
Arya mengerjap-ngerjapkan mata beberapa jenak, membiasakan diri dengan pemandangan yang melingkupinya. Dalam samar diantara sadar dan tidak, ia mendengar suara pintu yang membuka disusul langkah kaki pelan yang mendekat.
Arya menggumam dan menolehkan wajahnya mencari sumber suara tersebut. Ia melihat meski tatapannya buram, sesosok wanita yang mendekatkan wajahnya dengan senyum yang menebar.
"Musdalifah...???" gumamnya dengan lirih.
"Sudah bangun... hm???" gumam wanita itu juga dengan lirih.
Perlahan Arya menemukan kesadarannya dan menyadari bahwa sosok yang duduk disisi ranjang itu bukanlah Musdalifah. Lelaki itu menjadi malu dan canggung.
"Kamu itu... dipikiranmu hanya ada Musdalifah saja..." rajuk wanita itu.
"Kamala..." gumam Arya berupaya bangun lalu duduk bersila dengan sikap malas dipermukaan ranjang tersebut. "Maaf... aku kelepasan bicara..."
Wanita itu, Kamala hanya tersenyum. "Segitu miripkah aku dengan perempuan itu?" pancingnya dengan senyum tersipu.
"Hmmm...ya..." gumam Arya membenarkan, "Terkadang... aku sendiri justru berpikir... bahwa kamu adalah dia..."
Kamala terdiam sesaat lalu tersenyum kembali. Arya akhirnya tersenyum ketika melihat wanita dihadapannya juga tersenyum.
"Kenapa kamu tersenyum?" tanya Arya. "Apakah ungkapanku tadi terasa benar dihatimu?"
"Jika kau memang berpikir begitu... kenapa tidak panggil saja aku dengan namanya?" pancing Kamala. "Setidaknya... itu akan mengobati kerinduanmu terhadapnya."
Arya terkekeh pelan dan menggeleng kemudian.
"Kamu itu ada-ada saja." tukasnya. "Kamu adalah kamu... diapun demikian... meskipun serupa, kalian tidaklah sama..."
"Dimana letak persamaan dan perbedaan kami berdua?" tanya Kamala.
Arya menyeret dirinya ke sisi ranjang dan duduk disana, disamping Kamala. "Kalian berdua memiliki pesona yang berbeda." ujar Arya kemudian bangkit.
"Kamu mau kemana, Schnucky?" tanya Kamala.
"Kenapa kau membiarkanku tertidur disini?" tanya Arya. "Keberadaan kita berdua bisa menimbulkan fitnah dari birman-birman dikompleks sini." tukasnya.
"Biarkan saja." kilah Kamala. "Aku tinggal menjelaskan kepada mereka, dan juga Pak RT disini kalau kamu itu tunanganku."
Arya menatap Kamala sejenak lalu kembali berlalu keluar dari kamar itu. Kamala bangkit dan menyusulnya. Arya sejenak terpaku menatap jam dinding diruangan tengah.
"Astaga... sudah jam tujuh lewat." desisnya.
"Aku sengaja tak membangunkanmu." ujar Kamala. "Tubuh dan pikiranmu sangat lelah. Aku lalu membawamu ke tempat tidur dan mengistirahatkanmu disana."
Arya memicingkan tatapannya. "Kita... tak melakukan sesuatu dikamar... kan?"
Kamala tersenyum dan sejenak kemudian seringai nakal menebar dibibirnya.
"Kenapa? Kau berpikiran kita lagi ng*w* dikamar?" tebak wanita itu menyebabkan Arya merasakan wajahnya memanas.
Kamala tertawa lagi. "Jangan kuatir... kamu masih jejaka kok..." ujarnya dengan senyum nakal lagi.
"Kamala... aku serius." ujar Arya.
Kamala lagi-lagi tertawa karena merasa geli dengan kegelisahan lelaki itu. Ia mengangguk-angguk untuk menandaskan kebenaran ucapannya.
"Iya kok. Nggak percaya ya?" tukas Kamala. "Atau begini saja... kalau kau nggak yakin, aku pelorotin celanaku, ku perlihatkan pukasku kepadamu dan lihatlah... jika selaput dara disana nggak robek, berarti kamu nggak ngapa-ngapain aku semalaman itu." usulnya.
"Kau memang sinting!" umpat Arya lalu berbalik dan melangkah cepat meninggalkan ruangan itu diselingi tawa Kamala.
Lelaki itu tiba didepan dan langsung menuju All New Avanza hitamnya. Tak lama kemudian kendaraan hitam itu meluncur meninggalkan kediaman wanita itu.
Bangunan tak terurus diwilayah Leato.
Kawasan itu sudah dipenuhi lima buah kendaraan milik Satuan Reskrim Polres Kota Gorontalo dan tiga buah mobil ambulans. Sebuah tali kuning bertuliskan 'Garis Polisi - Dilarang Melintas' sudah ditebar dibeberapa lokasi untuk mencegah jangan sampai pihak-pihak yang tak berkepentingan merusak TKP tanpa sengaja.
Beberapa petugas forensik telah sibuk memeriksa dibantu oleh beberapa reserse. Sementara beberapa dari lainnya menjagai tempat itu. Senapan tergenggam dari para polisi yang mengawasi keadaan sekitar dengan waspada.
