SCHNUCKY

SCHNUCKY
GUGUP



Sakera tak mengira hari itu menemui peristiwa yang perlahan merubah kehidupannya. Lelaki itu sedang memperbaiki peralatan pertaniannya ketika seorang wanita muncul menemuinya.


"Ada tamu..." seru wanita itu memberitahu. "Seorang lelaki mencarimu."


Sakera menunda sejenak pekerjaannya dan melirik sejenak kepada wanita itu. Alisnya sedikit mencuat.


"Apakah dia sering datang kemari?" selidik lelaki itu. Wanita itu balas mencuatkan alisnya.


"Lho? piye to? kan sampeyan yang dikunjungi mestinya tahu apakah orang itu sampeyan kenal atau nggak." sahut wanita itu sembari mengisyaratkan Sakera untuk menemui tamunya.


Sakera menghela napas sejenak dan meletakkan alat pertanian yang sementara diperbaikinya. Lelaki itu bangkit dan melangkah dengan malas menyusuri halaman samping rumah, memutar hingga tiba di halaman depan.


Disana berdiri seorang pria dengan tampilan wibawa. Ia mengenakan kemeja kasual lengan panjang yang digulung sebagiannya seakan memamerkan lengannya yang bersepir. Celana panjangnya terbuat dari bahan kain terlihat pantas dengan sepatu pantoufel yang membungkus kakinya. Sebuah kacamata aviator menyamarkan tatapannya yang mengarah kepada Sakera yang sementara mendekat.


"Anda datang menemui saya?" tanya Sakera dengan terang-terangan.


Lelaki berkacamata aviator itu tersenyum, "Pak Sakera?" tebaknya sembari menyapa.


Sakera mengangguk. "Anda sudah berhadapan dengannya." ujarnya lalu menyelidik. "Apakah kita saling kenal?"


Lelaki berkacamata aviator itu tersenyum dan melepaskan kacamatanya lalu menggantungkannya pada kerah belakang kemejanya, membuat Sakera mengangkat alisnya melihat perbuatannya yang dirasanya unik itu. Lelaki itu tersenyum kembali dan menyodorkan tangannya.


"Kita belum saling kenal." jawabnya, "Saya, Trias Eliasha Ali, sahabatnya Arya Kusuma."


Mendengar nama yang disebutkan lelaki itu kembali membuat alis Sakera mengangkat dan lupa menyodorkan pula tangannya menyalami lelaki itu.


Trias menurunkan tangannya karena tak mendapat tanggapan dari Sakera. Lelaki itu menarik napas sejenak lalu kembali tersenyum.


"Pak Arya menyebutkan nama anda kepada saya sehingga saya merasa perlu untuk menemui Anda..." ujar Trias.


"Tunggu..." sela Sakera. "Aku tak mengenal Anda dan sekarang Anda datang dengan membawa nama Arya Kusuma untuk menemuiku..." lelaki asal Madura itu menghela napas dan kembali menyambung, "Aku dan Arya tak begitu akrab."


Trias mengangguk-angguk. "Ya... Anda yang mengakuinya. Tapi Beliau tak berpendapat begitu. Ketika menyebut nama Anda, Beliau terlihat begitu menampakkan kesan bahwa Anda adalah sahabat baiknya."


Sakera langsung gugup, namun langsung disembunyikannya meskipun hal itu tak luput dari tatapan Trias yang awas. Sang opsir juga berpura-pura tidak tahu dan bersikap biasa.


"Begitu ya?" gumamnya dengan canggung.


Trias mengangkat alis dan mengangguk-angguk sambil memamerkan senyumnya. Sakera sejenak terkesiap.


"Ah, betapa buruknya aku sebagai tuan rumah." letupnya tiba-tiba. "Mari, masuklah ke dalam rumah." ajaknya.


"Terima kasih." sahut Trias.


Kedua lelaki itu masuk ke beranda depan dan Sakera mempersilahkan Trias duduk di sofa beranda itu.


"Tunggu sebentar." ujarnya sembari masuk kedalam.


Trias duduk menunggu dan tak lama kemudian Sakera muncul lagi disusul oleh seorang wanita yang datang membawa nampan berisi segelas air teh dan setoples kue Kacang Otok, yang merupakan kudapan khas dari Pulau Madura. Sajian itu diletakkan wanita itu di meja dihadapan Trias.


"Mator Sakalangkong..." ujar Trias mengucapkan kalimat 'terima kasih' dalam dialek Madura.


*) Kamu orang mana/ Kamu asalnya mana?


