
"Ah, siapa bilang kamu nggak cantik?" sahut Nangsih Gani. "Kamu makin cantik dengan pakaian ini."
"Tapi mamaku bilang..." sanggah Anya.
"Mamamu hanya iri mungkin melihat anaknya lebih cantikan dari ibunya." sahut Mala.
"Nggak percaya?" pancing Nangsih.
"Entahlah..." ujar Anya.
"Aeryna Zahra..." ujar Nella, "Kamu itu cantik, hanya nggak sadar kalau kamu itu cantik."
Anya langsung mengangkat alis kanannya. "Aaa? Maksudnya?" tanya gadis itu.
Nangsih cekikikan mendengar Anya yang gagal paham dengan perkataan Nella Pangkey, sahabat mereka yang kini menjajaki karir sebagai guru itu.
"Maksudnya, pada dasarnya kamu itu cantik, Anya... hanya saja tertutupi oleh gaya bar-bar kamu itu." ujar Mala memperbaiki duduknya. "Kamu masih senang pakai junkies?"
"Yeee... itu memang dari dulu." ujar Anya lalu tertawa renyah.
"Tambahan, tawamu itu lho..." tegur Nella.
"Sorry, Nell. It's pure of Me. Aku nggak bisa merubahnya sedikitpun." ujar Anya sembari tersenyum lebar.
"Kalau mau menarik perhatian laki-laki itu ya, sedikit mengorbankan hati." ujar Nella.
"Maksudnya?" tanya Anya dengan penuh minat.
"Ya, sedikit merubah gaya dan penampilan kita." jawab Nella. "Umumnya laki-laki sukanya wanita yang kemayu. Nggak ada yang suka dengan perempuan bar-bar, Anya."
"Waaaah... menyinggung niih..." ujar Anya dengan datar dan menatap kesal.
Nella tersenyum. "Afwan kalau tersinggung, Nya. Aku kan hanya mengatakan hal yang lazim bagi kaum laki-laki." ujarnya memelas.
"Sudah..." lerai Nangsih. "Maksudnya Nella sebenarnya baik, kok. Supaya kamu lebih memperhatikan penampilan saja."
"Oooo.... supaya aku nampak kemayu kayak kalian semua?" pancing Anya.
"Alaaah... kata-kata Nella, kamu dengarkan?" sela Bonie yang tiba-tiba muncul dan nimbrung dikumpulan cewek-cewek yang menyendiri disudut tempat dipesta tersebut.
"Tapi kan maksud Nella, baik kok." ujar Nella agak gusar.
"Eehh... kalau semua pada kemayu, mana enaknya? Mana uniknya?" tukas Bonie dan seketika Anya merespon tawa senang dan langsung mengangkat tangannya lalu ditepuk highfive oleh Bonie.
"Ingat, Allah itu menciptakan kita dengan karakter masing-masing, dengan pembawaan masing-masing. Tujuannya apa? Supaya kita bisa saling belajar memahami dan mengenali saudara kita sesama manusia. Yang paling tinggi dari kita bukan orang yang kelakuannya kemayu atau yang bar-bar, tapi yang paling tinggi taqwanya dihadapan Allah." ujar Bonie memperingatkan.
"Nah tuh, Bonie saja lebih bijak dari kamu Nell." sindir Anya.
"Bukan juga aku bilang kalau Anya lebih baik dari kamu, Nella." sambung Bonie. "Lebih baik kita mengintropeksi diri kita masing-masing, dan menjauhkan sifat bangga, supaya hubungan pertemanan diantara kita makin kuat."
"Ah, bisa saja kamu, Bon." tukas Nella. "Aku kan cuma menyampaikan perspektif pemikiranku."
"Nggak semua laki-laki menyukai perempuan kemayu, meskipun memang pada umumnya laki-laki memang menyukai perempuan yang lembut." sanggah Bonie.
"Sekarang begini saja deh." sela Anya menatapi Nella, Nangsih dan Mala. "Selama pertemanan kita, kalian pernah lihat aku melakukan hal-hal yang nggak pantas?"
"Ya, nggak sih. Kecuali gaya pakaian itu." ujar Nella.
"Kalian pernah lihat nggak, aku berduaan sama cowok?" tanya Anya.
"Ya, kalau disini sih nggak pernah kami lihat." ujar Mala, "Tapi kan kamu kuliahnya di Bogor..."
