
Dokter memeriksa keadaan Arya dan mengangguk-angguk kemudian. Ia menatapi lelaki itu.
"Saya salut sama anda." puji dokter itu dengan kagum. "Kekuatan hati dan semangat anda begitu kuat. Sangat jarang orang yang mengalami mental breakdown mampu mengatasi hal semacam ini sendirian."
Arya hanya tersenyum saja. Sementara dokter itu lalu menatap pasangan usia parobaya yang duduk agak jauh dari ranjang yang ditiduri Arya.
"Jika perkembangannya menuju arah yang baik, mungkin sore nanti, Pak Arya sudah bisa kembali ke rumah." ujar dokter itu. "Mungkin sesekali kesini untuk dilakukan diagnosa secara psikologis untuk mendeteksi perkembangan kejiwaannya."
Ruslan mengangguk-angguk dan tersenyum. "Terima kasih Pak." ujarnya dengan tulus.
Dokter itu mengangguk lalu pamit meninggalkan ruangan. Sepeninggal dokter itu, Mirnawati menyeret kursi hingga ke dekat dipan dan duduk lalu menatap Arya.
"Nak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mirnawati.
"Ma, jangan dulu merecoki anak kita dengan pertanyaan itu. Arya baru saja siuman dari ketidaksadarannya. Apa Mama mau menambah lagi beban pikirannya?" tegur Ruslan dengan sabar.
Mirnawati akhirnya hanya bisa menghela napas dan kembali menatap Arya dengan iba.
"Mama nggak usah kuatir." ujar Arya dengan lembut. "Arya baik-baik saja Ma. Hanya perlu istirahat sedikit lagi."
Mirnawati melengos dan menggerutu. "Kamu itu, banyak masalah dipendam terus." wanita itu kemudian menatap anak lelakinya lagi. "Sekali-kali bilang dong sama Mama, sama Papa... semua masalahmu itu. Kamu itu bukan demigod, superhero atau metahuman yang punya kemampuan fisik diluar kemampuan manusia normal pada umumnya. Kamu tetap manusia biasa yang bisa letih, bisa sakit." omelnya.
Arya mengangguk-angguk. "Iya, Arya paham kok Ma." ujarnya lagi. "Tapi memang benaran nggak apa-apa. Wallahi..." ujarnya bersumpah.
"Tapi kalau benaran nggak apa-apa, kok kamu sakit begini?" tukas Mirnawati.
"Maaaa...." tegur Ruslan lagi.
Mirnawati kembali melengos mendengar teguran suaminya. Ruslan menggeleng-gelengkan kepala lalu menatap putranya.
"Bisakah untuk seminggu, kamu mengambil cuti sakit?" tanya Ruslan.
"Baiklah, Pa." jawab Arya. "Saya akan mengambil cuti sakit."
Ruslan mengangguk-angguk lalu menghela napas. "Bagus. Perhatikan juga keadaanmu. Beristirahatlah sejenak. Bagaimana kau bisa memimpin perusahaanmu, jika kau sendiri sakit-sakitan?"
Arya mengangguk-angguk. "Akan saya laksanakan saran Papa."
"Habis itu, pikirkan segera untuk menikah." sela Mirnawati.
"Lho? Kok kesitu urusannya?" tanya Ruslan dengan heran.
"Ya, iyalah Pa." ujar Mirnawati menatap suaminya lalu menatap lagi kepada Arya. "Bisa jadi dia begini karena tuntutan biologisnya belum terpenuhi." Setelah itu Mirnawati melengos. "Aku nggak mau anakku jadi mesum." gerutunya.
Ruslan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kok Mama malah kepikiran begitu sama anak sendiri?"
"Kenapa tidak?" tukas Mirnawati. "Arya itu sudah dua puluh delapan tahun usianya, Pa. Sudah sangat wajib untuk berumah tangga." debatnya. "Tapi lihat sekarang? Sampai sekarang ia masih betah dengan kesendiriannya."
"Tapi kan seminggu lagi dia akan menikah dengan Kamala..." ujar Ruslan.
"Ya, karena Mama memaksa!" tandas Mirnawati. "Coba kalau nggak dipaksa? Mana mau anak kita ini?"
Arya hanya menggeleng-gelengkan kepala tapi malas menyanggah perkataan-perkataan ibunya. Ia memilih menjadi pemirsa dari acara debat live yang sementara berlangsung dihadapannya.
"Memang enak jadi laki-laki." omel Mirnawati dengan ketus. "Mau kapan umurnya, seenaknya menentukan sendiri. Coba kalau jadi perempuan, usia dua puluh dua tahun saja kalau belum menikah sudah jadi bahan gunjingan orang."
