" ujar Saifulhadi dengan geram. "Dia akan menuntut darah-darah kami tertumpah disini. Kau akan menyesal berurusan dengan kami."
Iswan kembali mengangguk-angguk lalu tersenyum. "Ya, sampaikan kepadanya." sahutnya sembari menarik peda yang menancap dibatok kepala Koni. "Katakan, aku menunggunya di..." Iswan menyebutkan alamat wilayah bagian selatan dari pantai Leato yang mengarah ke jurusan Bolaang Mongondow selatan. "Dan jangan pernah membawa aparat. Berani dia datang bersama mereka. Dia akan mendapati perempuan ini, tinggal mayat."
"Jangan bawa dia!!!" sergah Saifulhadi.
DOR!!!!
Kembali moncong Colt M1911 milik Beni meletupkan ledakan saat memuntahkan sebutir proyektil menembus dada kiri Saifulhadi. Lelaki itu tersentak dan merasa wilayah atasnya diserang sakit dan keram. Ia lumpuh dan sekarat.
"Aku sengaja belum membunuhmu. Kau masih harus menyampaikan pesan itu padanya." ujar Iswan kembali menjambak jilbab milik Muzdalifah dan memaksa perempuan itu berdiri.
"Ketahuilah, Kawan..." ujar Iswan kali ini lebih lancang langsung menyergap dada bagian kanan Muzdalifah dan mencengkeramnya. Muzdalifah sendiri kaget dan menjerit marah sampai memaki-memaki dengan kelakuan Iswan yang tiada sopan-sopannya mengerayangi dada kanannya.
"Dan katakan kepada lelaki bernama... Sakera?" ujar Iswan mengejakan nama tersebut ke telinga Muzdalifah.
"Kau akan menyesal berurusan dengan calon suamiku!" sergah Muzdalifah lagi, namun ia kembali menjerit ketika lima jemari kekar milik Iswan yang masih bertengger didadanya, meremas kembali dada yang membulat indah itu dengan keras.
"Sebaiknya, kau diam saja Tambi'o." ancam Iswan membuat Muzdalifah surut beraninya dan hanya bisa mengencangkan rahangnya saat lelaki itu tetap dengan lancangnya mengerayangi dada kanannya itu.
"Sampaikan kepada Sakera! Cepatlah datang. Aku tak menjamin, barang diselangkanganku ini akan kembali terangsang dengan semok pinggulnya... lelaki itu bakal makan sisa!" pesan Iswan kemudian tertawa panjang dan menyeret Muzdalifah bersamanya meninggalkan tempat itu dikawal oleh Como dan Beni.
...*****...
Sakera, baru saja tiba dari Bojonegoro di Isimu. Keluarganya memang tinggal disitu. Ketika Tragedi Sampit meletus dibulan Februari 2001 silam, Sakera dan keluarganya memilih pindah ke Sulawesi dan berakhir di Gorontalo. Mereka kemudian menetap di Bojonegoro, berbaur dengan beberapa transmigran Jawa yang sudah lebih dulu berdomisili disana.
Lelaki itu ke Bojonegoro dalam rangka memberitahu keluarga besarnya bahwa ia akan melangsungkan pernikahannya dengan Muzdalifah Bakhtiar dalam sebulan lagi. Keluarga besarnya sudah tahu dan merestui. Sakera sengaja tidak memberitahu masa lalu calon pengantinnya yang kelam agar tidak dipersulit untuk segera membina rumah tangga. Usia lelaki itu sudah sangat cukup untuk itu.
Siang itu, ketika matahari mulai doyong ke barat, ia tiba dengan mobil angkot yang datang dari arah timur. Dengan langkah gembira ia turun namun segera ia menyadari bahwa suasana kedai itu terasa lain dari biasanya. Pintu dan jendela kedai itu tertutup bersamaan dengan itu, bau anyir darah tercium.
Perasaanku tak enak...
Bergegas kemudian Sakera mempercepat langkahnya dan mendorong daun pintu muka. Perasaannya makin tidak tenang saat menyadari pintu itu tertutup dari dalam. Sakera memutari bangunan dan menemukan pintu lain yang terbuka.