Warga-warga sekitaran sudah banyak yang berkumpul menyaksikan proses olah TKP tersebut. Mereka ditertibkan oleh beberapa anggota Samapta yang ikut membantu mengamankan tempat itu.
Tak lama kemudian, terdengar deru suara kendaraan berat. Sebuah kendaraan taktis warna hitam muncul ditempat itu dan berhenti tepat disalah satu posisi dimana tali kuning itu ditebar.
Seorang lelaki berperawakan kekar keluar dari kendaraan taktis itu. Ia mengenakan kacamata aviator hitam menyamarkan tatapan matanya yang tajam. Opsir itu mengenakan pakaian kasual. Sebuah pistol revolver jenis Raging Bull 454 bertengger angker dalam holster yang tersemat dipinggang kirinya agak menyamping membuat penampilannya mirip Josh Faraday, salah satu penembak jitu dalam film The Magnificent Seven.
Salah satu petugas melihat opsir itu dan buru-buru menghampirinya lalu menghormat dengan sikap formal.
"Pak!" serunya menyapa.
Lelaki itu mengangguk. Petugas itu kemudian memberinya jalan. Kedua opsir itu melangkah masuk menyibak tali kuning itu dan memasuki TKP.
"Ada temuan?" tanya lelaki itu dengan datar.
"Sementara ini masih mencari, Pak." jawab petugas tersebut. "Tapi menilik dari jenis luka, kelihatannya orang-orang ini mengalami luka bacokan senjata tajam. Herannya... mereka semua bersenjata api..."
"Pelaku itu melakukan serangan kilat dengan mengandalkan suasana malam yang gelap." ujar lelaki berkacamata Aviator itu.
Petugas itu menatapnya. "Maksud Bang Trias?" tanya petugas tersebut.
Opsir itu tak lain adalah Trias Eliasha Ali, seorang reserse pentolan utama Satuan Reskrim Polres Kota Gorontalo. Sekarang ini, ia telah menjadi seorang perwira dengan pangkat Ajun Komisaris Polisi, sebab banyak prestasi yang ditorehnya dibidang penyidikan. Pertarungan epiknya dengan raja para preman bernama Bubu di hutan Tumolata, sepuluh tahun yang lalu membuat namanya langsung menjadi buah bibir dikalangan para penegak hukum dan momok dikalangan dunia bawah tanah. Dia telah menggantikan posisi AKP. Ekoriyadi Siregar, M.H sebagai pimpinan divisi reserse kriminal di resort kota tersebut. (Untuk lebih mengenal pribadi Trias Eliasha Ali, silahkan membaca kisahnya pada novel berjudul Lazuardi Cinta.)
"Aku teringat dengan masa-masa mudaku dulu. Sahabatku, Azkiya... adalah pakar dalam hal semacam ini." ujar Trias.
"Uhm... perempuan itu..." gumam opsir itu.
"Apa katamu?" tanya Trias.
Opsir itu kaget dan langsung menggeleng dengan cepat. Dia tahu, menyinggung perempuan itu akan mendatangkan masalah baginya sebab perempuan itu adalah sahabat karib sang komandan sendiri.
"Mari kita kedalam, Bang." ajak opsir itu mengalihkan bahan pembicaraan.
Trias juga tak mendesak. Ia mengikuti saja ajakan bawahannya itu. Ah... kalau saja Bambang masih ada... tentu ia akan menemaniku memecahkan kasus ini.
Trias teringat sejenak dengan sahabat kerjanya yang sudah pensiun itu. Bambang pulang kembali ke Minahasa bersama istrinya, Maya Rolot setelah lelaki itu paripurna dalam tugasnya sebagai aparat kepolisian.
Keduanya tiba didalam bangunan. Disana mereka menemukan mayat tiga orang lelaki. Salah satu petugas forensik mendekati kedua opsir tersebut.
"Lapor Bang..." ujarnya. "Kami sudah mengidentifikasi mayat-mayat ini. Dua orang yang tewas itu, masing-masing bernama Como dan Beni. Mereka kelihatannya adalah..."
"Pengawal pribadi lelaki yang disana." sela Trias menganggukkan dagunya ke arah mayat seorang lelaki yang menggeletak agak menjauh.
"Ya, benar..." sahut petugas forensik itu, "Adapun lelaki itu bernama Iswan Nusi, seorang konsultan jasa pengamanan."
Trias mengangguk-angguk pelan. "Ada temuan lainnya?" tanya lelaki itu.
"Apakah Abang akan memeriksanya?" tanya opsir itu.
"Lho? Itu kewajibanku... aku seorang penyidik, kan?" ujar Trias mengernyitkan alisnya kepada opsir itu.
Ia mendekati mayat yang sementara diperiksa tersebut sembari mengenakan kaos tangan. Trias kemudian jongkok dihadapan mayat itu dan menemukan sesuatu dibagian celana.
"Periksa bagian celana yang agak basah itu." pinta Trias menunjuk bagian selangkang mayat itu. "Kita akan ketemu lagi diruang otopsi." sambung lelaki itu sembari bangkit dan melangkah meninggalkan tempat itu.[]