Ruslan baru saja hendak menyanggah ketika Mirnawati menyambung lagi. "Ini juga kebaikan untuk Arya, supaya matanya nggak jelalatan lihat perempuan-perempuan diluaran sana."
"Siapa bilang jadi laki-laki itu enak Ma?" sanggah Ruslan. "Torang laki-laki ini juga sama susahnya macam kalian. Bahkan lebih susah."
"Apa coba hujjah yang bisa Papa utarakan sebagai penguat pendapat?" tantang Mirnawati.
"Ma, kalau bicara tentang mesum, itu hal yang memang biasa bagi laki-laki." ujar Ruslan.
"Berarti Papa memang mesum dong!" tukas Mirnawati dengan ketus.
"Ya iyalah..." sahut Ruslan dengan enteng. "Kalau laki-lakinya nggak mesum, umat manusia akan punah, Ma!"
Arya tertawa mendengar hujjah yang disampaikan ayahnya. Mirnawati menatap putranya dan menuding telunjuk. "Diam kamu!" sergahnya dengan lirih dan ketus.
Arya diam lagi dan membiarkan pasangan suami-istri itu menyelenggarakan debat.
"Berarti Papa juga suka lihat perempuan telanjang ya?! Kurang ajar!" tukas Mirnawati dengan marah.
"Eetss... kalau itu Mama sudah keliru." sanggah Ruslan. "Tapi kalau kita bicara logika... kalau Papa nggak nafsuan lihat Mama telanjang, bagaimana batang dzakar Papa bisa ngaceng? kalau nggak ngaceng, gimana mau mengeluarkan ******? Ah, Mama ada-ada saja pemikirannya."
"Tapi Papa bilang..." protes Mirnawati.
"Ma, memang cara kerja nafsu pria itu berbeda dengan wanita, tapi kan ujungnya kita kembali ke akal. Yang membedakan manusia dengan binatang kan hanya akal pikiran, Ma." sela Arya.
"Eh, sudah Mama bilang diam, kok nyerocos terus?" sergah Mirnawati kepada putranya. "Kamu tahu apa tentang itu? Nikah saja belum..."
Arya membuang napasnya dengan kesal. Ruslan kembali bicara.
"Yang dibilang Arya itu benar, Ma." ujar Ruslan. "Tuntutan alam kepada laki-laki memang seperti itu. Lalu Papa mau jelaskan, mengapa jadi laki-laki itu berat? Ya, karena laki-laki diharuskan menahan nafsu agar tidak merugikan orang lain, juga agar nggak terjerumus kepada perbuatan dosa." jawabnya.
"Ya memang harus seperti itu!" sela Mirnawati.
"Ah, malas bicara yang beginian dengan Mama." tukas Ruslan mendengus. "Mama selalu saja mencari pembenaran sendiri."
Perdebatan mereka terhenti sesaat ketika gawai di tas kecil milik Mirnawati berdering.
"Tuh, panggilan dinas tuh." ujar Ruslan menggerutu.
Mirnawati balas mendengus dan mengeluarkan handphone dari dalam tasnya lalu melihat ke layar dan menjawab panggilan.
ð² "Ya?" jawab Mirnawati dengan datar dan jelas.
ð² "Dengan Ibu Mirnawati Datunsolang?" tanya suara di seberang.
ð² "Ya, saya sendiri." jawab Mirnawati.
ð² "Dari jasa kurir JNE, mengabarkan bahwa pesanan ibu dengan resi P******** akan tiba beberapa jam lagi. Mohon konfirmasinya." ujar seseorang dari seberang.
ð² "Oh ya. Saya masih beeada ditempat lain. Nanti kirimkan saja ke alamatnya, ada anggota keluarga saya yang lain disana, akan menerima paket itu." jawab Mirnawati.
ð² "Oooo baiklah Bu. Kalau begitu kami permisi." ujar suara itu dan percakapan seluler pun berakhir.
"Dari siapa Ma?" tanya Arya.
"Dari kurir barang. Paketnya Mama akan tiba hari ini." jawab Mirnawati sekenanya.
"Ada Anya dirumah kan?" ujar Arya.
"Memang dia yang Mama suruh nunggu barang itu." sahut Mirnawati.
Ruslan dan Arya hanya mengangguk-angguk saja.
...*******...
Anya melatih kecakapan pukulan dan tendangannya pada samsak yang digantungkan. Sisi samping rumah itu memang dipugar menjadi gym sederhana. Beberapa peralatan fittness seperti Treadmill, Rowing and lat pulldown serta samsak dan punching bag untuk berlatih.
