SCHNUCKY

SCHNUCKY
MEMENUHI JANJI



Arya berkali-kali mendengus dan membuang nafasnya sementara Kamala hanya menyapu-nyapu lembut punggung kekasihnya tersebut. Arya menunduk dan memejamkan mata sejenak berupaya meredakan emosinya.


"Semestinya, dia memang tak boleh berkata seperti itu." komentar Kamala dengan pelan memberikan dukungan moril kepada Arya.


"Ya... dan aku benar-benar tersinggung dengan ucapannya itu." sahut Arya kembali mengencangkan rahangnya. "Kalau nggak kuingat persahabatan kami, sudah kujejalkan polungku ini ke wajah brengseknya itu!" gerutu Arya dengan ketus.


Kamala tersenyum lalu duduk menegakkan dirinya, berhenti menyapu-nyapu punggung Arya. Wanita itu menghela napas.


"Wah, jujur... aku cemburu dengan perempuan bernama Muzdalifah itu." komentar Kamala lagi.


Arya tercekat lalu menatap Kamala. "Kamu nggak usah cemburu begitu." ujar lelaki itu berupaya menegaskan hatinya. "Aku menemui Muzdalifah hanya untuk meminta maaf kepadanya."


Kamala kemudian menatap Arya dengan tatapam dalam membuat Arya menjadi salah tingkah. Lelaki itu melengos dan menegur.


"Kamu jangan menatapku seperti itu." tegurnya.


"Schnucky... tataplah aku." pinta Kamala dengan lembut.


Arya masih enggan menantang wajah wanita disisinya itu. Lelaki itu masih memandang ke arah lain.


"Arya..." kali ini Kamala memanggil nama lelaki itu. "Pandanglah aku."


Arya, mendengar namanya dipanggil, akhirnya menoleh menatap Kamala, namun terlihat tatapannya menyiratkan rasa cemas yang berupaya disamarkan.


"Bagaimana jika begini..." ujar Kamala mengajukan beberapa kemungkinan. "Ketika Muzdalifah bersedia menemuimu, dia menuntut pertanggungjawaban darimu. Dia menuntut kamu untuk menikahinya dan meninggalkan aku...." Kamala menarik napas sejenak lalu menghembuskannya dengan pelan.


"Apa yang harus kulakukan?" tebak Arya.


Kamala mengangguk pelan. Arya kemudian tersenyum.


"Dengan berat... aku akan menolaknya." jawab Arya pada akhirnya.


"Kamu pernah ingat nggak?" ungkit Kamala.


"Apa itu?" tanya Arya.


"Bahwa kau pernah mengungkapkan niatmu untuk menjadi penjaga hatinya. Apa kau ingat?" ungkit Kamala.


Arya diam sejenak lalu mengangguk-angguk lama. Lelaki itu menarik napas lalu tersenyum lagi.


"Ya... aku pernah mengatakan hal tersebut." ujarnya mengakui.


"Bukankah jawabanmu tadi sangat kontradiksi dengan apa yang pernah kau ungkapkan dulu?" pancing Kamala sembari memicingkan mata.


"Bagaimana denganmu, jika mengalami hal semacam itu?" balas Arya.


Kamala tersenyum. "Jangan membalikkan keadaan. Aku nggak sama sepertimu." kilah wanita itu. "Aku nggak mengalami hal semacam itu."


"Bagaimana jika iya?" desak Arya lagi.


"Aku akan tetap berjalan pada rel yang kutetapkan." jawab Kamala dengan tegas.


"Maka aku pun akan begitu." sahut Arya kemudian. "Perkara aku pernah mengungkapkan hal itu dulu... mungkin dipicu oleh rasa bersalah yang teramat sangat."


Lelaki itu meraih tangan Kamala dengan lembut. "Namun kemudian aku sadar, bahwa aku telah memaksa seorang wanita untuk bersedia menjadi pengantinku. Dan aku sangat berterima kasih kepada perempuan itu sebab ia bersedia menjadi bagian hidupku, mengisi kekosongan dimana namanya tak nampak disana." Arya menatap dalam Kamala. "Aku sangat menghargai wanita itu sehingga kemudian aku memutuskan untuk memilihnya... meski aku harus melewati lautan neraka sekali lagi." jawab Arya lalu tersenyum. "Aku nggak keberatan... demi perempuan itu."