"Eh, Keong! Aku nggak pernah kepikiran sama laki-laki selama menuntut ilmu disana." tandas Anya. "Asramaku, sangat menekan benar hal itu. Kami kayak orang-orang di pesantren, dipisah laki-laki sama perempuan. Tahu nggak kalian?"
"Nah, itu..." ujar Bonie. "Toh Anya, gayanya saja yang begitu. Aslinya kan nggak begitu. Aku senang benar dia pakai baju tertutup kayak begini. Tapi aku nggak mau maksa dia untuk merubah penampilannya demi sebuah pengakuan."
"Skeden lagi dong." seru Anya mengangkat tangannya dan Bonie menepuknya dengan gaya highfive.
"Sudah, sudah." lerai Nangsih lagi. "Debat personalnya selesai sampai disini." Wanita itu kemudian menunjuk para undangan yang sudah mengerubuti meja prasmanan. "Itu sudah banyak orang disana. Ayo! Nanti nggak kebagian kita!!!" serunya.
"Ayo!!!" Anya berseru dengan antusias.
Kelima wanita itu bangkit dan mengikuti para undangan menuju meja prasmanan. Mereka mengambil piring, menyendok nasi, lauk dan sayur serta minuman kemudian kembali ke tempat mereka duduk tadi. Mereka menikmati makanan sambil berbincang-bincang lagi.
"Eh, Nya." celetuk Nangsih yang sementara sibuk mencampur-campur nasinya dengan sayur pokcay dan potongan-potongan daging rendang. "Kamu kapan nikahnya?"
Anya masih asyik mengunyah makanannya dan hanya menggumam.
"Lihat tuh si Yuyun sudah melepas masa lajangnya." timpal Nella. "Tinggal kamu..."
Anya menelan makanannya lalu mengangguk. "Masih sementara mencari..." ujarnya dengan enteng lalu makan lagi.
"Waah... kelamaan dong." sahut Mala. "Nanti keburu tua kamu mah, dapat pasangan."
"Aku juga belum pikirannya kesitu." jawab Anya lagi sambil sibuk menggigiti daging satai.
"Kamu normal kan?" tanya Mala.
Anya tersedak dan batuk sedikit lalu berhasil menguasai dirinya sendiri. Ditatapinya Mala dengan alis berkerut.
"Maksud kamu apa sih?" tanya Anya dengan sabar. "Kamu kira aku penganut LGBT, gitu?" tebak gadis itu.
"Ah, Mala nggak bermaksud begitu." kilah Nella. "Dia hanya memperhatikan kamu saja."
"Ih, najong." seru Anya dengan bergidik membuat Mala tertawa.
"Serius, aku nanya." ujar Mala. "Kamu perempuan normal kan?" godanya.
"Ini kalau bukan temanku, sudah kusumpal bibir monyong kamu itu dengan polungku." ujar Anya dengan senyum kesal. "Kamu pikir aku nggak laku? Nanti aku buktikan dan kalian akan tahu siapa aku."
"Atau kami carikan jodoh deh." usul Nangsih lalu tersenyum-senyum sambil mengunyah makanannya.
"Huange'elooo..." umpat Anya lalu tertawa. "Gini-gini aku masih bisa nyari, Seeeh... nggak perlu pertolongan kamu-kamu."
"Alaaah... gengsian benar kamu jadi orang." olok Mala. "Nggak usah malu... nanti kami carikan yang bagus."
"Eh, pundiala." sembur Anya. "Nggak usah ngurusi aku. Itu, paitua kamu itu yang kamu urus." oloknya lalu tertawa kemudian makan lagi.
Mereka akhirnya tertawa bersama-sama, tidak memperdulikan beberapa orang yang memperhatikan kelima perempuan tersebut.
Disela-sela acara makan itu, tiba-tiba pembawa acara naik ke panggung dan langsung bicara melalui pelantang.
"Hadirin para undangan sekalian. Untuk lebih menambah kemeriahan acara, kami akan bawakan lagu-lagu romantis." pembawa acara itu kemudian berseru, "Ya, dari kami, Duta Persada Band menampilkan para biduan dan biduanita yang akan menyenandungkan tembang."
Tak lama kemudian muncul seorang biduanita yang kemudian membawakan tembang dari Vina Panduwinata, berjudul Didadaku Ada Senyummu.