Anya dulunya seorang atlit Karate-dÅ semasa sekolah. Ia banyak menoreh prestasi semasa O2SN dan beberapa kejuaraan berskala lokal dan nasional selama mengenyam pendidikan di tingkat SLTP maupun SMU.
Setelah menempuh pendidikan di Poltek SSN, Anya tetap mengasah seni beladiri itu di sasana kampus dan berhasil dianugerahi tingkatan renshi oleh Pengurus Besar INKAI.
Sore itu Anya mengenakan tanktop hitam, membiarkan perutnya yang langsing dan sedikit sixpack terlihat. Bagian bawahnya terbalut celana training hitam dari bahan parasut. Ia membalut kakinya dengan kaos kaki. Pinggang langsingnya dilingkari sabuk obi hitam dengan tulisan kanji diujung kiri serta enam garis strip kuning di ujung kanan sabuk tebal itu.
TING TONG! TING TONG!
Deringan bel yang keras akhirnya menghentikan kegiatan gadis itu. Ia sejenak diam dan menajamkan pendengarannya. Bel kembali berdentang.
TING TONG! TING TONG!
"Assalamualaikum...." seru seseorang terdengar dari arah pintu luar.
"Wa alaikum salam. Tunggu sebentar!" seru Anya keras.
Gadis itu meraih jaket sweater hoody miliknya dan memakainya, membiarkan membuka sehingga sebagian belahan dadanya yang terhalang tanktop, dan perutnya terlihat.
Anya berlari-lari pelan dan tiba di halaman depan. Nampak dibalik pintu pagar yang terkunci, seorang mengenakan helm dan jaket dari salah satu perusahaan ojol, membelakangi Anya.
"Ya, cari siapa Pak?" tanya Anya.
Orang itu berbalik dan keduanya terperanjat kaget.
"Dek Anya..." seru orang itu dengan lirih.
"Kak Zais?!" seru Anya merasa surprise dan tiba-tiba rasa gembira langsung menyelusup dihatinya.
"Dek Anya tinggal disini?" tanya si kurir yang ternyata adalah Zais Gun. Lelaki itu bertanya dengan hati-hati.
"Ini kan rumah saya, Kak." jawab Anya langsung menggeser pintu dan mempersilahkan Zais untuk masuk.
"Maaf Dek. Ini saya mau ngantar paket." ujar Zais sambil melihat alamat yang tertera pada paket yang dipegangnya. "Ini... atas nama Ibu... Mirnawati Datunsolang..."
"Itu mama saya, Kak." ujar Anya. "Ayo masuk dulu." ajaknya.
Zais mengangguk sopan dan melangkah masuk. Pemuda itu sebenarnya sudah melihat penampilan Anya tadi sehingga makin kikuklah ia. Anya tersenyum.
"Ah, Kakak kok canggung benar? Kita kan sudah kenalan." ujar Anya.
"Nggak kok Dik." sanggah Zais. "Cuma..."
Anya langsung tertawa sambil menutup mulutnya. "Ooo Anya tahu nih." ujarnya lalu tersipu. "Maaf ya Kak, belum sempat ganti baju." ujarnya.
Zais kembali hanya mengangguk-angguk canggung dan tersenyum.
"Duduk dulu ya?" pinta Anya. "Anya ganti baju dulu."
Zais mengangguk dan Anya kembali ke dalam rumah. Pemuda itu duduk di kursi yang ada diberanda itu. Ia membuka jaket dan mengipasi tubuhnya. Pemuda itu menggerutu dalam hatinya.
Sialan... perempuan itu bikin konak ih. Mana belahan dada dan perutnya kelihatan lagi... seksi sih... aduh kok kepikiran ya?
Tak lama kemudian Anya muncul dengan pakaian atasan yang lebih pantas, meski tak mengganti bagian bawahannya. Gadis itu membawa baki berisi gelas minuman sirup dan setoples kue.
"Naaaah.... Kakak lagi haus nih pastinya." seru Anya kemudian meletakkan gelas berisi sirup dan setoples kue itu dimeja dekat Zais Gun.
"Wahhh... berlebihan sekali Dek." komentar Zais lalu tersenyum. "Tapi, makasih yaaa???"
Anya mengangguk-angguk lalu mengisyaratkan Zais untuk meminum isi gelas itu.
Zais sekali lagi mengangguk dan meraih gelas yang dingin itu lalu meminum sedikit sirup yang didinginkan dengan balok-balok es kecil, merasai air dingin menyejukkan kerongkongannya.