Trias tertawa dan menggeleng. "Maaf, saya bukan arek Madura." ujarnya jujur. "Saya hanya bongkar-bongkar sedikit kamus bahasa daerah di Internet dan saya dapati kata itu." Lelaki itu mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. "Apakah pengejaannya sudah tepat?" tanya Trias.


Sakera tertawa dan mengangguk-angguk. "Kupikir Anda orang sekampung." selorohnya.


Trias tersenyum dan ikut mengangguk-angguk. "Syukurlah kalau begitu. Kupikir pengejaannya salah dan aku wajib meminta maaf..."


"Tak usah sungkan jika ingin diakrabi seperti itu." sindir Sakera masih tertawa. Setelah puas tertawa, lelaki itu lebih santai dan bertanya. "Ada apa Arya menyuruh Be'na menemuiku?"


"Membicarakan hal tentang Muzdalifah..." jawab Trias yang langsung merubah lagi wajah Sakera yang semula santai kembali serius.


Sambil menganalisis setiap perubahan raut wajah lelaki dihadapannya secara samar dan tak kentara, Trias kembali berkata.


"Sudah beberapa dua minggu ini, berita tentang Muzdalifah tak terdengar." ungkap Trias, "Arya berpikir, mungkin Anda sudah mendapat kabar tentang dia? Bukankah perempuan itu diculik?"


Dengan alis berkerut, Sakera mengangguk dan menjawab. "Ya... dia diculik. Tapi anehnya sampai sekarang penculik itu tak menghubungi saya ataupun orang lain yang kemungkinan punya hubungan dengan Muzdalifah." Lelaki itu menghela napas dan membuangnya dengan kasar. "Sampai saat ini, saya masih menunggu kabar dari pihak Polsek Paguyaman perihal tentang perempuan itu. Saya sudah nyaris putus asa..." keluhnya.


Trias mengangguk-angguk lagi. Sakera menatap Trias. "Apakah Anda seorang penyidik?" tanya lelaki itu.


Trias tersenyum dan mengangguk. "Ya. Secara tidak langsung saya mencari informasi tentang Muzdalifah berdasarkan keterangan Pak Arya saat olah TKP pembunuhan Pak Iswan."


"Dan Anda pikir, kematian Iswan berkaitan dengan hilangnya Muzdalifah?" pancing Sakera.


Trias menjebikan bibirnya dan mengangkat bahu sejenak lalu tersenyum. "Siapa tahu? Terkadang kita mendapati sesuatu yang kelihatannya tak berkaitan, ternyata sangat berkaitan erat menilik dari faktor penghubungnya."


"Apa faktor penghubungnya?" pancing Sakera lagi.


"Saya belum sampai ke arah itu." ungkap Trias sedikit berbohong. "Pak Arya hanya sempat menyebutkan nama Muzdalifah, lalu nama Anda saat itu membicarakan tentang pembantaian yang terjadi di kedai makanan di Jalan Trans Sulawesi itu."


"Untuk lebih jelasnya, anda harus menghubungi pihak yang sementara menyelidiki kasus tersebut. Dan Saya mengharapkan Anda bisa segera menemukan pelakunya!" tandas Sakera kemudian berdiri.


"Kelihatannya, kita harus mengakhiri percakapan ini." ujar Sakera. "Saya masih punya banyak pekerjaan. Jika anda tak keberatan..."


"Baiklah..." sela Trias sembari bangkit dan tersenyum. "Saya akan melakukan apa yang Anda sarankan itu. Terima kasih atas waktu yang Anda berikan kepada saya." Lelaki itu kembali menyodorkan tangannya.


Sakera membalas menyodorkan tangan menyalami tangan Trias. Sang opsir kemudian pamit dan melangkah tanpa beban meninggalkan rumah kediaman Sakera, tanpa menoleh dan mengambil lagi kacamata Aviator yang terselip pada kerah belakang kemejanya lalu mengenakannya lagi.


Sesampainya dijalanan, Trias mengeluarkan gawai dan menghubungi Kanit Reskrim Polsek Paguyaman.


📲 "Dengan Kanit Reskrim Polres Kota Gorontalo, Trias Ali..." ujar Trias menyebut nama dan pangkatnya.


📲 "Oh, Pak Komandan!" seru lelaki diseberang.


📲 "Besok, aku akan ke Paguyaman. Kamu temani aku untuk memeriksa lagi TKP dari kasus pembantaian kedai makanan itu." ujar Trias.


📲 "O, Siap Pak!" ujar orang diseberang menyanggupi.


Trias memutuskan pembicaraan seluler lalu menyimpan gawai. Lelaki itu kembali melangkah dan masuk kedalam Maung Hitam. Tak lama kemudian kendaraan taktis itu melaju meninggalkan tempat itu menuju arah timur.[]