Suara merdu biduanita itu mengalun ditengah khusyuknya acara santap bersama itu. Akhirnya lima menit berlalu dan biduanita itu mengakhiri lagunya.
Terdengar tepuk tangan meriah dari para tamu yang sebagiannya telah menyelesaikan kegiatan santap malamnya dan menikmati hidangan pencuci mulut.
Pembawa acara kemudian tampil lagi ke panggung dan berdiri didepan pelantang. "Ya, itulah dia tembang-tembing yang dibawakan oleh sahabat kita, Oktaviani dari Duta Persada Band." pembawa acara itu kemudian tersenyum dan berseru lagi. "Ya, selanjutnya tembang kedua akan dibawakan oleh sahabat kita, biduan kontrak... Zais Gun...."
Anya sontak kaget mendengar nama itu disebut oleh pembawa acara. Ia menengadah memanjangkan leher jenjangnya menyembul diantara kepala-kepala para undangan.
"Terima kasih kepada pembawa acara kita." ujar Zais mengapresiasi si pembawa acara yang juga mengarahkan jempol kepadanya. Pemuda itu kemudian mengalihkan tatapannya ke para hadirin, tepat disaat Anya juga langsung berdiri.
Alis si pemuda sedikit mengerut memastikan gadis yang berdiri itu. Apakah itu Anya???
"Nya, duduk dong!" ujar Mala dengan kesal. "Kamu menghalangi..." semprotnya.
Anya tak perduli. Gadis itu tetap berdiri memandang pemuda yang dikaguminya itu. Zais akhirnya tahu, bahwa gadis yang berdiri itu memang Anya. Ia tersenyum dan mengangguk tak kentara kepada Anya. Gadis itu tersenyum tersipu-sipu.
Bonie yang melihatnya langsung tanggap. "Itu siapa Nya? Kamu kenal?" tanya wanita itu.
Anya menoleh kearah Bonie dan mengangguk. Sementara Zais kemudian duduk sambil mengarahkan wajahnya didepan pelantang. Ia mulai menyanyi.
"Eh, dia nyanyi lagunya Raffa Affar..." seru Anya tanpa sadar melompat-lompat senang.
"Eh, hati-hati Nya." seru Nella. "Kakiku ke injak!"
Lagu Cinta Sampai Mati milik Raffa Affar yang dibawakan Zais terdengar begitu syahdu membuat para undangan terpaku menikmati lantunan lagu slow itu.
🎶 Duhai engkau, belahan jiwa... namamu terukir dalam pusara... disetiap langkah... ku s'lalu berdo'a... semoga kita bersama... 🎶
Para tamu benar-benar memuji lembut dan merdunya suara pemuda itu. Anya sendiri diam terpaku menghayati lantunan lagu itu, seakan Zais menyanyikan lagu tersebut untuknya.
🎶 Duhai engkau, tambatan hatiku... labuhkanlah cintamu dihidupku... kuingin kau tahu... betapa merindu... hiduplah engkau denganku...🎶
Anya seakan dibimbing oleh kekuatan tak kasat mata, melangkah meninggalkan kawanannya tanpa sempat Mala maupun Bonie mencekalnya.
"Itu si Nya'a mau kemana?" seru Nangsih menyebut nama panggilan Anya dalam kawanan itu. Ia menunjuk ke arah si gadis yang melangkah.
"Eh, eh, dia menuju panggung." seru Nella dengan lirih. "Bon! Cegah dia gih. Aduh, bikin kacau pesta nih." omelnya.
Sementara Zais yang melihat Anya mendekat lalu tersenyum dan menyambung tembangnya.
🎶 Dengarkanlaaaah....
Zais merentangkan tangannya ke arah Anya. Sementara dipanggung pelaminan, Yuyun bersama pengantinnya terheran-heran melihat Anya yang terus melangkah menuju panggung.
🎶 Disepanjang malam aku berdo'a... bersujud dan lalu aku meminta... semoga kita bersama... dengarkanlaaah... disepanjang malam aku berdo'a... cintaku untukmu s'lalu terjaga... dan aku pasti setia....🎶
Disaat Zais meraungkan suara merdunya, Anya telah tiba dipanggung. Pembawa acara langsung tanggap memberikan sebuah pelantang lagi kepada gadis itu.
Anya pun mulai mengiringi lagu yang dinyanyikan Zais.
