SCHNUCKY

SCHNUCKY
KOLOID YANG DITUTUPI



"Mengapa?" desak Anya dengan rasa heran bercampur penasaran.


Arya tak mengindahkan pertanyaan adiknya itu. Tatapan matanya justru makin tajam ke arah Kamala.


Wanita itu paham dan akhirnya menatap Anya. "Maafkan aku Anya. Tapi untuk saat ini, kurasa kakakmu tidak ingin diganggu oleh pertanyaan tersebut." ujarnya.


"Tapi..." protes Anya.


"Mengertilah dengan keadaannya, Anya." pinta Kamala menekan.


Anya memandang Arya yang sengaja membuang wajahnya sejak tadi. Gadis itu akhirnya mendengus pelan lalu bangkit meninggalkan tempat itu.


Kamala hanya bisa menghela napasnya lagi ketika Anya menutup pintu ruangan itu dengan keras, pertanda ia melampiaskan kekesalannya sebab keinginannya yang tak digubris oleh Arya.


Kamala memandang Arya yang kemudian memandang kembali pintu yang tertutup itu dengan hati trenyuh.


"Kau sudah membuat satu lagi orang yang kau sayangi terluka." komentar Kamala.


"Yang kurasakan terlalu berat untuk kubagikan kepadanya." jawab Arya dengan lemah.


Kamala menebar senyum hambar. "Dan terpaksa mengambil resiko dibenci oleh keluargamu sendiri akibat masa lalu yang ingin kau sembunyikan?" pancing Kamala.


"Jika itu bisa membuat mereka tak mengalami kesusahan akibat kebengalanku dulu..." ujar Arya kemudian menghela napas lagi. "Aku rela menempuh neraka sekali lagi."


"Cukup sudah dengan drama itu." tukas Kamala. "Berterus teranglah kepada mereka. Itu akan lebih baik ketimbang kau memendam semuanya, dan justru akan membuatmu makin sakit." rayu wanita itu.


"Kamu nggak tahu, bagaimana karakter keluargaku, Miss Marvel." ujar Arya kemudian menghela napas lagi. "Selama ini, mereka mengenalku sebagai pribadi yang tidak pernah macam-macam."


Arya berupaya bangkit dan Kamala membantu lelaki itu untuk duduk. Arya kemudian memandang lagi Kamala yang kembali duduk dan juga menatapnya.


"Aku memang dulunya suka berfoya-foya... tapi aku tak pernah sedikitpun melecehkan perempuan." ujar Arya.


"Perbuatanku kepada Muzdalifah adalah yang pertama kalinya, dan itu benar-benar mencoreng prinsipku." sambung Arya. "Apa kau pikir aku senang memperkosa? Tidak Miss Marvel. Aku hanya terhasut... dan itu kusesali benar hingga saat ini..."


Kamala mengangkat bahu dan menghela napas. "Yah... bagaimanapun itu adalah aib yang sulit untuk dikemukakan."


"Setiap aku melihat Anya, aku teringat dengan Muzdalifah... setiap aku melihat Anya, selalu terkenang dalam benakku semua tindakan brengsekku itu kepada Muzdalifah..." keluh Arya.


"Kau tak ingin, apa yang terjadi kepada Muzdalifah akan menimpa Anya, kan?" tebak Kamala.


Arya menghela napas dan mengangguk beberapa kali. Kamala kembali mengangkat bahu dan berkomentar.


"Karma itu akan berlaku, Schnucky..." ujarnya dengan pelan.


"Aku akan mencegahnya, dengan sekuat tenagaku!" sela Arya dengan cepat dan sedikit ketus. "Siapapun boleh saja menikamku, bahkan boleh saja membunuhku, jika ia ingin." tatapan lelaki itu berubah tajam. "Tapi, tak akan kubiarkan siapapun... berani menyentuh Anya, entah fisik maupun hatinya kemudian menyakitinya!"


Kamala akhirnya mengangguk. "Baiklah. Semoga keinginanmu akan terwujud." ujarnya dengan pelan.


"Keinginan yang mana?" tanya Arya dengan alis berkerut. "Jangan mengucapkan kalimat yang ambigu seperti itu."


"Semoga, Anya tak akan menemui nasib seperti Muzdalifah..." ujar Kamala dengan pelan lagi.


"Semoga saja begitu." ujar Arya kemudian mendengus dan membuang napasnya dengan kuat.


"Anya adalah gadis yang kuat. Tak ada lelaki yang bisa menaklukkannya, selama dia tidak menginginkannya." sahut Kamala.


Arya hanya diam, sedangkan Kamala kemudian bangkit dan memandang lelaki itu.


"Aku pulang dulu, Schnucky." ujar Kamala. "Jam besuk sudah habis."


Arya memandang jam dinding lalu memandang Kamala dan menganggukkan kepala. Kamala kemudian melangkah meninggalkan ruangan itu.[]