Jawaban Arya membuat Kamala terdiam dan nampaklah kedua netra wanita itu mulai berkaca-kaca. Makin lama makin sembab matanya dan akhirnya genangan air itu menjebol dinding kelopak mata mengalir turun membentuk sealur sungai kecil yang melintasi pipinya.


Arya tersenyum lalu mengusap pipi Kamala yang basah dengan airmatanya.


"Aku mencintaimu.... Kamala Tamara..." ujar Arya dengan lirih.


Kamala sendiri hanya kicep, namun ia merasakan betapa dadanya serasa bagai diguyur air embun yang dingin nan segar.


...*****...


Seperti kesepakatannya dengan ketiga lelaki itu. Arya kembali mendatangi kedai tersebut dan memarkir All New Avanza hitamnya disisi jalan.


Lelaki itu keluar dari mobil dan melangkah menuju kedai. Ia memasuki bangunan itu dan menyadari bahwa ruangan itu ramai dengan pengunjung.


Memang diluaran, Arya sempat melihat dua buah bis besar dan beberapa truk pengangkut barang yang parkir disekitaran bahu jalan itu. Kedai tersebut memang tidak memiliki halaman untuk memarkirkan kendaraan yang berhenti sejenak disana.


Arya mengedarkan pandang dan menemukan Saifulhadi yang sedang mengawasi pelayanan terhadap pengunjung dari balik meja kasirnya. Tatapannya sempat bersirobok dengan Arya.


Lelaki itu mengangguk dan Arya pun balas mengangguk lalu menuju tempat dimana ia duduk disepekan sebelumnya.


Saifulhadi memanggil salah satu pelayan dan membisikkan sesuatu kepadanya. Pelayan itu mengangguk-angguk lalu pergi meninggalkan tempat itu. Saifulhadi kemudian keluar dari tempatnya dan menemui Arya.


"Bagaimana kabarmu, bung?" sapa Saifulhadi dengan datar dan tak tersenyum.


"Alhamdulillah... aku baik-baik saja." jawab Arya. "Kemana dua temanmu yang lain?" tanya lelaki itu kemudian mengedarkan pandangannya.


"Koni lagi ke kota membeli bahan-bahan makanan. Hari ini banyak pengunjung dan persediaan sudah menipis." jawab Saifulhadi dengan datar.


"Sakera?" tanya Arya.


"Kenapa kau menanyakannya?" selidik Saifulhadi memicingkan mata.


"Sebabnya dia yang paling gatal ingin menggasakku." jawab Arya kemudian tersenyum.


"Hal yang wajar jika hal itu menyangkut dirimu." komentar Saifulhadi balas tersenyum. "Sakera rela melakukan carok jika berkaitan dengan Muzdalifah."


"Dia menyukai perempuan itu?" tebak Arya.


Saifulhadi mengangguk. "Dan dia makin marah ketika mengetahui dari mulut Muzdalifah langsung... bahwa kau menistai perempuan itu."


"Dia sudah mengungkapkannya ternyata..." gumam Arya kemudian mengangkat alis dan menghela napas. "Ya... borok memang sulit untuk disembunyikan..."


Saifulhadi hanya tersenyum mendengar ungkapan Arya. Lelaki itu kemudian menyahut.


"Kau memang lelaki yang pantas untuk... dibunuh." komentar Saifulhadi.


"Ya... benar." sahut Arya mengiyakan komentar Saifulhadi. "Tapi... bukankah Allah Maha Penerima Taubat?"


"Kau bersembunyi dibalik premis itu." tukas Saifulhadi.


Tak lama kemudian, pelayan yang dibisiki oleh Saifulhadi itu muncul kembali dan membisiki sesuatu ke telinga lelaki itu. Tak lama kemudian Saifulhadi mengangguk-angguk dan memandang pelayan itu.