Bau daging segar dan anyir darah langsung menyeruak saat Sakera membuka pintu. Ia sejenak mendengus membuang bau tak sedap itu kemudian menyelidiki tempat tersebut.
Pulu? Koni? É dimma bâ'na?!" seru Sakera dengan keras.
Namun ia tak memerlukan jawaban. Sebab, ketika ia menjajaki ruangan saji, ia mendapati pemandangan mengerikan. Dilantai yang dipenuhi oleh meja dan kursi, terdapat jenazah empat lelaki pekerja kedai itu. Mereka tewas dengan dua lubang peluru didada dan kaki. Darah mereka yang mulai kering dikerubuti lalat menggenang dilantai itu.
Darah Sakera kembali tersirap melihat Koni yang duduk membungkuk dengn batok kepala yang terbelah. Darah yang mulai menggumpal menggenang disana dan sebagiannya memerahkan wajah dan sebagiannya lagi menodai pakaian lelaki Minahasa itu.
"Koni! Pulu!" seru Sakera dengan keras.
Lelaki Madura itu berlari dan tiba dihadapan kedua sahabatnya itu. Koni sudah lama tewas karena tubuhnya mulai mengeluarkan bau busuk. Sakera menatap Saifulhadi dan menyadari lelaki itu masih hidup dan sekarat. Luka tembak nampak didadanya.
"Pulu, Pulu..." seru Sakera dengan keras.
ditengah naza' lelaki itu mendengar panggilan sahabatnya. Saifulhadi berupaya membuka matanya dengan sisa-sisa tenaga.
"Pulu! Katakan apa yang terjadi?! Mana Muzdalifah?!" tanya Sakera.
Dengan napas yang tinggal satu-satu, Saifulhadi mulai memesan kepada Sakera. "Aku tidak... akan... hidup lagi." ujarnya dengan patah-patah. "Jem...put... Muzda...li...fah..." napas lelaki itu tersengal-sengal menahan sisa nyawanya agar jangan sampai lepas sebelum ia memberi wasiat.
"Kenapa dengan Muzdalifah?! Dia diculik?!" tanya Sakera.
"Dengarkan aku, Sakera..." pinta Saifulhadi sesekali meringis tanpa suara. Setelah itu ia memesan lagi. "Orang itu... menculik istrimu... bela kehormatanmu... dia di..." Saifulhadi memberitahu alamat si penculik itu kepada Sakera dan setelah memahami bahwa ia berhasil memberi pesan, Saifulhadi melepaskan nyawanya dengan segera.
Sakera gemetaran menahan amarah yang meluap dari kalbunya. Lelaki bernama Iswan itu berani melanggar pagar ayunya dan melarikan calon istrinya.
...*****...
Perasaan Arya makin tidak enak ketika melihat barisan mobil dan sepeda motor polisi diarea kedai. Beberapa polisi telah memasang garis kuning sedang puluhan warga berkumpul disekitar tempat kejadian perkara itu. Mereka nampak kasak-kusuk membicarakan apa yang terjadi didalam.
Arya memarkirkan All New Avanza hitamnya dibelakang Toyota Fortuner milik Tim Reaksi Cepat Kepolisian berwarna abu-abu batu dengan garis kuning dan logo kepolisian setempat. Lelaki itu turun dari mobilnya dan melangkah memasuki halaman kedai namun dihentikan oleh salah satu anggota kepolisian.
"Maaf Pak. Anda dilarang masuk kesini." ujar petugas itu menyilangkan sebelah tangannya untuk menghalangi langkah Arya.
"Ada apa sebenarnya Pak?" tanya Arya yang mulai merasakan dadanya berdebar. Sesosok wajah wanita berjilbab terkenang dibenaknya.
"Ada pembantaian dalam kedai." jawab aparat itu membuat Arya terkejut. "Sekarang tim forensik sementara memeriksa TKP."
"Apakah ada korban perempuan?" tanya Arya.
"Tidak... tidak ada." jawab petugas itu. "Memangnya kenapa pak? Apakah korban-korbannya anda kenal?" selidiknya.
"Jika diantara mereka ada lelaki bernama Saifulhadi dan Koni, saya mengenalnya. Saya datang kemari untuk menemui mereka." jawab Arya.