🎶 Duhai engkau tambatan hatiku... labuhkanlah cintamu dihidupku... kuingin kau tahu... betapa merindu... hiduplah engkau denganku....🎶
Zais tak menyangka jika suara gadis dihadapannya merdu pula. Dengan senyum dan semangat ia pun meraung.
🎶 Dengarkanlah... disepanjang malam aku berdo'a... bersujud dan lalu aku meminta... semoga kita bersama...🎶
Sementara Zais mendendangkan lagunya, Anya hanya terus menatap pemuda itu. Zais kembali berdendang.
🎶 Dengarkanlah.... disepanjang malam aku berdo'a... cintaku untukmu s'lalu terjaga... dan aku akan setia...🎶
Dengan tanggap Anya mengiring lagi.
🎶 Dengarkanlah...🎶
Zais menyahut.
🎶 Dengarkanlaaaah....🎶
Anya kembali mengiring.
🎶 Disepanjang malam aku berdo'a...🎶
Zais menyela lagi.
🎶 Ku berdo'a🎶
Anya terus mengiring lagu.
🎶 Bersujud dan lalu aku meminta.... semoga kita bersama...🎶
Disaat Anya terus menyanyikan tembang itu, Zais pun menyelanya hingga mereka sama-sama menyanyikannya.
🎶 Dengarkanlaaah... disepanjang malam aku berdo'a... cintaku padamu s'lalu terjaga... dan aku akan setiaaa....ku setiaaa.... 🎶
Lagu itu berhasil diakhiri dengan duet bersama antara Zais dan Anya. Ketika mereka selesai bernyanyi, seketika para tamu langsung melakukan standing applause. Yuyun sendiri ikut bertepuk tangan dan memberikan jempol kepada Anya.
Gadis itu membungkukkan tubuhnya mengapresiasi standing applause yang dilakukan oleh para tamu. Zais hanya terpaku ketika Anya sejenak menatapnya sambil tersenyum lalu turun dari panggung dan melangkah kembali menuju kawanannya.
Pembawa acara itu maju dan memberikan penghargaannya. "Ya, itulah tadi tembang yang dinyanyikan duet oleh salah satu biduan kita dengan salah satu tamu undangan. Sangat hebat, nampaknya mereka berdua berjodoh."
Ucapan pembawa acara itu disambut tawa oleh para hadirin. Sementara Anya langsung ditarik paksa oleh kawanannya.
"Aduh, kamu bikin malu saja." sembur Nella. "Kenapa sampai kesana? Kamu kena hipnotis ya?"
Anya menatap Nella dengan alis yang terangkat lalu tersenyum. Nella sendiri hanya melengoskan wajahnya menatap panggung itu lalu menatap lagi sahabatnya.
"Kamu kenal lelaki itu?" tanya Bonie. "Siapa sih namanya?"
"Ada aja." jawabnya sambil senyum-senyum.
"Wuih, dirahasiakan." sindir Mala. "Kamu takut, kita ambil gacoan kamu?" oloknya.
"Coba saja." ujar Anya sembari memperlihatkan kepalannya dan memelototkan mata sedangkan senyumnya tetap tersungging.
"Ih, sadis..." ujar Mala bergidik. "Mana berani kami... sudah diancam polungku duluan."
Anya tertawa. Gadis itu kemudian menggandeng bahu Mala dan Nella. "Kamu mau aku cepat nikah?" pancingnya.
"Ya, tentu saja..." jawab keduanya berbarengan.
"Kamu bukan mau rencana nikah dengan penyanyi itu?" pancing Bonie.
"Menurutmu?" balas Anya sembari mengedipkan matanya.
"Kamu sudah kenal dia berapa lama?" selidik Nangsih penasaran.
"Nggak lama..." jawab Anya dengan enteng.
"Kok bisa akrab?" tanya Nangsih lagi.
"Mana kutahu?" jawab Anya. "Tahu-tahu langsung akrab. Aku juga nggak nyangka bisa begitu. Kayaknya dia itu terasa familiar begitu."
"Wah, kayaknya serendipity nih." cetus Nella.
"Tapi... kamu merasa dia pantas untuk kamu, nggak?" tanya Bonie.
"Atau kamu pantas untuk dia?" timpal Nella.
Anya terdiam mendengar pertanyaan kedua temannya. Gadis itu tersudut dengan pertanyaan itu.[]