"Suruh dia untuk bersiap-siap." ujar Saifulhadi kepada pelayan itu.


Pelayan tersebut mengangguk lagi dan berbalik pergi meninggalkan tempat itu. Arya menatap punggung pelayan yang menjauh itu.


"Tentu... itu memang niatku sedari awal." jawab Arya tak kalah datarnya.


Saifulhadi kemudian bangkit. "Ikuti aku." ajaknya.


Arya ikut bangkit dan melangkah mengikuti Saifulhadi yang melangkah santai meninggalkan tempat tersebut.


Keduanya meninggalkan kedai dan menyusuri jalanan setapak yang membelah rerimbunan delombongo tersebut. Arya sendiri berupaya menghafalkan rute itu dibenaknya.


Saifulhadi terus berjalan dan Arya mengiringinya dari belakang. Mereka akhirnya tiba pada sebuah hamparan tanah lapang kecil dan menemukan sebuah rumah kecil.


Saifulhadi mendekati rumah itu dan mengetuk pintu rumah. Tak lama kemudian pintu itu membuka dan muncul seorang wanita tua yang menatap Saifulhadi dengan sorot penuh tanda tanya.


"Ti Ifah oluwo to bele?" tanya Saifulhadi dengan santun.


"Dila..." jawab si wanita tua itu kemudian menunjuk lagi delombongo yang berada disamping rumahnya. "Tiyo ti o tawa'u hemo ziarah to kuburu li papa liyo. De pona'olo teto mola. Modunggaya ma'o yi'o tetomota." usul wanita tua itu.


"Oduolo, Mama..." jawab Saifulhadi kembali dengan santun dan pamit.


Ketika melihat Arya yang berdiri dibelakang Saifulhadi, wanita tua itu bertanya, "Waw ta la'i to di balaka boyito... tita tanggu liyo?"


Saifulhadi tersenyum dan memperkenalkan Arya kepada wanita tua itu. "Ta la'i ti, tangguliyo te Arya Datau. Tiyo ti tamani li Ifah londo sikola mayi."


Wanita itu mengangguk-angguk mendengarkan jawaban yang dilontarkan Saifulhadi. Setelah itu wanita tua tersebut mengisyaratkan Saifulhadi untuk menuju delombongo itu.


Saifulhadi pamit dan melangkah meninggalkan rumah itu diikuti oleh Arya.


"Ifah ada dikuburkan.... menjiarahi mendiang ayahnya." ujar Saifulhadi.


"Aku tahu... aku memahami dialek Gorontalo." ujar Arya membuat Saifulhadi terdiam namun terus melangkahkan kakinya.


Mereka akhirnya menemukan hamparan tanah. Ada dua buah makam disana. Satunya makam yang besar dan satunya makam kecil. Sebuah pa'ita tertancap dimasing-masing makam tersebut.


Seorang wanita berkerudung duduk bersimpuh menyapu-nyapu pa'ita pada makam yang besar. Dibelakang wanita itu berdiri seorang lelaki yang bisa dipastikan bahwa ia adalah Sakera, si lelaki Madura itu.


Sakera menengok menatap Saifulhadi yang muncul diikuti oleh Arya. Melihat lelaki kota itu, wajah Sakera langsung berubah sinis.


"Mau apa sampeyan disini?!" sergahnya.


Wanita berkerudung itu menoleh sejenak ke arah Sakera lalu memutar kepalanya menatap Saifulhadi dan terakhir menatap Arya.


"Ifah..." sapa Arya dengan lembut.


Wanita berkerudung itu menelan salivanya lalu bangkit. Ia berdiri agak mendempet ke sisi Sakera.


"Nah... kita sudah bertemu." ujar Muzdalifah dengan lirih dan gemetar. "Ungkapkan maksudmu dan segeralah pergi."


Arya menatap makam besar itu sejenak lalu memandang Muzdalifah.


"Makam ayahmu kah ini?" tanya Arya.


Muzdalifah mengangguk patah-patah. Arya mengangguk-angguk pula lalu mendekati makam itu kemudian ia jongkok dihadapannya.


