
Kamala masih terselimut oleh kekagetan yang membuatnya kicep. Arya menatapnya lama sembari menyusut perlahan airmata yang membasahi pipinya.
"Bagaimana... bisa...?" ujar Kamala dengan lirih.
Arya menarik ingusnya. Lelaki itu menunduk lagi. "Kebencian yang tak beralasan... karena terhasut oleh isu yang tak jelas... berhasil menghancurkan masa depan seorang gadis yang tak bersalah."
Arya kembali merebahkan punggungnya dan kembali memandang lukisan itu.
"Andai.... andai aku bisa memutar lagi waktu..." Arya bangkit dan melangkah terhuyun-huyun mendekati lukisan itu.
Lelaki itu menyentuh lukisan tersebut dan mengusapnya dengan lembut nan pelan.
"Aku yang pertama akan mencegah tindakan itu... aku tidak akan segan menghukumi mereka yang menyakitinya." ujar Arya dengan suara pelan dan serak.
"Tapi... itu tak terjadi, kan?" tukas Kamala dengan lirih.
Arya mengangguk pelan sambil terus mengelus lembut lukisan itu.
"Schnecke... kami menyebutnya Schnecke sebagai bentuk pelecehan verbal terhadapnya, bukan sebagai bentuk rasa cinta, melainkan gairah untuk merasai dirinya... yang saat itu dimata kami, adalah seorang tambi'o yang begitu hina." jawab Arya dengan pelan dan suaranya tetap serak.
Kamala tetap duduk dengan perasaan yang berupaya diatur setenang mungkin.
"Bisa... kau ceritakan?" tanya Kamala.
Arya melepaskan lukisan itu dari kanvas dan membawanya ke hadapan Kamala. Lelaki itu membentangkan lukisan tersebut di meja. Bersamaan dengan itu, kenangan terhadap gadis itu terungkap sendirinya.
...******...
Sebagaimana tugasnya masing-masing. Rudi pertama kali mendekati bagian Administrasi dan Tata Usaha sekolah, mencari tahu tentang data Muzdalifah pada buku induk siswa.
Rudi menemukannya dan mencatat segalanya kemudian menyerahkan catatan tersebut kepada Arya.
"Bagus..." puji Arya. "Sekarang laksanakan segalanya sesuai rencana yang kita susun bersama."
Maka Iswan bertindak sebagai stalker yang menguntit kemana Muzdalifah melangkangkan kakinya. Setiap hari ia melakukannya. Selama belum mendapatkan perintah dari Arya, pemuda itu tidak akan melanggar.
Hingga pada suatu ketika, mereka merencanakan pertemuan di taman belakang Gelandang Olahraga (GOR) Nani Wartabone. Arya telah menunggu duluan sementara Rudi dan Iswan muncul belakangan berboncengan mengendarai sepeda motor cub milik Iswan.
"Oke, bagaimana beritanya?" tanya Arya, "Aku ingin berita yang baik."
Iswan mengangguk dan mengeluarkan beberapa lembar foto. Benda itu dibeberkan dihadapan Arya.
"Apakah itu miliknya?" tanya Arya.
Iswan terkekeh. "Orang semiskin itu punya rumah sendiri? Kelihatannya matahari besok terbit dari barat."
"Aku serius, Wan!" ujar Arya dengan kesal.
Iswan mengangguk-angguk. "Baiklah." pemuda itu mengambil selembar foto dan memperlihatkannya kepada Arya.
"Ayahnya kayaknya punya penyakit aneh." ujar Iswan memperlihatkan potret seorang lelaki parobaya bersama target operasi mereka. Iswan kemudian memutar aplikasi video dan memperlihatkan rekaman kepada Arya.
"Gerak-geriknya sedikit kaku." tutur Iswan, "Jika berjalan, ia tak pernah sekalipun menatap ke depan melainkan melihat langkah kakinya sendiri."
"Autisme Spectrum Disorder." ujar Arya menyebut salah satu jenis penyakit gangguan syaraf.
"Apa?" tanya Iswan.
"Nggak... teruskan penjelasanmu." ujar Arya.
Iswan mengangkat bahu dan memulai lagi penjelasannya. "Ayahnya punya kios kelontongan kecil didepan rumah kontrakannya itu. Dia juga punya pekerjaan lain sebagai penjahit permak baju di Pasar Sentral Kota."
"Bagaimana dengan rutinitas kesehariannya?" tanya Arya lagi.
"Kelihatannya, kita kecolongan lagi, Arya." ujar Rudi membuat Arya menatapnya dengan mimik serius.
"Apanya yang kecolongan?" tanya Arya.
"Ternyata, semua jajanan yang dijajakan di kantin sekolah kita, adalah buatannya. Ibu Kartini mungkin nggak bilang karena kuatir kita akan memboikot sehingga dia nggak akan memiliki penghasilan lagi." ujar Rudi.
"Aku nggak perduli dengan itu." tandas Arya. "Soal dia mengolah gorengan untuk dijajakan dikantin, bukan urusan kita."
"Ayahnya berangkat pagi dan akan pulang pada ba'da maghrib." tutur Iswan.
"Itu berlaku setiap hari?" tanya Arya.
"Setiap hari." tandas Iswan.
"Bagaimana keadaan lingkungan sekitar?" tanya Arya.
"Agak sepi. Kelihatannya, para penghuni kompleks situ agaknya individualis. Kita akan bisa melaksanakan rencana kita tanpa ketahuan warga." jawab Iswan dengan senyum cabul.[]