"Kalau begitu, mari ikut saya." ajak petugas itu dengan tanggap.
Keduanya melangkahi garis kuning yang telah disebar oleh petugas lainnya. Seorang petugas datang menghampiri saat keduanya tiba didepan pintu.
"Mengapa kau membawanya masuk?" tanya petugas tersebut. Sementara Arya langsung menutup hidung dan menahan mualnya ketika mencium anyir darah dan bau daging yang mulai membusuk.
Petugas itu sejenak menghormat lalu menjelaskan. "Siap, Bang. Lelaki ini mengaku mengenal dua orang dari enam orang korban yang terdapat didalam." jawabnya.
"Benarkah? Kalau begitu, mari ikut saya." ajaknya. "Tapi, mohon kuatkan hati anda. Kurasa anda mungkin tak pernah menjumpai pemandangan ini."
Ketiganya masuk kedalam kedai. Benar saja. Arya yang melihat pemandangan itu langsung berbalik dan mencurahkan isi lambungnya dilantai. Untung saja muntahannya tidak mengotori TKP.
Petugas berpangkat brigadir polisi itu menunjuk dua orang mayat yang duduk terikat dikursi. "Apakah kau mengenalnya?"
Arya masih bisa mengenal Saifulhadi sebab mayat itu tak bermandikan darah. Luka tembak didada sedang diperiksa oleh tim forensik. Sementara Koni, nyaris tak bisa dikenali karena wajahnya benar-benar bermandi darah sebab batok kepalanya rengkah.
Arya hanya bisa mengangguk-angguk dan tak sanggup bicara sebab bisa-bisa mengundang rasa mualnya. Ia buru-buru berbalik dan keluar dari kedai dan melangkah gemetar mendekati salah satu mobil polisi dan bersandar disana menenangkan jiwanya yang tergoncang.
Petugas yang pertama kali berurusan dengannya muncul lagi. "Bapak bersedia kami mintakan keterangan?" tanya polisi itu lagi.
Arya kembali hanya bisa mengangguk-angguk. Petugas itu menaruh rasa empati dan mempersilahkan Arya untuk melangkah menuju tempat dimana ada beberapa polisi yang sedang mencatat keterangan dari pimpinan tim forensik. Salah satu petugas menatap kearah Arya yang mendekat.
"Bang. Lelaki ini mengaku mengenal dua dari enam korban yang ada dikedai. Ia membenarkan identitas korban tersebut." ujar petugas itu.
Petugas satunya berpangkat inspektur menatap dalam kepada Arya. "Anda bertujuan apa datang kemari?"
"Saya sebenarnya punya tujuan menemui Saifulhadi dan Koni Kumaat untuk menemani saya menemui Muzdalifah..." tutur Arya.
"Siapa itu Muzdalifah?" tanya inspektur polisi itu.
"Alumni... dia adik kelas saya." jawab Arya. "Saya punya suatu urusan dengan dia..."
"Urusan?" cetus petugas itu dengan curiga. "Urusan apa?"
Arya tersenyum. "Urusan pribadi dimasa lalu... maaf, saya tidak nyaman untuk menceritakannya kepada anda disini..." ujarnya.
Polisi itu mengangguk-angguk lalu bertanya lagi. "Apakah sebelum kesini, anda sudah menghubungi salah satu dari korban?"
"Tidak." jawab Arya. "Saya hanya teringat bahwa saya ingin menemui Muzdalifah sehingga saya memutuskan untuk menemui mereka... sayangnya..." lelaki itu tak meneruskan kata-kata.
Polisi itu mengangguk. "Baik. Sementara ini, penyelidikan masih berlangsung. Jika kami memerlukan keterangan anda, maukah anda memberikan keterangannya dikantor nanti?"
"Ya..." jawab Arya.
"Bisa minta alamat dan nomor telpon anda?" pinta petugas itu dan Arya memberikannya.
Lelaki itu dengan lesu kembali ke mobilnya setelah diminta oleh petugas untuk segera meninggalkan tempat itu. Enam orang jenazah kemudian diangkut oleh tim forensik ke tiga mobil ambulans yang datang kemudian. Tiga iringan mobil polisi mengawal mengawal tiga mobil ambulans itu meninggalkan tempat kejadian perkara.[]