"Heh... mau kasih lihat apa sampeyan?" sindir Sakera. "Sok suci..."


Arya tak memperdulikan komentar sinis lelaki Madura itu. Ia tetap saja membacakan doa terhadap penghuni makam itu. Setelah selesai berdoa, lelaki itu bangkit dan menepuk-nepuk tangannya sembari menatap Muzdalifah.


"Kedatanganku kemari untuk meminta maaf atas perlakuanku semasa sekolah terhadapmu." ujar Arya.


"Kami sudah tahu." sela Sakera. "Sekarang enyahlah sampeyan dari sini." usirnya.


Arya memandang Sakera. "Aku tak bicara denganmu Pak!" ujarnya dengan emosi yang ditahan sekuat mungkin. "Bisakah aku bicara empat mata dengan Muzdalifah?!"


Sakera tertawa sejenak kemudian menyergah. "Sebuah keinginan yang tak bisa dikabulkan!"


"Kamu siapanya?!" tantang Arya.


Sakera hanya bisa diam dengan rahang yang menggembung menyimpan amarah yang nyaris membuncah dari kepalanya.


Arya mendengus lalu kembali menatap Muzdalifah. "Aku tahu, aku memang bersalah... sangat bersalah kepadamu! Tapi... apakah tiada maaf kau berikan kepadaku?" ujarnya dengan nada meninggi.


"Jangan mendesaknya!" sergah Sakera lagi.


"Kau!!!" balas Arya menyergah sembari menudingkan telunjuknya ke wajah Sakera.


"Apa?! Sampeyan mau apa?! Mau nantang carok?! Tak layani!!" seru Sakera dengan semangat.


Arya memicingkan mata sejenak memandang Sakera lalu menengadahkan wajah ke angkasa dan membuang napasnya dengan keras. Saifulhadi hanya bergeming saja disana, mengamati dan mengawasi apa yang akan terjadi. Jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan, ia akan bertindak preventif untuk pencegahan dini.


Arya memejamkan mata sejenak lalu menundukkan wajahnya sejenak. Setelah amarahnya sedikit reda, ia mengangkat wajahnya menatap Muzdalifah.


"Kau boleh membenciku seumur hidupmu! Kau boleh mengutuk dan merajamku dalam hatimu. Aku terima semuanya. Aku memang brengsek!" seru Arya sembari mengembangkan tangannya. "Tapi... dihadapan makam ayahmu. Bisakah aku mendapatkan maaf itu?"


"Dâ'remma dhibi'na maafkan bâ'na?!" sergah Sakera dengan dialek Madura. Lelaki itu kemudian menunjuk makam kecil disisi makam besar itu. "Rowa apa?!"


Arya memandang makam kecil itu dan ia tercekat. Tatapannya terarah kepada Sakera lalu kepada Muzdalifah.


"Ifah..." ujar Arya menuntut jawaban.


"Rowa ana' bâ'na, Pate'!!!" sergah Sakera lagi setengah berteriak.


Saifulhadi menghela napas dan menterjemahkan ucapan Sakera.


"Itu adalah hasil dari perbuatan kalian dulu kepada Ifah." ujar Saifulhadi.


Arya benar-benar syok mendengar penjelasan itu. Ia sejenak limbung namun berhasil menguasai diri kembali.


"Ifah..." ujarnya meminta penjelasan.


Muzdalifah sendiri hanya menangis tanpa suara dan berlindung dibelakang Sakera yang sejak tadi tubuhnya gemetar menahan amarah yang nyaris tak dapat lagi dikendalikannya.


Arya merasai segala tulang ditubuhnya dilolosi sedemikian rupa mendengar kebenaran itu. Dengan lemas, didekatinya makam kecil itu dan lelaki itu akhirnya duduk tersimpuh didepan makam itu.


Seketika Arya mendongak dan mengumandangkan ruangannya.


AAAAAAAAAAAAAAAAAAARRRRRGGGGHHH....


Setelah itu, Arya menelungkupkan tubuhnya memeluk makam kecil itu dan menumpahkan tangisnya yang sejak tadi tertahan.[]