"Alhamdulillah...." desisnya lirih seraya meletakkan gelas itu pada tempatnya.
"Sudah lama jadi kurir ya?" tanya Anya.
"Alhamdulillah... malamnya, pas habis pulang dari ketemuan kita itu, saya dapat pesan singkat kalau saya diterima jadi ojek online. Ya, saya sangat bersyukur..." jawab Zais dengan sumringah. "Nih, baru ngelayap sudah dapat pesanan dari JNE, suruh ngantar paket ini ke alamatnya Dek Anya..."
"Waaah... berarti... Anya ini bintang keberuntungan Kak Zais dong." celetuk Anya sambil menggoda menaikkan alisnya berkali-kali.
"Alhamdulillah... mungkin seperti itu." sahut Zais.
"Kakak punya pacar nggak?" tanya Anya tiba-tiba.
Zais tertawa lalu bertanya, "Kok Dek Anya bertanya seperti itu?"
"Ya, kali saja punya. Nanti dia cemburu lihat Kak Zais lagi ngobrol sama saya disini." kilah Anya melengos lalu kembali menatap Zais dan memamerkan senyumnya yang manis.
"Memang dia tahu saya disini ngobrol sama kamu?" tanya Zais lagi tapi pemuda itu menebar senyum.
"Ya bisa jadi? Dia pakai aplikasi stalking? Kan banyak bertebaran di Googleplay, kan?" sentil Anya mengerling ke arah Zais.
Zais tertawa. "Kamu itu suudzon saja sama orang." ujar pemuda itu.
"Tapi benaran Kakak punya pacar kan?" tanya Anya lagi.
Zais tersenyum dan menggeleng. "Model macam saya begini nggak akan muncul dalam benak para gadis." ujarnya kembali menyeruput sirup itu dan meletakkan kembali gelas ke meja.
"Kenapa?" tanya Anya.
"Mana ada perempuan yang mau sama mahasiswa miskin, selepas kuliah nyambi jadi ojol dan malamnya, kalau nggak lelah, mengamen dijalanan?" tukas Zais lalu tersenyum lagi.
"Tapi pekerjaan yang Kakak geluti kan halal. Darpada jadi garong? kerjanya malak orang, bikin kerusuhan saja." ujar Anya memotivasi pemuda itu.
"Makasih ya, atas dorongan morilnya." ujar Zais kemudian tersenyum.
"Saya selalu mendukung Kak Zais." seru Anya sambil mengacungkan tinjunya ke atas.
"Wah, serasa punya penggemar nih." celetuk Zais lalu tertawa dan Anya ikut tertawa pula.
"Nggak apa-apa deh, Anya jadi penggemarnya Kak Zais." ujar gadis itu. "Tapi Kak Zais punya pacar, kan?"
"Kan sudah dibilang tadi, kalau potongan macam saya ini nggak akan diminati perempuan." ujar Zais.
Pemuda itu kemudian meletakkan paket tersebut di meja. "Nah, itu paketnya... tolong ditandatangani ya?" ujar Zais kemudian mengeluarkan sebuah faktur dan meletakkannya di meja beserta pulpen.
Anya meraih pulpen dan menandatangani invoice tersebut dan Zais mengambilnya lagi kemudian menyimpannya ke dalam tasnya.
"Dek, saya permisi dulu ya?" ujar Zais pamit. "Makasih ya, atas jamuannya. Bikin repot Dek Anya saja."
"Nggak apa-apa." ujar Anya.
Zais bangkit namun Anya menahannya sejenak. "Kak, minta nomernya dong. Kan kita sudah sahabatan." pintanya.
Zais tersenyum lagi lalu merobek selembar faktur yang kosong dan menuliskan nomor telponnya lalu menyerahkannya kepada Anya.
"Makasiiiihhhh..." ujar Anya.
Zais tersenyum dan mengangguk lalu pamit dan melangkah menuju gerbang. Pemuda itu sudah menaiki kendaraan dan menyalakan mesinnya ketika Anya memanggil.
Zais menoleh menatap gadis itu.
"Kak Zais belum jawab pertanyaan Anya." ujar Anya. Zais mengerutkan alisnya dan tersenyum.
"Pertanyaan apa?" tanya Zais.
"Kakak punya pacar?" tanya Anya.
Zais tersenyum. "Saya pacaran saja deh sama Dek Anya...." ujarnya lalu melambaikan tangan dan menarik setangnya. Kendaraan itu melaju meninggalkan Anya yang tersipu-sipu sendiri.[]